Aku ingin berterima kasih.

Aku ingin berterima kasih, pada mereka yang awalnya mungkin tak kusadari, jika secara tidak langsung telah membuatku menjadi seperti sekarang.

Kepada kalian teman semasa aku masih berseragam putih merah, terima kasih, karena telah membuatku merasa begitu dicinta, karena telah mengantar kepindahanku dengan peluk nan hangat dan tangis yang begitu mengharukan. Terima kasih karena tak kunjung melupakanku, dan tak pernah lelah mengajak untuk bertemu meski aku kerap tidak bisa ikut serta. Terima kasih karena tetap bisa berbagi tawa bahkan membahas hal paling tidak masuk akal; bersama.

Kepada kalian laki-laki yang kutemui semasa aku masih berseragam putih biru, terima kasih, karena telah membuatku dapat membedakan mana kasih yang tulus, dan mana yang bukan. Terima kasih karena memandangku dengan sebelah mata, kemudian memanggilku tanpa henti sejak penampilanku berubah manis. Tanpa kalian, mungkin aku akan dengan mudah salah jatuh cinta. Terima kasih, karena tanpa kalian, mungkin aku akan mudah percaya jika mendengar kata cinta yang sebenarnya hanya ketertarikan fisik semata.

Kepada kalian keluarga semasa aku berseragam putih abu, terima kasih, karena tanpa kalian, mungkin hari ini aku masih egois, mungkin aku masih menuntut untuk selalu didengar tanpa pernah mau mendengar, mungkin aku masih merasa paling benar sendiri. Terima kasih, karena dengan kalian aku pernah bertengkar hebat, pernah begitu benci, tapi tanpa pertengkaran dan rasa benci atas salah paham di masa lalu, kita tak akan bisa sampai sedekat dan melekat seperti sekarang. Terima kasih karena kalian tetap begitu mudah dirindukan.

Kepadamu, lelaki pertama yang membuatku jatuh hati, terima kasih, karenamu aku mau belajar untuk tak lagi mengulangi kesalahan, aku belajar untuk bisa menghargai dan mengasihi tubuh yang ada dekat denganku. Terima kasih, karenamu aku dapat mengerti jika apa yang aku harap tak selalu harus kudapat. Terima kasih, karenamu aku dapat mengerti arti kata saling. Sepasang adalah kita, bukan hanya selalu tentang aku, atau bukan hanya selalu tentang kamu.

Kepadamu, lelaki yang tak pernah marah denganku, lelaki yang menuntunku bersikap seperti yang kau mau tanpa sedikit pun mengubahku, tanpa pernah menuntutku jadi orang lain. Terima kasih, karenamu aku begitu merasa dicinta, begitu merasa satu-satunya, begitu merasakan kasih yang tulus. Terima kasih, karenamu aku belajar untuk tak lagi menyia-nyiakan waktu, untuk tak lagi hidup dalam ragu. Terima kasih, karenamu aku belajar mengikhlaskan, mengikhlaskanmu yang telah bahagia dengan masa sekarang, dan lagi-lagi aku ingin kau tahu jika aku bahagia atas kebahagiaanmu kini. Sungguh.

Kepadamu, lelaki yang pertama kali menduakanku, lelaki yang hampir mengubahku menjadi sosok yang benar-benar bukan aku. Terima kasih, karena kau mundur begitu cepat, dan membuatku menjadi lebih mudah sadar jika perpisahan kita adalah cara Tuhan menyelamatkanku. Terima kasih, karenamu aku mengerti rasanya dipermainkan. Dan, karenamu aku mengerti bagaimana cara tulus memaafkan setelah dikecewakan.

Kepadamu, sosok yang kulepas dan kusakiti, terima kasih, karenamu aku dapat merasakan kasih yang tulus, kasih yang begitu luar biasa, kasih yang ingin kumiliki namun tak dapat kupeluk. Terima kasih, karenamu aku ingin bersahabat dengan masa lalu sembari memperbaiki diri untuk masa depan. Terima kasih, karena telah mengizinkanku mencintaimu untuk kemudian pamit dari hatimu. Terima kasih, karena telah memaafkanku.

