Tak Lagi Sama

Ketika mawar yang kutanam tak lagi kuncup, aku bahagia, karena ia telah tumbuh dengan mekarnya yang indah. Merekah ke segala arah. Hembus angin mengecupnya perlahan, aroma mawar menyebar pada tiap bagian taman, yang tak lain adalah aku.

Duri-duri itu menjaganya dari tiap-tiap tangan usil yang ingin sekadar memetik kemudian mengecup dan membuang ketika layu datang melengkapi tamatnya usia indah mawar, namun sekarang mawar sendirian, ia masih sanggup mekar dan bersemi, meski tak ada lagi duri yang turut serta menjaga hari. Mawar terkulai pasrah, di tangan siapa ia akan menghabisi masanya. Sebab, segala tak lagi sama, sejak duri pamit dari diri mawar. Atau, pantaskah aku menyebut duri berpamitan? Saat ia tak lagi ada tanpa meninggalkan sedikit pun pesan.

Mereka adalah air mata bahagia yang pernah membasahi pipiku. Masih bisa kurasakan bagaimana harunya kebahagiaan yang lengkap dengan basah itu. Hingga kini pipiku kerap sembab, karena pedih pun bahagia. Namun, bukan lagi mereka yang berperan sebagai air mata. Aku tak memaksa, untuk mereka menetap selamanya, menemaniku berbahagia. Aku tak sedikit pun bertanya, ke mana mereka pergi setelah tak lagi singgah di pipiku, meski dengan penuh kejujuran aku kehilangan, sangat merasa kehilangan. Kini basahku tak lagi sama, lambat laun ikhlas telah kupeluk untuk sebuah kepergian, tanpa sebelumnya kalian buat lambaian perpisahan.

Langkah melangkah, jalan menjauh, tinggalkan aku yang yakin dengan pijakan ini. Bak lidah-lidah kucing yang penuh perhatian, membersihkan tiap jengkal tubuh saudara yang meski tak sedarah, aku bisa saja berhenti menjilat, saat kutahu kebaikan sudah tak lagi dipeluk dengan benar. Aku berhenti, menghentikan perjalanan, memutar pandangan, dan juga mengganti arah mata angin. Kembali kupijak, langkah melangkah, jalan menjauh, meninggalkan kalian yang yakin dengan pijakan itu.

Putus dan terpisah, pisah dan terlepas, lepas dan terhempas. Jauh dan semakin jauh. Namun kita sama-sama dekat, dengan Tuhan, meski cara kita berbeda. Kau dengan segala yang kau anggap indah, aku dengan segala yang kuanggap benar. Indah dan benar sudah berbeda. Indah belum tentu benar. Tapi, sekali pun benar tak melulu indah, pada akhirnya kebenaran adalah manis adanya.

Kata mereka diam itu emas. Sayangnya aku tak suka dengan emas, maka aku memilih bicara, dengan berbagai pilihan bahasa; tubuh pun segala yang nyaman untuk tersampaikan. Kata mereka berjalan tanpa pamit adalah biasa. Sayangnya aku selalu berpamitan sedekat apa pun aku akan pindah, sebab datang dengan ketukan akan kuakhiri pergi dengan berpamitan.

Kalian yang tak lagi denganku dan merasa bahwa aku belum sempat pamit, adalah kalian yang meninggalkan aku tanpa lambaian perpisahan. Aku ingin sekali pamit untuk terakhir kalinya, dan benar-benar berpisah, tapi pintu itu telah tertutup. Berkali-kali coba kuketuk, namun tak ada jawaban berupa apa pun. Maka aku memutuskan pergi seutuhnya, untuk lanjut menikmati cerahnya langit Tuhan dibagian lain.

Selamat berpisah, Tuhan bilang kita akan jauh lebih baik jika tak lagi bersama, seperti dulu, saat kalian dan aku masih kerap berdosa.

