Sesak dalam Lega

Aku menangis
Sejadi-jadinya air terjun dari mata
Tak kenal henti
Perih

Detik sebelumnya kunikmati luka mereka
Kubiarkan meresap dalam dada
Sembari memaki segala yang kuanggap salah
Tak apa

Detik berikutnya senyum kembali terbit
Dari dalam hati
Bukan sekadar topeng diri
Tapi benar kendaraan menuju pulih

Entah
Dulu sulit rasanya tuk menangis
Kini berbeda
Justru sangat mudah

Kubiarkan
Bahkan kubantu hingga titik didih tertinggi
Sesak … sesak … sesaaakkk
Begitu teriakan yang telingaku dengar dari batin

Syukurnya ada yang menyaut
Berasal dari kepala
Menguatkan
Meyakinkan

Semua berawal dari percaya
Janji luka tempo hari
Ketika mampu bangkit lagi
Meski sesak masih tersisa, setidaknya lega pun kurasa

Detik Terakhir

Detik Terakhir

Rahasia yang tak bisa ditebak; hanya bisa dipersiapkan.

Semoga tak kalah dengan lelah, amarah, dan kerabatnya.

Berharap tak menyandang status durhaka, meski jauh dari sempurna.

Tulisan ini untuk kita yang masih dapat memeluk Ibu Bapak. Mari renungkan bersama.

Sabar

Seberapa baik kita melukiskan diri sebagai sosok yang penuh dengan kesabaran di hadapan banyak orang, bahkan hingga dunia maya?

Namun, se-sabar itu kah kita yang sebenarnya?

Sabar menghadapi orang tua yang kembali seperti anak-anak.

Sabar menghadapi orang tua yang perlu bantuan karena seiring bertambahnya usia, kemampuan mereka menjadi terbatas.

Sabar menemani orang tua yang bicaranya kerap diulang, sebab lupa jika hal itu sudah pernah disampaikan.

Sabar menanggapi orang tua, seperti sedang berhadapan dengan pasangan tercinta.

Tanya pada diri sendiri. Jawab tanpa melibatkan kebohongan pribadi.

Copot topeng ‘sabar’ yang selama ini terpasang di wajah. Sampai kapan berpura-pura?

Sekarang putar ingatan. Se-sabar apa orang tua pada kita di masa lampau?

Saat bibir belum mampu berkata, orang tua berusaha mencerna makna.

Saat tangis masih begitu mudah pecah, orang tua terjaga dari tidurnya, untuk apalagi jika bukan menenangkan kita.

Saat berulang kali menanyakan hal yang sama, tapi tetap mereka jawab dengan tawa.

“Bapak Ibu saya tak se-sabar itu. Dulu, waktu kecil, saya kerap di bla-bla-bla-bla,”

Bahkan kenyataan itu pun tak cukup kuat untuk menjadi alasan kita berhak kurang ajar pada mereka.

Bukan berarti ‘kasar’-nya mereka dulu, menjadi pembenaran untuk kita bersikap serta berkata kasar di masa tuanya.

Bayangkan, jika sikap dan kata kasar serta kekurang-ajaran kita, yang menyakiti hati orang tua, menjadi kenangan pahit selamanya?

Sebab, ternyata, setelah kita memaki, merasa paling benar sendiri, atau bahkan meminta untuk tak diganggu lagi, adalah saat di mana mereka benar-benar pergi ke pangkuan Ilahi.

Sanggup?

Jujur, saya tidak. Kalau itu sampai terjadi, mungkin penyesalan ‘kan menjadi sahabat sejati; sampai mati.

Ikhlas

Seberapa baik kita melukiskan diri sebagai sosok yang dekat dengan keikhlasan di hadapan banyak orang, bahkan hingga dunia maya?

Namun, se-ikhlas itu kah kita yang sebenarnya?

Ikhlas ketika harus menjadi tulang punggung keluarga.

Ikhlas meski tabungan terus bocor terpakai memenuhi kebutuhan orang tua.

Ikhlas kehilangan waktu istirahat karena ada manusia yang perlu dirawat.

Ikhlas mengesampingkan hobi, karena lebih memilih meluangkan waktu untuk berbagi cerita bersama mereka.