Kepadamu, tubuh yang paling lama aku ragukan. Terima kasih, karena telah membuatku berani mengungkapkan perasaan daripada harus tenggelam selamanya dalam rasa penasaran. Terima kasih, karena kau telah begitu lama berjuang, meski akhirnya kau pergi dan menyerah, setidaknya kita pernah saling cinta di waktu yang berbeda. Terima kasih, karenamu aku belajar mengikhlaskan lebih dalam lagi. Terima kasih, karenamu kearogananku luntur seketika waktu, karena aku sadar bahwa tak selamanya aku dapat mengatur segala yang kumau.

Untuk sosok yang begitu baik denganku, menganggapku seperti keluarga, dan memberi perhatian tulus padaku pun keluargaku. Terima kasih, karenamu aku dapat merasakan bagaimana rasanya mempunyai saudara tak sedarah. Terima kasih, karenamu aku tahu rasanya dipeluk. Kemudian kau menghilang, pergi, tanpa penjelasan. Apaku salah? Entah. Tapi, terima kasih, karenamu aku jadi jauh lebih menyayangi keluargaku. Pergilah, aku tak akan menanyakan apa penyebabnya, pergilah, aku tak akan menerka-nerka, aku hanya selalu berdoa untuk hidupmu. Berbahagialah, tanpa aku, karena kini kau menjauh, dan aku tak akan memintamu untuk kembali mendekat, tapi, kembalilah kapan pun kau mau, pelukanku akan selalu terbuka, karena membencimu, sedetik pun aku tak pernah. Menyalahkanmu, sedikit pun aku tak mau.

Untuk sosok yang (pernah) begitu dekat kemudian merenggang, menjauh, dan kini terasa hilang. Terima kasih, karena kalian aku mengerti bagaimana rasanya dilupakan, diacuhkan, disingkirkan. Terima kasih, karena kalian aku tahu caranya berdoa tanpa mengharap balas. Terima kasih, karena kalian aku berhenti bercerita dengan sembarang telinga. Bukan, bukan karena kalian tak ingin mendengar, melainkan karena aku yang tak ingin (hanya) didengar, aku juga ingin mendengar, namun kalian tak pernah bersuara, dan aku memilih berhenti bercerita, kemudian melanjutkan perjalanan, dengan atau tanpa kalian. Teruskan hidup kalian, doaku tak akan mengenal habis, bahagiaku melihat kalian bahagia; meski dari kejauhan.

Terima kasih, pada kalian yang mau meluangkan waktu begitu banyak untuk mengomentari hidupku. Tanpa kata-kata pahit dan pedas dari kalian, aku akan lemah. Terima kasih, karena kalian begitu membuatku rendah, sehingga aku menyatu dengan tanah, dekat dengan Tuhanku saat diriku mencium dasarku berpijak. Tanpa kalian rendahkan, mungkin aku sedang terombang-ambing angin bernama arogan. Mungkin aku sedang tenggelam, terbawa ombak yang kemudian menyeretku tanpa pernah mengizinkanku untuk kembali pulang menemui mereka yang kukasihi.

Aku hanya ingin berterima kasih, benar-benar tulus berterima kasih, karena kalian, hidupku penuh dengan pelajaran, tanpa kalian, mungkin aku hanyalah seorang hidup berjiwa mati. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Advertisements

Tentang apa yang gue yakini.

Gak tau kenapa tiba-tiba gue pengin banget nulis tentang apa yang mau gue bahas di postingan gue kali ini. Bukan buat ngode, bukan buat apa-apa, ini cuma tentang rasa gue yang percaya banget kalo Tuhan udah nyiapin yang terindah buat hidup gue, dalam hal apa pun. Termasuk pendamping hidup.

