Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Saya masih sangat ingat, bagaimana cerita Filosofi Kopi membuat saya begitu terhanyut; pada cinta Ben dan Jody dalam persahabatan yang sangat tulus. Masih ingat juga bagaimana manisnya Ben berdamai dengan Bapaknya, setelah sekian lama berdiam dalam kesalahpahaman karena kepergian sang Ibu tercinta.

Saat Ben dan Jody terus membuat saya belajar, jika sahabat bukanlah mereka yang selalu manis di hadapan mata, tetapi mereka yang tetap rindu meski selisih paham sedang bertamu di tengah kita.

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy

Gambar Via: hiburan.metrotvnews.com

Dua tahun menanti setelah team Filosofi Kopi mengumumkan bahwa akan ada sekuel filmnya. Nyatanya saya masih harus menunggu sampai Filosofi Kopi 2: Ben & Jody masuk ke layar-layar bioskop.

Akhirnya, 13 Juli kemarin, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody hadir di hadapan mata.

Tiket Filosofi Kopi 2 Ben & Jody

Berdirinya Ben diawal film membuka ingatan sekaligus mencipta harapan. Ingatan tentang cerita sebelumnya, dan harapan tentang bagaimana akhir lanjutan cerita. Lagi-lagi dua pria brewok ini membuat saya terpana, bukan karena wajah tampannya, namun karena Chicco Jerikho (Ben) dan Rio Dewanto (Jody) begitu merasuk ke dalam peran, bahkan terkesan sedang tidak berakting.

2

Gambar Via: youtube.com

Masih ingat Nana? Barista perempuan yang menguras air mata di Filosofi Kopi sebelumnya? Kali ini dia hadir dengan sedikit cerita, kemudian pamit karena sebuah kabar bahagia. Tentang apa? Tentang cerita yang akhirnya membuat Ben, Jody, Nana, Aldi, dan Aga saling memeluk untuk melepas; sementara. Karena kapan pun Nana ingin kembali, pintu itu akan selalu terbuka.

Ibarat meja, Filosofi Kopi kehilangan satu kaki, yang kemudian harus kembali ikhlas melepaskan dua lainnya. Pincang, hampir kehilangan arah. Ben dan Jody terus mencari ke mana jalan yang akan mereka pijak berikutnya.

9

Gambar Via: youtube.com

Kemudian ada seorang wanita berkacamata (Jenny Jusuf), memesan segelas kopi; Ben’s Perfecto. Dan kembali menghilang dari layar setelah menerima kartu Filosofinya dari tangan Ben. Saya tersenyum, karena wanita itu adalah sosok di balik suksesnya banyak kepala jatuh cinta dengan film ini; terlepas dari peran mbak Dee Lestari yang tak perlu lagi diragukan.

Ide cerita kali ini diambil dari tulisan Christian Armantyo dan Frischa Aswarini; pemenang kompetisi #NgeracikCerita. Keputusan untuk melibatkan ‘orang luar’ sebagai penyumbang ide cerita ini juga menjadi salah satu pupuk, yang kemudian sukses menyuburkan sekuelnya.

Banyak adegan yang tak bisa saya gambarkan jelas, bukan karena tak terekam dalam ingatan, tapi karena saya ingin kalian menyaksikan film ini secara langsung. Untuk satu tiket bioskop yang tak akan mengecewakan dan 100 menit lebih yang tak akan terbuang sia-sia. Karena begitu banyak pelajaran dan gambaran indah tentang kehidupan dan Nusantara.

3

Gambar Via: youtube.com

Setelah kehilangan tiga kakinya, Ben dan Jody kembali sepakat untuk membangun kedai yang hampir usang, kedai yang menurut Jody adalah ‘Kepala Naganya’, kedai yang mendewasakan mereka, kedai yang menyimpan begitu banyak cerita dan rasa.

Mereka tetap akan berkeliling Indonesia; dengan cara yang berbeda. Mereka tetap akan ngopiin Indonesia, melalui kedai-kedai yang nantinya akan berdiri dengan begitu syahdunya.

6

Gambar Via: youtube.com

Namun, untuk kembali membeli kedai yang sudah mereka jual sebelumnya, bukanlah hal yang mudah. Ben dan Jody harus mencari investor yang bisa membantu mereka kembali mewujudkan impiannya. Dan, itulah yang akhirnya mengantarkan Ben dan Jody bertemu dengan Tarra (Luna Maya), pebisnis muda yang menganggap jika Filosofi Kopi hanya tinggal mitos belaka.

19

Gambar Via: youtube.com

Setelah pemikiran sengit terjadi antara dua sahabat itu, akhirnya Ben berhasil meyakinkan Jody untuk sepakat kerjasama dengan Tarra. ‘Gondrong’ yang berhasil memikat di pertemuan pertama; dan seterusnya.

23

Gambar Via: youtube.com

Tarra adalah sosok wanita sukses yang tak bergantung pada orangtua, ia membangun bisnisnya sendiri; dari nol. Tarra ada di tengah-tengah Ben dan Jody yang antusias dengan mimpi tertunda mereka. Dua pria dan satu wanita ini kembali menemukan secangkir kopi yang masih tertinggal di sana; di Melawai.

7

Gambar Via: youtube.com

Di tengah cerita, ada juga seorang stand up comedy-an bermata sipit (Ernest Prakasa) yang berperan sebagai teman Jody, yang juga pemilik salah satu kedai kopi ternama. Di kedai kopi milik temannya tersebut, Jody bertemu dengan Brie (Nadine Alexandra), barista lulusan universitas di Australia, yang akhirnya Jody tarik masuk ke dalam Filosofi Kopi, untuk bermain di balik mesin-mesin kopi, disamping Ben dan barista lainnya.

8

Gambar Via: youtube.com

Masuknya Brie ke Filosofi Kopi bukanlah hal yang sederhana. Ia harus terus berdebat dengan idealisme Ben sebagai pecinta kopi nomor satu. Brie kerap mengatur napasnya, karena Ben senantiasa terkesan tidak mempercayai kemampuannya sebagai seorang barista.

4

Gambar Via: youtube.com

Keluhan demi keluhan terus berdatangan, sampai akhirnya mereka sepakat untuk segera membangun kedai kopi berikutnya; Yogyakarta. Brie dan Jody di Jakarta terus melayani pesanan demi pesanan kopi, sembari menanti kelanjutan pembangunan Filosofi Kopi Yogya yang sedang Tarra dan Ben kerjakan.

16

Gambar Via: youtube.com

Konflik demi konflik tercipta, ringan namun tidak picisan. Banyak alur yang tidak mampu saya tebak. Bahkan, cuplikan adegan dalam trailer pun 99% gagal saya tebak.

Bagaimana manisnya tatapan Ben pada Tarra. Damainya kata-kata yang Jody gunakan untuk menenangkan kekecewaan Tarra.

15

Gambar Via: youtube.com

13

Gambar Via: youtube.com

Hentakan kaki yang Brie lakukan di depan Melawai. Malam tahun baru yang mulai menumbuhkan benih-benih cinta.

11

Gambar Via: youtube.com

Saksi bisu Makassar dan Toraja dengan begitu merdunya. Duka dan lara yang begitu menusuk di Kampung. Kemarahan yang entah harus diakhiri dengan cara apa. Kekecewaan yang hadir karena dusta yang sebenarnya bukan kebohongan sempurna.