Semua yang tak lagi sama, bukan berarti kelam. Aku bisa buktikan jika perpisahan pun awal dari akhir yang kelak kan membahagiakan.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari
#TakLagiSama

Advertisements

Review Film Nay

Gue udah antusias banget sama karya mbak Djenar yang satu ini, sejak adanya #KaosNay dan gue ngerasa beruntung karena pemesanan kaos itu diperpanjang, jadi gue yang baru punya duit masih punya kesempatan buat beli kaosnya.

Kaos udah berkali-kali gue pakai, dan akhirnya mbak Djenar ngumumin tanggal rilis #FilmNay, gue girang lagi, karena film yang gak biasa ini, akhirnya rampung, dan gue langsung gak sabar buat nonton. Masalahnya adalah? Gue tipe orang yang gak bisa nonton sendirian, tapi juga gak bisa nonton sama sembarang orang, jadilah gue nanya ke sahabat-sahabat gue, apa ada yang bisa nemenin gue nonton Nay? Dan, syukurnya ada. Si Lusi a.k.a Uci, dia bersedia nemenin gue nonton Nay di hari Minggu kemarin, tanggal 22 November, hari keempat rilisnya film tersebut.

Masalah kelar dong? Gue bisa nonton film Nay dengan tenang, iya kan? Nyatanya enggak, hahahahaha. Gue yang tinggal di daerah Citayam, biasa nonton di Cibinong, Depok, atau Bogor. Tapi, Nay gak ada di bioskop terdekat dari rumah gue. Gue sama Uci mikir, satu-satunya tempat yang paling mungkin kita datangin buat nonton karena rutenya gampang, ya cuma TIM (Taman Ismail Marzuki). Sebelumnya gue gak pernah bela-belain pergi jauh-jauh cuma buat nonton, terus pulang, tapi karena film Nay, gue ikhlas, gue pengin banget nonton ini film, dan syukurnya si Uci nawarin diri ‘adanya di Jakarta, Nu, mau ke sana?’ dan akhirnya kita ke sana, ke TIM.

Singkat cerita, setelah naik motor, kereta, dan bajaj, gue sampai di TIM jam satu siang lewat dikit, gue gak ikhlas kalo harus nonton pemutaran yang jam 13.15, karena filmnya udah mulai, otomatis gue ambil tiket yang jam 15.15, gue sama Uci nunggu sambil makan, minum, foto-foto, dan ngobrol.

IMG-20151122-WA0000.jpg

Pas pesan tiket, baru gue sama Uci doang yang mau nonton film Nay, tapi pas masuk studio, Alhamdulillah total-total ada sembilan orang. Gue, Uci, tiga pasang pemuda yang sedang dimabuk cinta, dan seorang perempuan.

C360_2015-11-23-07-48-02-051.jpg

Film dimulai, sssssssssttt … jangan berisik, gue juga mau mulai review, okay? Okay!

Jujur gue terpesona sama sajian di film ini, dari awal. Dan, gue merinding pas nama mbak Djenar muncul ‘a Djenar Maesa Ayu film’ jeng jeng. Dengan budget yang gak sebesar film-film pada umumnya, gak berlebihan rasanya kalo gue bilang film ini KEREN! BANGET!

Sosok Nay yang diperankan oleh mbak Sha Ine Febriyanti berhasil bikin perasaan gue campur aduk, dari awal dia nyetir mobil, sampai dia ngobrol sama halusinasinya, perbincangan dia di telepon, dan semua yang dia lakuin di film itu, berhasil bikin gue ketawa, haru, pengin nangis, dan semua perasaan yang di acak-acak segitu mudahnya sama dia. Ini film monolog pertama yang gue tonton, dan mbak Djenar punya keberanian hebat buat nurunin film ini ke tengah masyarakat Indonesia yang kebanyakan muja-muja film luar negeri, yang mungkin emang bagus, tapi mereka gak ngeh kalo negaranya sendiri punya film semenakjubkan Nay. Kalo bukan mbak Ine, mungkin Nay gak sekeren ini, duet mbak Djenar dan mbak Ine di film ini, menyempurnakan kerja keras semua yang terlibat di film ini.