Bisa dibilang gue orang yang romantis, entah sengaja atau enggak, gue selalu mau ngebuat orang yang gue sayang ngerasa spesial. Gue orang yang perasaan banget, gampang nangis, gampang luka hatinya, tapi gampang juga buat tenang lagi, mikir luas lagi, mikir positif lagi, dan akhirnya bisa maafin siapa-siapa yang nyakitin gue. Gampangnya, gue mikir kalo gue pasti juga pernah nyakitin orang secara gak sengaja, dan gue tau gimana rasanya pengin dimaafin setelah ngelakuin salah, makanya gue mencoba untuk selalu bisa maafin siapa pun. Kalo pun gak langsung, gue berusaha untuk bisa maafin mereka di masa nanti.

Gue juga orang yang sayang banget sama kucing, dari kecil. Waktu kecil, gue anggep kucing gue itu teman, sekarang? Gue anggep kucing gue kayak anak gue sendiri. Gue ngebahasain mereka buat manggil gue mama, awalnya tetangga plus keluarga gue ketawa, nganggepnya gue gila kali, yaaa. Tapi, lama-lama mereka juga jadi sayang sama anak-anak gue.

Gue suka banget sama anak kecil, gue suka banget kelepasan teriak, gue suka ketawa berlebihan, gue suka nangis, gue suka ngelakuin hal yang sebenarnya gak gue suka. Bingung? Kalian gak perlu bingung. Lepasin aja bacanya. Enakin.

Balik lagi tentang pendamping hidup, dulu, awal mula pacaran, gue nyari mereka yang menurut mata gue ganteng, manis, atau minimal menarik (iya, buat gue mantan gue itu kalo gak ganteng, manis, ya menarik). Tapi, sekarang gak gitu lagi, gue lebih mentingin hati, pribadinya, dan gimana gue sama dia bisa terus saling dalam kebaikan apa pun.

Sekarang, jujur aja, hati gue kosong, belum ada satu pun yang bikin gue deg-deg-an (lagi), tapi rasanya gak sepi kayak sebelum-sebelumnya. Iya, gue emang beneran belum mau mulai, bukan karena belum kelar sama yang terakhir, tapi karena emang belum mau aja. Titik.

Ada laki-laki yang maksa buat dekat, sampai maksa buat ngajak jalan, maksa buat nemenin dia, dan gue juga kekeuh buat bilang gak bisa. Dari dulu, gue gak bakal mau jalan kalo gue gak nyaman, gak bakal pergi kalo emang gue gak mau. Kaki gue ngelangkah ya karena gue mau, bukan karena keterpaksaan. Satu dua langkah mungkin pernah karena terpaksa, tapi itu gak akan gue jadiin kebiasaan.

Ada laki-laki yang baiknya ampuuun, tapi ya balik lagi, gue belum mau mulai (lagi). Masalah entar gue nyesel atau enggak kehilangan mereka, ya gimana nanti, yang pasti gue gak bakal mulai kalo gue belum mau.

Gue juga bukan tipe orang yang hobi ngegantungin hati orang lain, kalo dari awal gue emang gak bisa, gue jelasin dengan bahasa paling sopan kalo gue gak bisa. Gue gak akan bersikap seolah manis biar gak kehilangan mereka, padahal gue tau kalo gue gak bisa lanjut sama mereka. Gue orang yang to the point banget.

Gue orang yang gak bisa main gila. Kalo udah sayang sama orang, mau masalah segede apa juga, gak bakal gue ceritain ke laki-laki lain. Gue gak mau ngasih celah buat mereka yang ngarep hubungan gue retak. Itu kenapa, gue juga berharap pendamping gue nanti gak hobi cerita ke perempuan lain, pun ke banyak temannya kalo dia lagi ada masalah sama gue. Cukup diobrolin berdua. Selesain berduan. Kan jatuh cintanya berdua. Pahitnya ya telen berdua juga. Karena makin banyak telinga yang dengar, makin banyak kepala yang ngasih opini, makin banyak suara yang ngeluarin pendapat, makin ribet, makin bikin masalah lebar, lebih lebar dari daun kelor. Jauuuh.