17

Gambar Via: youtube.com

Jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan. Hingga berdamai dengan cara yang tak biasa.

12

Gambar Via: youtube.com

Ben patah hati, bertubi-tubi. Jody kehilangan lagi. Tarra tenggelam dalam rasa bersalah. Dan, Brie sedang memupuk kebun-kebun yang mulai berpihak padanya.

10

Gambar Via: youtube.com

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody bukan hanya menyuguhkan akting para aktor yang mumpuni, tapi juga peran team di dalamnya.

5

Gambar Via: youtube.com

Angga Dwimas Sasongko kembali sukses di filmnya kali ini. Terlepas dari nama-nama yang tak bisa saya sebutkan, mereka semua adalah team yang solid, karena tanpa kebersamaan dan cinta, rasanya mustahil film ini akan terbungkus dengan nilai tinggi.

Pengambilan gambar yang tidak biasa, pemilihan musik yang begitu nyaman di telinga, dan poin pendukung yang tak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

Ben dan Jody tetap menjadi sepasang sahabat yang tak dapat dipisahkan, sekalipun jalan hidup mereka tak lagi berada dalam satu pijakan. Pilihan berbeda yang tetap menjadi satu tujuan. Hingga berbagi tawa lewat layar di akhir film yang membuat saya mengharapkan lanjutan ceritanya; kembali. Akankah ada? Entahlah.

Yang pasti, jangan lupa jika,

20

Gambar Via: youtube.com

“Setiap hal yang punya rasa, pasti akan selalu punya nyawa.”

21

Gambar Via: youtube.com

Terima kasih untuk sebungkus cerita yang kembali membuat saya menulis, karena saya ingin lebih banyak lagi mata yang menjadi saksi persahabatan Ben dan Jody. Sepasang yang tak akan pernah usang. Selamat, karena di beberapa kota, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody terus menambah layarnya. Ssssssssstt.. permisi bang Spidey!

Salah satu original soundtrack yang syahdunya gak ada obat:

​Nek, Puput kangen.

Lucu ya, Nek. Seorang cucu kayak Puput bilang kangen sama Nenek. Huuu. Tapi, emang beneran kangen. Tiba-tiba aja Puput sendu pas kebayang Nenek lagi ketawa. Ngetawain lawakan yang ada di rumah ini.

Nenek apa kabar di sana? Maaf kalo gak tiap waktu kita mikirin Nenek. Maaf kalo doa yang dikirim masih terlalu sedikit. Maaf kalo cucu Nenek yang satu ini terlalu sibuk sama dunia, sampe lupa kalo ada Nenek yang senantiasa rindu doa-doa dari kita.

Nek, ada banyak kabar bahagia, lho. Ya, walaupun ada juga beberapa kabar kurang nyenengin. Puput yakin kalo nenek ada di sini, Nenek pasti happy banget deh pas tau kabar bahagianya. Tapi, Nenek juga pasti nangis kalo tau kabar kurang nyenenginnya tuh apa. Walaupun Puput sadar kalo sekarang pun Nenek pasti tau jelas; di sana.

Nek, Puput pelan-pelan udah mulai kerja pake hati, lho. Puput dapet kerjaan yang Puput suka. Tempatnya juga gak jauh. Puput pulangnya gak terlalu malem. Capeknya juga dibawa ketawa karena Puput kerja dibidang yang Puput suka. Mulainya dari bawah banget sih, Nek. Dari bawah bangeeet. Tapi, pelan-pelan naik kok, Nenek tenang aja. Kita sama-sama tau kalo ‘indah pada waktunya’ itu bukan kalimat klise dan ‘hasil yang gak pernah khianati proses’ juga kalimat nyata.

Masih jauh banget sih Nek buat bisa meluk cita-cita Puput, kadang Puput juga pingin udahan karena lelah. Tapi, Nenek tau kan? Puput gak bakal nyerah.

Nek, Puput kangen deh kalo kita lagi ngobrol berdua. Nenek nyeritain perasaan Nenek buat tiap-tiap anak Nenek. Terus Nenek nanya-nanya tentang Puput a, b, c, d. Terus kita ketawa berdua. Gak jarang juga sih kita diskusi. Ternyata, kalo Nenek udah gak di sini kayak sekarang, baru berasa ya, ocehan Nenek yang ‘itu-itu’ aja tuh ngangenin.

Puput kangen bunyi langkah kaki Nenek yang nyeret sendal. Langkah demi langkah. Sambil angkat daster Nenek yang kepanjangan.

Puput kangen linglungnya Nenek yang lupa bawa anduk kalo mau mandi, terus gak enak hati cuma buat bilang ‘Put, tolong ambilin anduk Nenek dong’ sampe akhirnya anduk ada di tangan Nenek, Nenek langsung nyengir. Lucu.

Puput kangen Nenek yang ngajarin Puput buat banyak minum air putih. Buat makan tepat waktu. Buat ngelakuin hal yang emang harus dilakuin.

Puput kangen Nenek yang suka ngeliat teh Sarseh, ketawa ngeliat kang Sule, terus ngikik kalo nonton sitkom. Akhirnya Puput sadar kalo Nenek itu ngegemesin.

Nek, bentar lagi bulan puasa, lho. Inget gak? Nenek suka bilang ‘Nenek kuat gak ya Put puasa nanti?’ Dan jawabannya bukan gak kuat, Nek. Tapi emang masanya udah abis. Tahun lalu ramadhan terakhir buat Nenek. Dan Puput bangga Nenek puasanya full. Keren.

Mudah-mudahan dengan dipanggilnya Nenek sama Allah, bisa bikin Puput, anak-anak Nenek, cucu-cicit Nenek, semua keluarga Nenek lebih rajin lagi ibadahnya ya, Nek. Karena kita sadar banget, seenggaknya, ada alasan yaitu Nenek yang selalu nunggu kiriman doa dari kita; dari sini.

Nek, makasih ya, udah mau jadi salah satu penyebab kangen yang Puput rasain. Maaf karena Puput gak sempet bilang sayang langsung di kuping Nenek. Maaf buat semua perasaan gak enak hati yang pernah Puput buat ke Nenek.

Duh, jadi netes kan air matanya. Hehehehe. Baik-baik di sana ya, Nek. Terpenting, Nenek udah gak sakit lagi.

Satu kalimat terakhir; love you so, Nek. Al-Fatihah. ♡

#PenariJemari #KangenNenek

Tak Semudah Bicara; tapi ku tak ingin Menyerah.

Pertama, gue cuma mau ngasih tau, jangan baca tulisan ini kalo kalian sensitif, jangan baper, udah gitu aja.

Okay. Kalo ada yang bilang, milih buat gak pacaran lagi itu sama sekali gak gampang? Awalnya iya. Banget malah. Gue yang dulunya gak bisa ke mana-mana sendirian, gue yang dulunya gak percaya diri buat ada di keramaian sendirian, selalu ngerasa ‘butuh’ seseorang buat support gue secara nyata, secara fisik. Dulu gak pernah kepikiran buat ngambil jalan yang sekarang gue pilih, sama sekali gak kepikiran. Bahkan gue pernah punya keinginan buat asik dan nikmatin hidup gue dengan cara jalan-jalan sejauh yang gue mau, dengan baju yang super minim, berjemur di pantai, biar makin ke barat-baratan. Syukurnya, gak tau dengan cara apa, Allah ngeblock niat hamsyong gue yang satu itu.