Lo cukup duduk santai, nikmatin filmnya, gak usah banyak mikir, karena alur film ini benar-benar mudah dicerna, mungkin di awal lo bakal bingung, ini kenapa sih, ini karena apa sih, tapi nanti semuanya akan jelas, dan lo akan bawa pulang cerita, pelajaran, plus makna dari film ini.

Bayangin, Nay bisa bikin gue bertahan, takjub dengan akting mbak Ine di film ini yang cuma sendirian, selama 80 menit. Iya, dia main sendirian. Lainnya ya cuma ikut bersuara aja, tapi ada kejutan-kejutan yang gak bisa gue ceritain, karena sampai sekarang gue pun masih tergila-gila, kalo bisa sih gue pengin banget nonton film ini lagi, bahkan kalo nanti mbak Djenar buat Nay versi DVD, gue pengin banget beli. Nay adalah film kategori dewasa yang isinya gak melulu ciuman dan adegan ranjang, tapi makna filmnya yang mungkin terlalu berat kalo diserap anak usia di bawah 17 tahun.

Film ini beneran ngegambarin gimana pedulinya mbak Djenar sama perempuan, sebagai seorang perempuan, mbak Djenar luar biasa gak capek ngangkat isu-isu tentang perempuan, gak banyak perempuan yang peduli sama kaumnya sendiri, tapi mbak Djenar? Dia hebat! Dia gak mentingin film ini laku di pasar atau enggak, tapi dia beneran punya niat baik dengan dirilisnya film Nay.

Kita bisa belajar banyak, perihal gak perawan laginya seorang perempuan yang belum menikah. Tentang gimana sakitnya perempuan yang belum menikah tapi udah gak perawan dihujat ‘bukan perempuan baik-baik’ tanpa kita cari tau dulu, kenapa sih perempuan ini bisa gak perawan? Karena gak selamanya perempuan kehilangan keperawanannya atas kemauan dirinya sendiri, banyak yang gak sadar, banyak yang gak ngerti kalo keperawanannya lagi coba direnggut, dan banyak lagi yang dipaksa. Pedih.

Di film ini juga kita bisa belajar, kalo anak butuh ruang untuk bicara, kalo anak butuh orangtua untuk mengasihi mereka, bukan malah jadiin anak sebagai tempat melampiaskan emosi, main pukul sana dan sini. Gue dibikin ngangguk-ngangguk selama nonton film ini, karena gue setuju.

Kalimat yang paling gue ingat dari film ini adalah ‘I miss having a mother, mom. But i don’t miss you!’

Gue takjub sama mbak Ine yang bisa ngamuk, sedih, kecewa, nangis, ketawa, dan meranin banyak perasaan lainnya dengan baik, dia bisa gonta-ganti raut wajah dengan begitu apik, dia bisa bikin gue nyesek pas lihat dia nangis, dia gak berair mata, tapi gue bisa rasain tangisannya pecah di dalam hati, nyesek! Gue bisa rasain gimana sakitnya ngetawain nasib sendiri, gimana pedihnya.

Ada anjing, bangsat, dan tai di film ini, tapi gue sama sekali gak risih dengarnya, sosok Nay yang ngucapin kata-kata itu emang dibentuk seperti itu. Terus gimana bisa seorang anak perempuan ngomong sekasar itu? Cari akarnya, lihat akarnya, lo bakal ngerti kenapa seorang anak bisa terbentuk sedemikian baik pun buruk.

Di film ini juga perempuan diajarin buat gak percaya sama sembarang laki-laki, karena makin ke sini makin banyak laki-laki yang jago jawab omongan orang, tapi semakin gak bisa nanggung akibat dari apa yang dia omongin. Main ngoceh aja, berasa paling baik, padahal picik.

Gue bisa rasain gimana frustasi dan depresinya seorang Nay, gimana batinnya perang, antara bertahan dan jadi lebih baik dari ibunya, atau jadi pecundang dan lari dari masalah yang dia buat bareng pasangannya. Terus Nay pilih apa? Jawabannya ada di akhir film.

