Pemilik Rinduku Nomor Satu.

Sebelumnya, kita sangat berjarak. Aku dengan sengaja berjalan menjauh, melakukan hal-hal yang ku tahu sama sekali tak Kau sukai. Seumur hidup, aku tak pernah lupa dengan-Mu, hanya saja kerap kali aku terlalu berani meninggalkan-Mu, mencari kesenangan dunia, mengejar tawa hingga mulut berbusa, mencipta bahagia tanpa sedikitpun meluangkan waktu untuk kita berdua, berbincang tentang apa pun yang bisa kita bicarakan. Apa pun.

Aku merasa kaya dibalik hidup yang sederhana, sebab keluarga selalu ada, mereka memang bukan tempat yang selalu membuatku bahagia, namun kehilangan mereka adalah hal yang tak sama sekali aku inginkan. Kau Maha baik, memberiku rupiah secukupnya, membiarkan badanku remuk tergerus alur jalanan yang makin hari makin kejam, namun tetap menyelipkan manusia-manusia yang memanusiakan manusia di dalamnya. Kau letakan aku di tengah keluarga yang tak sempurna, pun tak cemara, tapi mereka luar biasa indah, dan aku begitu jatuh cinta pada rumah.

Kau tahu segalaku meski belum sedikitpun ku ceritakan, Kau tahu niat baikku, Kau tahu bagaimana pikiran buruk mencoba merasuk dan mempengaruhi hidupku, Kau tahu ke mana saja langkahku berjalan, ke arah cahaya datang, atau kelamnya kehidupan nan kejam. Aku tahu Kau mengetahui kesalahan terbesarku, kesalahan yang membuat batinku perang dingin dengan batasan-batasan. Aku terpenjara, melepas apa yang begitu ku cinta, demi Engkau.

Kamu yang selalu ku rindu, entah sejak kapan. Kamu yang selalu ku cinta dan tak pernah sedikitpun ku benci. Kamu yang menjadi alasanku untuk terus berdekatan dengan kebaikan, agar langkahku yang keluar dari jalur bisa kembali merapat dan berada di atas jalan yang tepat. Kamu sutradara dan segala apa yang ku nomorsatukan, di hidupku.

Bagiku setiap orang bebas memiliki panggilan kesayangan untuk-Mu, aku kerap menyebut-Mu Tuhan, tak jarang Kau ku panggil Allah. Lagi-lagi, bagiku Kau Maha tahu, aku tak perlu repot hidup dalam terkaan orang, niatku telah lebih dulu sampai dan jelas di hadapan-Mu.

Sampai jumpa, Tuhan. Kuatkan aku meneruskan hidup yang sungguh tak ringan, jauhkan aku dari keluhan-keluhan murahan yang kadang ingin keluar tanpa mengenal jam. Salam sayang, dari umat-Mu, tempat dosa-dosa berada. Aku sedang menabung pahala, agar perlahan bisa ku hapus hitamku untuk menempati surga-Mu.

 

#30HariMenulisSuratCinta
#HariPertama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s