Tolong Hentikan

Marah, emosi, sedih, sakit, kecewa, bingung, geram, dan segala rasa yang seketika membuat wajahku basah karena begitu saja menitikan air mata.

Bagaimana aku tidak marah, saat melihat semakin marak kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di negara ini? Dewasa pun mereka yang masih balita telah menjadi korban. Tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana pilunya para pahlawan wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya demi merdeka, namun kini? Semakin banyak pelaku kejahatan seksual terhadap perempuan. Tak sampai hati kubayangkan sakitnya mereka yang menjadi korban dan masih saja harus disalahkan.

Wajar saja katanya, perempuan itu memakai busana minim bahan, atau tingkahnya menggoda, dan terus saja mencari celah agar korban tetap bisa disalahkan. Lantas sampai kapan menyudutkan korban dan menganggap wajar kejahatan pelaku? Sampai para pelaku merasa dibela dan bebas mengulangi kebiadabannya di kemudian hari? Atau sampai anggota keluarga para pembenci merasakannya sendiri? Jangan sampai itu terjadi!

Bagaimana tidak emosi jika berita seperti ini hadir hampir tiap minggu, bahkan setiap hari, dengan nama-nama baru pelaku pun korban. Mengapa hal seperti ini begitu mudah menyebar dan dicontoh? Perempuan memang perlu menjaga dirinya, tapi tak bisakah lelaki pun menjaga pandangan dan nafsunya? Kenapa harus selalu perempuan yang dirugikan dalam kasus ini?

Tubuh saya selalu bergetar tiap kali mendengar, membaca, atau mengetahui berita-berita semacam ini, lemas rasanya. Satu banding satu saja sudah begitu pedih dan menyakitkan, lantas mengapa kini menjadi satu banding belasan bahkan puluhan? Rasanya tak lagi bisa kumengerti apa isi otak dari para pelaku, mengapa mereka bisa berlaku kejam dengan begitu kompak? Apa mereka tidak memiliki sosok perempuan yang mereka sayang? Ibu? Kakak? Adik? Atau apa pun itu sebutannya.

Mau sampai kapan hukum negara kita bisa dibeli dengan rupiah? Mau berapa banyak lagi keluarga yang akan pulang dengan rasa kecewa karena tidak mendapatkan keadilan? Sampai kapan pemegang senjata api bebas bermain api? Sampai kapan?

Namun aku juga bingung harus bagaimana menghentikan semua ini? Para pelaku pendatang baru seolah tidak takut dengan hukuman yang diberikan, apalagi jika pelakunya masih di bawah umur dan tidak ditahan, rasanya justru makin banyak pelaku di bawah umur yang akan bermunculan. Lantas, ini salah siapa? Atau, kenapa kita sibuk mencari ini kesalahan siapa dari pada mencari pemecahan dari masalah ini? Semakin banyak media menyebarkan berita A, sadar pun tidak, beberapa waktu kemudian semakin banyak pula hal serupa dengan berita A terjadi lagi dan lagi. Miris. Hatiku teriris.

Aku geram. Ingin rasanya mencekik leher para pelaku, namun aku bukan Tuhan yang bisa menghentikan kehidupan mereka. Sampai detik ini aku hanya bisa bermain dengan air mata tiap kali menyaksikan berita serupa. Ingin rasanya segera terbang menuju tempat di mana para korban berada, untuk sekadar memeluk dan meyakinkan jika mereka tak akan melewati semua ini seorang diri. Ingin rasanya kutatap wajah mereka yang masih saja sibuk menyudutkan korban, kemudian kubisikan tepat di telinganya; untuk berhenti menghakimi diri yang sejujurnya sedang amat sangat berduka.

Berharap Tuhan melindungi kita dari hal serupa, menjaga lisan kita untuk tidak lebih membuat hati para korban sakit, memeluk korban dengan tulus, dan genggam tangannya untuk bersama mencari keadilan. Jika tidak dimulai dari sekarang, lantas mau kapan lagi? Menunggu hingga hal seperti ini dialami orang terkasih yang kita miliki? Tak perlu bukan?

