Apa Jadinya …

Apa jadinya hidup tanpa rintangan? Rasanya tak akan pernah kita mengenal gagal. Sebab, Jika segala terasa mudah, untuk apa mengupayakan diri menjadi lebih baik lagi?

Apa jadinya semesta tanpa luka duka? Sepertinya kita tak akan menghargai bahagia. Tak pernah mengerti bagaimana rasanya berair mata. Dan, tak tahu cara mensyukuri berkah.

Apa jadinya akhir perjalanan tanpa neraka? Tiap kepala leluasa menari dengan begitu jahatnya, melantunkan caci dan maki hingga lekuk bibir tak lagi seperti semula. Dan, tak ada yang mendamba surga.

Apa jadinya skenario yang Tuhan tulis untukku tanpa adanya kamu? Ia akan menyamar bagai buku yang kehilangan selembar halaman, namun tetap menyematkan tamat; untuk menjadi teman saatku menutup cerita.

Minggu, 24 September 2017

Advertisements

Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Dua Puluh Enam

Sebenarnya, tak ada yang spesial pada hari kedua puluh enam bulan dua tahun ini. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kulanjutkan suara yang sempat tertunda beberapa jam sebelumnya.

Seperti tak mengenal lagi siapa yang sebenarnya kukenal baik. Setengah mati kuyakini hati untuk percaya pada diri sendiri, namun upayaku kembali patah dan tak lagi ada dalam satu wadah.

Kupaksakan logika melawan hati. Kemudian ia menari kala kubertanya; mungkinkah semua nyata?

Melangkah dan melangkah lagi. Kepalaku menoleh. Ada yang menyebut namaku di ujung sana; ruang yang kukenal namun asing warna dan harumnya.

Satu dua pijak, sampailah jiwa pada lembar sebelumnya.

Tiba-tiba saja jemariku memeluk benang. Kusut. Namun tak bisa untuk dilepaskan. Kucari lagi dan lagi cara tuk menyudahi kekacauan.

Ah! Jemariku terluka. Tetes demi tetes darah mengalir, benang yang kukira biasa, tajam nyatanya.

Namun jemariku masih belum bisa berhenti. Entah mengapa ia masih saja melanjutkan tariannya tuk bisa mengantar kusut kembali pada keadaan semula.

Air mata yang sebelumnya mengalir karena luka, darah yang kini mengering karena belum sempat ia seka, masih melekat pada apa yang ia sebut jiwa.

Kemudian malam terasa datang lebih awal, namun ia kesulitan untuk melekatkan kelopak mata satu dan lainnya.

Hai, dua puluh enam memang tak berakhir mudah. Namun, harap akan selalu ada, mungkin saja Tuhan titipkan pada detik berikutnya, atau entah di waktu yang mana.

Tertanda, mawar putih yang masih terjaga.

#PenariJemari 

Setengah, lalu?

Semuanya memang berawal dari keputusan yang diambil setengah hati.

Berusaha yakin jika hujan malam itu ialah pertanda.

Memeluk segala kata yang sebenarnya jauh dari angan. Meninggalkan lara; seolah tuk menjemput tawa.

Nyatanya memang tak pernah mudah. Sebab di hari berikutnya selalu ada tangis yang pecah. Kemudian lantunan-lantunan menyiksa.

Lantas diri bisa apa? Hanya mematung dan tertawa.

Bahagiakah?

Hati bercerita pada mata jika sebenarnya ia sedang asik menertawakan langkah yang keliru. Kemudian menangisi jejak yang telanjur pindah jalur.

Sepekan kemudian logika angkat suara, sebab mendung senantiasa menguasai langit, dan ia tak sudi jika harus selamanya hidup jauh dari cahaya.

Pandangannya berputar, langkahnya kembali. Ada senyum dan harap yang sedang ia bangun di sana; di tempat yang pernah memeluknya erat.

Namun Tuhan benar-benar tak pernah membiarkan jiwa seorang bimbang kembali keliru memilih jalan.

Ada tawa di sana. Ada bahagia yang merekah. Jelas beda; ia tak lagi menari dalam sepi.

Kemudian kutertawa; setengahku kini menjawab dengan cara yang beda. Lantas aku harus apa?

Terus berjalan, menikmati kehidupan, memahami jawaban yang tak terlontar langsung dari apa yang kerap kali membuat semesta letih dalam lemahnya.

Ssssssssstt.. bangunlah, lanjutkan langkahmu ke sudut sana, sebab setengah lainnya sudah terlalu lama menunggu. Setia meskipun tak pernah ada satu pun harap yang pasti.

screenshot_67

Ingatlah, dulu kau pernah hidup dengan langkah yang penuh kebahagiaan. Kau bisa ciptakan lagi!

#PenariJemari

#SatuHariSatuTarian

#Tersadar

Duka yang Dekat

Semuanya berawal dari bedanya sikapmu di hari Minggu, 16 Oktober 2016 kemarin. Biasanya kau selalu bahagia tiap kali menatap ikan sebagai lauk di meja makan, namun hari itu murung lebih menguasai raut wajahmu. Aku dan papa pun bingung, tentang apa yang sebenarnya sedang kau rasakan. Karena kau memilih kembali rebah di tempat tidurmu setelah makan hanya beberapa suap. Aku dan papa saling tatap, tak lama dari itu, papa menanyakan kenapa kau tak menghabiskan makananmu seperti biasanya, dan kau hanya menjawab jika tubuhmu terasa begitu lemas.