Mulai dari beberapa hubungan yang coba gue bangun selalu berakhir dengan jalan buntu. Belom lagi beberapa orang yang gue pilih sebagai pasangan gue milih buat ‘mainin’ hati gue dengan cara mereka masing-masing, sampai akhirnya gue sama pasangan terakhir gue nyerah buat perjuangin hal yang sebenarnya emang lebih baik untuk gak pernah dimulai. Boleh gue bilang kalo gue nyesel? Iya. Gue nyesel. Kecuali satu hal, gue gak nyesel kenal mereka, karena mereka manusia baik, baik banget. Terkesan kejam mungkin, tapi sebenarnya mereka baik. Cuma, Allah emang gak nulis nama mereka buat jadi jodoh gue, jadi jalan ceritanya dibikin tragis.

Berat? Awalnya iya. Banget malah. Nangis? Iya gue ngaku, gue nangis. Lebay? Pada masanya gue ngerasa itu wajar, tapi pas udah seutuhnya bangkit? Gue akuin gue lebay. Hahahaha.

Semua berawal dari keinginan gue buat berhijab, udah pernah gue bahas sebelumnya kenapa akhirnya gue mutusin buat berhijab. Kewajiban perempuan muslim yang gue jalanin lumayan telaaaaat. Tapi, mendingan telat si dari pada enggak sama sekali. Terus, apa gue langsung jadi cewek sempurna setelah berhijab? Nay! Enggak dengan sekejap mata. Bahkan sampai sekarang dan sampai kapan pun, gue tau gue gak akan sempurna. Gue paling susah buat gak emosian, plus gak nyinyirin orang. Asli, suseh. Apalagi kadang untuk ada di suatu tempat yang isinya bikin kita gak nyaman, bikin kita kesel aja gitu bawaannya. Pelan-pelan, mau banget deh gak nyebutin BKT dan lain-lain lagi. Rasanya gak mungkin emang seorang gue jauh dari BKT, tapi gue pingin buat stop bilang BKT dan kawan-kawan.

Okay, balik lagi ke topik utama. Kenapa gak mau pacaran lagi? Sederhana si, karena dalam islam emang gak ada yang namanya pacaran. Terus, kenapa sebelumnya pacar-pacaran? Ya, karena hatinya belum diketuk secara langsung. Hahahahaha alasan. Nyetak dosa mah nyetak dosa aja.

Iya, gue akuin. Gue emang tempatnya dosa kok. Tapi, gak ada salahnya kan nyoba renang buat naik ke permukaan? Biar gak selamanya tenggelam dalam dosa.

*Geli sendiri gue nulisnya asli, ngebayangin seorang gue bisa ngomong kayak gini, tua!* Hahahahaha.

Gampang gak sih buat milih gak pacar-pacaran lagi? Sama sekali gak gampang. Asli. Karena kalo lagi kumpul keluarga, selalu ditanya ‘pacarnya mana’ dan kalo lagi ngumpul sama anak-anak, mereka selalu gandeng pasangannya masing-masing. Beberapa laki-laki juga nyoba buat mulai gocek hati gue, dan jujur aja gue hampir kegocek, syukurnya gue bisa bertahan dan gak jadi jatuh. Gue sengaja makin sering nulis hal kayak gini, biar makin banyak yang tau, jadi lebih gampang buat bertahan, karena gue udah ngumbar-ngumbar pilihan hidup gue, jadi lebih mudah buat bertahan, salah satu alasannya ya karena udah banyak yang tau tentang pilihan gue yang satu ini. Gitu.

Bra, gak gampang buat terus sendiri sampai akhirnya nanti gue ketemu sama jodoh gue. Banyak asumsi orang yang mulai ngehakimin. Mulai dari gue yang belaga alim, gue yang masih terjebak nostalgia, sampai yang paling gila? Katanya gue udah nutup pintu buat lakik! Sakit hati gak? Awalnya sih iya. Secara gue bukan tersangka, gue gak ngerugiin hidup mereka, tapi gue dihakimin. Tapi, ternyata bales tudingan nyinyir kuadrat kayak gitu, paling ampuh emang pakai ‘senyuman’ manis. Sama satu lagi, mesti ngelatih hati buat bodo amat sama penilaian orang diluar sana. Selama orang rumah support pilihan gue, dan gue yakin sama pilihan gue ini, gue bakal jalan terus. Insya Allah.

Intinya, gue jadi perempuan paling gesrek ya kalo lagi sama beberapa sahabat gue aja. Sama mereka tuh BKT keluar, teriakan gue keluar, gilanya gue keluar. Semuanya keluar. Karena mereka tau, yang kayak gitu emang cuma becanda, aslinya ya gue sayang sama mereka. Sekasar apa pun, gue mau mereka happy dijalan yang mulus. Makasih banget si buat mereka yang kampret tapi berharga banget. Preeet!

Teman seumuran gue udah pada banyak yang nikah, lho.

Ya, terus? Ya, Alhamdulillah jodoh mereka datang duluan. Alhamdulillah mereka udah halal. Selalu senang hadir di pernikahan, apalagi kalo bisa nyaksiin akadnya. Harunya gak ada obat!

Terus, jadi kepingin cepet nikah gak? Nikah sih pingin, tapi cepet-cepet ya gak perlu. Gue gak mau nikah cuma karena teman seumuran gue udah pada nikah. Gue gak mau nikah cuma karena masalah usia. Gue gak mau nikah cuma karena alasan-alasan receh yang ada di tengah kebanyakan masyarakat Indonesia. Gue mau nikah kalo entar jodoh gue datang, terus langsung minta restu ke orangtua gue. Gue mau nikah sama laki-laki yang keluarganya menerima gue. Karena menurut gue, nikah itu dimulai dari dua keluarga yang saling nerima, kemudian saling sayang dan akhirnya saling peduli.

Terus, mau sampai kapan gue sendiri? Ya, sampai ada yang datang buat ‘minta’ gue ke mama papa gue lah.

Terus, kalo gak pernah ada laki-laki yang mau kayak gitu? Ya, gak perlu takut. Kalo laki-laki itu gak mau kayak gitu, artinya dia masih butuh waktu buat main-main, dan bukan gue partner main-main dia. Karena waktu main-main gue udah abis, braaa. Hahahahaha.

Gue masih cetek ilmu. Cetek banget. Masih suka ngeles kalo diajakin nimba ilmu sama kakak perempuan gue. Masih banyak kurang. Masih sengbongsol adengsengbongdol.

Tapi, kakak perempuan kayak kak Onie, bikin gue bisa belajar banyak. Insya Allah dia sosok istri yang sholehah. Gue bersyukur atas pilihan abang untuk yang satu itu.

Dwi Oktaviani juga. Kakak kelas yang dulunya garing abis, sering gue ledekin mati-matian, sempat ngilang beberapa tahun. Sampai akhirnya? Setelah bertapa, dia muncul lagi, dengan pribadi yang baru, yang jauh lebih manis. Insya Allah hatinya makin baik. Dia salah satu yang ngajak gue banget buat terus semangat istiqomah. Meskipun sering gue bales dengan berbagai macam alasan, dia gak capek buat terus ngajak. Dan, gue rasa gapapa si sekali-kali nulis nama dia di blog gue, biar dia happy. Hahahaha. Howiyak, selamat dari gocekan lelaki terakhir juga karena sharing sama dia. Alhamdulillah.