Jika belum bisa membantu, maka berhentilah menghakimi. Mereka yang benar-benar hakim saja terkadang masih bisa salah memutuskan, apalagi kita? Tapi, percayalah jika hakim yang sesungguhnya akan mempertimbangkan kehidupan kita di masa yang abadi dari apa yang selama ini kita lakukan saat diri masih bernapas. Mengerti?

Tolong jangan pernah takut dan malu untuk bicara, ceritakan apa yang kau alami, bicara dengan lugas, meski hatimu bergetar, kuatkan segalamu hingga mereka yang menyakitimu dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Percayalah, kami bersamamu, dan kami tak akan menghakimimu, sedikitpun.

Korban adalah korban, bukan pelaku. Pelaku tetaplah pelaku, mereka harus bertanggung jawab atas kekeliruan yang telah berhasil memilukan hati para korban.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#TentangKeadilan

Advertisements

Belajar Tentang Mencintai

Saya bukan perempuan yang terlahir dengan sikap lembut, sebab saya terbiasa bermain bola dengan abang saya, dan menunggu giliran main sega setelah mas saya. Masa kecil saya bisa dibilang jauh dari boneka, saya lebih dekat dengan bola dan lari-larian. Abang memilih saya sebagai partner-nya untuk bermain playstasion. Sedangkan suara mas hampir selalu menjawab celotehan saya lewat walkie-talkie kesayangan kami.

Secara tidak sengaja, mempunyai dua kakak laki-laki membentuk pribadi saya menjadi cuek, dingin, namun juga mudah tersentuh dilain waktu. Harus diakui jika mas dan abang pun termasuk lelaki yang tak ragu untuk menangis saat hati mereka benar-benar tersentuh. Mulai dari mama, papa, mas, dan abang, saya sudah pernah menyaksikan langsung bagaimana masing-masing dari mereka menangis. Rasanya ingin terus berubah baik, agar suatu saat saya bisa melihat tangisan mereka adalah tanda kebahagiaan kita bersama.

Awalnya, saya selalu menyeleksi pria lewat penampilan fisiknya, kalau saya tidak tertarik, maka pintu hati tak sedikitpun terbuka. Tapi, semakin lama saya menyadari secara perlahan, jika yang berwajah tampan belum tentu bisa menuntun saya ke surga, sementara lelaki yang mencintai Tuhan, insya Allah mampu menggenggam saya dan membimbing agar kelak langkah kaki kita terus bersama hingga mencapai surga Allah.

Saya bukan perempuan sempurna yang tak punya cela, jika Allah mau, Ia bisa saja menjabarkan aib saya dalam hitungan detik, namun Allah Maha Baik, Ia menjaga segala aib saya, dan secara tidak langsung membuat saya ingin terus menjaga aib orang lain yang sengaja pun tidak, pernah saya ketahui.

Terdengar berlebihan atau mungkin picisan, saat saya yang dulunya terkesan urakan, dan juga pernah berpacaran, menikmati masa sekolah dengan memuja sosok kekasih hati, seketika memutuskan untuk tidak lagi meratapi kesendirian. Bukan, bukan karena saya anti terhadap pernikahan, melainkan karena cara saya mencapai hari nan suci itu yang sedikit saya ubah. Tidak lagi dengan menjajaki hubungan secara perlahan, kemudian menangisi keadaan saat saya dan lelaki itu harus berpisah. Dengan niat yang insya Allah tidak dibuat-buat, saya hanya bisa terus memantaskan diri untuk lelaki yang sedang dan terus saya minta dalam doa langsung pada Sang Maha Segala. Sebab, saya yakin hanya Dia satu-satunya tempat berharap.

Bermimpi untuk bisa mempunyai keluarga yang penuh dengan kasih kepada Allah, saling menjaga hati satu sama lain, saling mengingatkan jika di tengah-tengah terjadi kekeliruan, saling menerima kurang dengan sabar, saling mengingatkan untuk tidak mendikte kekurangan orang lain, saling mensyukuri lebih yang Allah berikan, dan segala saling dalam kebaikan. Sampai hari ini semua itu masih menjadi mimpi untuk saya, namun sepenuhnya saya yakin kelak dapat terbangun dan menjalankan hari yang serupa dengan mimpi indah saya itu.