Hari kian malam, dan kau semakin tenggelam dalam sakit yang belum kita sadari bagaimana rasanya. Kamu yang biasanya gemar tersenyum, malam itu terus mengernyitkan kening, namun kau juga kesulitan untuk terlelap meski kantuk begitu melekat padamu. Maaf jika kita tak bisa lebih cepat menyadari jika yang kau rasakan bukan hanya pusing kepala biasa.

Hingga akhirnya papa membangunkan aku dan mas tepat pukul satu dini hari, karena kau beberapa kali muntah, dan tubuhmu semakin lunglai. Lagi-lagi, tak seperti biasanya, karena kau tak menjawab pertanyaanku dan mas, tentang apa yang kau rasakan. Kamu hanya diam, awalnya kupikir kau marah dengan salah satu dari kami, namun ternyata diam itu ada karena kau tak sanggup bercerita. Aku dan mas hanya bisa memberimu penghangat badan, dan kembali memintamu istirahat agar lekas pulih.

Namun kekhawatiranku belum berakhir, kantukku lenyap seketika, kuraih ponsel dan mulai mengetik huruf demi huruf untuk menceritakan hal yang baru saja terjadi pada adik perempuan mama. Singkat cerita, anak perempuanmu tiba di rumah kita pukul tiga dini hari, ia segera menghampirimu, dan kau masih mengenalinya, Alhamdulillah; ucapku dalam hati.

Beberapa hari sebelumnya kau memang selalu menanyakan anak-anakmu yang lain, bahkan malamnya pun kau sebut nama anak bungsumu, dan menanyakan rute untuk menuju rumahnya.

Tante Rita segera mengganti pakaianmu yang basah karena keringat dan air lainnya, memakaikanmu popok, dia begitu cekatan, mengajariku satu hal lagi tentang bagaimana caranya memperlakukan orangtua yang sedang sakit. Aku salut. Aku semakin yakin jika anak-anakmu memang bisa diandalkan dalam segala bidang, insya Allah.

Pukul tujuh pagi, kau masih sempat menyantap bubur buatanku, kita kembali bercerita dan bersyukur karena kondisimu membaik. Namun, saat tante Rita sedang memasak makanan untuk kita santap siang, kondisimu kembali menurun, bahkan sangat menurun, kau sudah tak dapat merespon sapaan dari kita, meski suara begitu dekat di telingamu. Hingga akhirnya anak-anakmu sepakat membawamu ke rumah sakit, dan kau langsung dilarikan ke IGD.

Ini pertama kalinya untukku, Nek. Pertama kalinya melihatmu jelas di hadapan mataku, rebah dan lemah. Bohong jika aku tak berair mata, namun aku pun tak boleh egois untuk terus bersedih, sebab sekelilingku perlu untuk saling dikuatkan.

Beberapa hal yang menimpa pasien lainnya di IGD semakin membuatku takut, aku takut jika duka yang mereka peluk tak lama kemudian akan memeluk keluarga kita, namun lagi-lagi aku harus percaya jika Allah punya cerita sendiri untuk kita, yang tak akan sama dengan cerita mereka.

Gula darahmu tinggi bukan main; 563. Maaf untuk kelalaian kami, Nek. Maaf jika kami lepas kontrol hingga gula darahmu melonjak dan melemahkan tubuhmu. Entahlah, yang kutahu hari itu, aku hanya ingin kau bertahan dan kembali tertawa bersama.

Singkat cerita, kau harus pindah rumah sakit, karena ada beberapa alat yang kau perlukan dan tidak tersedia di rumah sakit sebelumnya. Banyak proses yang harus kau lalui, dan banyak pula hasil pemeriksaanmu yang tak dokter jelaskan pada kami, mereka terlalu sibuk wara-wiri hingga tak sempat menemui kami, keluarga yang sedang menanti perkembangan kesehatanmu. Izinkan aku kecewa untuk hal itu.

Di ICCU,

“Nek, ini Puput.” Jelasku.

Kau hanya mengangguk, aku bersyukur kau masih mengenaliku, kau menatapku tajam dan tak kunjung lepas, aku tahu jika ada banyak kata yang ingin kau ucap, namun tak sanggup kau suarakan. Selanjutnya aku hanya bisa berbisik di telingamu, kalimat yang berisi harap, kalimat yang kuharap bisa menyemangatimu. Kuusap air mata yang hampir jatuh dari mata kananmu, aku tak ingin kau menangis dalam baringanmu itu.

Kurang lebih tiga hari setelah kau mendapatkan penanganan intens di ICCU, akhirnya kau dapat dipindahkan ke ruang perawatan, syukurku lagi-lagi. Hingga aku, mama, papa, mas, abang, kak Onie, dan mama kak Onie kembali datang untuk menjengukmu. Kondisimu semakin membaik, meski tangan dan kakimu membengkak karena infuse yang terus menemani tubuhmu. Aku ingat jelas segala yang terjadi hari itu. Mulai dari keluhanmu tentang bagian belakang tubuhmu yang sakit karena berhari-hari terbaring, sampai sapaan sederhana untuk tiap-tiap kami yang menatapmu.

Hari itu aku mengerti mengapa kau sangat menyayangi mas, karena harus kuakui jika mas satu-satunya cucu yang menyadari jika ada beberapa bagian tubuhmu yang perlu dibersihkan, bahkan ia lebih peka dari perawat-perawat yang biasa menanganimu. Aku belajar lagi dari mas, bagaimana cara untuk seratus persen memberi perhatian yang tulus.

