Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Mempersiapkan Kepulangan

Melupa jika aku tak bisa bersembunyi, sekalipun dalam gelap nan sunyi.
Dengan sengaja kuabaikan segala, seolah napas adalah hal yang pasti untuk esok hari.
Nanti, nanti, dan nanti.
Menyegerakan urusan dunia, namun sengaja menjadikan akhirat sebagai hal penting setelahnya.

Tak peduli seberapa sering Tuhan menegur.
Kurekam dalam ingatan tentang Ia yang Maha Pemaaf.
Dan kujadikan alasan untuk bebas mengulang kesalahan serupa tanpa takut Ia murka.
Entah seberapa pekat sudah dosa, ragaku tak sanggup meski sekadar membayangkan.

Tuhan begitu baik; memberiku waktu untuk bersiap.
Tuhan begitu penyayang; merangkul diri yang sedang mengakui kekeliruan.
Tuhan begitu sabar; menghadapi salahku yang masih berputar di satu lingkaran.
Tuhan begitu luar biasa; masih memberikan kebahagiaan meski banyak sudah hati yang kubuat terluka.

Mengingat putihnya kafan.
Membayangkan tempat istirahat terakhir.
Menerka seberapa banyak yang kan mengantar.
Dan mulai menyesali waktu yang sudah kusiakan.

Tak lagi kubermain, sejak jiwa bertekad untuk pindah.
Tak lagi kucoba bersembunyi, sebab pandangan-Nya yang kini kucari.
Tak lagi kubuang detik demi detik yang masih Ia berikan.
Aku berjalan dalam entah, berharap perjalananku berakhir dengan indah.

Mungkin saja ini tulisan terakhirku.
Bisa jadi malam ini terakhir kali aku dapat terlelap.
Atau barangkali tak pernah lagi dapat kusapa pagi.
Ada harapan terakhir selama kupersiapkan kepulangan.

Semoga raga yang kan kaku nanti berada dekat dengan orang terkasih.
Semoga jiwa yang kan melayang nanti tak perlu ditangisi.
Semoga perjalanan pulangku nanti dipenuhi dengan doa-doa baik.
Dan semoga segala salah yang pernah kucetak termaafkan dari dalamnya lubuk hati.

Aamiin.

Bahagianya aku, jika kita bersama-sama mempersiapkan kepulangan; sebab datangnya kematian tak pernah dapat dipesan.

 

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#MempersiapkanKepulangan
#SebabKematianTakPernahDapatDipesan

Semestaku

Ibu
Lenganmu adalah lentera
Pencipta sinar dalam gelap
Pembangkit kehangatan

Aku kedinginan
Dan
Kita sedang berjauhan
Kemudian seketika waktu ada yang begitu menghangatkan

Ternyata?

Di seberang sana
Di tempat yang seutuhnya berbeda
Dalam rentang jarak dan waktu yang semena-mena
Kau sedang berdoa dalam sujud yang begitu tenang

Ayah
Tatapanmu adalah taman
Aku dapat melihat bagaimana bahagiaku kala bermain di sana
Jelas liar dan tak tahu aturan

Aku melangkah bebas
Hilang arah dan hampir patah
Kemudian kau ada di sudut sana
Menjemputku untuk kembali ke rumah

Amarah?

Wajahmu sama sekali tak memerah
Kau tangkap tubuhku dalam dekap
Kau belai rambutku dengan kasih
Kau berbisik pada telingaku tentang sayangmu padaku

Aku
Seorang anak yang bersyukur
Sebab pria pun wanitaku adalah semesta
Mereka setia menerima segalaku

Meski aku adalah kurang yang jauh dari kata sempurna
Dekap, dekat dan melekat
Hangat, nyaman, dan apa adanya
Kepada Ayah dan Ibu

Aku seutuhnya padamu

Diamku ramai.

Aku ingin bercerita, sedikit tentang rasa yang tak pernah bisa di mengerti kecuali kelak kita rasakan sendiri.

