Sepasang yang Terus Menua; Bersama

Kerap menangkap dua pasang mata menatapku dalam diam. Mereka punya cara yang berbeda.

Entah karena apa dan bagaimana awalnya. Tatapan mereka begitu penuh cinta. Doa-doa juga mengalir dari sana.

Mereka punya pemikiran yang tak pernah kusangka sebelumnya. Mengagumiku yang hingga kini masih kerap mengeluh.

Seperti peluru, begitu cepat waktu melaju.

Dua jiwa; pemilik dua pasang mata. Dua manusia; pemilik cinta paling setia.

Bahagiaku adalah saat melihat kalian bahagia dengan hal-hal kecil yang bisa kita cipta bersama.

Menua dalam sehat, bahagia, penuh kasih, dan perbaikan-perbaikan lainnya. Semoga saja.

Aamiin.

Rabu, 20 September 2017

Advertisements

Penguat Masa

Daun perlu gugur, agar tahu siapa yang menginjak, dan siapa yang tidak; saat ia terjatuh.

Bunga perlu layu, agar tahu siapa yang mengabaikan, dan siapa yang menyimpan; sampai ia benar-benar mengering.

Laut perlu badai, agar tahu siapa yang bertahan, dan siapa yang memilih pulang; mengalah dengan ombak nakal.

Cerita perlu proses, agar tahu mana yang layak dijadikan kenangan, dan mana yang cukup begitu saja dilewatkan.

Tubuh dan hati perlu luka, agar tahu tangan dan segala mana yang senantiasa ikhlas mengobati; tanpa lelah dan pamrih.

Hidup perlu waktu, agar tahu detik mana yang telah seutuhnya mati, dan mana yang masih hidup dalam harapan.

Kamu? Perlu bangkit. Karena selamanya terjatuh bukanlah pilihan yang tepat. Sebab, hidupmu belum mencapai sudah. Berjalanlah.

Selasa, 19 September 2017 — PM

Air Mata Terakhir

Maaf

Seorang perempuan menundukkan kepalanya
Kemudian menatap ratusan hari di belakang
Mengubah langit malam menjadi tak berbintang
Angin dan hujan memamerkan kemesraan

Maaf

Seorang perempuan merebahkan tubuhnya
Bercengkrama dengan langit-langit rumah
Bercinta dengan tumpukkan luka yang menyamar
Kalimat tanya sederhana terlontar; apa kabar?

Maaf

Seorang perempuan menuliskan kisah hidupnya
Tentang hati yang pernah terluka pun melukai
Tentang jiwa yang senantiasa ingin bahagia
Tentang kata yang coba menerangkan segala

Hujan

Malam hari di jalan raya
Berpisah lewat kata
Merindu di kota yang berbeda
Kuyakin dan percaya semuanya usai sudah

Jangan menangis lagi
Berbahagialah

Dari Penari Jemari,
Untuk Penguat Masa.

Sabtu, 9 September 2017.

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Saya masih sangat ingat, bagaimana cerita Filosofi Kopi membuat saya begitu terhanyut; pada cinta Ben dan Jody dalam persahabatan yang sangat tulus. Masih ingat juga bagaimana manisnya Ben berdamai dengan Bapaknya, setelah sekian lama berdiam dalam kesalahpahaman karena kepergian sang Ibu tercinta.

Saat Ben dan Jody terus membuat saya belajar, jika sahabat bukanlah mereka yang selalu manis di hadapan mata, tetapi mereka yang tetap rindu meski selisih paham sedang bertamu di tengah kita.

FILKOP2 - Official Poster_FINAL copy

Gambar Via: hiburan.metrotvnews.com

Dua tahun menanti setelah team Filosofi Kopi mengumumkan bahwa akan ada sekuel filmnya. Nyatanya saya masih harus menunggu sampai Filosofi Kopi 2: Ben & Jody masuk ke layar-layar bioskop.

Akhirnya, 13 Juli kemarin, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody hadir di hadapan mata.

Tiket Filosofi Kopi 2 Ben & Jody

Berdirinya Ben diawal film membuka ingatan sekaligus mencipta harapan. Ingatan tentang cerita sebelumnya, dan harapan tentang bagaimana akhir lanjutan cerita. Lagi-lagi dua pria brewok ini membuat saya terpana, bukan karena wajah tampannya, namun karena Chicco Jerikho (Ben) dan Rio Dewanto (Jody) begitu merasuk ke dalam peran, bahkan terkesan sedang tidak berakting.