Kabar baik demi kabar baik terus datang ke telinga kita, Nek. Tentang kesehatanmu yang berangsur pulih. Kau yang semula makan melalui selang, mulai bisa kembali menyantap bubur dan minum susu melalui mulut. Bohong jika kita tak bersyukur dalam kegembiraan. Namun, sayangnya kabar baik itu tak bertahan lama, karena tepat pukul setengah enam sore di hari Selasa, 25 Oktober 2016, tante Rita menelepon papa dan menceritakan keadaanmu yang kembali menurun, kau kembali tak sadarkan diri. Dan membuat dokter meminta keluarga untuk ikhlas pada apa pun yang terjadi nantinya.

Tak ada firasat apa pun, malam itu aku tertidur pada jam yang sama, namun kembali terbangun karena perutku sakit. Aku kesulitan untuk kembali tidur, mataku tak juga kembali bersedia merapat, hingga akhirnya om Alqod mengirim kabar yang entah harus kusebut apa.

“Put, nenek sudah …”

Pemberitahuan itu muncul di layar ponselku, dag-dig-dug. Badanku gemetar, menerka kata apa yang ada selanjutnya. Mau tak mau, dengan rasa yang tak bisa kujelaskan, kubuka pesan itu.

“Put, nenek sudah tidak ada.”

Innalillahi wa innailaihi rodji’uun. Badanku semakin gemetar, pandanganku gelap dalam beberapa detik, namun aku tak bisa diam saja, aku harus memberi tahu mama, papa, dan mas yang sedang tertidur. Dan, aku memilih untuk membangunkan papa terlebih dahulu, dan segera memberi kabar pada siapa saja keluarga yang bisa kukabari.

Mau tak mau aku dan papa juga harus membangunkan RT yang sedang istirahat, karena kabar itu datang tepat pukul satu. Rabu, 26 Oktober 2016 dini hari. Aku, papa, mas, dan mama duduk di depan rumah, menanti kedatanganmu sambil berharap jika kabar duka itu hanyalah lelucon dalam mimpiku saja. Namun sayangnya semua itu nyata, hingga akhirnya kau tiba di rumah kita.

Biar ingatanku merekam cerita tentangmu yang tak dapat kubagikan pada semesta. Dan, sampai pada waktunya untuk memandikan juga mengkafanimu. Ini pertama kali untukku. Pertama kali, Nek. Gugup. Gemetar. Karena jujur aku bingung harus berbuat apa, semua yang kutahu sebelumnya seolah buyar ketika sudah menatap rebahmu.

Namun, aku tak ingin kalah dengan rasa yang entah apa namanya ini, Nek. Aku tak ingin menyiakan kesempatan terakhir yang masih Allah beri, untuk ikut mengurusmu di waktu terakhir itu. Bersyukurnya aku karena aku cucu perempuanmu, Nek.

Beruntungnya aku karena abang menikahi kak Onie, karena mama kak Onie begitu membantu kita di hari kepulanganmu, Nek. Wajar jika anak-anakmu lunglai, wajar jika mereka berduka, wajar jika mereka kehilanganmu, Nek. Dan, saat seperti itu kita butuh sosok yang dapat menguatkan dan menyadarkan jika kau tak dapat menunggu lama, sebisa mungkin kita segera menyelesaikan perjalananmu di bumi ini, Nek.

Bukan kalimat hiburan, tapi ini kenyataan, tentang wajahmu yang terlihat tenang, tentang parasmu yang terlihat damai. Aku yakin jika ini yang terbaik dari Allah untukmu, Nek. Untuk menyudahi sakitmu, untuk meringankan langkahmu, untuk segala yang detik ini kita belum tahu, namun nanti pasti dapat kita pahami.

Kini, yang kau inginkan bukan lagi menyantap ikan asin dengan lalap, bukan lagi menyantap segala jenis ikan, bukan lagi menenggak susu, bukan lagi menikmati sayur asam, dan segala jenis makanan khas Sunda.

Kini, yang kau butuhkan bukan lagi handuk untuk mandi, bukan lagi dipakaikan daster saat sebelah sisi menyangkut, bukan lagi dipotongkan kuku, bukan lagi diajak berbincang, bukan lagi hal-hal lain yang biasanya kau ceritakan padaku, tentang rindumu pada anak dan cucumu.

Kini, yang kau ingin dan butuhkan hanyalah doa, dari anak-anak dan cucu-cucumu. Hanya kerukunan dari anak-anak dan cucu-cucumu. Untuk menerangi jalanmu, untuk meringankan langkahmu, untuk bahagianya kamu di sana.

Mama, Tante Rita, Tante Rika, Om Alqod, Om Alis ada di dekatmu, Nek. Mereka anak yang baik, insya Allah. Begitu juga dengan anak-anakmu yang lainnya. Anak-anakmu mengajariku banyak hal, mudah-mudahan ilmu baik yang kudapat bisa kugunakan dalam hidupku. Tentang bagaimana cinta anak untuk orangtuanya.

Nek, aku tahu benar jika perjalananmu masih sangat panjang, terlebih kita yang masih di sini. Jadi, selamat jalan ya, Nek. Mudah-mudahan kau kembali bertemu dengan kakek. Dengan yakin kukatakan jika kau adalah wanita yang kuat, mudah-mudahan doa yang tiada putus dapat menguatkan perjalanan panjangmu, di sana. Hingga insya Allah kau tiba di surga Allah yang Maha Indah.