Tentang cintanya gue sama kucing, gue sering sedih kalo lagi cerita tentang gimana kucing gue yang sakit atau kenapa kek, ditanggepinnya ‘lebay, biasa aja kali, kucing doang, gak usah segitunya, bla bla bla … bla bla bla’ sedih banget. Tapi, abis itu gue sadar, gue juga pasti pernah nyepelein orang lain yang lagi cerita tentang kecintaannya. Gak ada yang salah kok. Karena gue yakin, pendamping hidup gue nanti adalah dia yang gak akan pernah mau nyepelin apa-apa yang gue cinta, meskipun kecintaan gue buat dia itu biasa aja, dia akan tetap ngerti gimana gue sayang banget sama apa yang gue cinta, jadi dia belajar buat nanggepin cerita gue pakai sudut pandangnya sebagai gue.

Gimana gue yang suka teriak, suka gila, suka berekspresi aneh, suka cengeng, gue yakin Tuhan siapin pendamping yang telinganya kuat dengar gue teriak, dia bakal ketawa tiap gue teriak, kalo gue udah selesai teriak, baru dia bilang ‘kamu lebih manis kalo ngomong dengan suara biasa, kalo teriak kayak tadi jadi lucu gemesin’ dia bisa milih bahasa paling manis buat gue dengar, dia mau gue gak terlalu sering teriak tanpa ngelarang gue teriak. Intinya, akan ada laki-laki yang nerima gue ya segimananya gue. Kalo ada yang aneh dari gue, dia bukan marah atau gimana, dia bakal punya caranya sendiri buat bikin gue meleleh, sadar diri dan benahin diri pelan-pelan.

Ya, tulisan gue kali ini cuma mau ngasih tau, kalo gue emang perasa, gampang sakit hati kalo ada yang salah ngomong, tapi kalo udah tenang, ya biasa lagi, gak masalah kalo banyak yang nyepelein hidup gue, gak masalah kalo banyak yang mandang sebelah mata, atau apa pun yang nganggep hal penting buat gue itu gak penting buat mereka. Toh, nantinya gue akan hidup di sekeliling mereka yang menghargai apa yang menurut gue penting, dan senantiasa gue peluk apa-apa kepentingan mereka.

Asli, ini tulisan paling apa adanya, paling gak gue pikirin gimana keluarnya, paling iseng sembari nunggu ngantuk.

Gue rasa cukup, apa yang gue tunggu udah dateng, gue pamit pejamin mata dulu. Gnight!

Happy birthday, Mas!

Hey, Mas! Laki-laki yang kadang bawelnya nyebelin banget. Juteknya bikin gue pengin ngeluarin taring. Ketawanya berisik. Celetukannya asal, tapi justru bikin hati nyeees. Paling susah diajak ngobrol karena terlalu intim sama gadget.

21 Julinya lo udah terulang untuk yang ke 27 kali, lho. Makin berumur alias tua. Banyak banget yang bikin gue bersyukur atas lo. Mungkin bagi banyak orang, punya kakak yang sukses materi dan bisa punya segala-gala itu nyenengin, tapi buat gue, punya mas yang insya Allah selalu belajar buat terus jadi lebih baik adalah kebahagiaan yang luar biasa.

Lo gak perlu tau seberapa sering gue nyebut nama lo pas shalat, lo gak perlu tau apa aja isi doa yang gue terbangin ke Allah buat lo, lo gak perlu tau seberapa sayang gue sama lo, lo cuma perlu tau satu hal, gue gak pernah lelah buat bersyukur karena udah terlahir sebagai perempuan bungsu dari dua kakak laki-laki, dan lo kakak tertua gue. Kakak yang gak pernah marah gue ajak ngomong sekasar apa pun. Kakak yang gak pernah nuntut gue buat sopan. Kakak yang jauh lebih rajin dibanding gue.