Hampir sepanjang film Nay beradegan di dalam mobil, dijalanan, suasana malam Jakarta yang indah tapi menyimpan banyak kelam. Intinya, mbak Djenar, selamat karena Nay udah lahir, dan saya benar-benar jatuh cinta, bukan karena ini karyamu, tapi karena ini karya yang memang layak dicinta, dan lahir dari seorang Djenar Maesa Ayu.

Yang bikin gue makin haru adalah, di akhir film ini mbak Djenar begitu romantis, dia manis banget! Gue makin tau segimana dia sayang sama anak dan cucunya, dan gue makin ngerti kenapa Embun sayang banget sama Eyangtinya.

Mbak Djenar, mbak Ine, dan semua kru yang udah ikut ngebantu film Nay rampung, saya ucapin selamat, selamat, dan selamat. Terima kasih karena sudah menyajikan film yang benar-benar layak tonton. Ah, sudahlah, saya terlalu dibuat jatuh cinta sama film ini. Dan, buat kalian yang mungkin baru tau ada film berjudul Nay, atau belum sempat nonton, segera berangkat ke bioskop yang memutar film Nay, sebelum filmnya turun layar, karena Indonesia emang belum bisa ngasih cukup tempat buat film seberani Nay. Nonton, dari pada cuma bisa penasaran dan nyesel.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari
#ReviewFilmNay
#FilmNay
#Nay
#FilmMonolog
#BanggaFilmIndonesia

Curahan Hati Seorang Mama

Nak, menjaga kalian bukanlah hal yang mudah, kerap kali mama menangis saat bertahan untuk menjaga kalian, mama sayang kalian, meski sekeliling mama bilang, lebih baik jika kalian tidak ada.

C360_2015-10-27-05-57-00-662.jpg

Gue tau, nganggep kucing peliharaan kayak anak kita sendiri itu lumayan aneh, tapi gue tetap ngelakuin itu. Gue juga tau, sayang secara berlebihan itu gak baik. Tapi, gue gak ngerasa salah nganggep kucing-kucing gue itu sebagai anak gue, karena mereka emang pelipur lara, mereka selalu ada buat gue, terutama saat gue sedih, tiba-tiba aja mereka nyamperin gue dan rebahan dekat gue, nemenin gue, bahkan gak jarang mereka bercanda, sampai akhirnya gue ketawa lepas, sekaligus ngelepasin kesedihan yang sebelumnya menuhin hati gue.

Pernah suatu malam gue sedih banget, cuma diri gue yang tau malam itu gue sedih karena apa, gue milih satu sudut di bagian rumah gue buat nangis, biar gak ada satu pun yang tau kalo gue lagi nangis, tapi apa? Tiba-tiba aja Reby nyamperin gue, dia natap mata gue, terus dia duduk di pangkuan gue, gak lama Titam juga nyamperin gue, dia langsung nyenggol kaki gue pakai badannya, terus Ayang juga datangin gue, dia rebahan di samping gue yang lagi duduk. Mereka tuh seolah bilang ke gue, kalo gue gak boleh sedih karena gue gak sendirian, ada mereka yang akan selalu nemenin. Karena sebelum gue nangis, mereka lagi pada tidur nyenyak, tapi bisa-bisanya mereka tau kalo gue lagi sedih, sendirian.  Terus mereka kebangun. Hebat, batin gue sama mereka udah nyambung banget kayaknya.

Berat sebenarnya buat ngejaga mereka, karena nyokap alergi kucing, tapi mungkin karena nyokap sayang sama gue, akhirnya dia bisa sayang ke anak-anak gue, dan alerginya pelan-pelan berkurang.

Gue juga tau, kalo anak-anak gue yang cukup sering sakit ini ngeganggu orang lain, mereka buang air di mana-mana, bukan karena niat sembarangan, tapi karena mereka emang lagi diare, entah karena salah makan atau apa. Gue juga mau naro mereka di luar, bebasin mereka ke manapun mereka mau main, tapi masalahnya kucing liar di rumah gue lumayan garang, dan sering bikin anak-anak gue jantungan parah begitu dikejar dan dihajar. Iya, mereka nantang anak-anak gue yang jantan, kalo yang betina jadi sasaran mereka buat kawin. Jadi, gimana gue bisa tenang bebasin anak-anak gue di luar rumah?