Tanya pada diri sendiri. Jawab tanpa melibatkan kebohongan pribadi.

Copot topeng ‘ikhlas’ yang selama ini terpasang di wajah. Sampai kapan berpura-pura?

Sekarang putar ingatan. Se-ikhlas apa orang tua pada kita di masa lampau?

Jerih payah seutuhnya tercurah untuk anak yang bahkan saat itu mereka belum tahu akan tumbuh se-soleh/soleha apa, se-sukses apa, se-baik apa.

Kehilangan waktu dengan pasangan (suami/istri), karena bagi mereka, kita adalah yang utama di atas segala urusan dunia.

Selalu memaafkan, sesering apa pun kita mencetak kesalahan, dan hubungan kembali seperti sedia kala; saat belum ternoda bercak luka.

“Bapak Ibu saya tak seperti itu. Bahkan, dari kecil, saya sudah bla-bla-bla-bla,”

Kenyataan itu, juga tak cukup pantas untuk dijadikan alasan, untuk kita menyepelekan serta menelantarkan mereka.

Sebab, tanpa doa mereka, hidup kita mungkin tak se-berwarna sekarang.

Renungkan.

Semoga cinta kita pada mereka penuh dengan kesabaran serta keikhlasan. Aamiin allahumma aamiin.

Luka Menggerus Jagat Maya Lewat Kisah Layangan Putus

Sejak beberapa hari lalu, kisah Layangan Putus, terus meramaikan jagat maya. Berawal dari media sosial Facebook, hingga akhirnya merambah ke Twitter. Sederhananya, cerita yang dibagikan oleh Mommi ASF itu, membuat para pembaca turut merasakan luka.

Berbagai asumsi pun lahir. Perbedaan pendapat terus menyeruak. Kelompok A merasa benar dengan pendapatnya, begitupun dengan sekumpulan manusia B.

Kisah ini menyeret tiga nama, si empunya cerita; Mommi ASF, sang mantan suami yang ia sebut ‘Mas Arif’, dan wanita kedua yang dinikahinya tanpa sepengetahuan istri pertama.

Sampai di sini, luka sudah terasa? Tahan dulu. Cerita masih panjang. Telusuri perlahan, jangan undur diri di tengah jalan, agar tak salah paham.

Februari 2018 menjadi bulan penuh tanya bagi Mommi, karena pria yang menikahinya tahun 2011 lalu, menghilang tanpa kabar.

Bukan sehari dua hari, melainkan 12 hari. Beragam pikiran terus memenuhi kepala Mommi. Sebab, baik pesan maupun teleponnya, tak juga mendapat respons.

Hebatnya, tak ada sedikitpun prasangka buruk. Mommi percaya, pria yang juga merupakan ayah dari kelima anaknya itu, adalah sosok yang baik.

Arif, kata Mommi, mengerti benar jika menyentuh lawan jenis adalah haram.

Bahkan, pria yang dicintainya itu tahu benar, jika menundukkan pandangan dari wanita non mahrom adalah kewajiban.

Tetapi Mommi tak bisa sembunyikan resah, ia terus bertanya, ke mana pria yang saat itu masih menjadi suaminya?

Hari berlalu, akhirnya Arif kembali.

Mommi menjemput Arif di bandara. Mereka berada dalam mobil yang sama, hingga akhirnya tiba di rumah.

Keempat anaknya—si bungsu meninggal saat dilahirkan, empat bulan lalu—pun menyambut sang ayah dengan pelukan rindu.

Sayangnya, Mommi belum mendapatkan kejelasan secara utuh, tentang ke mana menghilangnya Arif selama 12 hari?

“Kamu dari mana?” ia mengulangi pertanyaan itu terus-menerus.

Merasa belum damai, Mommi memberanikan diri untuk memeriksa gawai milik Arif. Lantas, apa yang ia temui di sana?

Pematah.

Gawai yang disembunyikan di atas rak buku itu, menyimpan ratusan foto Arif, dengan wanita lain.

Tumpah.

Air mata Mommi tak lagi dapat terbendung.

Kecemasannya selama 12 hari, dibayar dengan kemesraan yang begitu menyakitkan.