Intinya, pertanyaan ‘mana pacar, mana calon, kapan nikah, kapan nyusul’ gak akan bikin gue stres plus depresi, sampai akhirnya mutusin buat pacaran lagi. Insya Allah. Doain aja gue kuat jalan di atas pilihan gue.

Gak mau nambah dosa buat papa, gak mau mama papa nanggung dosa yang gue bikin secara suka-suka dan sengaja. Bikin mereka bangga dan bahagia tiap saat aja gue belom bisa, masa iya gue harus nambahin dosa mereka buat bahagiain seorang laki-laki bukan muhrim dan yang bukan suami gue?

So sorry kalo banyak hati yang tersinggung. Gue gak sama sekali maksud buat nyinggung. Jujur, berdiri di atas pilihan ini sama sekali gak gampang. Jaman sekarang, milih buat kayak gini justru lebih sering diserang. Dibilang muna, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi yang penting Allah ridho. Itu aja si.

Belajar, belajar, dan belajar. Belajar nabung buat beli baju syar’i, belajar buat gak lagi salaman sama laki-laki bukan muhrim *lagi dicoba bangeeet*

Sampai akhirnya kalo nanti ketemu jodoh dan nikah. Terus dikasih kepercayaan punya anak, mau mulai ngubah kebiasaan kebanyakan orangtua dengan? Ini:

Biasanya ‘nak, ayo tidur, besok kan harus bangun pagi, kamu harus sekolah’

Dengan ‘nak, tidur yuk, udah malam, besok kan kita mau bangun pagi buat subuh berjama’ah’

Duh, bahagia banget kali, yaaa. Hahahaha. Meng-aamiin-i segala doa baik yang bisa diterbangkan. Karena gue percaya Allah selalu kasih yang terbaik di waktu yang paling tepat. Aamiin. Sekian dan terima tatapan damai tanpa maksud saling menjatuhkan.

#PenariJemari

Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Dua Puluh Enam

Sebenarnya, tak ada yang spesial pada hari kedua puluh enam bulan dua tahun ini. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kulanjutkan suara yang sempat tertunda beberapa jam sebelumnya.

Seperti tak mengenal lagi siapa yang sebenarnya kukenal baik. Setengah mati kuyakini hati untuk percaya pada diri sendiri, namun upayaku kembali patah dan tak lagi ada dalam satu wadah.

Kupaksakan logika melawan hati. Kemudian ia menari kala kubertanya; mungkinkah semua nyata?

Melangkah dan melangkah lagi. Kepalaku menoleh. Ada yang menyebut namaku di ujung sana; ruang yang kukenal namun asing warna dan harumnya.

Satu dua pijak, sampailah jiwa pada lembar sebelumnya.

Tiba-tiba saja jemariku memeluk benang. Kusut. Namun tak bisa untuk dilepaskan. Kucari lagi dan lagi cara tuk menyudahi kekacauan.

Ah! Jemariku terluka. Tetes demi tetes darah mengalir, benang yang kukira biasa, tajam nyatanya.

Namun jemariku masih belum bisa berhenti. Entah mengapa ia masih saja melanjutkan tariannya tuk bisa mengantar kusut kembali pada keadaan semula.

Air mata yang sebelumnya mengalir karena luka, darah yang kini mengering karena belum sempat ia seka, masih melekat pada apa yang ia sebut jiwa.

Kemudian malam terasa datang lebih awal, namun ia kesulitan untuk melekatkan kelopak mata satu dan lainnya.

Hai, dua puluh enam memang tak berakhir mudah. Namun, harap akan selalu ada, mungkin saja Tuhan titipkan pada detik berikutnya, atau entah di waktu yang mana.

Tertanda, mawar putih yang masih terjaga.

#PenariJemari 

Setengah, lalu?

Semuanya memang berawal dari keputusan yang diambil setengah hati.

Berusaha yakin jika hujan malam itu ialah pertanda.

Memeluk segala kata yang sebenarnya jauh dari angan. Meninggalkan lara; seolah tuk menjemput tawa.

Nyatanya memang tak pernah mudah. Sebab di hari berikutnya selalu ada tangis yang pecah. Kemudian lantunan-lantunan menyiksa.

Lantas diri bisa apa? Hanya mematung dan tertawa.

Bahagiakah?

Hati bercerita pada mata jika sebenarnya ia sedang asik menertawakan langkah yang keliru. Kemudian menangisi jejak yang telanjur pindah jalur.

Sepekan kemudian logika angkat suara, sebab mendung senantiasa menguasai langit, dan ia tak sudi jika harus selamanya hidup jauh dari cahaya.

Pandangannya berputar, langkahnya kembali. Ada senyum dan harap yang sedang ia bangun di sana; di tempat yang pernah memeluknya erat.

Namun Tuhan benar-benar tak pernah membiarkan jiwa seorang bimbang kembali keliru memilih jalan.

Ada tawa di sana. Ada bahagia yang merekah. Jelas beda; ia tak lagi menari dalam sepi.

Kemudian kutertawa; setengahku kini menjawab dengan cara yang beda. Lantas aku harus apa?

Terus berjalan, menikmati kehidupan, memahami jawaban yang tak terlontar langsung dari apa yang kerap kali membuat semesta letih dalam lemahnya.

Ssssssssstt.. bangunlah, lanjutkan langkahmu ke sudut sana, sebab setengah lainnya sudah terlalu lama menunggu. Setia meskipun tak pernah ada satu pun harap yang pasti.

screenshot_67

Ingatlah, dulu kau pernah hidup dengan langkah yang penuh kebahagiaan. Kau bisa ciptakan lagi!

#PenariJemari

#SatuHariSatuTarian

#Tersadar

Sedang Bahagiakah Kau Di Sana?

Surat hari terakhir, untuk Bosse; Alm. Om Em.

Sosok yang belum pernah kutemui, bahkan melihat fotonya pun belum. Parahnya lagi, aku bahkan baru tahu jika Alm. Om Em itu Bosse. Salah satu penebar cinta melalu #30HariMenulisSuratCinta.

Om Em, sebenarnya tahun ini adalah tahun ketigaku ingin mengikuti #30HariMenulisSuratCinta, sejak minggu kedua di bulan Januari lalu, aku sudah menanti kemunculan Bosse di timeline. Namun, Bosse tak muncul jua.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuka laman PosCinta, dan di sana, kutemukan kabar duka yang sudah lama ada. Aku baru tahu jika kau sudah tiada, kau sudah lebih dulu pulang, dan entah mengapa, aku yang belum pernah bertemu denganmu, bahkan bisa kukatakan jika aku tidak mengenalmu dengan pasti, merasakan duka itu.

Aku kehilangan #30HariMenulisSuratCinta, aku kehilangan kesempatan untuk menebarkan kata cinta lewat jemariku, aku kehilangan celotehmu, Bosse. Aku merindukan bunyi bel sepedamu saat hendak mengantarkan surat-surat kita.

Bosse, tahun ini #30HariMenulisSuratCinta absen dulu, tapi, sahabatmu tak melewatkan tahun dengan begitu saja, mereka mengajak kita tenggelam dalam cinta lewat #PosCintaTribu7e dan aku bahagia, Bosse. Aku bahagia karena kaulah penerima surat-surat kita di hari ini.