Entahlah, mungkin gue berlebihan jagain anak-anak gue, tapi emang gue gak bisa lepasin mereka kalo keadaannya gak aman. Gue juga ngerasa salah kok kalo rumah gue kena kotoran kucing, tapi gue juga gak bisa lihat anak-anak gue diusir pun dipukul, karena mereka ngotorin rumah bukan dengan sengaja, tapi emang gak bisa lagi nahan mulesnya. Lo tau kan rasanya mules karena diare? Lo pernah gak ngerasain bahasa kasarnya tuh kecepirit? Nah, itu yang anak-anak gue alamin, kalo lo aja bisa maklumin diri lo sendiri pas sakit, kenapa lo benci banget sama anak gue yang juga lagi sakit? Kenapa gak lo ngomong baik-baik ke gue, minta gue bersihin kotorannya, beres kan? Apa susah buat ngomong baik-baik? Apa emang gak bisa milih bahasa yang lebih manis?

Gini, lo mesti bisa milih bahasa apa yang mau lo pakai saat ngomong sama orang, karena gak semua pribadi itu sama, mereka punya kepekaan yang beda-beda, telinga dan hatinya ada yang kebal, ada yang mudah luka, apa salahnya lo berusaha pakai bahasa yang baik? Biar niat baik lo sampai dengan baik, jadi lo gak perlu nyakitin hati siapa-siapa.

Coba lo pikir gimana rasanya sosok yang lo sayang gak disukain sama orang? Itu yang gue rasain pas lo gituin kucing gue. Dan, tulisan ini bukan cuma buat satu orang, tapi buat siapa pun yang ngerasa terganggu sama kehadiran kucing gue. Kalian mesti tau kalo gue bakal tetap jagain anak-anak gue, segimana pun susahnya.

Sekian dulu curhatnya, gue mau melukin anak-anak gue yang nasibnya gak selalu manis, tapi insya Allah bakal terus punya mama yang sayang sama mereka; tulus.

Jadi, kalian gak perlu khawatir, mama gak akan biarin kalian sakit atau sedih lama-lama, karena mama sayang sama kalian. Anak-anak mama yang selalu bisa bikin mama bahagia.

C360_2015-09-24-00-32-30-884.jpg

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari
#AyangRebyTitam

Hujan

Gue suka hujan walaupun gue gak kuat dingin. Gue suka hujan dan bau basahnya. Gue suka hujan karena dia ada tiap gue jatuh cinta. Gue suka hujan meski kadang berasal dari mata gue sendiri. Gue suka hujan karena entah kenapa tiap hujan datang, jiwa gue mendadak tenang, napas gue lepas dan bebas, penat gue pergi dan menari di bawah langit yang sedang menurunkan kebersamaan.

Hujan itu kebersamaan, karena airnya gak pernah turun sendirian, hujan itu kebersamaan karena saat hujan biasanya keluarga ngumpul di satu ruangan, hujan itu kebersamaan, karena cuaca yang dingin membuat mahluk Tuhan secara gak langsung saling mendekap dengan lekat untuk saling menghangatkan. Meskipun kita lagi benar-benar sendirian, seenggaknya hujan membawa kita pada bayangan orang-orang yang kita sayang. Jadi, hujan itu benar-benar jauh dari kesendirian.

Meski hujan selalu ada tiap kali gue putus cinta, gue gak pernah benci hujan. Karena dengan adanya hujan, justru gue ngerasa gak nangis sendirian, karena langit pun menangis saat gue patah hati. Se-romantis itu gue sama hujan. Gue selalu bahagia tiap kali kena air hujan.