Mas, gak usah takut kalo ditanya kapan nikah, gak usah takut kalo ditanya mana calon istrinya, gak usah takut sama omongan orang yang kadang lepas kontrol, anggap aja mereka kesulitan pilih bahasa yang baik. Lo cukup jalanin hidup lo segimana bahagianya lo, asal selalu dijalan Allah, gue bakal jadi pendukung paling keras kepala buat selalu ngebela lo dari penilaian picisan manusia yang termakan zaman.

Entah kenapa gue yakin banget kalo lo sama abang bakal jadi suami yang baik, yang bisa nuntun keluarga kalian ke surga. Aamiin. Bisa jadi orangtua yang bimbing anak-anak kalian dijalan Allah. Bisa jadi anak yang genggam tangan mamapapa ke surga nanti. Bisa jadi kakak yang gak pernah capek buat ngingetin gue biar makin sholehah. Aamiin.

Mas, gue ikhlas kehilangan apa juga dihidup gue, kehilangan teman, atau apa pun yang milih buat pergi dari hidup gue, ngilang dari hidup gue, asal gue masih bisa bilang ke mereka kalo lo adalah orang baik. Orang baik yang ke depannya akan terus jadi lebih baik. Dan, gue gak pernah ragu buat terus ada buat lo dan ikhlasin mereka yang ngerasa gak sejalan sama kita. Insya Allah. Aamiin.

Mas, gue sayang sama lo yang sayang banget sama mamapapa, yang sayang sama gue plus bang dio, yang gak pernah beda-bedain orang, gak pernah beda-bedain tamu.

Kalo ada satu yang bisa gue harap ya cuma gimana lo bisa ngurangin kebiasaan lo terlalu fokus ke gadget, karena waktu gak ada yang tau, bisa jadi selang menit bahkan detik, orang yang lo cuekin karena gadget udah gak bisa lagi lo ajak ngobrol, udah gak bisa lagi lo dengar hembus napasnya, udah gak bisa lagi manggil-manggil lo. Gadget itu benda mati, jangan sampai dia bisa bikin lo nyuekin mahluk hidup sampai akhirnya mereka mati cuma karena lo terlalu asik bercengkrama dengan benda mati.

Happy birthday, Mas! Gue sayang sama lo.

Tulisan tentang anak, dari seorang anak perempuan yang belum memiliki anak.

Membuka tulisan kali ini dengan rasa rindu, iya, saya rindu menulis di sini, karena belakangan saya kerap kehilangan mood menulis, dan jika saya haruskan menulis, jemari saya seolah bisa balik memaksa untuk berhenti. Tapi, tenang, kali ini saya pastikan tulisan saya selesai, setidaknya satu judul.

Untuk yang belum tahu, saya adalah seorang anak perempuan berusia 22 tahun, yang belum memiliki anak karena belum menikah, belum menikah karena jodohnya belum datang, ia masih berpetualang dengan hidupnya, dan saya hanya bisa berdoa, semoga ia senantiasa melangkahkan kaki dalam jalan yang benar hingga akhirnya sampai di hadapan saya yang insya Allah senantiasa juga sedang membenahi diri.

Sedari kecil, sejak saya masuk taman kanak-kanak, saya sudah menyukai anak kecil, bermain dengan adik dari teman sebaya saya, mengasuh mereka sambil tertawa bersama. Beranjak remaja, saya sempat menjadi anak yang usil, entah kenapa saya suka mengecup pipi anak kecil, kencang sekali, sampai anak itu menangis atau setidaknya merasa kesal, dan saya bahagia melihat ekspresi mereka yang seperti itu, bagi saya itu lucu. Tapi, alhamdulillah, setelah dewasa kebiasaan itu berhasil saya sudahi, saya tetap gemar mengecup balita, tapi tak lagi sampai membuat mereka menangis pun kesal.