Iya, ternyata selama 12 bulan itu, Arif berbulan madu dengan istri kedua yang ia nikahi tanpa sepengetahuan Mommi.

Pedihnya lagi, mereka mendatangi tempat yang selama ini Arif tahu, Mommi ingin sekali datangi.

Tagihan listrik, biaya les, dan lain sebagainya yang sulit untuk dilunasi, hanya sebagian beban.

Sebab ternyata, pria yang selama ini ia berikan rasa percaya, telah meracik luka sedemikian rupa.

“Berbagai kekhawatiran melintas di pikiran. Seperti layangan putus, rasanya badan ini pengin oleng, mengikuti ke mana angin bertiup,” tutur Mommi.

Singkat cerita, meski Mommi tak mengungkap sosok nyata yang ada di balik ceritanya, para pembaca kisah Layangan Putus, menyeret tiga nama.

Tiga nama yang mereka dapatkan, dari hasil penelusuran sendiri.

Si pria adalah pemilik kanal YouTube lumayan terkenal;
Mommi ASF sendiri; serta
Wanita yang hadir di tengah pernikahan mereka.

Benar atau tidaknya, kalian bisa cari tahu sendiri. Kalian bisa menilai sendiri. Berdirilah di atas asumsi masing-masing.

Satu hal yang jelas. Mommi yang memaksa bangun dari lamunannya, tersadar jika ia tak sendiri.

“Astaghfirullah wa atubu ilaih,” ucapnya.

Mommi sadar. Ada sosok yang tak akan pernah meninggalkannya. Tempatnya bersandar, meminta, dan memohon; Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada pula empat ‘malaikat’ tak bersayap, yang Allah titipkan padanya. Maka, sesakit apa pun luka, Mommi bangkit.

Kini, meski telah resmi bercerai, serta tak lagi terikat sebagai istri, Mommi masih terus menyelipkan nama Arif dalam doa; untuk kesehatan hingga kelancarannya dalam segala urusan.

“Bukan saatnya memaki. Sampai kapanpun, aku tak boleh bermusuhan. Dia adalah ayah anak-anakku,” tulisnya.

Hidup dan mati, hanya ia pasrahkan pada Allah, pemilik alam semesta.

Apa yang bisa kita petik dari pelajaran berharga milik Mommi?

Bukan untuk takut menikah; sebab tak semua pria pencipta luka.

Bukan untuk menghardik kanal YouTube milik Arif, sebab di sana, banyak pihak yang berdakwah, dan tak terlibat dalam peristiwa.

Bukan untuk menyamaratakan pria lain yang memiliki tampilan serupa dengan Arif, sebab belum tentu mereka sembunyikan hal yang sama.

Semoga cerita yang Mommi bagikan, bisa membuatnya lega, bisa menguatkan pribadinya.

Semoga dukungan yang terlahir untuknya, bisa terus menjadi pelembut hati.

Kita bukan hakim. Belajar dari kisah ini, seharusnya bisa membuat kita berjuang, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Baik di depan sesama, dan tak berubah saat hanya sedang berdua dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Aamiin allahumma aamiin.

Terakhir, Mommi, terima kasih telah berbagi. Kisahmu berarti. Ikhlas hari ini, insya Allah, bahagia ‘kan Allah kirim untuk mengganti perih.

Ketika Tanggung Jawab Menanti di Tengah Patah Hati

Manusia mana yang ingin hatinya sengaja patah? Entah. Namun, yang jelas kalaupun ada, itu bukan aku. Enggan rasanya terluka; menangisi lara.

Tetapi mau bagaimana lagi? Rasa sudah berkuasa.

Sebentar. Para Hakim kehidupan, mohon jangan lanjutkan. Tahu rasanya di-adili saat air mata hendak membuncah? Bayangkan. Kumohon jangan ciptakan keadaan demikian.

Pagi tadi, dua mata ini kembali memandang sosok yang hampir sebulan luntang-lantung di jalan. Iya, dia salah satu kesayangan.

Pergi begitu saja, lari dari rumah, Ahad, 29 September lalu. Marah? Iya. Tapi mau marah sama siapa?

Sebab, ia lari di atas kakinya sendiri. Hingga akhirnya tak kunjung kembali. Sampai detik ini.

