Nari Lagi.

Setelah sekian hari gak nari, entah kenapa malam ini gue pengin banget nari, akhirnya gue lawan ngantuk, gue duduk di lantai kamar, sambil mulai nari. Terus, gue bengong, bingung mau bahas apa, karena terlalu banyak yang mau gue bahas, sayangnya mood gue berantakan, udah coba gue rapihin, tapi mereka dengan mudah berantakin lagi, dan salah gue, karena ngizinin mereka bikin gue unmood.

Gue garuk-garuk kepala, asli, gue bingung mau bahas apaan, tapi gue tetap mau ngeblog malam ini, gue gak mau tidur sebelum nulis postingan terbaru, itu jeleknya gue, mood gampang ancur, dan keras kepala. Teman kantor gue yang tau sekeras apa kepala gue.

Jadi, waktu itu gue baru sampai kantor, baru abis ganti baju kerja (iya, gue berangkat dari rumah pakai baju santai, karena jarak rumah ke kantor lumayan jauh, gue gak mau baju kerja gue lecek), pas gue mau masuk ke ruang kerja, tiba-tiba aja

… … …

daaaaaarrr

… … … gue nabrak pintu kaca, mata gue udah empat, dan gue yakin banget kalo pintu itu ke buka, tapi kenyataannya enggak, pintunya masih ke tutup, dan benturan kepala gue sama pintu kaca itu kencang banget, lo tau reaksi teman kantor gue yang nyaksiin kejadian itu? Yes, mereka ketawa, puaaaaas banget. Tanpa mereka tau kalo pala gue lagi puyeng-puyengnya. Dari situ mereka tau kalo kepala gue keras abis, keras dalam arti yang sesungguhnya.

Ngeselinnya adalah, gue yang keras kepala plus moodyan ini, juga sosok orang yang cengeng, sebelum gue nulis ini, gue baru aja nangis dan rasanya nyesek banget, padahal alasannya sepele, dan gak perlu ditangisin, cuma gue juga gak tau kenapa gue malah nangis dan lumayan lama, gue sedih banget, terus gue nangis sendirian di kamar, di atas alas paling nyaman, air mata gue derasnya sama kayak hujan sore tadi. Sekarang mata gue merah, sembab. Cuma orang-orang yang beneran dekat sama gue yang tau kayak apa muka gue yang lagi nangis, plus abis nangis.

Silakan bayangin, mata gue merah, sembab, terus hidung gue ikutan merah, muka gue juga merah, asli, gue juga gak tau itu muka gue apa bagian atas bendera Indonesia. Merah semuaaa. Jelek banget deh pokoknya, kalo bukan orang yang dekat banget sama gue, gak akan pernah lihat muka gue yang kayak gini, karena gue bakal berusaha sekuat tenaga buat gak nangis di depan orang yang gak kenal gue dekat.

Gue suka masak, meski orang rumah kadang gak makan masakan gue, dan alasannya? Kenyang. Akhirnya masakan gue ya gue bagi aja ke tetangga, gue happy aja lihat ekspresi mereka yang bersyukur banget dikasih makanan. Rasa capek gue abis masak yang barusan bikin badan gue pegal, seketika hilang, gue senang karena capek gue bisa bikin orang bahagia. Asli nyenengin banget sih, saat lo masak buat orang yang lo sayang, tapi orang yang lo sayang gak makan masakan lo dengan alasan kenyang atau apalah itu, terus lo nemu orang lain yang dengan senang hati mau ngabisin masakan lo, mereka bahagia, bahkan sampai rebutan manis sama anggota keluarga mereka yang lain. Tapi, semoga aja suami dan anak gue nanti mau makan masakan gue dengan hati yang senang. Aamiin (nikah aja belum, udah mikirin jalan hidup keluarga kecil, dasar sempruuul!).

Gue gak ngerti sih apa tujuan dan makna tulisan gue malam ini, tapi gue rasa cukuplah buat ngusir emosi gue yang berlebih, dan gue udah lumayan tenang, udah siap buat tidur dan mimpi indah. Semoga besok jadi hari yang lebih baik dan gak basah lagi sama air mata, hujannya cukup dari langit aja, biar gue bisa mandi hujan, gak usah dari mata gue, lagi capek ngusap air matanya.

Sekian dan terima makian. Wleeeeeee!

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari

Advertisements

Apa alasanku menyayangi mereka?

