Apa Jadinya …

Apa jadinya hidup tanpa rintangan? Rasanya tak akan pernah kita mengenal gagal. Sebab, Jika segala terasa mudah, untuk apa mengupayakan diri menjadi lebih baik lagi?

Apa jadinya semesta tanpa luka duka? Sepertinya kita tak akan menghargai bahagia. Tak pernah mengerti bagaimana rasanya berair mata. Dan, tak tahu cara mensyukuri berkah.

Apa jadinya akhir perjalanan tanpa neraka? Tiap kepala leluasa menari dengan begitu jahatnya, melantunkan caci dan maki hingga lekuk bibir tak lagi seperti semula. Dan, tak ada yang mendamba surga.

Apa jadinya skenario yang Tuhan tulis untukku tanpa adanya kamu? Ia akan menyamar bagai buku yang kehilangan selembar halaman, namun tetap menyematkan tamat; untuk menjadi teman saatku menutup cerita.

Minggu, 24 September 2017

Advertisements

Sayangnya, Jarum Jam Tak Bisa Berputar ke Arah Kiri

Berhenti berpura-pura, jangan tutupi lukamu yang jelas-jelas masih basah. Karena itu hanya akan membuatnya sembuh lebih lama.

Ingat bagaimana pertama kalinya dirimu menyapa semesta? Mungkin kau melupa, tapi ibumu? Tidak. Ia pasti mengingat segala dengan jelas; sebab lahir sudah harapan barunya.

Bisa kau bayangkan berapa bulir keringat yang jatuh untukmu? Mungkin kau tak tahu, tapi ayahmu? Ia tahu benar untuk siapa ia bertahan; kau salah satu alasannya.

Entah sudah berapa langkah yang kau pijak. Ketahuilah, ada begitu banyak rindu yang tak bisa mereka suarakan dengan leluasa.

Bukan. Bukan karena mereka acuh pun tinggi hati. Namun, karena mereka ingin kau terus melaju dan tak menjadikan mereka sebagai penyebab hentinya langkahmu.

Nantinya, bagaimanapun kau tumbuh, menjadi seperti apa pun pribadimu, mereka akan selalu punya dekap untuk kepulanganmu.

Dan, kau tak pernah lupa bukan? Jika makin hari usiamu makin bertambah, artinya? Makin tua pula mereka.

Dengan mengeriputnya kulit. Memutihnya rambut. Melemahnya ingatan. Bukti jika mereka benar-benar sudah tak lagi muda.

Waktu mereka semakin sedikit. Perpisahan kalian pun terasa semakin dekat. Masihkah kalian ingin membuat mereka bersedih?

Kalian bisa senantiasa memeluk semesta. Sebebas-bebasnya. Namun, jangan pernah lupa, jika tubuh-tubuh penuh cinta selalu merindukan kepulanganmu.

Jangan pernah biarkan penyesalan hadir, saat kau mengabaikan jarum jam yang tak pernah berdiam. Ia selalu bergerak ke arah kanan.

Sabtu, 23 September 2017 — 💚MP

Pulanglah, Kau Belum Terlambat

Isi kepala tak pernah sama
Mereka saling bicara
Menyuarakan lara dan bahagia
Sayangnya, bibir tak jua terbuka

Tatap mata tak selalu searah
Selatan dan utara
Berkelana hingga barat daya
Nyatanya, ia kembali pada titik semula

Kehidupan hati tak melulu luka duka
Ada harap dan bahagia
Patah dan gelisah
Akhirnya, indah yang hanya klise kan menjadi nyata

Pulanglah
Dadamu perlu degup wajarnya
Ratusan hari kau pergi
Ia tahu jika kakimu melangkah tanpa hati

Akhir pekan hampir tiba
Sudahkah kau berlabuh pada-Nya?

Jumat, 22 September 2017 — Pulanglah, Kau Belum Terlambat

Sepasang yang Terus Menua; Bersama

Kerap menangkap dua pasang mata menatapku dalam diam. Mereka punya cara yang berbeda.

Entah karena apa dan bagaimana awalnya. Tatapan mereka begitu penuh cinta. Doa-doa juga mengalir dari sana.

Mereka punya pemikiran yang tak pernah kusangka sebelumnya. Mengagumiku yang hingga kini masih kerap mengeluh.

Seperti peluru, begitu cepat waktu melaju.

Dua jiwa; pemilik dua pasang mata. Dua manusia; pemilik cinta paling setia.

Bahagiaku adalah saat melihat kalian bahagia dengan hal-hal kecil yang bisa kita cipta bersama.

Menua dalam sehat, bahagia, penuh kasih, dan perbaikan-perbaikan lainnya. Semoga saja.

Aamiin.

Rabu, 20 September 2017

Penguat Masa

Daun perlu gugur, agar tahu siapa yang menginjak, dan siapa yang tidak; saat ia terjatuh.

Bunga perlu layu, agar tahu siapa yang mengabaikan, dan siapa yang menyimpan; sampai ia benar-benar mengering.

Laut perlu badai, agar tahu siapa yang bertahan, dan siapa yang memilih pulang; mengalah dengan ombak nakal.

Cerita perlu proses, agar tahu mana yang layak dijadikan kenangan, dan mana yang cukup begitu saja dilewatkan.

Tubuh dan hati perlu luka, agar tahu tangan dan segala mana yang senantiasa ikhlas mengobati; tanpa lelah dan pamrih.

Hidup perlu waktu, agar tahu detik mana yang telah seutuhnya mati, dan mana yang masih hidup dalam harapan.