Saya selalu bilang jika saya tidak mau tergesa-gesa, sebab menikmati waktu dengan terus menjadi yang terbaik dalam skenario Tuhan adalah seindah-indahnya detik kehidupan.

Bersyukur saya dikelilingi mereka yang tak pernah lelah mengingatkan jika ada kematian yang harus saya persiapkan di tengah sibuknya kita mencapai cita di kehidupan dunia. Kerap kita mengesampingkan akhirat, berpikir masih ada hari esok, seolah melupa jika bisa saja Tuhan menghentikan napas kita di detik berikutnya.

Belajar mencintai akan terasa rumit saat kita mencoba menaruh perasaan pada manusia, namun menjadi begitu mudah dan damai saat kita memulainya dengan mencintai Tuhan. Banyak yang menertawakan diri saya, katanya tahu apa saya? Ke mana saja saya selama ini? Berapa banyak dosa yang sudah saya cetak? Lantas saya mau bersikap seolah paling benar? Tentu saja tidak, tapi seharusnya kita tahu, jika tinta hitam pun dapat dibersihkan jika ada niat yang utuh dan tulus. Lantas, mengapa masih sibuk dengan keburukan orang lain di masa lalu, saat orang tersebut sedang menikmati masa sekarangnya dengan terus memperbaiki keadaan?

Cukup untuk menutup Jumat malam. Salam damai dari saya, perempuan yang masih suka emosi, masih mudah marah, masih kerap melupa untuk tersenyum, dan masih penuh dengan kurang. Tapi, insya Allah kedepannya kita bisa sama-sama menjadi lebih baik lagi. Aamiin.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HidupdanMati
#PerihalCinta
#MengikisPenyakitHati

Dinding Kamar

Baru lima belas yang melekat. Punya peran masing-masing dalam ingatan. Dan, selalu berhasil bikin gue senyum (lagi) tiap ngeliatnya, bahkan beberapa kali puas rasanya gue ngetawain diri sendiri. Mulai dari tiga kali empat yang melekat di bagian kiri atas, cerita di balik yang satu itu sederhana, kejadiannya di ruangan kecil dekat DPR (di bawah pohon rindang), kawasan paling strategis yang dipakai anak-anak buat istirahat  makan, bercanda, dan gak jarang DPR juga dijadiin tempat memadu kasih ala anak putih abu. Cukup. Balik lagi ke cerita di balik foto dengan background warna merah; untuk ijazah. Dengan bekal jas hitam yang gak sesuai ukuran, dasi hitam yang digunakan secara bergantian, sampai rambut pendek gue yang baru masuk fase salah potong beberapa hari sebelumnya. Tapi, gue selalu suka dan percaya diri dengan yang satu itu, dan baru kali ini gue ngetawain diri gue sendiri tanpa punya rasa malu. (Dilarang protes!) Hahahahahahaha.

Turun sedikit, masih di bagian kiri, ada tujuh remaja perempuan yang lagi asik gaya, Neno dan Uci yang saling pandang sembari meluk boneka, Unuy yang senyum sumringah, Pota yang senyum bareng boneka bebeknya, Asri yang pose malu-malu pakai lima jarinya, plus Achild yang asik sama boneka bola di pelukannya. Sementara gue? Menatap lurus ke depan, dengan boneka serupa pilihan Achild, dan pandangan mata yang selamanya akan seperti itu; sendu. Dari kecil mata gue memang terkesan dingin dan sendu. Dan, itu namanya: Na? sib! Hahahahaha.

Lima lainnya masih bersama orang yang sama; Unuy, Neno, Uci, Pota, Asri, Achild, plus gue. Dengan pilihan gaya yang keren pada masanya, namun lagi-lagi berhasil bikin gue ketawa sekaligus mikir “Ternyata benar, untuk jadi dewasa, kita perlu melewati masa-masa seperti ini, menggelikan, namun tak sama sekali perlu disesali”.