Lho, tadi katanya sudah kembali memandang, tapi mengapa ia tak kunjung pulang?

Ya, karena larinya justru semakin kencang, saat aku berusaha memeluk datang. Kecewa tergambar dari tatap, lengkap dengan kekhawatiran yang memuncak.

Tak tahu apa. Aku tak bisa baca pikiran. Semua sekadar penilaian. Satu yang jelas, kalau sudah sayang, aku ingin dia pulang; hingga lupa, ia hanya titipan.

Lemas, sesak, tak berdaya. Ingin rasanya mengurung diri. Namun, apakah tanggung jawab bisa mengerti? Sepatah apa pun hati, ia tetap menuntut tuk diselesaikan.

Akhirnya diri pergi. Singgah sebentar ke tempatnya terakhir lari. Hasilnya? Masih sama. Ia tak terlihat lagi.

Tunggu, sebenarnya sedang menulis apa aku ini?

Sudah. Biar kusudahi saja. Namun, sebelumnya, aku ingin sampaikan kepadamu yang membaca hingga akhir; mohon jangan kesal, karena aku pun tak paham.

Sekian.

Tumpah Ruah

Hai, kamu apa kabar? Lama sudah tak bercerita denganmu. Maaf, bukan kumelupa, hanya saja jemariku terlalu letih mengeja rasa.

Kau tahu, hal pertama apa yang ingin kubagi denganmu? Luka. Hahahahaha. Izinkan sebentar kutertawa; kau benar, di dalam sana ada air mata.

Bagaimana tidak? Mawarku hanya terkenal durinya. Tamanku hanya terkenal sampahnya. Dan, tatapanku hanya terkenal angkuhnya.

Padahal kau tahu benar, tak ada yang layak kusombongkan. Kau juga tahu bagaimana batinku bertengkar; tentang satu dan lain hal yang merengek untuk diutamakan.

Banyak mata menilai semua ini kuasaku. Mereka bilang kepalaku keras lebih dari batu. Aku hanya bisa tertawa tanpa bahagia, mereka tahu apa tentang yang sebenarnya?

Saat mereka meminta kupertahankan semua. Saat mereka meminta kujaga yang ada. Namun, lagi-lagi aku dianggap biang keladinya. Hahahahaha.

Gemas, perih, luka, dan segala rasa yang tak bisa kutuliskan satu per satu. Seperti kata-kata netizen di kolom komentar media sosial para artis. Seperti tamu yang seolah paling tahu bagaimana isi rumah Tuan dan Nyonya.

Ingin sekali rasanya kumarah. Namun, gejolak itu reda setelah kutarik napas yang panjang. Tak pernah kucoba ubah cara pandang mereka, tapi mengapa mereka begitu semangat mengubah segala kita?

Kadang, mereka lupa satu hal, suasana hati seseorang tak selamanya tawa. Saat lelah sedang bertamu, kemudian mereka datang dengan segala persepsi; aku bisa apa selain mendengar dan menerima?

Pada akhirnya? Terserah. Kita tak bisa menyamaratakan mereka. Perihal mereka yang gemar menyamaratakan sesama? Itu hak yang semoga tak kuterapkan dalam rumah kita.

Senin, 19 Februari 2018 — Luka yang mempertemukan.

Ajaibnya Dini Hari

Aku kerap terbangun di waktu ini
Kemudian meraba cerita-cerita lalu
Seperti saat pertama kalinya Ibu kontraksi
Berjuang untuk kelahiran gadis kecilnya; aku

Dan masih terbangun di waktu ini
Memang bukan hal yang baru
Saat telinga mendengar langkah kaki Bapak
Disusul suara air yang begitu syahdu

Aku terlalu cinta dengan dini hari
Waktu yang tepat untuk mengenal diri sendiri
Berbincang dengan Tuhan tentang kejujuran tiada dusta
Hingga menerbangkan doa untuk mereka yang kucinta

Teruntuk Ibu Bapak yang makin menua
Kalian adalah sepasang yang begitu menyebalkan dan mencuri perhatian
Sepasang yang mudah marah namun juga jenaka
Sepasang yang kuharap kembali bersama; di surga-Nya yang paling indah

Pak, Bu
Aku memang kerap mengeluh
Meski jelas kutahu ini semua tak ada apa-apanya jika dibanding pengorbanan kalian

Pak, Bu
Seberat apa pun skenario Tuhan
Aku yakin kita mampu lewati; selama masih bersama

Pak, Bu
Aku hanya butuh peluk, saat lelah mulai mampir
Agar langkah payah ini tak membuatku tergelincir

Dini hari hanya salah satu waktu, di mana aku dapat menceritakan segala kita, pada-Nya. Tanpa harus sedikitpun mengarang kata.