Bagi beberapa kepala, menyayangi keluarga memerlukan alasan yang kuat, mereka terus mencari seiring dewasanya usia. Lantas, bagaimana denganku, apa aku sudah menemukan alasan paling tepat?

Aku menyayangi mereka bukan karena keharusan, aku menyayangi mereka bukan karena darahku dan mereka satu, aku menyayangi mereka bukan karena tak memiliki pilihan lain, aku menyayangi mereka, karena aku sayang mereka.

Aku yang tak pandai berkata-kata kerap kali terkesan acuh. Jangankan bicara panjang lebar, sekadar bilang sayang pun lidahku kelu. Mereka memang bukan tempatku bercerita segala tentang hidup, bahkan rahasia demi rahasia pun ku dekap dalam romansa dengan Tuhan. Bisa ku pastikan, Ia satu-satunya sosok yang mengetahui hidupku tanpa kecuali, mengenalku begitu dekat tanpa jarak, mengerti segalaku sejak dalam pikiran. Ia yang selalu memberikan bahagia untukku. Kebaikan-Nya tak pernah luput dari hidupku. Kebaikan terbesar-Nya adalah meletakanku di tengah-tengah keluargaku.

Beberapa kepala kerap bertanya, apa aku tak pernah merasa kesal dengan keluargaku? Apa kehidupanku dengan keluarga selalu harmonis? Jawabannya tentu saja tidak. Aku pasti pernah menyakiti mereka, pun mereka pernah membuat hatiku luka. Bahkan mengantarku sampai ke jurang paling bawah, mendorongku hingga tak kuat lagi bernapas.

Begitulah sayangku pada mereka, dahulu kerap ku jadikan tameng, ku jadikan mereka seolah-olah penyebab luka paling susah pulih. Nyatanya? Caraku menyayangi mereka yang salah. Aku tak pernah bilang caraku menyayangi mereka adalah yang paling benar, namun setidaknya, kini, jika hatiku terluka karena ucapan atau tindakan mereka yang disengaja pun tidak, aku tak butuh sehari penuh tenggelam dalam rasa marah, benci, kecewa, dan lain sebagainya. Cukup ku nikmati romansaku bersama Tuhan, hanya berdua, kemudian Ia akan senantiasa menyadarkanku bahwa keluargaku adalah sosok-sosok yang paling menyayangiku. Mereka akan selalu menjadi rumah meski nanti sudah berhasil ku bangun rumah untuk keluarga kecilku.

Mama, Papa, Mas dan Abang, biarkanlah kita terus mencinta dalam saling, tanpa perlu alasan.

Setuju dengan sebuah lagu berjudul “Ratu”.

Hari ini, sekitar pukul dua siang waktu Indonesia bagian barat, saya melihat sebuah musik video di youtube, yang sebelumnya kerap saya temukan cuplikan video tersebut di media sosial; instagram. Sebuah lagu berjudul Ratu, persembahan dari seorang musisi bernama Cinta Ramlan.

Saya dengarkan lagu tersebut sembari mengunyah tiap-tiap liriknya di kepala dan hati. Tak saya telan mentah-mentah. Kemudian satu dua anggukan tak bisa terhindarkan, mengawali rasa setuju, membuka diri untuk makna yang sampai dengan syahdu.

Beberapa detik setelah bagian tengah lagu, ada suara wanita yang saya kagumi tulisan, pun pribadinya. Djenar Maesa Ayu. Di buka dengan ‘Camkan Perempuan!’ suaranya menjabarkan kalimat-kalimat luar biasa menyadarkan, dan yang paling menempel dalam ingatan adalah tentang kesucian seorang perempuan yang dilihat dari perawan atau tidaknya mereka. Dilanjutkan dengan penjelasan bahwa selaput dara bisa saja rusak karena aktivitas yang tidak melulu lewat persetubuhan.

Dan, lagi-lagi saya membenarkan. Beberapa waktu lalu, saat saya sedang berada di sebuah rumah sakit, ada anak perempuan berusia di bawah lima tahun, air matanya deras dalam dekapan sang Ibu, kemudian baru saya ketahui setelahnya bahwa selaput dara anak tersebut rusak karena jatuh di kamar mandi dengan posisi yang tak dapat saya jabarkan. Tangisnya semakin menjadi-jadi, sanggup pun tidak untuk saya bayangkan bagaimana yang anak kecil itu rasakan. Bukankah kejadian itu sudah cukup menyakitkan? Lantas, mengapa lingkungan tega menambahkan sakit pada batinnya seiring ia dewasa dengan mempermasalahkan keperawanan yang hilang tanpa sedikitpun kesengajaan?