Dari semua yang ada, terselip satu yang berbeda, yaitu bingkai kebahagiaan mama saat gue masih berusia lima. Kala anak-anak asik main sambil belajar di dalam kelas, mama dan orangtua murid yang lain sibuk berbincang tentang apa saja, yang terekam dalam gambar ini, mereka lagi bahagia banget, gak tau karena apa, dan selalu berhasil bikin gue kangen sama mereka; guru-guru masa kecil gue. Cuma dua nama yang gue ingat, Bu Euis dan Bu Wulan. Selebihnya gue cuma ingat wajah, tapi lupa sama nama mereka masing-masing.

Geser dikit lagi ke arah kanan, ada lima bingkai kebersamaan yang selalu gue kangenin, ada dua yang mau gue ceritain. Pertama pas kita janjian buat bawa baju ganti, kaos yang selalu kita anggap seragam panti, tapi bikin gue mikir sekalipun gue ada di panti, asal sama mereka pasti akan tetap nyenengin. Gue suka pas Mely, Hilda, gue, dan Oge ngerasa imut dengan boneka dalam pelukan, bergaya bak gadis lugu, sementara Neno lebih milih mendaratkan dua telunjuknya di kedua bagian pipi kanan dan kirinya. Terus di mana Babank, Uci, dan Tata? Mereka mendarat di bawah, dengan senyum yang dimanis-manisin. Kita semua berasa manis, padahal? Kita memang manis pada masanya sih. Hahahahahaha.

Kedua, setelah sekian lama gak ketemu karena ada yang sibuk kerja pun kuliah, akhirnya kita ketemu lagi. Hari itu kita saling ngasih boneka kesukaan masing-masing. Gue dapat boneka kepala Garfield. Terus kita karaokean sambil nunggu hujan reda. Neno dengan kerudung pink-nya, Uci dengan baju polkadotnya, Tata dengan ketawa polosnya, Oge dengan senyum nanggungnya, Babank dengan kaos santainya, Mely dengan nyengir ngeselinnya, Hilda dengan bando yang sekarang rutin dipakai Nay; anaknya. Gue dengan kaos plus kemeja yang sengaja gak dikancingin, berasa cool. Padahal, preeeeettt.

Geser lagi ke kanan, kita hampir selesai. Kali ini terbingkai kebersamaan gue sama kakak dan adik perempuan gue semasa putih abu. Udah lama gak ketemu, pas ketemu langsung diajak nongkrong di toko donat, makan, minum, sambil foto-foto pake kamera komandan. Tapi tetap aja kita ngerasa perlu membingkai kenangan pakai cara lain. Chika dengan kerudung biru mudanya, Ipat dengan baju yang warnanya senada sama kerudung Chika, dan gue dengan jeans plus poloshirt. Iya, dulu kita pernah sedekat itu.

Baiklah, akhirnya kita sampai di bingkai terakhir. Cetakan terbaru, sepuluh Juni lalu. Mulai dari nemuin Uci yang lagi sibuk sama maskaranya di tempat makan cepat saji, sampai akhirnya Neno datang dan kita langsung karaoke. Percayalah, perginya kita ke tempat ginian ya cuma buat gila-gilaan, nyanyi fals dari awal sampai akhir, ngelawak gak jelas, sampai ngehibur Nay yang sempat ngambek. Jelas aja dia uring-uringan, anak belum tiga tahun udah diberisikin sama suara gak jelas. Hahahahaha. Lanjut makan, terus foto. Gitu aja kita mah. Gak neko-neko. Hahahahaha.

Mulai dari Uci yang pengin banget bisa rehat dari kerjaan rutinnya, terus Neno yang pengin napas dari kerja plus kuliahnya, kemudian Hilda yang pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama Nay, dan gue yang juga pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama orang rumah, belum tega ninggalin mereka tanpa ada sosok anak di rumah. Lebay? Bodo amat, bwek!

Yang jelas, gue bersyukur karena semua yang terekam selalu tentang kebahagiaan, kegilaan, dan makin ke sini makin penuh dengan kejujuran, apa adanya kalian. Kalo mau teriak ya teriak aja, kalo mau ngapain aja ya monggo, gak ada yang keberatan, lepasin beban, karena percuma nemuin sosok yang jarang ada di dekat kita kalo waktunya abis buat serius dan akting.

