Jarak yang Tak Berdaya

Lebih dari dua puluh tiga tahun saya diberi kesempatan untuk bernapas di dunia, mulai dari pelukan mama dan papa, kehangatan mas dan abang yang tak melulu berupa peluk, pun ikatan antar keluarga yang baru terasa setelah saya beranjak dewasa. Bagaimana saya belajar berjalan, hingga nyaman lalu lalang di atas panggung, menari dengan wajah yang tak menebar senyum. Bukan karena tidak bahagia, namun karena cetakan wajah saya memang ‘galak’ dari sananya.

Menyaksikan pertengkaran hebat hingga picisan. Melihat satu kepala dihakimi banyak kepala hingga bercucuran darah. Menatap korban kecelakaan di depan mata. Hingga menemukan barang-barang yang seharusnya jauh dari anak di bawah usia sepuluh tahun. Iya, saya bertemu dan menjalankan begitu banyak kejanggalan sejak dini. Namun, itu semua bukan masalah, karena saya punya mama dan papa yang meski tak sempurna, tapi mereka selalu bisa diandalkan, sampai detik ini.

Saya tahu rasanya dibatasi, mematuhi jam makan tepat waktu, menerima keharusan istirahat di jam siang, karena baru dibolehkan bermain setelah mandi sore. Saya hanya bisa menyaksikan teman-teman saya bermain lewat jendela rumah kontrakan, itu semua terjadi saat saya masih berusia lima. Tak ada rasa marah pada sang empunya peraturan; mama. Meski kadang saya ingin sekali ikut berlari mengejar keceriaan di siang hari, namun kini saya merasa harus berterima kasih, karena peraturan mama membentuk pribadi saya yang sekarang.

Mama selalu bilang, kalian akan dibebaskan pada waktunya. Dan, ia menepati janjinya. Saya diberi kebebasan yang begitu luas, ia membolehkan saya menginap di rumah teman jika memang harus. Papa dan mama memberi kepercayaan yang tiada cela. Bagi mereka, saya tetap gadis kecil, namun mereka sadar untuk tak selamanya memenjarakan saya. Dan, saya tahu benar kapan saatnya saya harus kembali pulang setelah cukup berpetualang.

Berkat kepercayaan mereka, meski sebagai anak saya pasti pernah berbohong, tapi wajah mereka yang menanti kepulangan saya di rumah selalu berhasil menggagalkan niat saya untuk melakukan kenakalan yang berlebihan. Saya sadar benar jika ada dua manusia yang tak ingin saya kecewakan, meski sampai hari ini saya belum berhasil membuat mereka bangga pada saya, tapi semesta tahu jika saya terlalu bangga memiliki mereka.

Terlepas dari mama, papa, mas, dan abang. Saya diberi kesempatan untuk mengenal banyak orang. Dengan cara dan penerimaan yang berbeda-beda. Saat saya masih di taman kanak-kanak, saya menjadi murid perempuan paling lihai memanjat apa pun yang dapat dipanjat, saya lebih suka menemani adik teman saya bermain ketimbang memperebutkan arena permainan sampai salah satu dari kami menangis karena kalah, saya hampir selalu keberatan makan-makanan di Sabtu pagi, dan saat itu pula saya mulai dekat dengan tarian pun puisi.

Saat duduk di sekolah dasar, lima tahun pertama terasa menyenangkan, sampai di tahun terakhir, hari-hari saya terasa begitu jauh dari semangat, tak ada lagi ceria, karena saya merasa itu bukan tempat saya, saya merasa kurang diterima, mungkin karena lelucon saya aneh, atau gaya saya yang tomboy membuat mereka membentang jarak. Namun, syukurnya saya tak mempermasalahkan itu, anggap saja sekolah dasar saya hanya lima tahun, tahun terkahir hanyalah main-main, biar saya simpulkan dengan cara itu.