2

Gambar Via: youtube.com

Masih ingat Nana? Barista perempuan yang menguras air mata di Filosofi Kopi sebelumnya? Kali ini dia hadir dengan sedikit cerita, kemudian pamit karena sebuah kabar bahagia. Tentang apa? Tentang cerita yang akhirnya membuat Ben, Jody, Nana, Aldi, dan Aga saling memeluk untuk melepas; sementara. Karena kapan pun Nana ingin kembali, pintu itu akan selalu terbuka.

Ibarat meja, Filosofi Kopi kehilangan satu kaki, yang kemudian harus kembali ikhlas melepaskan dua lainnya. Pincang, hampir kehilangan arah. Ben dan Jody terus mencari ke mana jalan yang akan mereka pijak berikutnya.

9

Gambar Via: youtube.com

Kemudian ada seorang wanita berkacamata (Jenny Jusuf), memesan segelas kopi; Ben’s Perfecto. Dan kembali menghilang dari layar setelah menerima kartu Filosofinya dari tangan Ben. Saya tersenyum, karena wanita itu adalah sosok di balik suksesnya banyak kepala jatuh cinta dengan film ini; terlepas dari peran mbak Dee Lestari yang tak perlu lagi diragukan.

Ide cerita kali ini diambil dari tulisan Christian Armantyo dan Frischa Aswarini; pemenang kompetisi #NgeracikCerita. Keputusan untuk melibatkan ‘orang luar’ sebagai penyumbang ide cerita ini juga menjadi salah satu pupuk, yang kemudian sukses menyuburkan sekuelnya.

Banyak adegan yang tak bisa saya gambarkan jelas, bukan karena tak terekam dalam ingatan, tapi karena saya ingin kalian menyaksikan film ini secara langsung. Untuk satu tiket bioskop yang tak akan mengecewakan dan 100 menit lebih yang tak akan terbuang sia-sia. Karena begitu banyak pelajaran dan gambaran indah tentang kehidupan dan Nusantara.

3

Gambar Via: youtube.com

Setelah kehilangan tiga kakinya, Ben dan Jody kembali sepakat untuk membangun kedai yang hampir usang, kedai yang menurut Jody adalah ‘Kepala Naganya’, kedai yang mendewasakan mereka, kedai yang menyimpan begitu banyak cerita dan rasa.

Mereka tetap akan berkeliling Indonesia; dengan cara yang berbeda. Mereka tetap akan ngopiin Indonesia, melalui kedai-kedai yang nantinya akan berdiri dengan begitu syahdunya.

6

Gambar Via: youtube.com

Namun, untuk kembali membeli kedai yang sudah mereka jual sebelumnya, bukanlah hal yang mudah. Ben dan Jody harus mencari investor yang bisa membantu mereka kembali mewujudkan impiannya. Dan, itulah yang akhirnya mengantarkan Ben dan Jody bertemu dengan Tarra (Luna Maya), pebisnis muda yang menganggap jika Filosofi Kopi hanya tinggal mitos belaka.

19

Gambar Via: youtube.com

Setelah pemikiran sengit terjadi antara dua sahabat itu, akhirnya Ben berhasil meyakinkan Jody untuk sepakat kerjasama dengan Tarra. ‘Gondrong’ yang berhasil memikat di pertemuan pertama; dan seterusnya.

23

Gambar Via: youtube.com

Tarra adalah sosok wanita sukses yang tak bergantung pada orangtua, ia membangun bisnisnya sendiri; dari nol. Tarra ada di tengah-tengah Ben dan Jody yang antusias dengan mimpi tertunda mereka. Dua pria dan satu wanita ini kembali menemukan secangkir kopi yang masih tertinggal di sana; di Melawai.

7

Gambar Via: youtube.com

Di tengah cerita, ada juga seorang stand up comedy-an bermata sipit (Ernest Prakasa) yang berperan sebagai teman Jody, yang juga pemilik salah satu kedai kopi ternama. Di kedai kopi milik temannya tersebut, Jody bertemu dengan Brie (Nadine Alexandra), barista lulusan universitas di Australia, yang akhirnya Jody tarik masuk ke dalam Filosofi Kopi, untuk bermain di balik mesin-mesin kopi, disamping Ben dan barista lainnya.