Intinya, dinding kamar gue selalu berhasil bikin gue yang baperan ini jadi terus kangen. Iya, gue kangen banget sama masa-masa itu. Sama mereka. Dan semoga nantinya dinding kamar gue makin penuh sama kenangan-kenangan yang nyenengin kayak gini.

Jadi, siapa lagi yang mau melekat di dinding kamar gue? Lumayan, lho. Seenggaknya gue mandangin kalian minimal sekali sehari, sebelum gue tidur. Jadi, kalo gue mimpi buruk, kalian tanggung jawab, yaaa! Hahahahahaha.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#RekamGambar
#MomenPenting

Jarak yang Tak Berdaya

Lebih dari dua puluh tiga tahun saya diberi kesempatan untuk bernapas di dunia, mulai dari pelukan mama dan papa, kehangatan mas dan abang yang tak melulu berupa peluk, pun ikatan antar keluarga yang baru terasa setelah saya beranjak dewasa. Bagaimana saya belajar berjalan, hingga nyaman lalu lalang di atas panggung, menari dengan wajah yang tak menebar senyum. Bukan karena tidak bahagia, namun karena cetakan wajah saya memang ‘galak’ dari sananya.

Menyaksikan pertengkaran hebat hingga picisan. Melihat satu kepala dihakimi banyak kepala hingga bercucuran darah. Menatap korban kecelakaan di depan mata. Hingga menemukan barang-barang yang seharusnya jauh dari anak di bawah usia sepuluh tahun. Iya, saya bertemu dan menjalankan begitu banyak kejanggalan sejak dini. Namun, itu semua bukan masalah, karena saya punya mama dan papa yang meski tak sempurna, tapi mereka selalu bisa diandalkan, sampai detik ini.

Saya tahu rasanya dibatasi, mematuhi jam makan tepat waktu, menerima keharusan istirahat di jam siang, karena baru dibolehkan bermain setelah mandi sore. Saya hanya bisa menyaksikan teman-teman saya bermain lewat jendela rumah kontrakan, itu semua terjadi saat saya masih berusia lima. Tak ada rasa marah pada sang empunya peraturan; mama. Meski kadang saya ingin sekali ikut berlari mengejar keceriaan di siang hari, namun kini saya merasa harus berterima kasih, karena peraturan mama membentuk pribadi saya yang sekarang.

Mama selalu bilang, kalian akan dibebaskan pada waktunya. Dan, ia menepati janjinya. Saya diberi kebebasan yang begitu luas, ia membolehkan saya menginap di rumah teman jika memang harus. Papa dan mama memberi kepercayaan yang tiada cela. Bagi mereka, saya tetap gadis kecil, namun mereka sadar untuk tak selamanya memenjarakan saya. Dan, saya tahu benar kapan saatnya saya harus kembali pulang setelah cukup berpetualang.

Berkat kepercayaan mereka, meski sebagai anak saya pasti pernah berbohong, tapi wajah mereka yang menanti kepulangan saya di rumah selalu berhasil menggagalkan niat saya untuk melakukan kenakalan yang berlebihan. Saya sadar benar jika ada dua manusia yang tak ingin saya kecewakan, meski sampai hari ini saya belum berhasil membuat mereka bangga pada saya, tapi semesta tahu jika saya terlalu bangga memiliki mereka.

Terlepas dari mama, papa, mas, dan abang. Saya diberi kesempatan untuk mengenal banyak orang. Dengan cara dan penerimaan yang berbeda-beda. Saat saya masih di taman kanak-kanak, saya menjadi murid perempuan paling lihai memanjat apa pun yang dapat dipanjat, saya lebih suka menemani adik teman saya bermain ketimbang memperebutkan arena permainan sampai salah satu dari kami menangis karena kalah, saya hampir selalu keberatan makan-makanan di Sabtu pagi, dan saat itu pula saya mulai dekat dengan tarian pun puisi.

