Ajaibnya Dini Hari

Aku kerap terbangun di waktu ini
Kemudian meraba cerita-cerita lalu
Seperti saat pertama kalinya Ibu kontraksi
Berjuang untuk kelahiran gadis kecilnya; aku

Dan masih terbangun di waktu ini
Memang bukan hal yang baru
Saat telinga mendengar langkah kaki Bapak
Disusul suara air yang begitu syahdu

Aku terlalu cinta dengan dini hari
Waktu yang tepat untuk mengenal diri sendiri
Berbincang dengan Tuhan tentang kejujuran tiada dusta
Hingga menerbangkan doa untuk mereka yang kucinta

Teruntuk Ibu Bapak yang makin menua
Kalian adalah sepasang yang begitu menyebalkan dan mencuri perhatian
Sepasang yang mudah marah namun juga jenaka
Sepasang yang kuharap kembali bersama; di surga-Nya yang paling indah

Pak, Bu
Aku memang kerap mengeluh
Meski jelas kutahu ini semua tak ada apa-apanya jika dibanding pengorbanan kalian

Pak, Bu
Seberat apa pun skenario Tuhan
Aku yakin kita mampu lewati; selama masih bersama

Pak, Bu
Aku hanya butuh peluk, saat lelah mulai mampir
Agar langkah payah ini tak membuatku tergelincir

Dini hari hanya salah satu waktu, di mana aku dapat menceritakan segala kita, pada-Nya. Tanpa harus sedikitpun mengarang kata.

12 Oktober 2017 — Keluarga Gengsian

Advertisements

Ingatan yang Tak Perlu Kusuarakan

Kata demi kata yang terus berdampingan dalam bait, memanja rasa dan tak jarang menjadi pemicu rindu tuk bangkit.

Tahukah kamu jika Tuhan menghadiahkan ingatan yang baik untukku? Terlebih tentang hal-hal yang membahagiakan dan baik bagi kesehatan jiwaku.

Kemudian membiarkanku melupa peristiwa yang sebenarnya memang tak perlu diingat. Seperti? Entahlah, aku tak bisa memberi contoh untuk lembar yang ini.

Sepenggal percakapan berisi janji yang selamanya kan melayang. Kemudian pesan berantai berhasil membuatku tersenyum; karena isinya yang berulang.

Hahahaha. Aku benar-benar tertawa, mengingat semua yang tak lagi perlu kusuarakan, kuceritakan. Cukup kukenang, kemudian kuajak ia berdansa dalam harmoni sederhana.

Kau tahu? Saat aku sedang menulis ini, tergambar jelas di mata dan pikiranku; bagaimana kau meributkan angka di belakang bajuku.

Ssssssssstt..

Sebentar lagi lahir terkaan orang-orang itu, tentang siapa kamu, apa yang sedang berusaha kembali kutuliskan, dan hal menarik lain yang bisa dimenangkan sesuka hati mereka.

Kemudian tiap-tiap kepala mengangguk dan bergumam, “Dugaan gue pasti benar.”

Hahahaha. Tak apa, tak akan berpengaruh jua.

Biar kuakhiri tulisan kali ini dengan bahasa planet, agar benar-benar samar dan semakin membuatku nyaman.

Sengbongsol adasimingsel namingdel, ya.

Rabu, 11 Oktober 2017 — CPTC

Pamit

Saya suka terangnya; melahirkan harapan baru sebelum luruh karena asa yang putus.

Saya suka utuhnya; membuat rasa percaya jauh lebih kuat dari trauma yang entah sudah kali ke berapa.

Saya suka hadirnya; bukti jika yang tak terlihat beberapa saat, bukan berarti tak akan pernah bisa kembali mata menangkap.

Saya suka pamitnya; memberi waktu untuk kerabat menyapa semesta. Ia tahu jika di sini, saya juga rindu sabit.

Terima kasih, Purnama. Kau selalu punya cerita.

Jumat, 6 Oktober 2017 — Pamit

Kelinci Kecil

Kelinci kecil berlarian di taman, bahagia sekali. Wajahnya begitu merona, tanda jika ia mulai menikmati dunianya yang baru.

Kemudian melintas kendaraan yang tak asing lagi baginya. Hap! Segeralah ia melompat dan masuk. Ternyata? Salah tujuan.

Ah, biar saja. Toh perjalanan masih bisa dilanjutkan. Begitu pikirnya. Hingga akhirnya ia sadar, tenaga cadangannya pun tertinggal.

Kali ini tak bisa lagi ia berdiam. Maka berlari ke pintu keluar adalah pilihan, mengambil segala yang masih bisa diselamatkan. Dan membuatnya melupakan sesuatu.

Ya! Tubuhnya hampir terjepit waktu yang sudah lelah menunggu.

Tunggu. Apa kau ingat bagaimana wajahnya jika sedang lelah? Tiba-tiba saja potret itu tergambar jelas di mata dan pikiranku!

Tapi, sudahlah. Kelinci kecil terus tumbuh dewasa. Taman bermain yang biasa ia datangi pun perlahan sirna; dari segala langkah dan ingatannya.

4 Oktober 2017 — BARK