Jangan lupa untuk terus tersenyum ya, Nek. Karena cepat atau lambat kita pun kan menyusulmu, meski entah kapan.

Salam sayang dari cucu perempuanmu, yang biasa kau panggil ‘Put’ dan lagi-lagi kukatakan jika aku mulai merindukan suaramu yang sedang memanggilku itu.

Lansia tercinta, alasan kita untuk Insya Allah terus bersatu dalam cinta.

 

#PenariJemari
#DukaYangDekat
#LansiaTercinta
#Nenek

Serah Kalian Ajalah

Sejak mengakhiri kisah kasih dengan mantan terakhir gue dua tahun lalu, entah kenapa gue ngerasa berat buat buka hati lagi. Alasan pertama emang karena gue yang belum bisa move on dari rasa itu, tapi lama-lama gue jadi makin yakin buat gak buka pintu ke mereka yang coba ketuk pintu, izin masuk dan akhirnya cuma sekadar mampir. Gue ngerasa udah cukup deh ngelewatin masa yang namanya pacaran, udah cukup nyoba jalin hubungan yang kita semua tau kalau pacar kita belum tentu jodoh kita, udah cukup sayang-sayangan dan akhirnya patah hati.

Bukan, gue bukan trauma dengan yang namanya pacaran, gue cuma ngerasa udah cukup aja ada di masa itu, gue pengin stop nambah beban dosa bokap gue, bukan berasa paling bersih atau paling alim sih, gue cuma selalu kebayang aja gimana sedihnya bokap nanti pas diminta tanggung jawab atas dosa yang sengaja gue buat dengan berpacaran. Sebenarnya gue ngerasa aneh sih buat nulis ini, karena gue yang sekarang pun masih suka gila sendiri, bercanda teriak-teriak, dan lain-lain, rada aneh emang kalau gue mutusin buat berprinsip seperti ini, tapi kemauan hati gue kenceng banget buat yang satu ini.

Bohong aja kalau gue gak ngelewatin fase kesepian, terus bikin gue ngerasa pengin dekat lagi sama cowok pas lihat teman sebaya gue pada sayang-sayangan, mereka nonton, makan, dan lain-lain berdua. Bohong kalau keyakinan gue yang satu ini berjalan mulus, karena sejujurnya gak gampang buat yakin sama diri gue sendiri, gue juga masih suka punya rasa kagum berlebih ke cowok, cuma ya mesti direm, kalau enggak bablaaaaas. Tapi karena kemauan hati udah ngontrol pikiran gue, Alhamdulillah kuat sampai detik ini. Ya, paling ada sedikitlah genitnya pas lihat bang Reza sama Uda Tulus. Hahahahaha. Dikit doaaang!

Gak peduli deh orang mau mikir apa, mau bilang gue aneh, bilang gue naïf, atau apa pun.

Ada yang bilang kenapa hari gini gak mau pacaran? Pacaran gapapa asal gak ngapa-ngapain, katanya. Ada yang bilang gimana gue mau ketemu jodoh kalau sehari-hari cuma di rumah, gak akan ada jodoh dari luar sana yang tiba-tiba datangin gue ke rumah. Terus gue jawab santai, gue bilang ke dia tentang Allah yang tau alamat rumah gue di mana, Allah bisa ngasih petunjuk jalan ke rumah gue buat jodoh itu. Naïf gak sih? Serah deh, tapi gue percaya kalau semua itu mungkin. Terus katanya gimana gue bisa dapat yang terbaik kalau gue nya gak usaha? Gak nyari? Kalau yang ini gue setuju, gue tau gue emang mesti usaha, tapi takaran usaha gue bukannya nyari, gue di sini, diam di tempat gue, untuk terus bismillah memperbaiki diri, memantaskan diri untuk sosok yang selalu gue jabarkan dalam doa.

Gue gak peduli orang mau bilang alasan gue klasik, padahal cuma karena gue yang belum move on, atau tipu-tipu doang padahal di balik sana gue nyimpen nama seseorang. Terserah, yang penting mama, papa, mas, abang, dan orang yang gue sayang percaya sama gue, yang penting Allah tau jelas isi dan maksud hati gue, segimana pun gue nyoba buat sepik ke manusia, gue gak bisa sepik sama Allah, Dia Maha Segala.

Klise katanya hari gini mau nikah tanpa pacaran. Padahal kalau Allah mau, bisa aja detik berikutnya gue nikah sama orang yang gak pernah gue pacarin sebelumnya, orang yang emang Tuhan kirim buat jadi jodoh gue. Gue percaya banget kalau gak ada yang gak mungkin di tangan Tuhan.

Maksud gue nulis ini pun gak sama sekali bernada penyerangan sih, atau biar kelihatan bersihin diri, karena gue sadar gue masih banyak dosa, gak ngerasa paling benar sendiri, insya Allah seterusnya akan tetap seperti ini, gue cuma mau berbagi aja tentang pemikiran gue yang satu ini, yang terkesan aneh, tapi nyata. Asli tanpa bahan kimia.