12 Oktober 2017 — Keluarga Gengsian

Ingatan yang Tak Perlu Kusuarakan

Kata demi kata yang terus berdampingan dalam bait, memanja rasa dan tak jarang menjadi pemicu rindu tuk bangkit.

Tahukah kamu jika Tuhan menghadiahkan ingatan yang baik untukku? Terlebih tentang hal-hal yang membahagiakan dan baik bagi kesehatan jiwaku.

Kemudian membiarkanku melupa peristiwa yang sebenarnya memang tak perlu diingat. Seperti? Entahlah, aku tak bisa memberi contoh untuk lembar yang ini.

Sepenggal percakapan berisi janji yang selamanya kan melayang. Kemudian pesan berantai berhasil membuatku tersenyum; karena isinya yang berulang.

Hahahaha. Aku benar-benar tertawa, mengingat semua yang tak lagi perlu kusuarakan, kuceritakan. Cukup kukenang, kemudian kuajak ia berdansa dalam harmoni sederhana.

Kau tahu? Saat aku sedang menulis ini, tergambar jelas di mata dan pikiranku; bagaimana kau meributkan angka di belakang bajuku.

Ssssssssstt..

Sebentar lagi lahir terkaan orang-orang itu, tentang siapa kamu, apa yang sedang berusaha kembali kutuliskan, dan hal menarik lain yang bisa dimenangkan sesuka hati mereka.

Kemudian tiap-tiap kepala mengangguk dan bergumam, “Dugaan gue pasti benar.”

Hahahaha. Tak apa, tak akan berpengaruh jua.

Biar kuakhiri tulisan kali ini dengan bahasa planet, agar benar-benar samar dan semakin membuatku nyaman.

Sengbongsol adasimingsel namingdel, ya.

Rabu, 11 Oktober 2017 — CPTC

Pamit

Saya suka terangnya; melahirkan harapan baru sebelum luruh karena asa yang putus.

Saya suka utuhnya; membuat rasa percaya jauh lebih kuat dari trauma yang entah sudah kali ke berapa.

Saya suka hadirnya; bukti jika yang tak terlihat beberapa saat, bukan berarti tak akan pernah bisa kembali mata menangkap.

Saya suka pamitnya; memberi waktu untuk kerabat menyapa semesta. Ia tahu jika di sini, saya juga rindu sabit.

Terima kasih, Purnama. Kau selalu punya cerita.

Jumat, 6 Oktober 2017 — Pamit

Kelinci Kecil

Kelinci kecil berlarian di taman, bahagia sekali. Wajahnya begitu merona, tanda jika ia mulai menikmati dunianya yang baru.

Kemudian melintas kendaraan yang tak asing lagi baginya. Hap! Segeralah ia melompat dan masuk. Ternyata? Salah tujuan.

Ah, biar saja. Toh perjalanan masih bisa dilanjutkan. Begitu pikirnya. Hingga akhirnya ia sadar, tenaga cadangannya pun tertinggal.

Kali ini tak bisa lagi ia berdiam. Maka berlari ke pintu keluar adalah pilihan, mengambil segala yang masih bisa diselamatkan. Dan membuatnya melupakan sesuatu.

Ya! Tubuhnya hampir terjepit waktu yang sudah lelah menunggu.

Tunggu. Apa kau ingat bagaimana wajahnya jika sedang lelah? Tiba-tiba saja potret itu tergambar jelas di mata dan pikiranku!

Tapi, sudahlah. Kelinci kecil terus tumbuh dewasa. Taman bermain yang biasa ia datangi pun perlahan sirna; dari segala langkah dan ingatannya.