8

Gambar Via: youtube.com

Masuknya Brie ke Filosofi Kopi bukanlah hal yang sederhana. Ia harus terus berdebat dengan idealisme Ben sebagai pecinta kopi nomor satu. Brie kerap mengatur napasnya, karena Ben senantiasa terkesan tidak mempercayai kemampuannya sebagai seorang barista.

4

Gambar Via: youtube.com

Keluhan demi keluhan terus berdatangan, sampai akhirnya mereka sepakat untuk segera membangun kedai kopi berikutnya; Yogyakarta. Brie dan Jody di Jakarta terus melayani pesanan demi pesanan kopi, sembari menanti kelanjutan pembangunan Filosofi Kopi Yogya yang sedang Tarra dan Ben kerjakan.

16

Gambar Via: youtube.com

Konflik demi konflik tercipta, ringan namun tidak picisan. Banyak alur yang tidak mampu saya tebak. Bahkan, cuplikan adegan dalam trailer pun 99% gagal saya tebak.

Bagaimana manisnya tatapan Ben pada Tarra. Damainya kata-kata yang Jody gunakan untuk menenangkan kekecewaan Tarra.

15

Gambar Via: youtube.com

13

Gambar Via: youtube.com

Hentakan kaki yang Brie lakukan di depan Melawai. Malam tahun baru yang mulai menumbuhkan benih-benih cinta.

11

Gambar Via: youtube.com

Saksi bisu Makassar dan Toraja dengan begitu merdunya. Duka dan lara yang begitu menusuk di Kampung. Kemarahan yang entah harus diakhiri dengan cara apa. Kekecewaan yang hadir karena dusta yang sebenarnya bukan kebohongan sempurna.

17

Gambar Via: youtube.com

Jatuh cinta dan patah hati di waktu yang bersamaan. Hingga berdamai dengan cara yang tak biasa.

12

Gambar Via: youtube.com

Ben patah hati, bertubi-tubi. Jody kehilangan lagi. Tarra tenggelam dalam rasa bersalah. Dan, Brie sedang memupuk kebun-kebun yang mulai berpihak padanya.

10

Gambar Via: youtube.com

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody bukan hanya menyuguhkan akting para aktor yang mumpuni, tapi juga peran team di dalamnya.

5

Gambar Via: youtube.com

Angga Dwimas Sasongko kembali sukses di filmnya kali ini. Terlepas dari nama-nama yang tak bisa saya sebutkan, mereka semua adalah team yang solid, karena tanpa kebersamaan dan cinta, rasanya mustahil film ini akan terbungkus dengan nilai tinggi.

Pengambilan gambar yang tidak biasa, pemilihan musik yang begitu nyaman di telinga, dan poin pendukung yang tak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

Ben dan Jody tetap menjadi sepasang sahabat yang tak dapat dipisahkan, sekalipun jalan hidup mereka tak lagi berada dalam satu pijakan. Pilihan berbeda yang tetap menjadi satu tujuan. Hingga berbagi tawa lewat layar di akhir film yang membuat saya mengharapkan lanjutan ceritanya; kembali. Akankah ada? Entahlah.

Yang pasti, jangan lupa jika,

20

Gambar Via: youtube.com

“Setiap hal yang punya rasa, pasti akan selalu punya nyawa.”

21

Gambar Via: youtube.com

Terima kasih untuk sebungkus cerita yang kembali membuat saya menulis, karena saya ingin lebih banyak lagi mata yang menjadi saksi persahabatan Ben dan Jody. Sepasang yang tak akan pernah usang. Selamat, karena di beberapa kota, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody terus menambah layarnya. Ssssssssstt.. permisi bang Spidey!

Salah satu original soundtrack yang syahdunya gak ada obat:

​Nek, Puput kangen.

Lucu ya, Nek. Seorang cucu kayak Puput bilang kangen sama Nenek. Huuu. Tapi, emang beneran kangen. Tiba-tiba aja Puput sendu pas kebayang Nenek lagi ketawa. Ngetawain lawakan yang ada di rumah ini.

Nenek apa kabar di sana? Maaf kalo gak tiap waktu kita mikirin Nenek. Maaf kalo doa yang dikirim masih terlalu sedikit. Maaf kalo cucu Nenek yang satu ini terlalu sibuk sama dunia, sampe lupa kalo ada Nenek yang senantiasa rindu doa-doa dari kita.