Belum lagi korban pelecehan seksual, lagi-lagi perempuan yang disalahkan. Mulai dari cara berpakaian, hingga pribadi yang katanya mengundang perbuatan-perbuatan kurang ajar. Jadi korban pelecehan saja sudah memukul hati hingga biru dan lebam, belum lagi bimbang memilih telinga mana yang bisa dijadikan tempat bercerita tanpa beban, kemudian luntang-lantung mencari keadilan. Namun, alih-alih kasus terselesaikan, yang ada hanya cacian karena tak bisa menjaga diri dalam pergaulan. Lantas, kepada siapa korban mengadu? Mengapa justru pelaku dilindungi dengan begitu kukuh?

Sebagai perempuan, saya menangis, sedih, marah, kecewa, terluka, dan merasakan sakit lainnya. Tapi, kita harus bangkit, saling memeluk satu sama lain, bukan malah menghujat dan menghakimi seenak jidad. Sebab benar apa yang Djenar Maesa Ayu suarakan,

“Lawan! Sebab perempuan bukan properti, jangan pernah sudi menempatkan diri di posisi ini. Memang tidak mudah, bukan berarti tidak usah.”

Dan, benar apa yang Cinta Ramlan dendangkan,

“Perempuan adalah ratu, manusia lahir dari rahimmu, yang ada di dunia itu semu, jadilah ratu untuk dirimu.”

Mari nikmati karya mereka. Semoga pikiran kita terbuka sama-sama. Sila ▷ http://youtu.be/9Jq373RyABc

Cerita tentang guru.

Tulisan santai di pagi yang cerah, rasanya kayak lagi di pinggir pantai dengan sunrise yang ngedipin gue malu-malu. Kayak mau ngajak kenalan tapi lo nya ngintip di belakang tembok.

Guru pertama yang gue inget itu Bu Euis, dia guru TK yang cantik, baik, sabar, tapi ada kalanya tegas dan cenderung jutek. Tapi, di balik semua itu dia adalah wanita sabar yang gue kagumi selain Mama. Dan, dia juga yang jadi guru ngaji gue (dulu).

Kelas 1 SD, gue lupa siapa nama guru yang bikin gue panik karena dia natap mata gue dengan tatapan yang menghakimi dan berhasil ngebuat gue ngerasa bersalah. Masalahnya? Sepele. Gue belajar tinju di pohon Jeruk Bali sekolah gue, dan … Jeruk yang mulai membesar jatuh dari pohon karena gue ninjunya terlalu kencang. Gitu doang.

Kalo gak salah namanya Bu Darmi, guru sekaligus wali kelas gue pas kelas 3 SD. Lo pernah main kata-kataan nama orangtua pas SD? Gue pernah. Awalnya gue nyebut nama nyokap teman gue, terus teman gue itu bales nyebut nama nyokap gue, tapi gue malah gak terima, jadilah teriak-teriak saling kata-kataan, makin lama makin kencang, dan berakhir (hampir) tinju di depan kelas yang saat itu Bu Darmi lagi duduk di bangku guru, terus dia bilang ‘Besok Ibu bawain pisau buat kalian satu-satu, biar berantemnya lebih puas. Heran, ada guru kok gak ngehargain banget.’ Dan, sekarang gue ngerasa kok ya gue bandel banget.

Pas gue kelas 5 SD dan gue harus pindah sekolah untuk yang kedua kalinya, gue di suruh pamitan sama teman-teman sekelas gue yang akhirnya nangis histeris, karena gak mau gue pindah. Pak Larwo bilang ke nyokap gue ‘Bu, Ibu sekeluarga pindah aja gak apa-apa, Syanu biar tetap sekolah di sini, anak-anak kehilangan banget, nanti Syanu kan bisa tinggal di rumah saya, ada anak saya juga buat teman main di rumah.’ Tapi, nyokap gue gak mungkin tega nitipin gue kayak gitu, walaupun Pak Larwo itu baik bangeeet. Nyokap gak gampang percaya sama orang lain (masalah anak).