4 Oktober 2017 — BARK

Ssssssssstt.. Coba Cek Masa Lalu!

Kadang, lo perlu nengok ke belakang. Nengok ke belakang gak melulu soal mantan. Tapi juga soal masa kecil, remaja, sampai di titik lo sekarang. Usia dewasa, meski jiwa belom tentu ikutan dewasa. Hahahaha. Santai, baca tulisan kayak gini gak boleh tegang. Ambil minum dulu gih, terus tarik napas, lepas pelan-pelan. Mari kita mulai.

Kenapa tiba-tiba gue bahas masa lalu? Entah kenapa, belakangan ini gue resah, perasaan yang udah lama gak gue rasain, muncul lagi.

Dulu banget, gue pernah jadi orang yang aneh. Sampai ada satu teman gue yang blak-blak-an bilang “Nu, kenapa si lo aneh banget?” Dan, jujur satu kalimat itu ngancurin hati gue, banget. Dibilang aneh, saat lo sendiri masih belom nemu jati diri lo. Sampai sekarang gue inget itu, dan orang itu ketemu gue yang udah nemuin jati diri gue, terus dia bilang “Sekarang Syanu jauh lebih asik, ya.” Dan? Entah kenapa kalimat itu gak berpengaruh apa-apa buat gue. Memori gue justru nyimpen pernyataan lama dia.

Gak bagus sih emang, ngenang hal yang gak baik. Tapi beneran, gue gak dendam, gue cuma gak ngerti gimana caranya ngelupain hal yang nyesek di dada gue.

That’s why, gue gak bisa buka pintu hati gue ke mereka yang dulu jelas-jelas mandang gue sebelah mata, dengar gue dengan telinga yang tertutup. Balas dendam? Nope! Gue cuma ngerasa, ada kepala dan hati lain, yang lebih pantes buat gue jadiin tempat berbagi, yang nerima gue dari awal, dari aneh, alay, sampai sekarang.

Dulu, jaman SMP, gue kayak lakik banget, mulai dari rambut dan segala penampilan. Terus, masuk SMK, gaya rambut gue masih bondol, tapi entah kenapa ada aja cowok yang nyoba bobol pertahanan hati gue. Gue sadar, banyak banget yang udah gue sakitin dan kecewain hatinya, tapi ya gimana? Hidup kan pilihan, dan gak selamanya yang kita mau bisa kita dapat, ya kan?

Setelah SMK, lakik jaman SMP mulai pada muncul nih, mulai nyelip, mau nyepik, tapi ya boro-boro bisa modus, wong ditanggepin aja enggak, karena ya itu tadi, gue gak mau dekat sama orang yang ngincer fisik, itu bukan pertemanan yang natural. Jadi buat apa buang-buang waktu? Kalau mereka yang nemenin gue dari jaman masih aneh dan alay sampai sekarang aja banyak.

Maka dari itu gue suka nolak kalau diajak ketemu sama beberapa kelompok orang, gue gak bisa maksain diri gue ada di satu lingkup yang bikin gue gak nyaman.

Mutusin tali silaturahmi? In shaa Allah enggak. Gue cuma mengurangi pertemuan yang gak terlalu perlu.

Pertemuan apa yang gak terlalu perlu? Pertemuan yang kalau udah ketemu, mereka cuma mau tau lo sekarang kayak apa, udah sesukses apa, dan bla bla bla 100% fisik dan masalah dunia doang. Buat apa? Makin gede kan pasti makin sibuk, jadi daripada nemuin yang gak perlu, mendingan nemuin mereka yang selama ini ada buat lo. Mereka yang kalau ketemu lo nanyain a-z, dengar cerita manis dan pahit lo, dan proses lo menuju dewasa. Terpenting, mereka gak pernah protes se-alay apa pun lo dulu.

Beberapa hari lalu, gue ngepoin sosial media gue sendiri, dari awal gue mulai main sosmed. Dan? Gue sadar gue alay. Asli. A-L-A-Y.