Gue gak pernah capek jawab kalau ada yang nanya kenapa gak mau pacaran, atau ditanya pacarnya mana? Atau ditanya kapan nikah, atau pertanyaan-pertanyaan lainnya yang biasanya menakutkan dan menyebalkan buat kebanyakan perempuan. Gue akan jawab dengan cara gue, gue gak akan marah, tapi jangan salahin gue kalau diakhir jawaban gue minta orang yang nanya itu turut mendoakan kelancaran hidup gue. Hahahahahahaha. Kan udah nanya, mesti nyumbang doa jugalah! Enak aja! hahahahahahaha.

Intinya, gue bahagia karena sekarang bisa fokus di rumah, ngerjain pekerjaan rumah yang bisa gue lakuin, masakin orang rumah, happy aja gitu ngelihat mereka makan hasil masakan gue yang kadang masih suka gagal di rasa, cuma mereka gak kapok buat terus nyicip dan akhirnya ngabisin. Senang bisa nyaksiin menuanya papa, mama, dan nenek. Lucu ngelihat tingkah mereka yang pelan-pelan kayak anak kecil lagi, gemes sama manjanya mereka yang gak masuk akal tapi pas dipikirin lagi ya masuk akal. Hayoloh, bingung-bingung situ. Hahahahahaha.

Kadang ngerasa capek dan pengin balik kerja, cuma perasaan itu ya adanya sebentar doang, abis itu ya biasa lagi, betah lagi, dan insya Allah ikhlas. Gak pernah ngerasa beban gantian jagain orangtua, karena tau banget gimana dulu mereka ngerawat gue.

Rada gak nyambung ya, dari bahas gak mau pacaran lagi, sampe ke ngurus orangtua. Hahahahaha. Biarinlah, toh kalian juga masih aja nerusin baca. Thanks, btw.

Mudah-mudahan semua yang gue kenal, yang masih pacaran atau apa pun lah statusnya, bisa diringankan jalannya buat jadi sepasang yang halal, terus pas kalian kelar baca ini, jangan lupa juga doanya, supaya gue bisa tetap sama prinsip gue yang satu ini. Aamiin.

Sampai ketemu lagi.

 

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#NgomonginJodoh
#Berat
#SeberatBadanGue
#Apeu

Mempersiapkan Kepulangan

Melupa jika aku tak bisa bersembunyi, sekalipun dalam gelap nan sunyi.
Dengan sengaja kuabaikan segala, seolah napas adalah hal yang pasti untuk esok hari.
Nanti, nanti, dan nanti.
Menyegerakan urusan dunia, namun sengaja menjadikan akhirat sebagai hal penting setelahnya.

Tak peduli seberapa sering Tuhan menegur.
Kurekam dalam ingatan tentang Ia yang Maha Pemaaf.
Dan kujadikan alasan untuk bebas mengulang kesalahan serupa tanpa takut Ia murka.
Entah seberapa pekat sudah dosa, ragaku tak sanggup meski sekadar membayangkan.

Tuhan begitu baik; memberiku waktu untuk bersiap.
Tuhan begitu penyayang; merangkul diri yang sedang mengakui kekeliruan.
Tuhan begitu sabar; menghadapi salahku yang masih berputar di satu lingkaran.
Tuhan begitu luar biasa; masih memberikan kebahagiaan meski banyak sudah hati yang kubuat terluka.

Mengingat putihnya kafan.
Membayangkan tempat istirahat terakhir.
Menerka seberapa banyak yang kan mengantar.
Dan mulai menyesali waktu yang sudah kusiakan.

Tak lagi kubermain, sejak jiwa bertekad untuk pindah.
Tak lagi kucoba bersembunyi, sebab pandangan-Nya yang kini kucari.
Tak lagi kubuang detik demi detik yang masih Ia berikan.
Aku berjalan dalam entah, berharap perjalananku berakhir dengan indah.

Mungkin saja ini tulisan terakhirku.
Bisa jadi malam ini terakhir kali aku dapat terlelap.
Atau barangkali tak pernah lagi dapat kusapa pagi.
Ada harapan terakhir selama kupersiapkan kepulangan.

Semoga raga yang kan kaku nanti berada dekat dengan orang terkasih.
Semoga jiwa yang kan melayang nanti tak perlu ditangisi.
Semoga perjalanan pulangku nanti dipenuhi dengan doa-doa baik.
Dan semoga segala salah yang pernah kucetak termaafkan dari dalamnya lubuk hati.

Aamiin.

Bahagianya aku, jika kita bersama-sama mempersiapkan kepulangan; sebab datangnya kematian tak pernah dapat dipesan.

 

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#MempersiapkanKepulangan
#SebabKematianTakPernahDapatDipesan

Tolong Hentikan

Marah, emosi, sedih, sakit, kecewa, bingung, geram, dan segala rasa yang seketika membuat wajahku basah karena begitu saja menitikan air mata.

Bagaimana aku tidak marah, saat melihat semakin marak kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di negara ini? Dewasa pun mereka yang masih balita telah menjadi korban. Tak sanggup rasanya membayangkan bagaimana pilunya para pahlawan wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya demi merdeka, namun kini? Semakin banyak pelaku kejahatan seksual terhadap perempuan. Tak sampai hati kubayangkan sakitnya mereka yang menjadi korban dan masih saja harus disalahkan.

Wajar saja katanya, perempuan itu memakai busana minim bahan, atau tingkahnya menggoda, dan terus saja mencari celah agar korban tetap bisa disalahkan. Lantas sampai kapan menyudutkan korban dan menganggap wajar kejahatan pelaku? Sampai para pelaku merasa dibela dan bebas mengulangi kebiadabannya di kemudian hari? Atau sampai anggota keluarga para pembenci merasakannya sendiri? Jangan sampai itu terjadi!