Saat duduk di sekolah dasar, lima tahun pertama terasa menyenangkan, sampai di tahun terakhir, hari-hari saya terasa begitu jauh dari semangat, tak ada lagi ceria, karena saya merasa itu bukan tempat saya, saya merasa kurang diterima, mungkin karena lelucon saya aneh, atau gaya saya yang tomboy membuat mereka membentang jarak. Namun, syukurnya saya tak mempermasalahkan itu, anggap saja sekolah dasar saya hanya lima tahun, tahun terkahir hanyalah main-main, biar saya simpulkan dengan cara itu.

Seragam putih biru menerima kehadiran saya dengan cukup baik, saya  menemukan banyak sosok yang menyenangkan, namun belum cukup untuk membuat saya ingin bercerita banyak. Dari sekian banyak yang saya kenal, hanya belasan yang saya rasa cukup dekat, dan sampai hari ini, akhirnya hanya tersisa beberapa kepala yang masih ingin saya dengar kabarnya, selebihnya biar mereka dengan kehidupan barunya, dan saya dengan kehidupan baru saya, tak ada yang perlu dipaksakan, pernah mengenal tak selamanya harus juga mengenang.

Dan, masa putih abu adalah waktu yang begitu indah. Di sana saya belajar banyak hal. Mulai berani berbicara, berani tampil, berani menyuarakan apa yang ingin saya katakan, dan saya benar-benar berjalan dengan cara saya sendiri, tanpa ada rasa takut. Meskipun saya tidak melanjutkan pelajaran yang saya dapat saat masa putih abu, itu tidak membuat saya menyesal sedikitpun. Karena terlalu banyak kebahagiaan yang saya temukan di sana. Sayangnya, tulisan saya kali ini tidak saya arahkan ke sana.

Lanjut memasuki dunia kerja, saya yang remaja mulai tumbuh dewasa, mulai terbiasa berbicara dengan kata yang lebih sopan, dan perlahan ketakutan-ketakutan saya memudar. Saya yang sebelumnya takut keluar malam, tidak lagi kalah dengan gelap, sebab terbiasa menempuh jarak perjalanan yang menghabiskan waktu hampir dua jam di malam bahkan sampai dini hari. Bukan untuk party, tapi untuk kembali ke rumah setelah seharian kerja di kota orang. Saya mulai berani ke mana-mana sendiri, namun satu yang tak berubah, saya masih menyimpan bayangan wajah kedua orangtua saya tiap kali saya di luar rumah. Itu yang terus menjaga saya dari kejahatan bagian semesta lainnya.

Sampai saya dipertemukan dengan seseorang, dengan cara yang unik, dengan jalan cerita yang tak pernah bisa saya tebak sebelumnya. Dia satu-satunya orang yang dekat di hati saya, selain mama, papa, mas, dan abang. Dia hampir selalu tahu kapan saat saya butuh teman, dia selalu muncul sesaat sebelum saya mencarinya, dia selalu berhasil membuat saya tersenyum sekaligus menangis.

Seperti sore tadi, saat saya sedang mengingatnya, entah bagaimana caranya ia terasa begitu dekat, ia terasa begitu nyata berada di hadapan mata saya, batinnya terasa begitu mengikat. Dia tahu hampir semua tentang saya, banyak hal yang tidak saya bagi kepada banyak kepala, namun dengan mudah saya tuangkan pada telinganya. Dia sahabat terbaik, teman bertengkar terbaik, pasangan ngambek terbaik, juga pendengar yang baik. Meskipun ia tak lihai memberikan pendapat atas masalah-masalah yang saya lewati, tapi dia selalu bersedia menemani saya melewati masa-masa berat. Dia sosok yang saya maksud satu-satunya orang yang selalu percaya jika suatu saat mimpi saya akan menjadi nyata. Dia yang mengaku pernah kecewa pada saya, dia yang hatinya pernah saya patahkan, dia yang tahu sisi buruk saya, namun selalu mengatakan jika saya tak seburuk itu. Dia selalu memandang saya dengan cara yang positif, dia yang cukup berjarak dengan saya, namun karenanya juga saya sadar jika jarak tak selamanya berkuasa, sebab dengannya saya bisa membuat jarak menjadi tak berdaya.

