Waktu.

Kepada hal yang kadang ingin ku hentikan, agar segala yang ada dalam pelukan tak segera melepaskan dekapannya dariku, namun tak jarang ingin ku matikan, sebab apa-apa terasa begitu menyakitkan. Waktu, kau sahabat sekaligus musuh terbesarku. Aku ingin kau selalu ada, dan disaat yang bersamaan, aku ingin membunuhmu segera. Tanpa sadar, dalam diam kau yang membuatku menua tanpa makna.

Aku kerap berdiam, berharap cita dan cinta datang tanpa pernah aku usahakan, yang kemudian jelas-jelas ku tahu itu mustahil, kemungkinannya hanya ada jika Tuhan mau menurunkan air di tengah gurun.

Waktu, apa kau tahu berapa lama lagi kita dapat bersama? Atau mungkin Tuhan juga merahasiakan hal ini darimu? Waktu, beberapa hal bersamamu tak bisa ku lupa meski sudah ku usahakan seluruh dan penuh, tapi beberapa lainnya terasa sulit untuk ku ingat meski berkali-kali ku catat, baik dalam ingatan, pada secarik kertas, atau kening tak beralas.

Selain pada Tuhan, padamulah aku sepenuhnya jujur, meski ada beberapa hal yang tak ingin ku bagi, kau tetap dapat mengetahuinya dengan jelas, teramat jelas. Aku begitu bersyukur Tuhan memberimu padaku hingga kini, meski kadang aku begitu kurang ajar karena memintamu segera pergi, agar duniaku berakhir, tapi masa-masa itu tak pernah berlangsung lama, sebab kau selalu bisa membuatku merasa utuh dan lahir kembali.

Waktu, kau masih sanggup bermain dalam durasi panjang bersamaku, bukan? Aku ingin mengajakmu bercerita pada mereka yang kucinta, tentang cita dan segala yang sedang aku usahakan, kemudian menjadi nyata di masa depan.

Esok? Lusa? Esok lusa? Atau entah kapan, yang jelas aku yakin untuk mendapatkan yang satu itu. Dan, karena ku tahu yakin saja tidak cukup, maka aku akan terus memperkuat usahaku, untuk mengobati lelah-lelah, agar tak berbuah menyerah.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKedua

Advertisements

Pemilik Rinduku Nomor Satu.

Sebelumnya, kita sangat berjarak. Aku dengan sengaja berjalan menjauh, melakukan hal-hal yang ku tahu sama sekali tak Kau sukai. Seumur hidup, aku tak pernah lupa dengan-Mu, hanya saja kerap kali aku terlalu berani meninggalkan-Mu, mencari kesenangan dunia, mengejar tawa hingga mulut berbusa, mencipta bahagia tanpa sedikitpun meluangkan waktu untuk kita berdua, berbincang tentang apa pun yang bisa kita bicarakan. Apa pun.

Aku merasa kaya dibalik hidup yang sederhana, sebab keluarga selalu ada, mereka memang bukan tempat yang selalu membuatku bahagia, namun kehilangan mereka adalah hal yang tak sama sekali aku inginkan. Kau Maha baik, memberiku rupiah secukupnya, membiarkan badanku remuk tergerus alur jalanan yang makin hari makin kejam, namun tetap menyelipkan manusia-manusia yang memanusiakan manusia di dalamnya. Kau letakan aku di tengah keluarga yang tak sempurna, pun tak cemara, tapi mereka luar biasa indah, dan aku begitu jatuh cinta pada rumah.

Kau tahu segalaku meski belum sedikitpun ku ceritakan, Kau tahu niat baikku, Kau tahu bagaimana pikiran buruk mencoba merasuk dan mempengaruhi hidupku, Kau tahu ke mana saja langkahku berjalan, ke arah cahaya datang, atau kelamnya kehidupan nan kejam. Aku tahu Kau mengetahui kesalahan terbesarku, kesalahan yang membuat batinku perang dingin dengan batasan-batasan. Aku terpenjara, melepas apa yang begitu ku cinta, demi Engkau.