Nek, ada banyak kabar bahagia, lho. Ya, walaupun ada juga beberapa kabar kurang nyenengin. Puput yakin kalo nenek ada di sini, Nenek pasti happy banget deh pas tau kabar bahagianya. Tapi, Nenek juga pasti nangis kalo tau kabar kurang nyenenginnya tuh apa. Walaupun Puput sadar kalo sekarang pun Nenek pasti tau jelas; di sana.

Nek, Puput pelan-pelan udah mulai kerja pake hati, lho. Puput dapet kerjaan yang Puput suka. Tempatnya juga gak jauh. Puput pulangnya gak terlalu malem. Capeknya juga dibawa ketawa karena Puput kerja dibidang yang Puput suka. Mulainya dari bawah banget sih, Nek. Dari bawah bangeeet. Tapi, pelan-pelan naik kok, Nenek tenang aja. Kita sama-sama tau kalo ‘indah pada waktunya’ itu bukan kalimat klise dan ‘hasil yang gak pernah khianati proses’ juga kalimat nyata.

Masih jauh banget sih Nek buat bisa meluk cita-cita Puput, kadang Puput juga pingin udahan karena lelah. Tapi, Nenek tau kan? Puput gak bakal nyerah.

Nek, Puput kangen deh kalo kita lagi ngobrol berdua. Nenek nyeritain perasaan Nenek buat tiap-tiap anak Nenek. Terus Nenek nanya-nanya tentang Puput a, b, c, d. Terus kita ketawa berdua. Gak jarang juga sih kita diskusi. Ternyata, kalo Nenek udah gak di sini kayak sekarang, baru berasa ya, ocehan Nenek yang ‘itu-itu’ aja tuh ngangenin.

Puput kangen bunyi langkah kaki Nenek yang nyeret sendal. Langkah demi langkah. Sambil angkat daster Nenek yang kepanjangan.

Puput kangen linglungnya Nenek yang lupa bawa anduk kalo mau mandi, terus gak enak hati cuma buat bilang ‘Put, tolong ambilin anduk Nenek dong’ sampe akhirnya anduk ada di tangan Nenek, Nenek langsung nyengir. Lucu.

Puput kangen Nenek yang ngajarin Puput buat banyak minum air putih. Buat makan tepat waktu. Buat ngelakuin hal yang emang harus dilakuin.

Puput kangen Nenek yang suka ngeliat teh Sarseh, ketawa ngeliat kang Sule, terus ngikik kalo nonton sitkom. Akhirnya Puput sadar kalo Nenek itu ngegemesin.

Nek, bentar lagi bulan puasa, lho. Inget gak? Nenek suka bilang ‘Nenek kuat gak ya Put puasa nanti?’ Dan jawabannya bukan gak kuat, Nek. Tapi emang masanya udah abis. Tahun lalu ramadhan terakhir buat Nenek. Dan Puput bangga Nenek puasanya full. Keren.

Mudah-mudahan dengan dipanggilnya Nenek sama Allah, bisa bikin Puput, anak-anak Nenek, cucu-cicit Nenek, semua keluarga Nenek lebih rajin lagi ibadahnya ya, Nek. Karena kita sadar banget, seenggaknya, ada alasan yaitu Nenek yang selalu nunggu kiriman doa dari kita; dari sini.

Nek, makasih ya, udah mau jadi salah satu penyebab kangen yang Puput rasain. Maaf karena Puput gak sempet bilang sayang langsung di kuping Nenek. Maaf buat semua perasaan gak enak hati yang pernah Puput buat ke Nenek.

Duh, jadi netes kan air matanya. Hehehehe. Baik-baik di sana ya, Nek. Terpenting, Nenek udah gak sakit lagi.

Satu kalimat terakhir; love you so, Nek. Al-Fatihah. ♡

#PenariJemari #KangenNenek

Tak Semudah Bicara; tapi ku tak ingin Menyerah.

Pertama, gue cuma mau ngasih tau, jangan baca tulisan ini kalo kalian sensitif, jangan baper, udah gitu aja.

Okay. Kalo ada yang bilang, milih buat gak pacaran lagi itu sama sekali gak gampang? Awalnya iya. Banget malah. Gue yang dulunya gak bisa ke mana-mana sendirian, gue yang dulunya gak percaya diri buat ada di keramaian sendirian, selalu ngerasa ‘butuh’ seseorang buat support gue secara nyata, secara fisik. Dulu gak pernah kepikiran buat ngambil jalan yang sekarang gue pilih, sama sekali gak kepikiran. Bahkan gue pernah punya keinginan buat asik dan nikmatin hidup gue dengan cara jalan-jalan sejauh yang gue mau, dengan baju yang super minim, berjemur di pantai, biar makin ke barat-baratan. Syukurnya, gak tau dengan cara apa, Allah ngeblock niat hamsyong gue yang satu itu.