Bosse, berbahagialah di sana, sebab di dunia semakin banyak perpecahan, semakin banyak kejahatan yang dihalalkan untuk kepuasan mereka yang selama ini hidupnya tidak bahagia. Bosse, di dunia semakin banyak kata yang tak bisa dipercaya, semakin banyak waktu yang terlewati dengan dusta media, pun sekitar kita.

Bosse, apa yang bisa kuberi untukmu selain lantunan doa? Mudah-mudahan, kebiasaanmu di dunia yang gemar menebarkan cinta, membawa langkahmu ringan ke surga. Bosse, mungkin tahun ini ku tak bisa banyak berkata, tapi dilain waktu, atau mungkin #30HariMenulisSuratCinta yang akan datang, kan kutuliskan kembali surat untukmu. Aku janji!

Sore ini kusudahi, aku ingin kau kembali menikmati waktu di taman surga, yang Allah janjikan penuh dengan bahagia.

Terima kasih sudah pernah ada untuk kita semua.

Dariku, penari jemari yang bersyukur pernah mengenalmu, meski hanya lewat Kriiing! Pos! Pos!

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAlmOmEm
#Bosse

Penguat Segala

Surat hari keenam, kutujukan untuk Dia, Sang Maha Segala.

Sosok yang selalu ada, sosok yang selalu menerima pulangku, meski kaki telah begitu jauh melangkah. Maha Pemaaf, Maha Pengampun, dan Maha Segala.

Aku bukan manusia tanpa dosa, sebab kupasti pernah melakukan kesalahan, entah dengan lisan pun perbuatan, entah sengaja pun di alam bawah sadar.

Tuhan, banyak dari mereka berkata, jika ingin berbincang denganmu, cukuplah berdua, tak perlu lewat banyak kata, atau apa pun macam lainnya. Namun, aku selalu ingin mengajak jariku menari untuk-Mu. Sebab, tanpa izin-Mu, aku tak mungkin mempunyai jemari yang kini kerap kali kugunakan berbagi; cerita pun rasa.

Terima kasih, karena Kau menempatkanku pada rumah yang tepat, rumah yang senantiasa menerima segalaku, rumah yang selalu rindu suaraku, dan rumah yang mencintaiku utuh dan penuh.

Terima kasih karena Kau memberiku begitu banyak pelajaran, mulai dari bertemu teman yang sesungguhnya, hingga bertemu dengan mereka yang luar biasa mahir bersandiwara.

Aku banyak belajar, bagaimana caranya bertahan, bagaimana rasanya dipermainkan, dan bagaimana caranya tetap mencintai-Mu meski semesta mulai sesak dengan kejahatan.

Tuhan, aku yakin dan percaya, jika Kau adalah Segala; bagi dunia dan akhirat. Tak ada satu pun mahluk yang bisa mengalahkan kuasa-Mu.

Maaf jika suratku terasa sedikit gagap, pikiranku sedang terbagi, antara satu dan lain hal, kurasa tak perlu kujabarkan, sebab Kau melihatku selalu.

Tuhan, jangan pernah lepas tanganku dari genggam-Mu, biarkan kuberjalan ke arah yang sudah kunikmati alurnya, langkah yang insya Allah Kau ridhoi. Tuhan, aku hanya ingin mengutarakan seberapa kupercaya Kamu. Kupercaya Kau akan memeluk segalaku dan apa pun yang kutitipkan lewat doa.

Tuhan, kumohon terangkan hati mereka yang sedang dipenuhi kabut gelap. Kumohon tuntun mereka untuk kembali ke jalan-Mu. Kumohon sadarkan mereka untuk menghentikan langkah yang tak perlu.

Aku tak pernah takut pada apa pun, sebab aku punya Kau; Tuhanku.

Tuhan, terima kasih karena memberiku kesempatan kembali pada-Mu. Terima kasih karena Kau masih senantiasa memelukku yang kerap kali berpetualang di luar jalur-Mu.

Tuhan, terima kasih banyak.

Salam sayang, dari salah satu hamba-Mu yang insya Allah senantiasa bersyukur.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#TeruntukSegala
#Tuhan
#Allah

Untuk yang Selalu Ada pun yang Telah Tiada

Surat cinta hari kelima, ingin kutujukan kepada mereka yang selalu ada pun yang telah tiada. Menemaniku dalam segala lara, menjadi penyebab tawa, penerima pun pemberi peluk paling manja, tak peduli warna, tak peduli rasnya. Surat mama hari ini, untuk kalian; anak-anak kesayangan mama.

Untuk Putih, betina pertama yang senantiasa ada di rumah, bukan menetap, ia hanya singgah, menjadi induk paling kuat, mengerti kapan harus memperlihatkan taringnya. Kemudian kutemukan ia tak bernyawa, entah karena apa, yang jelas, kala itu ia sedang hamil, dan kulihat bercak darah dari sana, tempat ia ingin melahirkan anak-anaknya. Putih memang sudah tak muda lagi, sayangnya, kutemukan ia yang memang tak kupelihara, setelah tubuhnya kaku dan dingin, akhirnya kita hanya bisa saling berpamitan, tanpa sempat meninggalkan pesan.

Putih, terima kasih karena kamu mengajarkan mama satu hal; untuk jadi ibu yang baik dan bertanggung jawab dengan anak-anak. Bahagia di sana ya, sayang.

Kemudian untuk Grey, jantan yang suaranya sangat jarang kudengar, kudapat dari papa yang membawanya ke rumah. Bukan kucing istimewa, tapi bisa membuat isi rumah seketika jatuh cinta. Karena gelagatnya yang manja, dan matanya yang memandang dengan penuh cinta. Grey harus pamit, siang itu adalah cerah yang terlalu mendung untuk hatiku. aku ke luar rumah, bersiap menjemput adik sepupu pulang dari sekolahnya, karena sang ibu sedang kurang sehat. Saat kumundurkan motor, kulihat Grey sedang rebah di atas tanah,

“Grey, kamu ngapain di situ? Tidur sini aja, yuk.”

Kemudian, seorang pencari gelas plastik bekas bersuara,

“Mati, ketabrak barusan.”

Entah apa yang kurasakan, yang kutahu, tubuhku gemetar. Kubalikan tubuh Grey, tak ingin rasanya kuingat bagaimana keadaan terakhir ia siang itu, namun segalanya jelas terekam. Setelah kutanyakan ciri mobil yang baru saja menyapa Grey hingga hilang nyawa, kujalankan motor ke depan perumahan, kutemukan mobil yang serupa dengan ciri, dan kubertanya pada si pengendara,

“Pak, maaf saya mau nanya, tadi bapak lewat jalan yang di sana? (Sambil kutunjukkan arah rumahku).”
“Iya mbak, ada apa?”
“Maaf pak, ada yang lihat bapak nabrak kucing saya.”
“Masa?”
“Iya, pak. Bisa ikut saya sebentar? Saya cuma minta tolong bapak buat kuburin kucing saya.”

Dan si bapak bersedia ikut, saat ia melihat Grey, ia langsung minta maaf, ia bukan kabur, namun ia memang tak mengetahui jika telah menabrak Grey, karena suara mobilnya terlalu bising, ketika si bapak meminta maaf, tangis yang sedari tadi coba kutahan, akhirnya pecah juga. Sakit sekali rasanya, saat harus kehilangan Grey yang baru dua minggu menetap. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu penitipan dari Allah sudah habis, dan aku harus bisa mengikhlaskannya.