Seragam putih biru menerima kehadiran saya dengan cukup baik, saya  menemukan banyak sosok yang menyenangkan, namun belum cukup untuk membuat saya ingin bercerita banyak. Dari sekian banyak yang saya kenal, hanya belasan yang saya rasa cukup dekat, dan sampai hari ini, akhirnya hanya tersisa beberapa kepala yang masih ingin saya dengar kabarnya, selebihnya biar mereka dengan kehidupan barunya, dan saya dengan kehidupan baru saya, tak ada yang perlu dipaksakan, pernah mengenal tak selamanya harus juga mengenang.

Dan, masa putih abu adalah waktu yang begitu indah. Di sana saya belajar banyak hal. Mulai berani berbicara, berani tampil, berani menyuarakan apa yang ingin saya katakan, dan saya benar-benar berjalan dengan cara saya sendiri, tanpa ada rasa takut. Meskipun saya tidak melanjutkan pelajaran yang saya dapat saat masa putih abu, itu tidak membuat saya menyesal sedikitpun. Karena terlalu banyak kebahagiaan yang saya temukan di sana. Sayangnya, tulisan saya kali ini tidak saya arahkan ke sana.

Lanjut memasuki dunia kerja, saya yang remaja mulai tumbuh dewasa, mulai terbiasa berbicara dengan kata yang lebih sopan, dan perlahan ketakutan-ketakutan saya memudar. Saya yang sebelumnya takut keluar malam, tidak lagi kalah dengan gelap, sebab terbiasa menempuh jarak perjalanan yang menghabiskan waktu hampir dua jam di malam bahkan sampai dini hari. Bukan untuk party, tapi untuk kembali ke rumah setelah seharian kerja di kota orang. Saya mulai berani ke mana-mana sendiri, namun satu yang tak berubah, saya masih menyimpan bayangan wajah kedua orangtua saya tiap kali saya di luar rumah. Itu yang terus menjaga saya dari kejahatan bagian semesta lainnya.

Sampai saya dipertemukan dengan seseorang, dengan cara yang unik, dengan jalan cerita yang tak pernah bisa saya tebak sebelumnya. Dia satu-satunya orang yang dekat di hati saya, selain mama, papa, mas, dan abang. Dia hampir selalu tahu kapan saat saya butuh teman, dia selalu muncul sesaat sebelum saya mencarinya, dia selalu berhasil membuat saya tersenyum sekaligus menangis.

Seperti sore tadi, saat saya sedang mengingatnya, entah bagaimana caranya ia terasa begitu dekat, ia terasa begitu nyata berada di hadapan mata saya, batinnya terasa begitu mengikat. Dia tahu hampir semua tentang saya, banyak hal yang tidak saya bagi kepada banyak kepala, namun dengan mudah saya tuangkan pada telinganya. Dia sahabat terbaik, teman bertengkar terbaik, pasangan ngambek terbaik, juga pendengar yang baik. Meskipun ia tak lihai memberikan pendapat atas masalah-masalah yang saya lewati, tapi dia selalu bersedia menemani saya melewati masa-masa berat. Dia sosok yang saya maksud satu-satunya orang yang selalu percaya jika suatu saat mimpi saya akan menjadi nyata. Dia yang mengaku pernah kecewa pada saya, dia yang hatinya pernah saya patahkan, dia yang tahu sisi buruk saya, namun selalu mengatakan jika saya tak seburuk itu. Dia selalu memandang saya dengan cara yang positif, dia yang cukup berjarak dengan saya, namun karenanya juga saya sadar jika jarak tak selamanya berkuasa, sebab dengannya saya bisa membuat jarak menjadi tak berdaya.

Kami bukan sepasang kekasih, kami hanya dua manusia yang terus saling mendoakan, kami dua manusia yang terus memperbaiki diri, kami dua manusia yang berjalan dipijakan masing-masing, dan kami dua manusia yang terus menanti kabar baik dari satu sama lain. Dan, dia seseorang yang membuat saya bersyukur karena telah mengenalnya dengan sangat baik.

#PenariJemari
#TentangTemanTerbaik
#MengenaiKepercayaan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s