Kamu yang selalu ku rindu, entah sejak kapan. Kamu yang selalu ku cinta dan tak pernah sedikitpun ku benci. Kamu yang menjadi alasanku untuk terus berdekatan dengan kebaikan, agar langkahku yang keluar dari jalur bisa kembali merapat dan berada di atas jalan yang tepat. Kamu sutradara dan segala apa yang ku nomorsatukan, di hidupku.

Bagiku setiap orang bebas memiliki panggilan kesayangan untuk-Mu, aku kerap menyebut-Mu Tuhan, tak jarang Kau ku panggil Allah. Lagi-lagi, bagiku Kau Maha tahu, aku tak perlu repot hidup dalam terkaan orang, niatku telah lebih dulu sampai dan jelas di hadapan-Mu.

Sampai jumpa, Tuhan. Kuatkan aku meneruskan hidup yang sungguh tak ringan, jauhkan aku dari keluhan-keluhan murahan yang kadang ingin keluar tanpa mengenal jam. Salam sayang, dari umat-Mu, tempat dosa-dosa berada. Aku sedang menabung pahala, agar perlahan bisa ku hapus hitamku untuk menempati surga-Mu.

 

#30HariMenulisSuratCinta
#HariPertama

Apa alasanku menyayangi mereka?

Bagi beberapa kepala, menyayangi keluarga memerlukan alasan yang kuat, mereka terus mencari seiring dewasanya usia. Lantas, bagaimana denganku, apa aku sudah menemukan alasan paling tepat?

Aku menyayangi mereka bukan karena keharusan, aku menyayangi mereka bukan karena darahku dan mereka satu, aku menyayangi mereka bukan karena tak memiliki pilihan lain, aku menyayangi mereka, karena aku sayang mereka.

Aku yang tak pandai berkata-kata kerap kali terkesan acuh. Jangankan bicara panjang lebar, sekadar bilang sayang pun lidahku kelu. Mereka memang bukan tempatku bercerita segala tentang hidup, bahkan rahasia demi rahasia pun ku dekap dalam romansa dengan Tuhan. Bisa ku pastikan, Ia satu-satunya sosok yang mengetahui hidupku tanpa kecuali, mengenalku begitu dekat tanpa jarak, mengerti segalaku sejak dalam pikiran. Ia yang selalu memberikan bahagia untukku. Kebaikan-Nya tak pernah luput dari hidupku. Kebaikan terbesar-Nya adalah meletakanku di tengah-tengah keluargaku.

Beberapa kepala kerap bertanya, apa aku tak pernah merasa kesal dengan keluargaku? Apa kehidupanku dengan keluarga selalu harmonis? Jawabannya tentu saja tidak. Aku pasti pernah menyakiti mereka, pun mereka pernah membuat hatiku luka. Bahkan mengantarku sampai ke jurang paling bawah, mendorongku hingga tak kuat lagi bernapas.

Begitulah sayangku pada mereka, dahulu kerap ku jadikan tameng, ku jadikan mereka seolah-olah penyebab luka paling susah pulih. Nyatanya? Caraku menyayangi mereka yang salah. Aku tak pernah bilang caraku menyayangi mereka adalah yang paling benar, namun setidaknya, kini, jika hatiku terluka karena ucapan atau tindakan mereka yang disengaja pun tidak, aku tak butuh sehari penuh tenggelam dalam rasa marah, benci, kecewa, dan lain sebagainya. Cukup ku nikmati romansaku bersama Tuhan, hanya berdua, kemudian Ia akan senantiasa menyadarkanku bahwa keluargaku adalah sosok-sosok yang paling menyayangiku. Mereka akan selalu menjadi rumah meski nanti sudah berhasil ku bangun rumah untuk keluarga kecilku.

Mama, Papa, Mas dan Abang, biarkanlah kita terus mencinta dalam saling, tanpa perlu alasan.