Grey, kita memang hanya bersama dalam dua pekan, namun hadirmu sudah telanjur melekat pada hati dan ingatan, terima kasih karena sempat memberi warna pada rumah dan hati mama, mama suka senyum kamu, sayang.

Camera 360

Grey

Kali ini untuk Reby, kucing yang kuambil dari sebuah perumahan kosong. Kucing yang ramah dan penyayang. Kucing pertama yang akhirnya membuat mama mengizinkan aku  memelihara hewan berkaki empat ini di rumah. Awalnya, mama tak pernah suka ada kucing yang masuk ke dalam rumah, tapi Reby pandai mengambil hati mamaku, hingga akhirnya alergi mama terhadap bulu pun perlahan mereda, ia tak pernah lagi terlihat bersin-bersin saat dekat dengan kucing, meski sesekali, saat kondisi badannya kurang baik, alergi itu muncul lagi, tapi justru mama yang tidak mengizinkan aku untuk meletakkan mereka di luar rumah, kasian katanya; dingin.

Setelah delapan bulan menetap di rumah, Reby akhirnya pamit juga. Ia kalah dengan sakitnya yang entah apa, aku telat menemukan petshop terdekat dari rumah, ia kehilangan nyawa saat diperjalanan, malam itu aku sudah sampai di depan petshop yang akhirnya berhasil kutemukan, namun sayang, sapaanku tak mendapatkan jawaban, tak ada seorang pun yang keluar, meski di pintu masih terpampang tulisan ‘buka’.

Segera kutengok Reby, yang ternyata sudah berpulang. Lagi-lagi mama harus kehilangan anak yang begitu mama sayang. Pedih, karena tak sempat mengusahakan kesembuhan, namun apa yang bisa mama lakukan selain mengikhlaskan?

Reby, terima kasih karena sudah membuat nenek kamu ikut sayang dengan kucing-kucing mama, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, penurut, dan cerdas, terima kasih karena kamu sudah begitu banyak mencipta bahagia untuk mama, mama sayang banget sama kamu.

Camera 360

Reby

Sejak itu, banyak kucing yang datang, untuk sesaat menetap, kemudian pamit undur diri. Karena banyak hal. Beberapa dari mereka masih terlalu kecil, dan tak bisa bertahan tanpa induknya, satu di antaranya harus pergi karena lagi-lagi tertabrak di depan rumah tetanggaku, dan sampai hari ini aku tak tahu siapa pelakunya, beberapa dari mereka sakit dan tak sempat meraih kesembuhan.

Untuk Titam, induk dari ketiga kucing paling sehat di rumah, karena Titam berhasil memberikan ASI eksklusif untuk ketiga anaknya selama tiga bulan, kemudian harus pamit undur diri saat ketiga anaknya baru berusia empat bulan lebih dua minggu, satu hari sebelum lebaran beberapa waktu lalu.

Camera 360

Titam

Nak, kenapa kamu gak pulang selama dua hari? Dan kenapa kamu baru kembali terlihat saat sudah tak bernyawa? Dan kenapa kamu harus segara dimakamkan saat mama sedang tak di rumah? Nak, apa kamu tahu jika kehilanganmu ada sesak tiada dua? Mama kehilangan saat sama sekali tak menyiapkan mental. Nak, kamu ada anak, betina, induk yang paling mama sayang. Paling bisa menjaga diri, namun kita tahu jika tak ada satu pun yang dapat menghindari takdir kematian. Mama cuma mau bilang makasih, karena kau selesaikan tugasmu; merawat ketiga anakmu yang saat ini sungguh lucu. Sebelum akhirnya kau pergi, karena tugas duniamu sudah usai. Mama sayang banget banget banget sama kamu, Titam.

Bibu, kucing tanpa pengelihatan, kutemukan di salah satu perumahan, ia sedang asik rebah di tengah jalan, kemudian ada motor yang lewat, dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hampir saja Bibu terserempet. Tapi, karena pengelihatannya tak berfungsi, Bibu hanya bisa celingak-celinguk.

screenshot_3

Bibu

Bu, kita hanya bersama dalam sekejap waktu, namun kamu mengajarkan mama bagaimana caranya menikmati kehidupan meski sekitar menilai kita terbatas. Selamat jalan sayang, mudah-mudahan kamu bahagia, dan mama yakin kamu bahagia, mama yakin kamu bisa lihat kita dari sana, mama sayang kamu, Nak.

Kemudian, patah benar-benar kembali kurasakan, saat anak-anak terserang virus yang entah apa namanya, mereka sakit berurutan, dengan gejala yang sama, kemudian pamit satu persatu dari hadapan.

Lucky, kucing kecil yang jahilnya luar biasa, lincahnya tiada dua, makannya kuat sekali, dia terlalu manis untuk kulupa, dia terlalu cantik untuk kusesali kehadirannya. Lucky, kamu yang pertama menyerah dari serangan virus itu, kamu yang pertama pamit di pelukan mama, kamu yang pertama kembali membuat mama merasa kehilangan, Nak.

screenshot_2

Lucky

Terima kasih karena kamu selalu membuat mama bahagia saat kau sedang asik bermain sendiri, saat kau usil dengan saudaramu, saat kamu mama gendong, dan dengan sigap kamu tarik kacamata mama hingga copot dari muka. Kamu terlalu menggemaskan sayang, mungkin di alam sana, butuh pelawak seperti kamu, mama ikhlas, sebab melihatmu menahan sakit jauh lebih merobek luka hati mama, mama sayang kamu, Lucky.

Ogi, sahabat Lucky paling sabar, jantan paling penyayang, yang tiap pagi menanti mama di depan pintu kamar, menyapa mama yang baru saja bangun dari tidur, meminta untuk sebentar didekap. Manjanya kamu tak pernah bisa mama lupa sayang, kamu terlalu melekat di sini; di hati mama.

screenshot_1

Ogi

Ogi, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, saudara yang pengalah, sosok yang penyayang, pemijit yang handal menggantikan Titam. Tak apa jika kau pun pamit menyusul Lucky, mungkin kau tak tega membiarkan ia pergi sendiri, satu hal yang pasti, mama sayang kamu berkali-kali.

Untuk Pupi, betina yang luar biasa bawel, pintar, lincah. Terima kasih karena kamu sudah memaksa untuk mama pelihara, setelah sempat mama tolak karena alasan terlalu banyak kucing di rumah, tapi suaramu yang kala itu masih sangat kecil, dan tatapmu yang begitu menggemaskan, berhasil membuat mama tak tega, dan akhirnya kita bersama.

bql9axzcmaal8xs

Pupi

Terima kasih karena kamu selalu tahu kapan waktunya pulang setelah asik main seharian, terima kasih karena kamu menjadi anak perempuan yang genit namun tetap mahal, terima kasih karena kamu sudah membuat Sunny merasa begitu disayang. Terima kasih untuk banyak hal, Nak. Mama tak sanggup melihat kondisi terakhirmu, mama ingin sakitmu segera berakhir, dan Allah jawab itu dengan membawa serta sakit dan nyawamu. Tak apa ya sayang, susul Lucky dan Ogi, berbahagialah di sana, mama akan selalu sayang kamu.