Mulai dari beberapa hubungan yang coba gue bangun selalu berakhir dengan jalan buntu. Belom lagi beberapa orang yang gue pilih sebagai pasangan gue milih buat ‘mainin’ hati gue dengan cara mereka masing-masing, sampai akhirnya gue sama pasangan terakhir gue nyerah buat perjuangin hal yang sebenarnya emang lebih baik untuk gak pernah dimulai. Boleh gue bilang kalo gue nyesel? Iya. Gue nyesel. Kecuali satu hal, gue gak nyesel kenal mereka, karena mereka manusia baik, baik banget. Terkesan kejam mungkin, tapi sebenarnya mereka baik. Cuma, Allah emang gak nulis nama mereka buat jadi jodoh gue, jadi jalan ceritanya dibikin tragis.

Berat? Awalnya iya. Banget malah. Nangis? Iya gue ngaku, gue nangis. Lebay? Pada masanya gue ngerasa itu wajar, tapi pas udah seutuhnya bangkit? Gue akuin gue lebay. Hahahaha.

Semua berawal dari keinginan gue buat berhijab, udah pernah gue bahas sebelumnya kenapa akhirnya gue mutusin buat berhijab. Kewajiban perempuan muslim yang gue jalanin lumayan telaaaaat. Tapi, mendingan telat si dari pada enggak sama sekali. Terus, apa gue langsung jadi cewek sempurna setelah berhijab? Nay! Enggak dengan sekejap mata. Bahkan sampai sekarang dan sampai kapan pun, gue tau gue gak akan sempurna. Gue paling susah buat gak emosian, plus gak nyinyirin orang. Asli, suseh. Apalagi kadang untuk ada di suatu tempat yang isinya bikin kita gak nyaman, bikin kita kesel aja gitu bawaannya. Pelan-pelan, mau banget deh gak nyebutin BKT dan lain-lain lagi. Rasanya gak mungkin emang seorang gue jauh dari BKT, tapi gue pingin buat stop bilang BKT dan kawan-kawan.

Okay, balik lagi ke topik utama. Kenapa gak mau pacaran lagi? Sederhana si, karena dalam islam emang gak ada yang namanya pacaran. Terus, kenapa sebelumnya pacar-pacaran? Ya, karena hatinya belum diketuk secara langsung. Hahahahaha alasan. Nyetak dosa mah nyetak dosa aja.

Iya, gue akuin. Gue emang tempatnya dosa kok. Tapi, gak ada salahnya kan nyoba renang buat naik ke permukaan? Biar gak selamanya tenggelam dalam dosa.

*Geli sendiri gue nulisnya asli, ngebayangin seorang gue bisa ngomong kayak gini, tua!* Hahahahaha.

Gampang gak sih buat milih gak pacar-pacaran lagi? Sama sekali gak gampang. Asli. Karena kalo lagi kumpul keluarga, selalu ditanya ‘pacarnya mana’ dan kalo lagi ngumpul sama anak-anak, mereka selalu gandeng pasangannya masing-masing. Beberapa laki-laki juga nyoba buat mulai gocek hati gue, dan jujur aja gue hampir kegocek, syukurnya gue bisa bertahan dan gak jadi jatuh. Gue sengaja makin sering nulis hal kayak gini, biar makin banyak yang tau, jadi lebih gampang buat bertahan, karena gue udah ngumbar-ngumbar pilihan hidup gue, jadi lebih mudah buat bertahan, salah satu alasannya ya karena udah banyak yang tau tentang pilihan gue yang satu ini. Gitu.

Bra, gak gampang buat terus sendiri sampai akhirnya nanti gue ketemu sama jodoh gue. Banyak asumsi orang yang mulai ngehakimin. Mulai dari gue yang belaga alim, gue yang masih terjebak nostalgia, sampai yang paling gila? Katanya gue udah nutup pintu buat lakik! Sakit hati gak? Awalnya sih iya. Secara gue bukan tersangka, gue gak ngerugiin hidup mereka, tapi gue dihakimin. Tapi, ternyata bales tudingan nyinyir kuadrat kayak gitu, paling ampuh emang pakai ‘senyuman’ manis. Sama satu lagi, mesti ngelatih hati buat bodo amat sama penilaian orang diluar sana. Selama orang rumah support pilihan gue, dan gue yakin sama pilihan gue ini, gue bakal jalan terus. Insya Allah.