Hujan juga bikin gue banyak tau, gue bisa lihat gimana banyaknya orang yang berjuang demi bahagiain keluarganya, mereka kerja, dan terpaksa pulang lebih larut karena harus menepi saat hujan datang dengan begitu derasnya. Gue bisa lihat gimana bahagianya anak-anak kecil pun remaja pas hujan datang, mereka nyiapin payung yang mereka punya, dan pamit sama orang tua masing-masing buat jemput rezeki di luar rumah. Gue bisa lihat gimana mereka yang gak punya tempat tinggal bertahan hidup di tengah dinginnya udara saat hujan datang. Dan, masih banyak lagi pelajaran hidup yang hujan kasih buat gue.

Hampir semua orang yang gue sayang pernah kehujanan bareng gue, dan mereka pasti natap gue, terus ketawa, karena mereka tau kalo gue suka banget sama hujan. Hujan juga sering banget ngerjain gue, gue yang udah mandi, rapih, dan siap berangkat ke suatu tempat, tiba-tiba aja dia turun terus ngajakin gue basah bareng. Itu cara hujan minta ikut tiap kali gue mau pergi. Dan, hujan juga suka turun tiap kali gue mau pulang ke rumah, dia mau nemenin gue sepanjang perjalanan. Dingin. Menggigil. Tapi, bahagia.

Gue hampir gak pernah sakit karena kehujanan, karena gue yakin hujan gak punya sedikit pun niat buat nyakitin gue.

Banyak tulisan yang gue kelarin saat hujan, postingan gue kali ini salah satunya. Nulis pas hujan itu damai banget, gue jauh lebih lancar kalo nulis sambil dengarin suara hujan, dari pada nulis sambil dengar musik. Biasanya tiap nulis, gue butuh menyendiri, tapi gue gak pernah keberatan tiap kali hujan mau nemenin gue. Kapan pun.

Sebelum rumah gue di renov, kalo hujan datang, rumah gue bocor parah. Tapi, itu gak bikin gue maki-maki hujan, gue tetap suka sama hujan, saking sukanya sama hujan, gue gak pernah bantuin orang rumah ngepel air bekas bocor. Iya, hujan juga bantu gue buat sepik, sepik sayang sama hujan buat gak bantu beberes, padahal  mah ya males aja, karena abis hujan emang paling enak cuma tidur, atau makan, bukan ngepel. Hahahahaha.

Buat kalian yang pernah gue ajak tukar cerita sampai ketawa lepas saat hujan, itu artinya gue sayang sama kalian. Karena sama kalian gue mau berbagi hal yang gue suka, mulai dari hal kecil; yaitu, hujan.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari
#Hujan
#Cinta
#PatahHati
#Bahagia

Hari Ayah?

Pa, katanya 12 November itu diperingati sebagai Hari Ayah Nasional, lho. Tadinya Puput pengin bikin kue buat Papa, tapi Papa lagi di Bali, gak jadi deh. Next time ya, Pa.

Iya, Puput emang punyanya Papa, bukan Ayah. Dan, Papa selalu ada di hati Puput tiap saat, Puput ingat Papa bukan cuma tanggal 12 November aja, tapi tiap waktu. Kita sama-sama tau kalo M. Achter R. resmi jadi seorang Papa pertanggal 21 Juli 1988, bertepatan dengan kelahiran mas Ivan, dan resmi jadi Papa dari seorang Syanu Gabrilla Roza Ravasia pertanggal 29 Mei 1993, dan jabatan ini berlaku sampai kapan pun, Pa.

Pa, mungkin Puput belum jadi anak yang bisa bikin Papa bangga, semenjak lulus SMK, Puput langsung kerja, terus milih buat resign karena satu dan lain hal, sampai akhirnya Puput kerja dan resign lagi, terus mutusin buat di rumah aja, jagain Mama sama Nenek, yang sama-sama kita tau kalo mereka berdua pelupa, Mama lupa perihal keseharian, Nenek pun sama, jadi Puput di rumah buat jadi pengingat mereka, sebisa Puput. Bersyukurnya, Papa gak pernah ngeluh atau nyudutin keadaan Puput yang ‘cuma’ di rumah aja, bahkan waktu Puput dapat banyak tawaran kerja, Papa lebih minta Puput buat tetap di rumah, dengan berbagai macam alasan. Semoga Papa tau kalo Puput masih kekeuh sama cita-cita Puput yang satu itu, yang semoga juga suatu hari nanti bisa Puput capai. Jangan lupa aamiin buat yang satu ini, Pa.