Dan karena itu juga gue jadi sadar, pas masih kerja penuh waktu, gue pernah ‘nyuekin’ teman dan sahabat gue. Sengaja? Ya, enggaklah. Saking capeknya, jadi gitu. Makanya sekarang gue ngerti, kenapa beberapa kepala kok berasa ngejauh? Karena mereka sibuk. Terlepas dari sengaja atau enggaknya mereka ngejauh, positif thinking-nya ya mereka lagi ngalamin fase yang pernah gue lewatin sebelumnya.

Gue lihat muka-muka mereka. Dari jaman gue masih alay banget, ketikan gue masih ‘Gy apz?’ yang artinya ‘Lagi ngapain?’ sampai sekarang gue udah 100% gak suka nyingkat tulisan. Ada beberapa kepala yang setia banget disamping gue.

Mereka ada dari gue masih aneh, alay, remaja, sampai dewasa. Mereka ada saat gue ketawa, nangis, jatuh cinta, patah hati, move on, dan milih buat sendiri kayak sekarang. Mereka ada, sekalipun fisiknya jauh, doa mereka gak berhenti ngalir buat gue.

Tapi, ada gak sih yang ngilang? Ya, namanya juga hidup. Datang dan pergi itu wajar. Ada ABCD yang hilang, Allah kirim EFGH buat nemenin gue. Ada yang ngilang terus muncul lagi dan punya hubungan yang jauh lebih baik sama gue kayak sekarang. Ada yang ngilang dan gak pernah balik lagi karena gue sama dia saling gak mau nyari tau gimana sih kabar kita satu sama lain? Hahahaha.

Allah Maha Adil. Selalu ada,

Tumbuh setelah patah.
Temu setelah hilang.
Peluk setelah lepas.
Selamat datang setelah selamat tinggal.
Bahagia setelah luka.
Hujan setelah kemarau.
Embun setelah debu.
Lembar baru setelah pamit.

Gue sadar Allah Maha Baik. Satu keyakinan itu yang bikin akhirnya gue gak gampang nyerah.

Kalo ditanya pernah gak sih gue ngerasa pengin mati aja? Bodohnya gue harus ngaku, pernah. Karena apa? Ya, karena gue ngerasa hidup gue paling nelangsa. Terus gimana akhirnya gue bisa bertahan sampai sekarang? Nah, bagian ini nih yang lucu. Tuhan tuh selalu ngedeketin gue sama hal-hal yang bikin gue sadar kalo hidup gue belom boleh berakhir, gue belom boleh nyerah, dan belom waktunya gue mati. Dengan cara? Tiba-tiba aja gitu gue dikasih lihat cerita hidup orang yang jauh lebih bikin nangis. Tapi mereka kuat. Dan, tetap bersyukur.

Semudah itu gue bangkit lagi, malu udah ngeluh, marahin diri sendiri karena udah cengeng. Abis itu ya ketawa lagi, maafin dan peluk sayang diri sendiri lagi.

Ya, walaupun bukan gak mungkin besok lusa gue down lagi, tapi seenggaknya, hari itu gue berhasil bertahan. Gue yakin sih, semua hal yang bikin gue mampu bertahan ya karena campur tangan Allah.

Serusak-rusaknya orang, bohong ajalah kalo gak kepengin bahagia di surga mah. Dan, syukurnya Allah Maha Pemaaf. Bikin dosa hari ini, dikasih kesempatan buat berubah. Allah sabar banget, nungguin kita sadar kalo Dia sayang banget sama kita.

Sekarang, gue malah ketawa-tawa sendiri. Ngetawain kebodohan gue di masa lalu. Beberapa gue ceritain ke sahabat yang benar-benar gue percaya. Nangis karena hal-hal yang harusnya gak perlu sih gue lakuin. Nyesel mah pasti, cuma kalo terus-terusan hidup dalam penyesalan? Kapan gue bisa makin tumbuh dan bersinar? Duileh, sinar banget nih bahasanya. Meeeh ~

Gue juga percaya kalo tiap kepala, seterbuka apa pun, pasti punya rahasia yang dia bagi cuma sama Tuhannya. Karena cuma Tuhan yang nerima kita tanpa tapi.

Ssssssssstt.. udah ah, lain waktu kita cerita-cerita lagi. Mudah-mudahan makin hari bisa jadi manusia yang makin baik dan terus memeluk kebenaran di jalan Allah, ya.

See yaa.