Bagaimana menangis dan tak tahu apa penyebabnya. Bagaimana merindu dan tak mampu bicara, bukan karena takut tak terbalas, melainkan takut mementahkan harapan yang sedang di masak matang-matang. Bagaimana ingin memeluk ia yang tak mungkin lagi tergapai. Bagaimana ingin kembali pada tempat yang sudah dengan sengaja kita batasi tembok besar.

Entah apa maksud tulisanku malam ini. Hatiku kacau di bunuh semu. Batinku bertengkar. Aku rebah dan berdarah.

Mengenai Kenangan.

Satu dua kali aku merajut dan tertusuk jarum, hingga tertanam benang yang kian lama kian menyayat permukaan kedalaman, tepat pada saat telunjuk yang secara tidak sadar sedang menunjuk perlahan pada kenangan. Harapan yang ku bangun dan terpaksa ku terbangkan kemudian, sesaat sebelum semuanya bisa menjadi kenyataan.

Kosong. Tak ada lagi jemari-jemari yang kerap mengisi kekosongan sela-sela jemariku. Hampa. Tak ada lagi hari-hari yang sedemikian rutin ku gunakan untuk berbagi segala tanpa takut dicela. Segala berat yang dulu seakan tak mampu ku angkat, nyatanya kini sudah baik-baik saja. Butuh waktu memang. Butuh waktu untuk menyaksikan matahari terbit setelah musim hujan lama menetap.

Membaca dan mengulang rasa. Kadang aku melakukannya. Entah dengan membuka surat-surat dari masa lalu, atau sekedar membaca ulang percakapan ringan nan mengundang tawa di masa itu. Semua ku lakukan karena aku ingin tahu, sudahkah diriku berdamai dengan masa lalu.

Kenyataannya aku bisa memeluk masa laluku dalam damai. Ketika tak ada lagi air mata saat diri sedang berdampingan dengan kenangan. Aku sudah tertawa, bahagia, bahkan tak jarang aku dan mereka saling melempar doa terbaik bagi satu dan lainnya.

Kini, masih ada satu nama yang selalu ingin ku ingat, selalu memenuhi waktu luangku untuk merindu, selalu dapat mengisi pikiranku sekalipun sudah terisi penuh. Ia selalu punya tempat yang tiba-tiba lapang untuk sebuah rasa. Aku hanya berharap kali ini pun aku dapat bangkit sempurna, tertawa bersama ia saat bercerita tentang kita, kita yang dulu bahagia bersama, selanjutnya, semoga kita bahagia saat saling mendoa.

Patah dan tanpa suara.

Aku pergi
Pamit dari segala kamu; terutama hati putih itu
Langkah yang menjauh
Entah meninggalkan atau menjemput lukaku
Jelas ku tahu ini sendu yang tak kita mau

Aku pergi
Undur diri sebagai teman hidupmu
Bukan karena tak lagi mampu
Bukan karena kau tak pantas di perjuangkan
Tapi, restu Tuhan yang semakin lama semakin melayang
Tak bisa kita gapai, sayang

Aku berlari
Tanpa sadar lututku tak lagi berfungsi
Tangisanku terpenjara sepi
Berdusta sepanjang waktu agar kau benci
Terlihat baik-baik saja kala diri patah hati

Aku tak bisa berisak tangis bebas dengan udara
Tenggelamku dalam dada dibalik bahagia yang pura-pura

Aku tak mengucap kata-kata patah
Cukup ku rasa dalam hati saja
Dan
Seolah-olah bahagia; aku telah melepasmu
Melepas segala kamu
Termasuk penilaian-penilaian tentang kepergianku

Apa ini tiba-tiba?
Jelas saja
Tak ada perpisahan yang dirancang sedemikian rupa
Sebab
Tak mungkin ku sengaja menukar bahagia dengan duka

Kau bahagiaku
Tuhan berbisik pada malam itu
Kita kan bahagia dalam lembar yang berbeda
Ku entah dengan siapa
Pun kau nanti dengan siapa

Untuk kamuku yang berakhir sudah
Maafkan aku menoreh luka
Biarkan kenangan yang membahagiakan; kita