Intinya, gue jadi perempuan paling gesrek ya kalo lagi sama beberapa sahabat gue aja. Sama mereka tuh BKT keluar, teriakan gue keluar, gilanya gue keluar. Semuanya keluar. Karena mereka tau, yang kayak gitu emang cuma becanda, aslinya ya gue sayang sama mereka. Sekasar apa pun, gue mau mereka happy dijalan yang mulus. Makasih banget si buat mereka yang kampret tapi berharga banget. Preeet!

Teman seumuran gue udah pada banyak yang nikah, lho.

Ya, terus? Ya, Alhamdulillah jodoh mereka datang duluan. Alhamdulillah mereka udah halal. Selalu senang hadir di pernikahan, apalagi kalo bisa nyaksiin akadnya. Harunya gak ada obat!

Terus, jadi kepingin cepet nikah gak? Nikah sih pingin, tapi cepet-cepet ya gak perlu. Gue gak mau nikah cuma karena teman seumuran gue udah pada nikah. Gue gak mau nikah cuma karena masalah usia. Gue gak mau nikah cuma karena alasan-alasan receh yang ada di tengah kebanyakan masyarakat Indonesia. Gue mau nikah kalo entar jodoh gue datang, terus langsung minta restu ke orangtua gue. Gue mau nikah sama laki-laki yang keluarganya menerima gue. Karena menurut gue, nikah itu dimulai dari dua keluarga yang saling nerima, kemudian saling sayang dan akhirnya saling peduli.

Terus, mau sampai kapan gue sendiri? Ya, sampai ada yang datang buat ‘minta’ gue ke mama papa gue lah.

Terus, kalo gak pernah ada laki-laki yang mau kayak gitu? Ya, gak perlu takut. Kalo laki-laki itu gak mau kayak gitu, artinya dia masih butuh waktu buat main-main, dan bukan gue partner main-main dia. Karena waktu main-main gue udah abis, braaa. Hahahahaha.

Gue masih cetek ilmu. Cetek banget. Masih suka ngeles kalo diajakin nimba ilmu sama kakak perempuan gue. Masih banyak kurang. Masih sengbongsol adengsengbongdol.

Tapi, kakak perempuan kayak kak Onie, bikin gue bisa belajar banyak. Insya Allah dia sosok istri yang sholehah. Gue bersyukur atas pilihan abang untuk yang satu itu.

Dwi Oktaviani juga. Kakak kelas yang dulunya garing abis, sering gue ledekin mati-matian, sempat ngilang beberapa tahun. Sampai akhirnya? Setelah bertapa, dia muncul lagi, dengan pribadi yang baru, yang jauh lebih manis. Insya Allah hatinya makin baik. Dia salah satu yang ngajak gue banget buat terus semangat istiqomah. Meskipun sering gue bales dengan berbagai macam alasan, dia gak capek buat terus ngajak. Dan, gue rasa gapapa si sekali-kali nulis nama dia di blog gue, biar dia happy. Hahahaha. Howiyak, selamat dari gocekan lelaki terakhir juga karena sharing sama dia. Alhamdulillah.

Intinya, pertanyaan ‘mana pacar, mana calon, kapan nikah, kapan nyusul’ gak akan bikin gue stres plus depresi, sampai akhirnya mutusin buat pacaran lagi. Insya Allah. Doain aja gue kuat jalan di atas pilihan gue.

Gak mau nambah dosa buat papa, gak mau mama papa nanggung dosa yang gue bikin secara suka-suka dan sengaja. Bikin mereka bangga dan bahagia tiap saat aja gue belom bisa, masa iya gue harus nambahin dosa mereka buat bahagiain seorang laki-laki bukan muhrim dan yang bukan suami gue?

So sorry kalo banyak hati yang tersinggung. Gue gak sama sekali maksud buat nyinggung. Jujur, berdiri di atas pilihan ini sama sekali gak gampang. Jaman sekarang, milih buat kayak gini justru lebih sering diserang. Dibilang muna, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi yang penting Allah ridho. Itu aja si.