Sepertinya tulisan saya kali ini akan panjang, semoga pasang mata yang telah sampai pada kalimat ini tetap meneruskan niat membacanya. Aamiin.

Hati saya selalu hancur, ketika tahu ada seorang anak yang tertekan, ketakutan, menangis, bahkan kehilangan nyawa dengan cara yang sangat tragis. Meski mereka akan segera bahagia di surga, tapi hati saya tetap teriris, karena tahu anak yang seharusnya sedang asik menghabiskan waktu dengan bahagia, justru menikmati masa kanak-kanaknya dengan banyak tekanan, air mata, dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Mereka butuh benteng, pribadinya belum terbentuk utuh, mereka butuh dilindungi, mereka butuh dikasihi, mereka belajar begitu cepat, dan mereka tak ingin dihukum jika di tengah pembelajarannya ada kesalahan, mereka hanya butuh kembali diluruskan, perlahan-lahan.

Terlepas dari nasib anak-anak yang harus kehilangan nyawanya di tangan orang dewasa yang mengaku khilaf, atau memang dengan sadar melakukan hal keji itu, banyak anak yang tertekan di dalam rumahnya sendiri, mereka tak bisa berbicara lantang, kepalanya kerap menunduk, jantungnya berdegup dengan kencang seperti pelari yang baru mencapai garis kemenangan, namun sayangnya degup jantung yang cepat ini dikuasai rasa takut, mereka takut, amat takut. Dan, tak jarang mereka harus menjadi orang lain demi menghindari kekerasan. Iya, mereka kesulitan jadi dirinya sendiri karena orangtua mereka pun keberatan untuk menerima kenyataan jika anak mereka tak sesuai seperti apa yang mereka harapkan.

Saya mengenal beberapa anak kecil yang tidak bisa berbicara dengan lantang, mereka selalu menjawab pertanyaan dengan cara bergumam, hanya satu hal yang bisa menjadikan mereka bebas, lepas: tertawa saat menonton acara komedi. Hanya itu. Selebihnya, mereka akan kembali menutup diri. Mereka tidak bisa mengeluarkan isi hatinya karena sosok yang sebenarnya paling mereka harapkan bisa menerima mereka apa adanya, malah menyetir isi kepalanya, mengharuskan mereka menjadi apa yang orangtuanya mau, tanpa berusaha mencari tahu, apakah anak ini bernapas lega atau tidak dalam kesehariannya.

Saya, sedang belajar untuk mengurangi kata jangan saat bicara pada anak-anak, sebab, saya pernah merasakan jadi anak-anak, dan tiap kali telinga saya mendengar kata jangan, sebanyak itu pula otak saya meminta pada diri untuk mencoba melakukannya. Seperti rasa dilarang secara keras, dan ada perlawanan untuk membongkar pintu yang menghalangi, berjalan keluar, dan melakukan apa yang dilarang. Ini cukup bahaya, bahkan bisa jadi sangat bahaya.

Saya rasa, tiap-tiap orangtua niatnya ingin anaknya menjadi lebih baik dari mereka, tapi, mereka kerap lupa, bahwa menjadi lebih baik dari masa lalu seseorang adalah proses belajar, dan bukankah dalam proses belajar seharusnya tidak ada keterpaksaan? Begini, banyak orangtua yang lepas kendali, karena mereka sangat ingin anaknya berhasil, mereka membangun dinding untuk membatasi sang anak menatap dunia, mereka hanya memperbolehkan sang anak menatap pada pandangan-pandangan yang sudah mereka tentukan, mereka menyamar bak pembaca pikiran yang seolah tau mana yang paling diinginkan sang anak dan membuatnya bahagia. Ini keliru. Anak butuh ruang untuk dibebaskan, diberi kepercayaan, sedini mungkin, dan dari sana mereka secara natural akan belajar bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan pada dirinya.