Papa tuh orangtua yang gak pernah capek ngingetin Puput buat shalat, dari awalnya Puput gak pernah dengarin Papa, terus Puput yang shalat kalo cuma pas ada Papa, sampai Puput yang sekarang insya Allah shalat karena Allah, karena sayang sama Allah, sayang sama Papa, sama Mama.

Puput belum seratus persen nutup aurat, dan udah punya niat buat itu, bukan karena alasan apa-apa, tapi entah kenapa tiba-tiba Puput kepikiran buat ambil keputusan itu suatu hari nanti, masih belum tau pasti kapannya sih, Pa, tapi insya Allah yakin buat berhijab, pelan-pelan ngikis dosa, Pa. Biar ringan di akhirat.

Puput bukan anak yang bisa bilang sayang di hadapan Papa langsung, tapi percayalah kalo Puput sayang banget sama Papa, makin hari ya makin sayang, makin gede ya makin bersyukur karena Mama milih Papa buat jadi suaminya, buat jadi Papa dari anak-anaknya.

Dan, asal Papa tau ya, nulis ini aja Puput udah hampir nangis, anak gadis Papa emang cengeng. Hahahahaha. Puput cuma berharap Papa sehat terus, kalo misalnya dikasih sakit, Papa pasti bisa sabar dan sehat lagi, insya Allah rezeki yang Papa peluk selalu halal, ucapan yang Papa keluarin selalu positif, kurangin emosi yang kadang berlebih, dan Puput selalu dukung kalo misalnya Papa mau terus kerja, biar sehat karena aktif terus.

Makasih karena Papa udah ngajarin Puput buat sayang sama binatang, dari Puput kecil. Makasih karena Papa udah jadi suami dan Papa yang baik, gak ngeluh kalo harus ngerjain kerjaan rumah tangga pas Mama lagi sakit, bahkan kadang sekali pun Mama sehat, Papa sendiri yang mau bantu Mama buat tetap ngerjain kerjaan rumah tangga. Dan, makasih udah tetap mau masak buat di rumah meski selalu Puput bilang gak enak, padahal? Enak kok, Pa. Malah kadang enak banget! Puput suka aja bilang masakan Papa gak enak. Hahahahaha.

Makasih juga karena udah terus sayang sama Mama, sama Nenek, sama mas Ivan, bang Dio, kak Onie, dan Puput. Makasih banyak untuk semua yang gak bisa Puput jabarin di sini. Semoga Papa bahagia terus, dan semoga Allah jaga Papa selalu, sama-sama terus ya, Pa, sampai nanti Puput kenalin siapa laki-laki yang bakal jadi suami Puput, sampai nanti Puput bisa bahagiain Papa sama Mama, sampai nanti kita siap buat pisah sementara, dan kumpul lagi di surga. Aamiin.

Terakhir, jangan pernah lupa kalo kita semua sayang sama Papa, meski kadang kita marah, kesel, atau sebel, itu gak pernah bikin rasa sayang kita ke Papa berkurang. Dan, Puput gak pernah nyesel udah jadi anak perempuan Papa satu-satunya.

Love you, Pa.

Si Papa emang penyayang binatang, banget!

Si Papa emang penyayang binatang, banget!

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari
#HariAyah
#PuputSayangPapa

Nari Lagi.

Setelah sekian hari gak nari, entah kenapa malam ini gue pengin banget nari, akhirnya gue lawan ngantuk, gue duduk di lantai kamar, sambil mulai nari. Terus, gue bengong, bingung mau bahas apa, karena terlalu banyak yang mau gue bahas, sayangnya mood gue berantakan, udah coba gue rapihin, tapi mereka dengan mudah berantakin lagi, dan salah gue, karena ngizinin mereka bikin gue unmood.