Bagaimana tidak emosi jika berita seperti ini hadir hampir tiap minggu, bahkan setiap hari, dengan nama-nama baru pelaku pun korban. Mengapa hal seperti ini begitu mudah menyebar dan dicontoh? Perempuan memang perlu menjaga dirinya, tapi tak bisakah lelaki pun menjaga pandangan dan nafsunya? Kenapa harus selalu perempuan yang dirugikan dalam kasus ini?

Tubuh saya selalu bergetar tiap kali mendengar, membaca, atau mengetahui berita-berita semacam ini, lemas rasanya. Satu banding satu saja sudah begitu pedih dan menyakitkan, lantas mengapa kini menjadi satu banding belasan bahkan puluhan? Rasanya tak lagi bisa kumengerti apa isi otak dari para pelaku, mengapa mereka bisa berlaku kejam dengan begitu kompak? Apa mereka tidak memiliki sosok perempuan yang mereka sayang? Ibu? Kakak? Adik? Atau apa pun itu sebutannya.

Mau sampai kapan hukum negara kita bisa dibeli dengan rupiah? Mau berapa banyak lagi keluarga yang akan pulang dengan rasa kecewa karena tidak mendapatkan keadilan? Sampai kapan pemegang senjata api bebas bermain api? Sampai kapan?

Namun aku juga bingung harus bagaimana menghentikan semua ini? Para pelaku pendatang baru seolah tidak takut dengan hukuman yang diberikan, apalagi jika pelakunya masih di bawah umur dan tidak ditahan, rasanya justru makin banyak pelaku di bawah umur yang akan bermunculan. Lantas, ini salah siapa? Atau, kenapa kita sibuk mencari ini kesalahan siapa dari pada mencari pemecahan dari masalah ini? Semakin banyak media menyebarkan berita A, sadar pun tidak, beberapa waktu kemudian semakin banyak pula hal serupa dengan berita A terjadi lagi dan lagi. Miris. Hatiku teriris.

Aku geram. Ingin rasanya mencekik leher para pelaku, namun aku bukan Tuhan yang bisa menghentikan kehidupan mereka. Sampai detik ini aku hanya bisa bermain dengan air mata tiap kali menyaksikan berita serupa. Ingin rasanya segera terbang menuju tempat di mana para korban berada, untuk sekadar memeluk dan meyakinkan jika mereka tak akan melewati semua ini seorang diri. Ingin rasanya kutatap wajah mereka yang masih saja sibuk menyudutkan korban, kemudian kubisikan tepat di telinganya; untuk berhenti menghakimi diri yang sejujurnya sedang amat sangat berduka.

Berharap Tuhan melindungi kita dari hal serupa, menjaga lisan kita untuk tidak lebih membuat hati para korban sakit, memeluk korban dengan tulus, dan genggam tangannya untuk bersama mencari keadilan. Jika tidak dimulai dari sekarang, lantas mau kapan lagi? Menunggu hingga hal seperti ini dialami orang terkasih yang kita miliki? Tak perlu bukan?

Jika belum bisa membantu, maka berhentilah menghakimi. Mereka yang benar-benar hakim saja terkadang masih bisa salah memutuskan, apalagi kita? Tapi, percayalah jika hakim yang sesungguhnya akan mempertimbangkan kehidupan kita di masa yang abadi dari apa yang selama ini kita lakukan saat diri masih bernapas. Mengerti?

Tolong jangan pernah takut dan malu untuk bicara, ceritakan apa yang kau alami, bicara dengan lugas, meski hatimu bergetar, kuatkan segalamu hingga mereka yang menyakitimu dapat mempertanggung-jawabkan perbuatannya. Percayalah, kami bersamamu, dan kami tak akan menghakimimu, sedikitpun.

Korban adalah korban, bukan pelaku. Pelaku tetaplah pelaku, mereka harus bertanggung jawab atas kekeliruan yang telah berhasil memilukan hati para korban.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#TentangKeadilan

Belajar Tentang Mencintai

Saya bukan perempuan yang terlahir dengan sikap lembut, sebab saya terbiasa bermain bola dengan abang saya, dan menunggu giliran main sega setelah mas saya. Masa kecil saya bisa dibilang jauh dari boneka, saya lebih dekat dengan bola dan lari-larian. Abang memilih saya sebagai partner-nya untuk bermain playstasion. Sedangkan suara mas hampir selalu menjawab celotehan saya lewat walkie-talkie kesayangan kami.

Secara tidak sengaja, mempunyai dua kakak laki-laki membentuk pribadi saya menjadi cuek, dingin, namun juga mudah tersentuh dilain waktu. Harus diakui jika mas dan abang pun termasuk lelaki yang tak ragu untuk menangis saat hati mereka benar-benar tersentuh. Mulai dari mama, papa, mas, dan abang, saya sudah pernah menyaksikan langsung bagaimana masing-masing dari mereka menangis. Rasanya ingin terus berubah baik, agar suatu saat saya bisa melihat tangisan mereka adalah tanda kebahagiaan kita bersama.