Ketika hatiku memilihmu, maka kau dapat melihat segalaku.

Kau yang ku cari pertama kali saat bahagia menghadiahkan hidupku begitu banyak tawa, bukan hanya senyuman, kau bahkan bisa melihatku tertawa sebebas merpati yang tak pernah takut kehilangan jalan pulang. Kau dapat menyaksikan bagaimana mataku mengecil, wajahku merona, dan bibir nan ranum melukiskan bahagia tanpa ada luka yang dapat terselip dengan angkuhnya.

Kau yang ku cari pertama kali saat diriku rapuh, seketika dadamu ku jadikan sandaran segala keluh, ku basahi dengan air mata entah berapa banyaknya, pelukan demi pelukan ku raih dari tubuhmu sebagai penenang gundah yang datang dengan begitu semena-mena. Kau dapat melihat bagaimana air mataku mengalir deras, wajahku memerah, pun telinga dan hidungku. Kau dapat mendengar suaraku yang sesenggukan menikmati pilu tanpa perlu canggung dan malu di dekapmu.

Kau yang ku cari pertama kali saat diri butuh teman untuk adu argumen, mendengarkan pernyataanmu, menjelaskan pernyataanku, menghargai pendapatmu, menyampaikan pendapatku. Kita tak harus melulu sependapat, tapi juga tak perlu saling hujat usai berdebat. Akhirnya kita sepakat bahwa dua kepala tak bisa sepenuhnya disatukan, namun sangat bisa mencipta keserasian.

Telingamu adalah pendengar segalaku, mulai dari ocehan payahku, cerita-cerita yang menurutku seru, hingga lantunan lagu-lagu kesukaanku. Kau tersenyum bahkan tertawa bahagia tiap kali aku melakukan itu, meski kita sama-sama tahu bahwa suaraku tak begitu merdu, atau bahkan sama sekali tak merdu? Kali ini hanya kau yang tahu.

Padamu aku tak perlu malu, ku ceritakan apa adanya hidupku, termasuk masa lalu. Bukan bermaksud membuka kembali pintu berisi kenangan, sama sekali bukan. Namun, untuk sekadar bercerita apa-apa saja yang pernah ku alami, ku lewati, sebelum bersamamu. Dan, aku ingin mendengar hal yang sama darimu, penuh, utuh, tanpa takut kau jatuh dan merindu masa lalumu, sebab aku yakin bahwa aku dapat jauh lebih membahagiakanmu.

Kau teman terbaik, musuh terbaik, pendukung terhebat, pasangan terhebat, sahabat suka duka, teman segala waktu, tempatku pulang, tempatku berbagi tawa, tempatku mengusap luka, tempatku bahagia, tempatku melingkarkan pelukan nan hangat, tempatku berdiri tanpa takut jatuh sebab kau senantiasa membuatku percaya bahwa bangkit kan selalu ada, teman yang mengingatkan bahwa tali sepatuku belum terikat, bukan mengikatkannya, kau biarkan aku nikmati satu dua detik untuk mengikatnya sendiri, teman yang mengingatkanku untuk tak pernah lupa minum air putih, sebab kau tahu aku lebih suka minuman berwarna, teman yang turut serta menjaga kesehatanku, teman yang begitu menyebalkan, pun begitu mudah membuatku rindu meski sedang bersama, teman yang tak ingin ku tukar dengan apa pun, termasuk dengan aktor idolaku, kau tak akan pernah ku tukar.

Sebab, segalamu sudah semesta bagiku.

Kemarin. Hari ini. Esok. Dan, selamanya.