Kamu? Perlu bangkit. Karena selamanya terjatuh bukanlah pilihan yang tepat. Sebab, hidupmu belum mencapai sudah. Berjalanlah.

Selasa, 19 September 2017 — PM

Air Mata Terakhir

Maaf

Seorang perempuan menundukkan kepalanya
Kemudian menatap ratusan hari di belakang
Mengubah langit malam menjadi tak berbintang
Angin dan hujan memamerkan kemesraan

Maaf

Seorang perempuan merebahkan tubuhnya
Bercengkrama dengan langit-langit rumah
Bercinta dengan tumpukkan luka yang menyamar
Kalimat tanya sederhana terlontar; apa kabar?

Maaf

Seorang perempuan menuliskan kisah hidupnya
Tentang hati yang pernah terluka pun melukai
Tentang jiwa yang senantiasa ingin bahagia
Tentang kata yang coba menerangkan segala

Hujan

Malam hari di jalan raya
Berpisah lewat kata
Merindu di kota yang berbeda
Kuyakin dan percaya semuanya usai sudah

Jangan menangis lagi
Berbahagialah

Dari Penari Jemari,
Untuk Penguat Masa.

Sabtu, 9 September 2017.

Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Mempersiapkan Kepulangan

Melupa jika aku tak bisa bersembunyi, sekalipun dalam gelap nan sunyi.
Dengan sengaja kuabaikan segala, seolah napas adalah hal yang pasti untuk esok hari.
Nanti, nanti, dan nanti.
Menyegerakan urusan dunia, namun sengaja menjadikan akhirat sebagai hal penting setelahnya.

Tak peduli seberapa sering Tuhan menegur.
Kurekam dalam ingatan tentang Ia yang Maha Pemaaf.
Dan kujadikan alasan untuk bebas mengulang kesalahan serupa tanpa takut Ia murka.
Entah seberapa pekat sudah dosa, ragaku tak sanggup meski sekadar membayangkan.

Tuhan begitu baik; memberiku waktu untuk bersiap.
Tuhan begitu penyayang; merangkul diri yang sedang mengakui kekeliruan.
Tuhan begitu sabar; menghadapi salahku yang masih berputar di satu lingkaran.
Tuhan begitu luar biasa; masih memberikan kebahagiaan meski banyak sudah hati yang kubuat terluka.

Mengingat putihnya kafan.
Membayangkan tempat istirahat terakhir.
Menerka seberapa banyak yang kan mengantar.
Dan mulai menyesali waktu yang sudah kusiakan.

Tak lagi kubermain, sejak jiwa bertekad untuk pindah.
Tak lagi kucoba bersembunyi, sebab pandangan-Nya yang kini kucari.
Tak lagi kubuang detik demi detik yang masih Ia berikan.
Aku berjalan dalam entah, berharap perjalananku berakhir dengan indah.

Mungkin saja ini tulisan terakhirku.
Bisa jadi malam ini terakhir kali aku dapat terlelap.
Atau barangkali tak pernah lagi dapat kusapa pagi.
Ada harapan terakhir selama kupersiapkan kepulangan.

Semoga raga yang kan kaku nanti berada dekat dengan orang terkasih.
Semoga jiwa yang kan melayang nanti tak perlu ditangisi.
Semoga perjalanan pulangku nanti dipenuhi dengan doa-doa baik.
Dan semoga segala salah yang pernah kucetak termaafkan dari dalamnya lubuk hati.

Aamiin.

Bahagianya aku, jika kita bersama-sama mempersiapkan kepulangan; sebab datangnya kematian tak pernah dapat dipesan.

 

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#MempersiapkanKepulangan
#SebabKematianTakPernahDapatDipesan

Semestaku

Ibu
Lenganmu adalah lentera
Pencipta sinar dalam gelap
Pembangkit kehangatan

Aku kedinginan
Dan
Kita sedang berjauhan
Kemudian seketika waktu ada yang begitu menghangatkan

Ternyata?

Di seberang sana
Di tempat yang seutuhnya berbeda
Dalam rentang jarak dan waktu yang semena-mena
Kau sedang berdoa dalam sujud yang begitu tenang

Ayah
Tatapanmu adalah taman
Aku dapat melihat bagaimana bahagiaku kala bermain di sana
Jelas liar dan tak tahu aturan

Aku melangkah bebas
Hilang arah dan hampir patah
Kemudian kau ada di sudut sana
Menjemputku untuk kembali ke rumah

Amarah?

Wajahmu sama sekali tak memerah
Kau tangkap tubuhku dalam dekap
Kau belai rambutku dengan kasih
Kau berbisik pada telingaku tentang sayangmu padaku

Aku
Seorang anak yang bersyukur
Sebab pria pun wanitaku adalah semesta
Mereka setia menerima segalaku

Meski aku adalah kurang yang jauh dari kata sempurna
Dekap, dekat dan melekat
Hangat, nyaman, dan apa adanya
Kepada Ayah dan Ibu

Aku seutuhnya padamu

Diamku ramai.

Aku ingin bercerita, sedikit tentang rasa yang tak pernah bisa di mengerti kecuali kelak kita rasakan sendiri.

Bagaimana menangis dan tak tahu apa penyebabnya. Bagaimana merindu dan tak mampu bicara, bukan karena takut tak terbalas, melainkan takut mementahkan harapan yang sedang di masak matang-matang. Bagaimana ingin memeluk ia yang tak mungkin lagi tergapai. Bagaimana ingin kembali pada tempat yang sudah dengan sengaja kita batasi tembok besar.

Entah apa maksud tulisanku malam ini. Hatiku kacau di bunuh semu. Batinku bertengkar. Aku rebah dan berdarah.