Gue garuk-garuk kepala, asli, gue bingung mau bahas apaan, tapi gue tetap mau ngeblog malam ini, gue gak mau tidur sebelum nulis postingan terbaru, itu jeleknya gue, mood gampang ancur, dan keras kepala. Teman kantor gue yang tau sekeras apa kepala gue.

Jadi, waktu itu gue baru sampai kantor, baru abis ganti baju kerja (iya, gue berangkat dari rumah pakai baju santai, karena jarak rumah ke kantor lumayan jauh, gue gak mau baju kerja gue lecek), pas gue mau masuk ke ruang kerja, tiba-tiba aja

… … …

daaaaaarrr

… … … gue nabrak pintu kaca, mata gue udah empat, dan gue yakin banget kalo pintu itu ke buka, tapi kenyataannya enggak, pintunya masih ke tutup, dan benturan kepala gue sama pintu kaca itu kencang banget, lo tau reaksi teman kantor gue yang nyaksiin kejadian itu? Yes, mereka ketawa, puaaaaas banget. Tanpa mereka tau kalo pala gue lagi puyeng-puyengnya. Dari situ mereka tau kalo kepala gue keras abis, keras dalam arti yang sesungguhnya.

Ngeselinnya adalah, gue yang keras kepala plus moodyan ini, juga sosok orang yang cengeng, sebelum gue nulis ini, gue baru aja nangis dan rasanya nyesek banget, padahal alasannya sepele, dan gak perlu ditangisin, cuma gue juga gak tau kenapa gue malah nangis dan lumayan lama, gue sedih banget, terus gue nangis sendirian di kamar, di atas alas paling nyaman, air mata gue derasnya sama kayak hujan sore tadi. Sekarang mata gue merah, sembab. Cuma orang-orang yang beneran dekat sama gue yang tau kayak apa muka gue yang lagi nangis, plus abis nangis.

Silakan bayangin, mata gue merah, sembab, terus hidung gue ikutan merah, muka gue juga merah, asli, gue juga gak tau itu muka gue apa bagian atas bendera Indonesia. Merah semuaaa. Jelek banget deh pokoknya, kalo bukan orang yang dekat banget sama gue, gak akan pernah lihat muka gue yang kayak gini, karena gue bakal berusaha sekuat tenaga buat gak nangis di depan orang yang gak kenal gue dekat.

Gue suka masak, meski orang rumah kadang gak makan masakan gue, dan alasannya? Kenyang. Akhirnya masakan gue ya gue bagi aja ke tetangga, gue happy aja lihat ekspresi mereka yang bersyukur banget dikasih makanan. Rasa capek gue abis masak yang barusan bikin badan gue pegal, seketika hilang, gue senang karena capek gue bisa bikin orang bahagia. Asli nyenengin banget sih, saat lo masak buat orang yang lo sayang, tapi orang yang lo sayang gak makan masakan lo dengan alasan kenyang atau apalah itu, terus lo nemu orang lain yang dengan senang hati mau ngabisin masakan lo, mereka bahagia, bahkan sampai rebutan manis sama anggota keluarga mereka yang lain. Tapi, semoga aja suami dan anak gue nanti mau makan masakan gue dengan hati yang senang. Aamiin (nikah aja belum, udah mikirin jalan hidup keluarga kecil, dasar sempruuul!).

Gue gak ngerti sih apa tujuan dan makna tulisan gue malam ini, tapi gue rasa cukuplah buat ngusir emosi gue yang berlebih, dan gue udah lumayan tenang, udah siap buat tidur dan mimpi indah. Semoga besok jadi hari yang lebih baik dan gak basah lagi sama air mata, hujannya cukup dari langit aja, biar gue bisa mandi hujan, gak usah dari mata gue, lagi capek ngusap air matanya.

Sekian dan terima makian. Wleeeeeee!

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari