Ketika hatiku memilihmu, maka kau dapat melihat segalaku.

Kau yang ku cari pertama kali saat bahagia menghadiahkan hidupku begitu banyak tawa, bukan hanya senyuman, kau bahkan bisa melihatku tertawa sebebas merpati yang tak pernah takut kehilangan jalan pulang. Kau dapat menyaksikan bagaimana mataku mengecil, wajahku merona, dan bibir nan ranum melukiskan bahagia tanpa ada luka yang dapat terselip dengan angkuhnya.

Kau yang ku cari pertama kali saat diriku rapuh, seketika dadamu ku jadikan sandaran segala keluh, ku basahi dengan air mata entah berapa banyaknya, pelukan demi pelukan ku raih dari tubuhmu sebagai penenang gundah yang datang dengan begitu semena-mena. Kau dapat melihat bagaimana air mataku mengalir deras, wajahku memerah, pun telinga dan hidungku. Kau dapat mendengar suaraku yang sesenggukan menikmati pilu tanpa perlu canggung dan malu di dekapmu.

Kau yang ku cari pertama kali saat diri butuh teman untuk adu argumen, mendengarkan pernyataanmu, menjelaskan pernyataanku, menghargai pendapatmu, menyampaikan pendapatku. Kita tak harus melulu sependapat, tapi juga tak perlu saling hujat usai berdebat. Akhirnya kita sepakat bahwa dua kepala tak bisa sepenuhnya disatukan, namun sangat bisa mencipta keserasian.

Telingamu adalah pendengar segalaku, mulai dari ocehan payahku, cerita-cerita yang menurutku seru, hingga lantunan lagu-lagu kesukaanku. Kau tersenyum bahkan tertawa bahagia tiap kali aku melakukan itu, meski kita sama-sama tahu bahwa suaraku tak begitu merdu, atau bahkan sama sekali tak merdu? Kali ini hanya kau yang tahu.

Padamu aku tak perlu malu, ku ceritakan apa adanya hidupku, termasuk masa lalu. Bukan bermaksud membuka kembali pintu berisi kenangan, sama sekali bukan. Namun, untuk sekadar bercerita apa-apa saja yang pernah ku alami, ku lewati, sebelum bersamamu. Dan, aku ingin mendengar hal yang sama darimu, penuh, utuh, tanpa takut kau jatuh dan merindu masa lalumu, sebab aku yakin bahwa aku dapat jauh lebih membahagiakanmu.

Kau teman terbaik, musuh terbaik, pendukung terhebat, pasangan terhebat, sahabat suka duka, teman segala waktu, tempatku pulang, tempatku berbagi tawa, tempatku mengusap luka, tempatku bahagia, tempatku melingkarkan pelukan nan hangat, tempatku berdiri tanpa takut jatuh sebab kau senantiasa membuatku percaya bahwa bangkit kan selalu ada, teman yang mengingatkan bahwa tali sepatuku belum terikat, bukan mengikatkannya, kau biarkan aku nikmati satu dua detik untuk mengikatnya sendiri, teman yang mengingatkanku untuk tak pernah lupa minum air putih, sebab kau tahu aku lebih suka minuman berwarna, teman yang turut serta menjaga kesehatanku, teman yang begitu menyebalkan, pun begitu mudah membuatku rindu meski sedang bersama, teman yang tak ingin ku tukar dengan apa pun, termasuk dengan aktor idolaku, kau tak akan pernah ku tukar.

Sebab, segalamu sudah semesta bagiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s