Kami bukan sepasang kekasih, kami hanya dua manusia yang terus saling mendoakan, kami dua manusia yang terus memperbaiki diri, kami dua manusia yang berjalan dipijakan masing-masing, dan kami dua manusia yang terus menanti kabar baik dari satu sama lain. Dan, dia seseorang yang membuat saya bersyukur karena telah mengenalnya dengan sangat baik.

#PenariJemari
#TentangTemanTerbaik
#MengenaiKepercayaan

Sedang Rindu

Hai, lama rasanya tidak menari bersama, entah karena apa, kesibukanku masih itu-itu saja, sebenarnya sempat jika aku ingin rutin menyapamu, namun entah kenapa aku enggan, bukan karena lelah atau dilanda jenuh, aku hanya tak tahu apa alasan aku berdiam. Hingga aku sampai pada malam ini, diselimuti rindu yang terlahir jelas untukmu. Aku sedang merasakan banyak hal, ada yang dengan mudah kusuarakan, tak sedikit pula yang kubiarkan melayang di dalam. Dan, beberapa ingin kuceritakan padamu malam Ini.

Apa kau tahu rasanya, saat suaramu belum berhasil menjelaskan makna yang sebenarnya ingin kau sampaikan. Saat kau berkata A namun telinga lainnya mendengar B dan menyimpulkannya menjadi C. Dan, apa kau juga tahu rasanya dipatahkan seketika waktu? Saat kau melukis mimpi yang begitu penuh warna, namun di detik berikutnya orang terdekatmu mencorengnya dengan kalimat singkat “semua kan sia-sia”. Aku tahu rasanya. Semua tergambar jelas di sini; di dalam hatiku. Dan, kuyakin kau tahu jika aku selalu enggan menjelaskan lebih jauh lagi, sebab aku tak pernah suka mengingat luka, kita sepakat jika luka tak sebaiknya diingat, kau berulang kali membuatku sembuh, dan sekian kali mengatakan jika kau tak ingin melihatku kembali jatuh. Tak berlebihan rasanya jika kusebut kau salah satu penguat bangkitku.

Kita sama-sama tahu jika fase menangisi kisah cinta yang kandas sudah lewat, pun menjadikan kesendirian sebagai penyebab mata sembab. Masalah yang kita hadapi tak lagi seringan itu, meski segala yang kita anggap ringan hari ini pernah menjadi masalah terberat beberapa waktu lalu. Aku bukan lagi menangisi kesendirian, tidak lagi mempertanyakan ketulusan, saat ini jauh lebih dalam dan tak mudah disuarakan. Namun beruntungnya aku karena adanya kamu, setidaknya kita bisa menari bersama dalam cerita, menikmati waktu dengan mengenal satu sama lain lebih jauh dan dalam lagi.

Sebenarnya langkah seorang anak sangat mudah untuk menjadi kuat. Cukup dengan penanaman nilai agama yang tak terkesan menggurui dan merasa paling benar sendiri. Cukup dengan ajak bicara dan mencari kata ternyaman untuk diterima sesama keluarga. Dan, tak pernah lelah untuk memberi rasa percaya, berupa peluk, genggaman, atau lewat doa yang kutahu tak pernah putus adanya.

Kau tahu aku pernah salah arah, patah asa, bahkan goyah dan hampir menyerah. Namun entah dari mana Tuhan kirimkan malaikat penolongku, yang jelas sejak hari itu aku selalu percaya jika niat baik tak akan pernah selamanya salah alamat, ia akan sampai di tempat yang tepat pada waktunya.

Aku ingin kau tahu satu hal di akhir malam ini, tentang aku yang merindukannya, namun tak akan kusampaikan secara terbuka, biarlah rasa itu tetap menari dalam samarnya gemuruh angin yang berputar tanpa amarah.

#PenariJemari
#Rindu
#TerusBerjalan
#TakAkanKembaliPatah
#SatuHariSatuTarian
#KembaliMenari