Sejak kecil, orangtua saya selalu berpesan untuk tidak mengambil apa-apa yang bukan milik saya, atau bukan hak saya, bertumbuhnya saya dalam usia, mereka berpesan untuk saya hidup berbahagia tanpa merusak kebahagiaan orang lain. Alhamdulillah, insya Allah mereka akan senantiasa berhasil, rasanya bukan hanya saya, tapi kedua kakak laki-laki saya pun tak pernah mempunyai rasa ingin untuk mengantungi apa-apa yang bukan milik kami.

Saya mengenal beberapa anak yang sedang tumbuh di usia 5 sampai 15 tahun, mereka hidup dalam begitu banyak larangan yang akhirnya membuat mereka pintar berbohong, gemar mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Mereka membuat kebohongan-kebohongan tersebut untuk melindungi diri, sebab mereka tahu, saat mereka jujur hanya amarah yang akan mereka terima, bahkan, sampai ada yang kena hukuman berupa pukulan dari orangtuanya.

Terlepas dari agama saya yaitu islam, sebagai muslim saya percaya bahwa tak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian pun kekerasan. Sebab, Tuhan Maha Pengasih, bukan? Lantas mengapa umat-Nya harus menjadi pemarah dan pembenci?

Dalam agama saya, memang diperbolehkan untuk memberi peringatan fisik jika keluarga melakukan kesalahan, tapi, sepengetahuan saya, peringatan fisik ini bukan memukul, apalagi sampai menghilangkan nyawa, melainkan hanya sekadar sentuhan lembut yang diniatkan agar anggota keluarga mengerti untuk tidak lagi mengulangi kekeliruannya. Dan, tak lupa untuk mengakui kesalahan bahwa kekeliruan anggota keluarga bisa saja terjadi karena orangtua lepas kendali, tentang ini saya mohon maaf jika ada yang tak sepaham, saya hanya menulis apa yang saya tahu dan yakini.

Kemudian, saat masih duduk di bangku sekolah, saya juga mempunyai beberapa teman, mereka tumbuh dengan orangtua yang gemar melarang dengan alasan belum cukup usia, atau atas kekhawatiran yang berlebih bahwa anaknya belum bisa menjaga dirinya sendiri, bisa jadi mereka memang belum sepenuhnya percaya bahwa anaknya tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma.

Berbeda dengan saya yang tumbuh dengan kebebasan, orangtua saya selalu mengizinkan ke mana pun saya ingin pergi, selama saya izin sebelumnya, dan selama saya jujur mengatakan untuk apa saya pergi, selama itu pula mereka memberikan kebebasan dan kepercayaan tanpa batas. Dengan begini, saya justru jadi lebih menghargai mereka, jangankan untuk nakal diluar rumah, rasa ingin mencoba hal negatif pun tidak ada, saya selalu mengingat wajah mereka yang melepas kepergian saya dengan penuh rasa percaya, dan saya tak ingin merusak kepercayaan yang mereka beri, saya selalu terbayang wajah mereka yang menantikan saya pulang, dan itu membuat saya selalu ingin pulang sesegera mungkin setelah kegiatan saya diluar rumah selesai.

Berbeda dengan teman-teman saya yang terbiasa dilarang, mereka yang ingin pergi dengan pasangannya akan pamit kepada orangtuanya dengan alasan belajar kelompok, atau ada kelas tambahan. Atau saat ingin pergi main dengan teman sebaya, mereka pun memilih berbohong, karena jika menyampaikan alasan yang sebenarnya, mereka tahu mereka tidak akan diizinkan.

Saya tahu, melarang itu perlu, tapi melarang dengan sangat adalah kekhawatiran yang tidak perlu. Anak juga butuh waktu untuk bermain, untuk menikmati masa muda, untuk menikmati tawa, untuk belajar membenarkan diri dari pilihan-pilihan mereka yang salah.

Sayangnya, tak banyak orangtua yang bisa terima masukan dengan pikiran terbuka, bagi mereka apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kebaikan sang anak, dan tidak lagi peduli dengan masukan dari orang lain, apalagi dari seorang gadis seperti saya yang katanya belum boleh banyak bicara karena belum merasakan bagaimana rasanya jadi orangtua.