Awalnya, saya selalu menyeleksi pria lewat penampilan fisiknya, kalau saya tidak tertarik, maka pintu hati tak sedikitpun terbuka. Tapi, semakin lama saya menyadari secara perlahan, jika yang berwajah tampan belum tentu bisa menuntun saya ke surga, sementara lelaki yang mencintai Tuhan, insya Allah mampu menggenggam saya dan membimbing agar kelak langkah kaki kita terus bersama hingga mencapai surga Allah.

Saya bukan perempuan sempurna yang tak punya cela, jika Allah mau, Ia bisa saja menjabarkan aib saya dalam hitungan detik, namun Allah Maha Baik, Ia menjaga segala aib saya, dan secara tidak langsung membuat saya ingin terus menjaga aib orang lain yang sengaja pun tidak, pernah saya ketahui.

Terdengar berlebihan atau mungkin picisan, saat saya yang dulunya terkesan urakan, dan juga pernah berpacaran, menikmati masa sekolah dengan memuja sosok kekasih hati, seketika memutuskan untuk tidak lagi meratapi kesendirian. Bukan, bukan karena saya anti terhadap pernikahan, melainkan karena cara saya mencapai hari nan suci itu yang sedikit saya ubah. Tidak lagi dengan menjajaki hubungan secara perlahan, kemudian menangisi keadaan saat saya dan lelaki itu harus berpisah. Dengan niat yang insya Allah tidak dibuat-buat, saya hanya bisa terus memantaskan diri untuk lelaki yang sedang dan terus saya minta dalam doa langsung pada Sang Maha Segala. Sebab, saya yakin hanya Dia satu-satunya tempat berharap.

Bermimpi untuk bisa mempunyai keluarga yang penuh dengan kasih kepada Allah, saling menjaga hati satu sama lain, saling mengingatkan jika di tengah-tengah terjadi kekeliruan, saling menerima kurang dengan sabar, saling mengingatkan untuk tidak mendikte kekurangan orang lain, saling mensyukuri lebih yang Allah berikan, dan segala saling dalam kebaikan. Sampai hari ini semua itu masih menjadi mimpi untuk saya, namun sepenuhnya saya yakin kelak dapat terbangun dan menjalankan hari yang serupa dengan mimpi indah saya itu.

Saya selalu bilang jika saya tidak mau tergesa-gesa, sebab menikmati waktu dengan terus menjadi yang terbaik dalam skenario Tuhan adalah seindah-indahnya detik kehidupan.

Bersyukur saya dikelilingi mereka yang tak pernah lelah mengingatkan jika ada kematian yang harus saya persiapkan di tengah sibuknya kita mencapai cita di kehidupan dunia. Kerap kita mengesampingkan akhirat, berpikir masih ada hari esok, seolah melupa jika bisa saja Tuhan menghentikan napas kita di detik berikutnya.

Belajar mencintai akan terasa rumit saat kita mencoba menaruh perasaan pada manusia, namun menjadi begitu mudah dan damai saat kita memulainya dengan mencintai Tuhan. Banyak yang menertawakan diri saya, katanya tahu apa saya? Ke mana saja saya selama ini? Berapa banyak dosa yang sudah saya cetak? Lantas saya mau bersikap seolah paling benar? Tentu saja tidak, tapi seharusnya kita tahu, jika tinta hitam pun dapat dibersihkan jika ada niat yang utuh dan tulus. Lantas, mengapa masih sibuk dengan keburukan orang lain di masa lalu, saat orang tersebut sedang menikmati masa sekarangnya dengan terus memperbaiki keadaan?

Cukup untuk menutup Jumat malam. Salam damai dari saya, perempuan yang masih suka emosi, masih mudah marah, masih kerap melupa untuk tersenyum, dan masih penuh dengan kurang. Tapi, insya Allah kedepannya kita bisa sama-sama menjadi lebih baik lagi. Aamiin.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HidupdanMati
#PerihalCinta
#MengikisPenyakitHati

Dinding Kamar

Baru lima belas yang melekat. Punya peran masing-masing dalam ingatan. Dan, selalu berhasil bikin gue senyum (lagi) tiap ngeliatnya, bahkan beberapa kali puas rasanya gue ngetawain diri sendiri. Mulai dari tiga kali empat yang melekat di bagian kiri atas, cerita di balik yang satu itu sederhana, kejadiannya di ruangan kecil dekat DPR (di bawah pohon rindang), kawasan paling strategis yang dipakai anak-anak buat istirahat  makan, bercanda, dan gak jarang DPR juga dijadiin tempat memadu kasih ala anak putih abu. Cukup. Balik lagi ke cerita di balik foto dengan background warna merah; untuk ijazah. Dengan bekal jas hitam yang gak sesuai ukuran, dasi hitam yang digunakan secara bergantian, sampai rambut pendek gue yang baru masuk fase salah potong beberapa hari sebelumnya. Tapi, gue selalu suka dan percaya diri dengan yang satu itu, dan baru kali ini gue ngetawain diri gue sendiri tanpa punya rasa malu. (Dilarang protes!) Hahahahahahaha.

Turun sedikit, masih di bagian kiri, ada tujuh remaja perempuan yang lagi asik gaya, Neno dan Uci yang saling pandang sembari meluk boneka, Unuy yang senyum sumringah, Pota yang senyum bareng boneka bebeknya, Asri yang pose malu-malu pakai lima jarinya, plus Achild yang asik sama boneka bola di pelukannya. Sementara gue? Menatap lurus ke depan, dengan boneka serupa pilihan Achild, dan pandangan mata yang selamanya akan seperti itu; sendu. Dari kecil mata gue memang terkesan dingin dan sendu. Dan, itu namanya: Na? sib! Hahahahaha.