Oh iya, dulu pas kelas 1 SD, gue sering nahan pup, karena gue di minta tolong ngajarin beberapa anak yang belum ngerti materi, hampir tiap hari gue pulang telat, dari kecil gue udah dekat banget sama lembur. Terus kenapa gue nahan pup? Karena WC sekolah terkenal angker. Kalian pasti pernah kan percaya kalau WC sekolah itu angker? Ada hantu kepala buntung dan lain sebagainya? Itulah alasan gue lebih milih nahan pup daripada harus pup di sekolah. Gue lupa nama guru yang minta tolong ke gue, yang gue ingat dia selalu manggil gue dengan sebutan ‘Bella’ yang dia ambil dari nama lengkap gue ‘Syanu Gabrilla Roza Ravasia’ gak nyambung? Biarin aja, justru karena itu gue masih ingat kebiasaan dia.

Sisa 1 caturwulan dan 2 semester di SD gue gak menarik, karena gue ngerasa gak semangat sekolah. Kehilangan begitu banyak teman dekat dan ketemu teman yang karakternya beda jauh banget. Shock? Banget!

Lanjut kelas 1 SMP, entah apa yang ada di otak gue, sampai gue bawa 2 kaset Agnezmo plus beberapa DVD, DVD Catatan Akhir Sekolah salah satunya. Semua gue bawa ke sekolah. Dan, pas banget lagi ada razia tas, mampuslah gue kena sita. Dari situ gue gak pernah lagi bawa-bawa begituan.

Waktu kelas 2 SMP, gue punya guru Bahasa Indonesia, namanya Bu Tuti, dia guru yang bajunya rapih dan matching banget. Gue kasian sama dia, karena posturnya yang kecil, anak-anak kurang menghargai dia, padahal dia baik, alhasil gue salah satu murid yang paling sering dia ajak komunikasi, karena emang cuma beberapa yang merhatiin dia ngajar, gue salah satunya.

Masih di kelas 2 SMP, guru Ekonomi gue namanya Pak Endang, dia terkenal galak banget, teman sekelas gue pernah ada yang di gampar, tapi sama gue? Enggak. Karena gue manis banget kalo dia lagi ngajar. Hahahaha. Takut? Lumayan, namanya juga gadis lugu. Dua kalimat yang gue ingat banget dari dia adalah ‘Nih foto anak laki-laki saya, mau gak sama anak saya?’ dan ‘Kamu mandi gak sih ke sekolah? Mukamu kayak orang bangun tidur enggak mandi.’ Itu gak pernah gue lupa. Guru kayak Pak Endang ini emang ngselin, tapi buat gue malah bikin cepat paham materi. Karena kalau kita gak malas dia juga gak bakal ngamuk seenaknya.

Pas kelas 3 SMP, waktu itu mau ujian dan gue nekat pakai sepatu warna biru, karena gue emang gak punya sepatu warna hitam yang layak pakai waktu itu. Namanya Bu Salamih (maaf bu kalo salah ketik), semua kelas 3 baris di lapangan, gue deg-deg-an tapi tetap santai, sampai akhirnya teman gue Trya di tegur, gue lupa kalimat pastinya gimana, yang jelas dia diomelin karena pakai sepatu warna krem. Terus Trya bilang ‘Itu Syanu juga gak pakai warna hitam bu, kok gak diomelin?’ Asli, gue kesel juga di aduin begitu, tapi Tuhan Maha Pelindung, Bu Salamih jawab ‘Mana? Itu hitam, cuma udah pudar.’ Gue langsung narik napas lega. Padahal sepatu gue warnanya emang biru muda jeans belel gitu. Amanlah gue.

Di SMK cerita gue lebih banyak tentang cinta-cintaan masa remaja dan lain kegiatan sekolah, gue gak terlalu dekat sama guru, tapi ada beberapa yang menarik.

Guru Kewirausahaan namanya Pak Slamet kalau gak salah, tiap dia masuk kelas dan mau ngajar, gue sama beberapa teman gue yang ngeyel lagi asik sarapan, makan bekal lebih tepatnya, dan dengan santai gue sama anak-anak bilang ‘Pak, bentar ya, lapar, dari rumah belum sarapan.’ Dan dia enjoy aja ngebiarin kita makan.

Guru kewarganegaraan namanya Pak Mono, waktu itu pernag dia lagi ngajar, ngelawak gitu di tengah-tengah pelajaran, terus gue bilang ke dia ‘Pak, ada yang ngetawain bapak. | Siapa? | Tuh pak *jari gue nunjuk ke arah bingkai foto Budiono yang posenya kebetulan nyengir, bukan senyum* | kemudian anak kelas pada ketawa’ gue kurang ajar? Lumayan. Tapi niatnya gak gitu, niatnya cuma mau ngelawak balik aja.