Dalia, kucing yang tiba-tiba rebah di teras rumah, kemudian masuk tanpa permisi, dan tak pernah pergi lagi. Kucing yang ramah saat bermain, namun berubah sangar kalau sudah di depan piring makan. Dalia, mama sedih karena kau memilih hilang saat sakit, sebelum akhirnya mama temukan saat kau sudah kaku. Mama sedih karena tak bisa menemani detik-detik terakhirmu. Tapi, mama bersyukur karena sakitmu selesai, Nak. Mama sayang kamu yang manja tapi galak, mama sayang kamu yang suka menyundul wajah mama dengan ujung kepala. Mama sayang kamu, Dalia.

screenshot_6

Dalia

Untuk Asley, kucing yang membuntuti jalan Uyut, kucing pertama yang nenek mama bawa ke rumah, kucing yang makannya selalu lahap, kucing yang kuar biasa bisa menunjukan caranya menebar kasih sayang.

screenshot_5

Asley

Asley, terima kasih karena kamu selalu ada di dekat mama hingga saat-saat terakhirmu, terima kasih karena kamu masih berusaha berjuang sebelum akhirnya menyerah. Terima kasih karena kamu sudah menjadi anak baik, saudara yang senantiasa bersedia jika satu dari mereka mengajak bercanda. Terima kasih karena sudah melukis tawa di wajah mama, dan membuat mama jatuh cinta, mama sayang kamu, Nak.

Untuk Sunny, anak kucing yang kakinya patah di sebelah kiri depan, kemudian kakinya bengkak di sebelah kiri belakang, lalu lehernya bengkak dan akhirnya pecah dan mengeluarkan banyak nanah. Kamu begitu kuat melawan infeksi tulang itu, Nak. Hingga akhirnya kau bisa berjalan meski tak sempurna.

screenshot_8

Sunny

Sunny, maaf jika mama tak selalu bersedia saat kau meminta untuk dipangku, maaf jika perhatian mama terbagi karena terlalu banyak kepala yang harus mama usap di rumah. Sunny, terima kasih karena kamu sudah kuat, sudah berjuang, sudah bersedia mama rawat semampu mama. Terima kasih karena kamu anak baik, yang membuat mama dan nenek jatuh cinta. Sunny, di malam kepergianmu, langit yang awalnya terang, mendadak mendung dan menurunkan hujan lebat, hampir dari semua kepergian anak mama disertai hujan, namun kepergianmu yang paling basah. Allah memberi mama air mata langit, agar mama tak menangis seorang diri. Mama sayang kamu, Nak. Pejuang paling tangguh.

Otjel, kucing kecil yang hampir tertabrak motor, awalnya hanya ingin mama simpan kamu di pinggir jalan, tapi apa? Dengan ringan langkah kamu naik ke motor mama, maksudnya apa, Nak? Mau ikut pulang ke rumah?

screenshot_7

Otjel

Sejak hari itu kamu resmi jadi anggota keluarga, kamu licah, lucu, menggemaskan, baik, ramah, doyan makan, jahil, dan tak bisa diam. Hingga akhirnya pagi itu kamu tak lagi mau makan, kamu tak lagi lincah, bahkan terlalu pendiam. Rupanya kepergian banyak dari kakakmu membuatmu pun lemah dalam bertahan, dan akhirnya mama harus merelakan kamu turut pamit pulang.

Otjel, terima kasih sudah menjadi pendengar setia bahasa planet kakekmu ya, sayang. Terima kasih sudah begitu nyaman di pangkuan mama, terima kasih karena kamu pelukis tawa yang handal di kediaman. Mama berat melepaskan, tapi mama tak sanggup melihat lemahmu terlalu panjang, selamat jalan sayang, mama cinta kamu.

Setelah itu, ada beberapa kucing kecil yang datang dan pergi, hingga akhirnya yang terakhir adalah tiga bersaudara dengan tiga warna, satu persatu pamit, karena sakit, kecelakaan, dan kembali sakit. Mereka belum sempat kuberi nama.

Kemudian Chiko, kucing kecil yang mama bawa pulang, tak lama ia ada di rumah, ia terserang sakit mata yang luar biasa, dan menyebabkan ia harus kehilangan pengelihatannya, total. Ia hanya berjalan mengandalkan kumis dan pendengaran serta penciumannya saja. Dia benar-benar survivor bagi saya.

Chiko, maaf jika mama tak sempat mengusahakan kesembuhan untuk kamu, kamu adalah salah satu kucing kesayangan nenek kamu, kepergian kamu yang tiba, membuat isi rumah mengelus dada, sakit, Nak. Harus kehilangan lagi, dan lagi.

screenshot_4

Chiko

Chiko, terima kasih karena kamu telah mengajarkan mama bagaimana caranya sabar, dan bertahan semampu kamu, semaksimal yang kamu bisa, hingga akhirnya Allah bilang ‘cukup’ dan kau kembali pada-Nya. Mama sayang kamu, Nak. Maaf jika selama ini kami tak maksimal merawatmu. Bahagia di sana, mudah-mudahan kamu bertemu kembali dengan Otjel ya, sayang.

Dan yang paling akhir adalah kepergian Honey. Induk dari salah satu kucing rumah yang masih bertahan dan begitu menggemaskan. Honey bukan kucing peliharaanku, tapi mendadak rutin main ke rumah setelah usai melahirkan untuk yang terakhir kalinya.

Camera 360

Honey

Honey, terima kasih karena sudah menitipkan Sigi di sini, di rumah ini, terima kasih karena sudah mempercayai mama, terima kasih karena suaramu pernah mewarnai telinga orang rumah, terima kasih untuk banyak hal yang membuat mama begitu merasa dibutuhkan kehadirannya. Mama sayang kamu, meski kamu bukan anggota resmi keluarga ini, kamu tetap saja mencuri hati kami.

Banyak sudah yang datang, dan banyak pula yang kembali pulang. Allah menitipkan, dalam jangka waktu yang beragam. Ada yang lama, ada pula yang hanya sekejap pandang.

Untuk kalian yang selalu ada; namun telah tiada. Terima kasih karena membuat mama jatuh cinta, membuat mama merasa tak sendirian, membuat mama bahagia, membuat mama merasa kehilangan, dan membuat mama terus belajar tentang keikhlasan.

Selamat jalan sayang, berkumpulah kembali di sana, bermainlah dengan bahagia, jangan lupa sesekali untuk menengok mama di sini, dan saudara-saudara kalian yang masih ada, mama sayang kalian, dan senantiasa rindu. Ah, lagi-lagi, pagi yang syahdu memang mudah melahirkan rindu.

Dan untuk yang bersedia membaca hingga akhir surat yang panjang ini, mohon doanya untuk:

IMG20160603181503.jpg

Ayang

IMG20170123070518.jpg

Apu

IMG20161127152803.jpg

Senya; Anak Titam

img20170126062432

Gianta; Anak Titam

IMG20160710185004.jpg

Tutu; Anak Titam

IMG20170120064904.jpg

Sigi; Anak Honey

Screenshot_10.jpg

Peauty

IMG20170204115740.jpg

Tutu dan Keempat Anaknya

Agar senantiasa sehat dan bisa berbagi cinta dan kasih sayang di rumah ini. Mereka salah satu pembawa rezeki bagi kami, dan mereka adalah sosok yang membuat saya kuat, pelipur bagi segala lara, penyemangat, teman di segala waktu. Mereka manja dan menggemaskan, mereka bisa jadi bos yang menyebalkan, sekaligus jadi anak-anak baik yang penurut. Saya sangat menyayangi mereka, yang masih ada, pun yang telah tiada.