29 Mei 1993 lalu, wanita kecintaanku tak sama sekali ragu untuk pertaruhkan nyawanya, hanya demi kelahiranku, anak ketiga sekaligus menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga kecilku. Aku benar-benar keluar dari rahim Mama sesaat setelah adzan subuh selesai dikumandangkan, mungkin itu salah satu sebab aku begitu damai tiap kali menatap segala yang ada pada waktu subuh, atau dini hari. Saat matahari belum muncul pada sekeliling pandangan, sebab ia masih bertugas dibelahan dunia lainnya. Saat embun masih dicari para orang tua untuk menjejakan kaki-kaki mungil anak mereka. Saat kabut tebal membuat aku dan keluarga semakin hangat dalam sebuah pelukan, meski tanpa keringat, kita begitu lekat.

Aku terlahir saat Papa berusia tiga puluh empat tahun, sedangkan Mama empat tahun lebih muda dari Papa. Mama mengandungku saat usia pernikahannya dengan Papa memasuki tahun kelima, dan sebelum mengulang kebahagiaan ulang tahun pernikahan untuk yang keenam kalinya, aku telah hadir ke dunia, dan mendapatkan kehangatan yang begitu luar biasa dari Mama, Papa dan kedua kakak lelakiku.

Mas berusia empat tahun sejak aku masih dikandungan Mama, sedangkan Abang dua tahun lebih muda dari Mas. Papa cerita pada keluarganya, tentang Mama yang tak pernah sedikitpun mengeluh kerepotan meski Mas, Abang dan aku jarak tumbuhnya berdekatan, dan ketiganya memerlukan perhatian. Apa Mama bisa menanganinya? Tentu saja. Bahkan ia menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan sangat baik. Aku, Abang dan Mas tak pernah merasa kekurangan perhatian, mungkin waktu kecil beberapa dari kami pernah menyakiti hati Mama dengan berkata polos ‘Mama pilih kasih!’ beranjak remaja dan dewasa kami menyesal pernah mengatakan itu, Mama tak pernah sedikitpun membedakan Mas, Abang dan aku. Kita bertiga sama-sama mutiara baginya. Iya menjaga kami dengan begitu luar biasa. Tak peduli tanggal sedang berwarna merah di kalender rumah, Mama tetap membanjiri keluarga kecilku dengan kasih sayangnya.

Sejak kecil, remaja, hingga beranjak dewasa, tak pernah sedetikpun aku merasa ingin hidup tanpa mereka; Papa, Mama dan kedua kakak lelakiku. Peluk mereka adalah rumahku. Sebab, sejauh apa pun aku berkelana, senakal apa pun aku bermain di luar sana, pelukan mereka tak pernah merenggang, hangatnya tetap sama, bahkan dengan bertambahnya waktu, kehangatan itu semakin ku dapat dalam dekap. Doa yang tak pernah putus, aku yakin doa merekalah salah satu alasan terbesar Tuhan menjagaku dengan begitu luar biasa. Meski harus berada dalam perjalanan saat perempuan lain sudah terlelap, aku merasa aman sebab aku punya Tuhan dan bekal berupa doa dari mereka; kesayanganku.

Ketika aku salah jalan, entah bagaimana cara Tuhan melukiskan mereka dalam pikiranku, dan seketika membuatku ingin pulang, menghentikan petualangan yang tak bermakna. Namun, apakah aku menyesal? Tentu saja tidak, jejak-jejakku yang keliru pun mendewasakanku, mengajarkanku mana yang baik dan mana yang buruk. Menyadarkan betapa aku menyayangi mereka, saat aku tahu bahagiaku tak lagi nomor satu, bahagia mereka adalah bahagiaku, dan bagi mereka bahagiaku adalah bahagianya.

Rasa sayang yang tak ingin ku tukar keberadaannya, jika aku lahir kembali, aku tetap ingin empat sosok yang diperankan kesayanganku tak diganti. Mama, Papa, Mas dan Abang, meski bumi tak lagi terlihat biru dari luar angkasa, meski hujan mengering sudah, meski matahari semakin dekat dengan kepala, kasih kalian takkan pernah ku abaikan, mengasihi kalian takkan pernah ku tanggalkan. Aku menyayangi kalian selamanya. Selamanya.