Mereka Tak Pernah Meminta untuk Dicintai. Tapi, Bisakah untuk Sedikit Menghargai?

Sulit memang, mengajak manusia tuk mencintai hewan. Jika mereka belum jatuh hati dengan caranya sendiri. Manusia kerap mengatakan kalimat yang mungkin baginya sederhana, namun begitu luka untuk kami; yang mencintai mereka (hewan-hewan tak berdosa).

Alasannya beragam. Karena perilaku hewan yang tak pernah bisa ditebak. Entah saat mereka mencari makan dengan kesan mencuri. Merusak tanaman tanpa sengaja saat asik bermain. Atau yang paling sederhana namun juara, adalah saat mereka buang air tidak pada tempatnya.

Hati saya patah; bahkan hancur. Saat mendengar seorang ibu dengan mudahnya berkata “Saya paling gak suka sama kucing, pokoknya kalau ada yang datang ke rumah, sudah pasti langsung saya usir!” di depan saya, yang jelas-jelas dia tahu, saat itu saya sedang membeli makanan untuk kucing-kucing di rumah.

Atau saat seorang pedagang sayur mengacungkan pisaunya tinggi-tinggi, sesaat setelah seekor kucing mencuri ikan dagangannya. Ia berteriak dengan penuh rasa marah. Yang sama-sama kita tahu, jika marahnya tak akan pernah membuat kucing tersebut berjalan mundur dan mengembalikan ikan buruannya.

Pun, perlakuan-perlakuan lainnya, yang bagi saya sangat tidak manusiawi.

Ya, seperti yang saya katakan di awal. Sulit memang, mengajak manusia tuk mencintai hewan. Jika mereka belum jatuh hati dengan caranya sendiri.

Kami pun tidak memaksa kalian untuk ikut menyayangi hewan-hewan tak berdosa ini. Tapi, bisakah sedikit saja menghargai pola pikir kami yang menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri?

Entahlah. Semoga, suatu hari nanti, saya bisa punya satu tempat yang layak untuk hewan-hewan tak berdosa yang kurang beruntung. Pun memenuhi kebutuhan mereka tanpa tapi. Sehingga saya tak lagi perlu membuat kalian merasa terganggu, dengan kebersamaan kami.

Sekian dan sedang merasakan kehilangan. Kembali berbahagia di sana, ya. Jalu.

Advertisements

Tolong Hentikan

Marah, emosi, sedih, sakit, kecewa, bingung, geram, dan segala rasa yang seketika membuat wajahku basah karena begitu saja menitikan air mata.

Bagaimana aku tidak marah, saat melihat semakin marak kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di negara ini? Dewasa pun mereka yang masih balita telah menjadi korban. Tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana pilunya para pahlawan wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya demi merdeka, namun kini? Semakin banyak pelaku kejahatan seksual terhadap perempuan. Tak sampai hati kubayangkan sakitnya mereka yang menjadi korban dan masih saja harus disalahkan.

Wajar saja katanya, perempuan itu memakai busana minim bahan, atau tingkahnya menggoda, dan terus saja mencari celah agar korban tetap bisa disalahkan. Lantas sampai kapan menyudutkan korban dan menganggap wajar kejahatan pelaku? Sampai para pelaku merasa dibela dan bebas mengulangi kebiadabannya di kemudian hari? Atau sampai anggota keluarga para pembenci merasakannya sendiri? Jangan sampai itu terjadi!

Bagaimana tidak emosi jika berita seperti ini hadir hampir tiap minggu, bahkan setiap hari, dengan nama-nama baru pelaku pun korban. Mengapa hal seperti ini begitu mudah menyebar dan dicontoh? Perempuan memang perlu menjaga dirinya, tapi tak bisakah lelaki pun menjaga pandangan dan nafsunya? Kenapa harus selalu perempuan yang dirugikan dalam kasus ini?

Tubuh saya selalu bergetar tiap kali mendengar, membaca, atau mengetahui berita-berita semacam ini, lemas rasanya. Satu banding satu saja sudah begitu pedih dan menyakitkan, lantas mengapa kini menjadi satu banding belasan bahkan puluhan? Rasanya tak lagi bisa kumengerti apa isi otak dari para pelaku, mengapa mereka bisa berlaku kejam dengan begitu kompak? Apa mereka tidak memiliki sosok perempuan yang mereka sayang? Ibu? Kakak? Adik? Atau apa pun itu sebutannya.

Mau sampai kapan hukum negara kita bisa dibeli dengan rupiah? Mau berapa banyak lagi keluarga yang akan pulang dengan rasa kecewa karena tidak mendapatkan keadilan? Sampai kapan pemegang senjata api bebas bermain api? Sampai kapan?

Namun aku juga bingung harus bagaimana menghentikan semua ini? Para pelaku pendatang baru seolah tidak takut dengan hukuman yang diberikan, apalagi jika pelakunya masih di bawah umur dan tidak ditahan, rasanya justru makin banyak pelaku di bawah umur yang akan bermunculan. Lantas, ini salah siapa? Atau, kenapa kita sibuk mencari ini kesalahan siapa dari pada mencari pemecahan dari masalah ini? Semakin banyak media menyebarkan berita A, sadar pun tidak, beberapa waktu kemudian semakin banyak pula hal serupa dengan berita A terjadi lagi dan lagi. Miris. Hatiku teriris.

Aku geram. Ingin rasanya mencekik leher para pelaku, namun aku bukan Tuhan yang bisa menghentikan kehidupan mereka. Sampai detik ini aku hanya bisa bermain dengan air mata tiap kali menyaksikan berita serupa. Ingin rasanya segera terbang menuju tempat di mana para korban berada, untuk sekadar memeluk dan meyakinkan jika mereka tak akan melewati semua ini seorang diri. Ingin rasanya kutatap wajah mereka yang masih saja sibuk menyudutkan korban, kemudian kubisikan tepat di telinganya; untuk berhenti menghakimi diri yang sejujurnya sedang amat sangat berduka.

Berharap Tuhan melindungi kita dari hal serupa, menjaga lisan kita untuk tidak lebih membuat hati para korban sakit, memeluk korban dengan tulus, dan genggam tangannya untuk bersama mencari keadilan. Jika tidak dimulai dari sekarang, lantas mau kapan lagi? Menunggu hingga hal seperti ini dialami orang terkasih yang kita miliki? Tak perlu bukan?

Jika belum bisa membantu, maka berhentilah menghakimi. Mereka yang benar-benar hakim saja terkadang masih bisa salah memutuskan, apalagi kita? Tapi, percayalah jika hakim yang sesungguhnya akan mempertimbangkan kehidupan kita di masa yang abadi dari apa yang selama ini kita lakukan saat diri masih bernapas. Mengerti?

Tolong jangan pernah takut dan malu untuk bicara, ceritakan apa yang kau alami, bicara dengan lugas, meski hatimu bergetar, kuatkan segalamu hingga mereka yang menyakitimu dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Percayalah, kami bersamamu, dan kami tak akan menghakimimu, sedikitpun.

Korban adalah korban, bukan pelaku. Pelaku tetaplah pelaku, mereka harus bertanggung jawab atas kekeliruan yang telah berhasil memilukan hati para korban.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#TentangKeadilan