Kemarin. Hari ini. Esok. Dan, selamanya.

29 Mei 1993 lalu, wanita kecintaanku tak sama sekali ragu untuk pertaruhkan nyawanya, hanya demi kelahiranku, anak ketiga sekaligus menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga kecilku. Aku benar-benar keluar dari rahim Mama sesaat setelah adzan subuh selesai dikumandangkan, mungkin itu salah satu sebab aku begitu damai tiap kali menatap segala yang ada pada waktu subuh, atau dini hari. Saat matahari belum muncul pada sekeliling pandangan, sebab ia masih bertugas dibelahan dunia lainnya. Saat embun masih dicari para orang tua untuk menjejakan kaki-kaki mungil anak mereka. Saat kabut tebal membuat aku dan keluarga semakin hangat dalam sebuah pelukan, meski tanpa keringat, kita begitu lekat.

Aku terlahir saat Papa berusia tiga puluh empat tahun, sedangkan Mama empat tahun lebih muda dari Papa. Mama mengandungku saat usia pernikahannya dengan Papa memasuki tahun kelima, dan sebelum mengulang kebahagiaan ulang tahun pernikahan untuk yang keenam kalinya, aku telah hadir ke dunia, dan mendapatkan kehangatan yang begitu luar biasa dari Mama, Papa dan kedua kakak lelakiku.

Mas berusia empat tahun sejak aku masih dikandungan Mama, sedangkan Abang dua tahun lebih muda dari Mas. Papa cerita pada keluarganya, tentang Mama yang tak pernah sedikitpun mengeluh kerepotan meski Mas, Abang dan aku jarak tumbuhnya berdekatan, dan ketiganya memerlukan perhatian. Apa Mama bisa menanganinya? Tentu saja. Bahkan ia menjalani tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan sangat baik. Aku, Abang dan Mas tak pernah merasa kekurangan perhatian, mungkin waktu kecil beberapa dari kami pernah menyakiti hati Mama dengan berkata polos ‘Mama pilih kasih!’ beranjak remaja dan dewasa kami menyesal pernah mengatakan itu, Mama tak pernah sedikitpun membedakan Mas, Abang dan aku. Kita bertiga sama-sama mutiara baginya. Iya menjaga kami dengan begitu luar biasa. Tak peduli tanggal sedang berwarna merah di kalender rumah, Mama tetap membanjiri keluarga kecilku dengan kasih sayangnya.

Sejak kecil, remaja, hingga beranjak dewasa, tak pernah sedetikpun aku merasa ingin hidup tanpa mereka; Papa, Mama dan kedua kakak lelakiku. Peluk mereka adalah rumahku. Sebab, sejauh apa pun aku berkelana, senakal apa pun aku bermain di luar sana, pelukan mereka tak pernah merenggang, hangatnya tetap sama, bahkan dengan bertambahnya waktu, kehangatan itu semakin ku dapat dalam dekap. Doa yang tak pernah putus, aku yakin doa merekalah salah satu alasan terbesar Tuhan menjagaku dengan begitu luar biasa. Meski harus berada dalam perjalanan saat perempuan lain sudah terlelap, aku merasa aman sebab aku punya Tuhan dan bekal berupa doa dari mereka; kesayanganku.

Ketika aku salah jalan, entah bagaimana cara Tuhan melukiskan mereka dalam pikiranku, dan seketika membuatku ingin pulang, menghentikan petualangan yang tak bermakna. Namun, apakah aku menyesal? Tentu saja tidak, jejak-jejakku yang keliru pun mendewasakanku, mengajarkanku mana yang baik dan mana yang buruk. Menyadarkan betapa aku menyayangi mereka, saat aku tahu bahagiaku tak lagi nomor satu, bahagia mereka adalah bahagiaku, dan bagi mereka bahagiaku adalah bahagianya.

Rasa sayang yang tak ingin ku tukar keberadaannya, jika aku lahir kembali, aku tetap ingin empat sosok yang diperankan kesayanganku tak diganti. Mama, Papa, Mas dan Abang, meski bumi tak lagi terlihat biru dari luar angkasa, meski hujan mengering sudah, meski matahari semakin dekat dengan kepala, kasih kalian takkan pernah ku abaikan, mengasihi kalian takkan pernah ku tanggalkan. Aku menyayangi kalian selamanya. Selamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s