Tumpah Ruah

Hai, kamu apa kabar? Lama sudah tak bercerita denganmu. Maaf, bukan kumelupa, hanya saja jemariku terlalu letih mengeja rasa.

Kau tahu, hal pertama apa yang ingin kubagi denganmu? Luka. Hahahahaha. Izinkan sebentar kutertawa; kau benar, di dalam sana ada air mata.

Bagaimana tidak? Mawarku hanya terkenal durinya. Tamanku hanya terkenal sampahnya. Dan, tatapanku hanya terkenal angkuhnya.

Padahal kau tahu benar, tak ada yang layak kusombongkan. Kau juga tahu bagaimana batinku bertengkar; tentang satu dan lain hal yang merengek untuk diutamakan.

Banyak mata menilai semua ini kuasaku. Mereka bilang kepalaku keras lebih dari batu. Aku hanya bisa tertawa tanpa bahagia, mereka tahu apa tentang yang sebenarnya?

Saat mereka meminta kupertahankan semua. Saat mereka meminta kujaga yang ada. Namun, lagi-lagi aku dianggap biang keladinya. Hahahahaha.

Gemas, perih, luka, dan segala rasa yang tak bisa kutuliskan satu per satu. Seperti kata-kata netizen di kolom komentar media sosial para artis. Seperti tamu yang seolah paling tahu bagaimana isi rumah Tuan dan Nyonya.

Ingin sekali rasanya kumarah. Namun, gejolak itu reda setelah kutarik napas yang panjang. Tak pernah kucoba ubah cara pandang mereka, tapi mengapa mereka begitu semangat mengubah segala kita?

Kadang, mereka lupa satu hal, suasana hati seseorang tak selamanya tawa. Saat lelah sedang bertamu, kemudian mereka datang dengan segala persepsi; aku bisa apa selain mendengar dan menerima?

Pada akhirnya? Terserah. Kita tak bisa menyamaratakan mereka. Perihal mereka yang gemar menyamaratakan sesama? Itu hak yang semoga tak kuterapkan dalam rumah kita.

Senin, 19 Februari 2018 — Luka yang mempertemukan.

Advertisements