Guru matematika yang gak pernah ngajar gue di kelas reguler, dia ngajar gue cuma pas pemantapan atau pengayaan menjelang ujian. Tiap ketemu gue, dia selalu bilang ‘Cantik banget sih, kelas 2 ya?’ minggu berikutnya ketemu lagi ‘Cantik banget sih, kelas 1 ya?’ masa gue turun kelas 😦 minggu berikutnya lagi ‘Cantik banget sih, kelas 3 ya?’ kali ini dia bikin gue naik kelas seketika. Intinya, dia kenal gue karena kakak kelas gue pas SMK selalu minta dia berhenti ngajar sebentar kalau gue lagi lewat depan kelas mereka, setelah gue sepenuhnya gak kelihatan lagi, mereka lanjut belajar, dan gak jarang ngomongin gue dulu sebentar, nyeritain siapa yang lagi ngincer gue buat di pacarin. Yap, masa putih abu!

Pegel juga ya. Well, kita langsung ke inti apa yang mau gue bagi aja.

Waktu itu kelas 2 SMK, kalau gak salah, ya. Gue lagi di Lab. Kejuruan gue, waktu itu sekolah mati listrik, jadilah kelas di buka untuk sharing, anak-anak cowok sharing sama guru yang gak pernah gue anggap guru, anak-anak cewek ngerumpi di bagian belakang. Lo tau kan gimana berisiknya cewek kalau lagi ngumpul? Kebayangkan? Saat itu hampir semua cewek ngerumpi, asli gue gak lagi bela diri.

Tiba-tiba entah gimana kita becanda, terus gue sama beberapa cewek teriak histeris, dia nanya ke anak cowok ‘Siapa itu yang teriak?’ Randi teman sekelas gue enteng aja jawab ‘Oh, itu mah Syanu, Pak. Biasa.’ Gue gak tau apa yang mereka bicarain di depan kelas. Sampai jam pulang sekolah tiba, pas ketua kelas mau mimpin doa, guru yang gak gue anggap guru itu memecah keheningan dengan ‘Syanu, nanti kamu jangan pulang dulu ya, saya mau bicara berdua sama kamu.’ Anak-anak serempak natap gue penuh khawatir.

Doa selesai, kelas di bubarin. Gue? Berdua dia dalam Laboraturium dan pintu di tutup.

“Kamu tau kenapa kamu saya panggil?”
“Enggak, pak.”
“Gak ngerasa ada salah?”
“Saya gak tau, pak. Emang ada apa? Bilang aja, saya penasaran.”

Panjang lebar dia ngomong gak jelas, sampai akhirnya,

“Kamu kalau mau bandel, sendiri aja, jangan hasut yang lain, kamu tau gak kamu tuh kayak apa? Hmm? Kamu tuh virus, tau virus kan? Virus di komputer aja ngerusak data, nah kamu ngerusak teman-teman kamu. Bla bla bla bla bla bla.’

Gue diam aja sambil mikir gue salah apa?

“Kamu kenapa diam aja?”
“Saya salah apa, pak?”
“Kamu pikir sendiri, teman kamu mau belajar jadi gak bisa karena kamu ajak ketawa-ketawa, banyak yang bilang gitu ke saya.”

Gue makin diam. Gue masih gak abis pikir, gue di bilang virus? Emangnya gue apaan? Sampai akhirnya emosi gue meledak, tapi gue masih sadar jabatan dia di sekolah, gue diam, dan akhirnya gue nangis, nangis parah, paling parah selama gue sekolah, sesunggukan. Dia? Panik.

“Kok kamu nangis? Saya gak maksud jahat, saya mau kamu bla bla bla bla preeet.’

Gue tetap diam, gue udah benar-benar ilang respect sama dia, total. Sampai akhirnya dia nyuruh gue pulang.

“Ya udah, kamu pulang, tapi hapus dulu air matanya, gak enak sama yang lain, hati-hati ya.”

Gue keluar Laboraturium dengan mata sembab, air mata gue masih banyak, dan masih sesunggukan. Kalian tau apa yang gue temuin di luar pintu Lab? Teman sekelas gue belum pulang, mereka nunggu sampai gue keluar, mereka cemas, khawatir sama gue. Ah, gue terharu. Tapi gue gak bisa cerita, hati gue masih sakit banget, jadilah mereka makin khawatir, dan Randi yang ngerasa salah udah nyebut nama gue tadi udah minta maaf ke gue, walaupun itu bukan salah dia juga, emang guru yang gak gue anggap guru ini aja yang lebay.