Intinya, untuk para orangtua, ketahuilah, kami mengasihimu, kami ingin kalian menaruh kepercayaan pada kami, insya Allah tak akan kami siakan. Kami ingin tumbuh, bolehkah kami memilih dalam hidup kami? Izinkanlah. Kami tetap perlu bimbingan, tuntunan, tapi bisakah ajarkan kami dengan penuh kasih? Untuk para orangtua, bukankah kalian pernah menjadi anak? Bukankah kalian tahu bagaimana rasanya ingin menentukan namun dibatasi? Kalian perlu tahu, apa yang kalian ingin dan kalian anggap benar untuk hidup kalian sewaktu kalian muda, tidak berarti sama dengan apa yang kita ingin dan kita anggap benar untuk hidup kami. Mungkin dulu kalian ingin jadi dokter, bukan berarti anak kalian pun ingin jadi dokter. Mungkin kalian ingin jadi musisi, bukan berarti anak kalian harus mencintai aliran musik yang tak mereka sukai. Kalian boleh mengkhawatirkan kami, kami bersyukur untuk itu, tapi bolehkah untuk tidak masuk pada tahap mengekang? Kami butuh bebas agar tidak perlu berpikir keras untuk berbohong sekadar untuk dapat melakukan apa yang kami suka. Kami butuh dukungan kalian, maukah kalian duduk di kursi pendukung paling depan tanpa takut kecewa jika kami salah pun kalah?

Banyak percakapan antara orangtua dengan anak yang belum saya tulis, namun rasanya dengan tulus mencinta dan kasih yang tak terhingga, orangtua dan anak tak akan sering saling menyakiti. Pernah menyakiti itu pasti, tapi menjadikan itu sebagai kebiasaan adalah penyakit hati.

Tapi, kalian juga perlu tahu, saya juga mengenal sosok orangtua yang luar biasa, yang tetap menanti kepulangan anaknya meski sudah berbulan-bulan tak berkabar. Mereka tetap memberikan pelukan yang hangatnya tidak sama sekali berkurang untuk sang anak yang pulang setelah sekian lama berpetualang. Dada mereka adalah tempat rebah paling damai untuk sang anak. Mereka tak pernah marah meski anaknya salah. Mereka menuntun bukan menuntut. Mereka memberitahu bukan menggurui. Mereka juga masih belajar dan tak malu mengakui salah. Mereka luar biasa menebarkan cintanya kepada sang anak. Mereka sadar betul kehadiran anak yang awalnya balita akan beranjak dewasa, dan setelah dewasa sang anak akan memilih arah hidupnya sendiri, mereka tetap mengingatkan bukan mengikat sang anak pada apa yang mereka yakini.

Satu lagi, orangtua bisa membentuk anak mereka sedemikian rupa dengan lingkup keluarga, anak akan dengan mudah mencontoh, anak yang nakal tak berarti akan selamanya nakal, hidup akan mengajarinya untuk memperbaiki diri. Tapi, anak tak bisa memilih dari mana ia akan dilahirkan dan tumbuh. Anak akan menerima, menerima, dan pada akhirnya anak bukan ingin membangkang, anak hanya ingin didengar secara bergantian.

Semoga kita bisa saling bicara, saling mendengar, saling mengerti, saling memahami, saling mengasihi, dan saling dalam segala kebaikan.

Sekali lagi, ini tulisan tentang anak, dari anak perempuan yang belum memiliki anak. Tidak ada niat menghakimi para orangtua, karena saya pun begitu mencintai orangtua saya. Tanpa mereka, saya tidak akan pernah bisa menulis sepanjang ini, seperti hari ini.

Tebarlah kasih, berhentilah memaki. Tebarlah kebaikan, berhentilah bersikap buruk, meski hanya sekadar prasangka.