Lima lainnya masih bersama orang yang sama; Unuy, Neno, Uci, Pota, Asri, Achild, plus gue. Dengan pilihan gaya yang keren pada masanya, namun lagi-lagi berhasil bikin gue ketawa sekaligus mikir “Ternyata benar, untuk jadi dewasa, kita perlu melewati masa-masa seperti ini, menggelikan, namun tak sama sekali perlu disesali”.

Dari semua yang ada, terselip satu yang berbeda, yaitu bingkai kebahagiaan mama saat gue masih berusia lima. Kala anak-anak asik main sambil belajar di dalam kelas, mama dan orangtua murid yang lain sibuk berbincang tentang apa saja, yang terekam dalam gambar ini, mereka lagi bahagia banget, gak tau karena apa, dan selalu berhasil bikin gue kangen sama mereka; guru-guru masa kecil gue. Cuma dua nama yang gue ingat, Bu Euis dan Bu Wulan. Selebihnya gue cuma ingat wajah, tapi lupa sama nama mereka masing-masing.

Geser dikit lagi ke arah kanan, ada lima bingkai kebersamaan yang selalu gue kangenin, ada dua yang mau gue ceritain. Pertama pas kita janjian buat bawa baju ganti, kaos yang selalu kita anggap seragam panti, tapi bikin gue mikir sekalipun gue ada di panti, asal sama mereka pasti akan tetap nyenengin. Gue suka pas Mely, Hilda, gue, dan Oge ngerasa imut dengan boneka dalam pelukan, bergaya bak gadis lugu, sementara Neno lebih milih mendaratkan dua telunjuknya di kedua bagian pipi kanan dan kirinya. Terus di mana Babank, Uci, dan Tata? Mereka mendarat di bawah, dengan senyum yang dimanis-manisin. Kita semua berasa manis, padahal? Kita memang manis pada masanya sih. Hahahahahaha.

Kedua, setelah sekian lama gak ketemu karena ada yang sibuk kerja pun kuliah, akhirnya kita ketemu lagi. Hari itu kita saling ngasih boneka kesukaan masing-masing. Gue dapat boneka kepala Garfield. Terus kita karaokean sambil nunggu hujan reda. Neno dengan kerudung pink-nya, Uci dengan baju polkadotnya, Tata dengan ketawa polosnya, Oge dengan senyum nanggungnya, Babank dengan kaos santainya, Mely dengan nyengir ngeselinnya, Hilda dengan bando yang sekarang rutin dipakai Nay; anaknya. Gue dengan kaos plus kemeja yang sengaja gak dikancingin, berasa cool. Padahal, preeeeettt.

Geser lagi ke kanan, kita hampir selesai. Kali ini terbingkai kebersamaan gue sama kakak dan adik perempuan gue semasa putih abu. Udah lama gak ketemu, pas ketemu langsung diajak nongkrong di toko donat, makan, minum, sambil foto-foto pake kamera komandan. Tapi tetap aja kita ngerasa perlu membingkai kenangan pakai cara lain. Chika dengan kerudung biru mudanya, Ipat dengan baju yang warnanya senada sama kerudung Chika, dan gue dengan jeans plus poloshirt. Iya, dulu kita pernah sedekat itu.

Baiklah, akhirnya kita sampai di bingkai terakhir. Cetakan terbaru, sepuluh Juni lalu. Mulai dari nemuin Uci yang lagi sibuk sama maskaranya di tempat makan cepat saji, sampai akhirnya Neno datang dan kita langsung karaoke. Percayalah, perginya kita ke tempat ginian ya cuma buat gila-gilaan, nyanyi fals dari awal sampai akhir, ngelawak gak jelas, sampai ngehibur Nay yang sempat ngambek. Jelas aja dia uring-uringan, anak belum tiga tahun udah diberisikin sama suara gak jelas. Hahahahaha. Lanjut makan, terus foto. Gitu aja kita mah. Gak neko-neko. Hahahahaha.

Mulai dari Uci yang pengin banget bisa rehat dari kerjaan rutinnya, terus Neno yang pengin napas dari kerja plus kuliahnya, kemudian Hilda yang pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama Nay, dan gue yang juga pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama orang rumah, belum tega ninggalin mereka tanpa ada sosok anak di rumah. Lebay? Bodo amat, bwek!

Yang jelas, gue bersyukur karena semua yang terekam selalu tentang kebahagiaan, kegilaan, dan makin ke sini makin penuh dengan kejujuran, apa adanya kalian. Kalo mau teriak ya teriak aja, kalo mau ngapain aja ya monggo, gak ada yang keberatan, lepasin beban, karena percuma nemuin sosok yang jarang ada di dekat kita kalo waktunya abis buat serius dan akting.

Intinya, dinding kamar gue selalu berhasil bikin gue yang baperan ini jadi terus kangen. Iya, gue kangen banget sama masa-masa itu. Sama mereka. Dan semoga nantinya dinding kamar gue makin penuh sama kenangan-kenangan yang nyenengin kayak gini.

Jadi, siapa lagi yang mau melekat di dinding kamar gue? Lumayan, lho. Seenggaknya gue mandangin kalian minimal sekali sehari, sebelum gue tidur. Jadi, kalo gue mimpi buruk, kalian tanggung jawab, yaaa! Hahahahahaha.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#RekamGambar
#MomenPenting