Tulisan hati seorang mama, untuk anak-anaknya.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAnakAnakMama
#SalamSayang
#KucingKecintaan

Berubah Itu Bukan Cuma Buat Power Rangers!

screenshot_1

Abang dan Kak Oni

Gue emang orangnya urutan banget, kalo bikin apa-apa pasti ngurut (ngurut a.k.a berurutan, bukan ngurutin orang), gak bisa yang namanya dilongkap.

Hari pertama buat Papa, hari kedua buat Mama, hari ketiga buat Mas, jadi hari keempat ini buat Abang, plus? Istrinya. Kak Oni.

Kenapa plus Kak Oni? Karena kak Oni bawa banyak pengaruh baik buat hidup abang dan keluarga gue. Iya, kak Oni salah satu jawaban Allah untuk keluarga gue, terutama untuk abang.

Sebelum gue terusin, laica cuma mau ngingetin, kak Oni baca suratnya jangan baper ya, jangan nangis, jangan mewek, nanti suratnya basah, hahahaha.

Surat hari keempat ini buat lo bang, plus kak Oni. Lo anak keduanya mama papa, anak tengah yang gak pernah suka kepalanya dipegang waktu kecil, selalu ngamuk kalo mas pegang-pegang rambut lo. Dulu, gue pikir lo anak tukang bajigur, karena lo gak sama sekali mirip papa atau mama, tapi ternyata, pas buka ijazah papa dan lihat foto dia di sana, lo itu jiplakan papa banget pas dia masih muda. Akhirnya, gue akuin lo sebagai anak mama papa, bukan anak kang bajigur lagi.

Dulu, lo tuh orang yang paling gak bisa ngomong di rumah, lo terlalu kaku, lebih kaku dari kanebo kering. Tapi sekarang Alhamdulillah udah bisa diajak ngobrol, udah gak sekaku dulu, walaupun tetap gak lemes-lemes amat.

Gue banyak bersyukur atas perubahan baik lo, walaupun gue masih kesel kalo lo sentimen ke anak-anak gue. Lo tau gak? Lo bilang gue batu, padahal lo lebih batu! Aslik ih, nyebelin si.

Dulu, lo gak pernah mau tuh yang namanya naik motor pakai helm, katanya gak keren. Tapi, sekarang Alhamdulillah, ke mana-mana selalu pakai helm. Dulu, lo mana pernah mau pakai baju muslim, tapi sekarang? Alhamdulillah, lebaran kemarin lo mau pakai baju muslim lengkap, satu set, plus pecinya malah, hahahaha. Bukan karena yang beliin bajunya itu mama mertua lo kan, bang? Hahahaha.

Lo pernah bilang kalo idung gue selalu merah kalo lagi nangis, asli nyebelin si. Lo juga bikin gue mikir, pas lo bilang, lo mimpi gue ketakutan, terus lari masuk masjid, dan semua kembali aman. Masih banyak lagi yang gak bisa gue jabarin seratus persen di sini.

Gue bersyukur lo nikahin kak Oni, perempuan yang harus diakuin bawa banyak perubahan baik buat hidup lo. Mulai dari sikap lo yang berubah manis ke mama papa, sampai segala hal yang dulu bukan lo banget, tapi sekarang Alhamdulillah lo jalanin dengan ikhlas.

Gue cuma berharap lo bisa jadi suami yang baik, yang nuntun kak Oni plus keluarga lo ke surga, bisa jadi imam, bisa terus bersyukur, bisa terus saling jatuh cinta di jalan Allah.

Alhamdulillah, kak Oni selalu siap, nyiapin segala hal yang lo perlu, gak pernah gue liat kak Oni keberatan jalanin perannya sebagai istri, dia selalu bilang lo ngganteng, tiap kali gue lagi ngeledekin lo. Kak Oni selalu bilang kalo lo adalah suami terbaik, dan gue cuma bisa aamiin-in itu.

Buat kak Oni, makasih karena udah sayang ke mama papa dengan tulus, gimana perhatiannya kakak ke papa, gimana sabarnya kakak nanggepin mama yang mulai lupa-lupa kalo ngomong. Makasih karena udah jadi istri yang insya Allah baik buat abang, makasih karena udah jadi kakak perempuan yang asik diajak ngobrol, makasih karena santunnya kakak ke mas kita, walaupun kita belom pernah ngabisin waktu berdua doang, gak masalah, gak ngurangin kebaikan kakak di mata kita.

Laica cuma bisa doa, insya Allah abang plus kakak bisa terus sama-sama dalam kebaikan, bisa terus sayang ke keluarga, ke orangtua, ke saudara. Bisa terus jadi penyejuk hati buat sekitar, bisa terus saling belajar kebaikan, bisa terus mencintai Allah.

Laica emang belom jadi sosok yang bisa bikin bahagia, apalagi bangga, tapi laica bersyukur banget, di tengah banyaknya cerita hidup yang gak manis, adanya mas, abang, dan kak Oni, bisa nguatin dan nyadarin laica, yang kadang masih suka ngeluh.

Laica bukan orang yang bisa ngomong sayang langsung di depan muka kalian, tapi kebersamaan kalian adalah satu dari sekian banyak bukti yang laica tau, kalo janji Allah itu benar-benar ada.

Pas lihat kalian akad, laica nangis, kejer banget. Bukan karena gak ikhlas abang nikah, tapi karena laica bahagia, abang memilih perempuan yang insya Allah tepat. Pas lihat kalian saling tatap, laica selalu bisa ngerasain kalo kalian ya emang benar-benar saling cinta. Intinya, laica bersyukur punya abang, makin bersyukur karena sekarang ada kak Oni.

Pokoknya, kalian gak perlu dengerin omongan orang yang gak enak, gak perlu mikirin pertanyaan dari siapa pun yang gak nyaman di telinga kalian, gak perlu buang-buang waktu buat hal yang gak penting. Karena, apa pun yang mereka omongin, apa pun yang mereka pikirin, apa pun yang mereka nilai, gak akan ngubah skenario Allah buat hidup kalian sedikitpun.

Perubahan abang dan kak Oni, bikin laica percaya kalo manusia juga bisa berubah, bukan cuma Power Rangers!

Dan, Alhamdulillah perubahannya berjalan ke arah yang insya Allah tepat.

Apa sih yang bisa laica kasih buat kalian? Gak ada. Laica cuma bisa doa, doa, dan doa. Tentang apa pun yang menurut laica baik, dan insya Allah dijawab dengan apa yang menurut Allah terbaik untuk kalian.

Satu hal yang pasti, laica sayang sama kalian. Sama-sama terus sampai nanti tiba di surganya Allah ya, Bang, Kak.

Jangan berhenti bahagia, dan jadi penyebab kebahagiaan buat orang-orang yang kalian sayang, pun sayang sama kalian.

Dari gadis bungsunya papa mama; Laica.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#BerubahItuBukanCumaBuatPowerRangers
#Abang
#AbangPlusIstri