Akhirnya dia di tukar sama temannya yang gak jauh lebih baik, tapi paling enggak gue gak harus di ajar sama dia, gue lega. Sekarang gue baru tau, dia gak suka sama gue karena gue gak kegoda sama cara dia yang sok manis ngedeketin siswi-siswi yang dia ajar. Sumpah. Sejak saat itu gue gak pernah salim ke dia, walaupun udah papasan, gue lewat aja tanpa beban. Dendam? Enggak. Gue cuma gak mau berhubungan lagi sama dia.

*tarik napas lega*

Selamat hari guru buat guru di seluruh Indonesia, kecuali guru-guru yang sikapnya ndak kayak guru, semoga cepat copot jabatan!

Kode.

Umur gue hampir 22 tahun, itu juga kalau di kasih kesempatan ketemu tanggal lahir lagi tahun depan. Rasanya capek nebar kode, udah bukan lagi waktunya gue nyari orang yang peka nangkep kode-kode yang gue tebar. Ini saatnya mereka-mereka yang kebanyakan nerka cuma mati tenggelam dalam terkaannya sendiri, dan mereka-mereka yang tanpa sungkan nanya langsung ke gue insya Allah bakalan ngantongin kebenaran.

Dapet poin-nya gak?

Gini deh, kalo ada lisan, tulisan, atau apapun dari gue yang rasa-rasanya lo pengen tau maknanya, dan sekiranya lo perlu tau, lo tanya ke gue, masalah kepo atau enggaknya ya urusan belakangan. Jangan malah sibuk nerka. Asli, yang ada kalian cuma penasaran, terus mati dalam terkaan yang belum tentu benar. Sekian, dan terima pertemanan.

Saya sempat berpikir sempit.

Angkat bicara mengenai asap, alkohol, tatto, dan lain sebagainya yang kerap di anggap negatif, seperti alat tes kehamilan yang hanya bergaris satu.

Tak jarang sekeliling saya yang baru saja mengenal, beranggapan bahwa saya adalah perokok, bahkan peminum, hanya karena wajah dan penampilan saya yang cuek dan santai, gaya bicara saya yang cenderung tak pernah serius, selalu ada tawa di sana-sini saat bicara. Apa saya terganggu dengan penilaian seperti itu? Awalnya iya, tapi sekarang tidak lagi, orang yang tidak mengenal saya dengan baik tak perlu tahu siapa saya, kalaupun mereka ingin tahu, biar mereka yang cari tahu sendiri. Jika mereka tak perlu klarifikasi, biar mereka kenyang dengan asumsinya sendiri.

Mengenai pasangan hidup, saya pun kerap berdoa agar dapat sosok yang tidak merokok, tidak minum, tidak bertatto, dan lain sebagainya. Tuhan tahu perihal doa saya ini. Bukan karena mereka yang merokok, minum-minuman keras, dan bertatto itu negatif. Bukan. Saya hanya berharap, seandainya di kabulkan saya bersyukur, seandainya tidak saya pun insya Allah menerima, karena saya pun jauh dari sempurna. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini hanya untuk kehidupan pribadi saya. Saya dan pasangan saya tepatnya.

Masalah teman, sahabat, dan keluarga, apa ada yang merokok, minum alkohol, dan bertatto? Tentu saja ada. Apa mereka mengganggu saya? Tentu saja tidak. Kita saling menghargai. Saya tidak mengganggu hak mereka untuk menikmati apa yang mereka ingin, dan mereka pun tidak merusak prinsip saya dengan mengajak paksa untuk mencoba hal-hal yang tidak saya ingin. Sesederhana itu kita menjaga hubungan baik.

Jadi, saya memang berharap hal-hal yang saya jelaskan di atas mengenai pasangan dapat terwujud, tapi saya tak pernah menilai seseorang mentah-mentah hanya karena rokok, alkohol, tatto, dan hal yang terkesan negatif lainnya. Karena apa? Karena lebih baik jadi diri sendiri dan tetap bersih hati, dari pada terkesan baik dengan berpura-pura bersih di balik hati yang punya banyak rencana kotor.

Sekian,

Salam sayang untuk sesama manusia yang masih menjunjung tinggi sikap memanusiakan manusia tanpa mengkotak-kotakan dan bersikap seolah-olah lebih suci dan bersih dari Tuhan.