Belajar, belajar, dan belajar. Belajar nabung buat beli baju syar’i, belajar buat gak lagi salaman sama laki-laki bukan muhrim *lagi dicoba bangeeet*

Sampai akhirnya kalo nanti ketemu jodoh dan nikah. Terus dikasih kepercayaan punya anak, mau mulai ngubah kebiasaan kebanyakan orangtua dengan? Ini:

Biasanya ‘nak, ayo tidur, besok kan harus bangun pagi, kamu harus sekolah’

Dengan ‘nak, tidur yuk, udah malam, besok kan kita mau bangun pagi buat subuh berjama’ah’

Duh, bahagia banget kali, yaaa. Hahahaha. Meng-aamiin-i segala doa baik yang bisa diterbangkan. Karena gue percaya Allah selalu kasih yang terbaik di waktu yang paling tepat. Aamiin. Sekian dan terima tatapan damai tanpa maksud saling menjatuhkan.

#PenariJemari

Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Dua Puluh Enam

Sebenarnya, tak ada yang spesial pada hari kedua puluh enam bulan dua tahun ini. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kulanjutkan suara yang sempat tertunda beberapa jam sebelumnya.

Seperti tak mengenal lagi siapa yang sebenarnya kukenal baik. Setengah mati kuyakini hati untuk percaya pada diri sendiri, namun upayaku kembali patah dan tak lagi ada dalam satu wadah.

Kupaksakan logika melawan hati. Kemudian ia menari kala kubertanya; mungkinkah semua nyata?

Melangkah dan melangkah lagi. Kepalaku menoleh. Ada yang menyebut namaku di ujung sana; ruang yang kukenal namun asing warna dan harumnya.

Satu dua pijak, sampailah jiwa pada lembar sebelumnya.

Tiba-tiba saja jemariku memeluk benang. Kusut. Namun tak bisa untuk dilepaskan. Kucari lagi dan lagi cara tuk menyudahi kekacauan.

Ah! Jemariku terluka. Tetes demi tetes darah mengalir, benang yang kukira biasa, tajam nyatanya.

Namun jemariku masih belum bisa berhenti. Entah mengapa ia masih saja melanjutkan tariannya tuk bisa mengantar kusut kembali pada keadaan semula.

Air mata yang sebelumnya mengalir karena luka, darah yang kini mengering karena belum sempat ia seka, masih melekat pada apa yang ia sebut jiwa.

Kemudian malam terasa datang lebih awal, namun ia kesulitan untuk melekatkan kelopak mata satu dan lainnya.

Hai, dua puluh enam memang tak berakhir mudah. Namun, harap akan selalu ada, mungkin saja Tuhan titipkan pada detik berikutnya, atau entah di waktu yang mana.

Tertanda, mawar putih yang masih terjaga.

#PenariJemari 

Setengah, lalu?

Semuanya memang berawal dari keputusan yang diambil setengah hati.

Berusaha yakin jika hujan malam itu ialah pertanda.

Memeluk segala kata yang sebenarnya jauh dari angan. Meninggalkan lara; seolah tuk menjemput tawa.

Nyatanya memang tak pernah mudah. Sebab di hari berikutnya selalu ada tangis yang pecah. Kemudian lantunan-lantunan menyiksa.

Lantas diri bisa apa? Hanya mematung dan tertawa.

Bahagiakah?

Hati bercerita pada mata jika sebenarnya ia sedang asik menertawakan langkah yang keliru. Kemudian menangisi jejak yang telanjur pindah jalur.

Sepekan kemudian logika angkat suara, sebab mendung senantiasa menguasai langit, dan ia tak sudi jika harus selamanya hidup jauh dari cahaya.

Pandangannya berputar, langkahnya kembali. Ada senyum dan harap yang sedang ia bangun di sana; di tempat yang pernah memeluknya erat.

Namun Tuhan benar-benar tak pernah membiarkan jiwa seorang bimbang kembali keliru memilih jalan.

Ada tawa di sana. Ada bahagia yang merekah. Jelas beda; ia tak lagi menari dalam sepi.

Kemudian kutertawa; setengahku kini menjawab dengan cara yang beda. Lantas aku harus apa?

Terus berjalan, menikmati kehidupan, memahami jawaban yang tak terlontar langsung dari apa yang kerap kali membuat semesta letih dalam lemahnya.

Ssssssssstt.. bangunlah, lanjutkan langkahmu ke sudut sana, sebab setengah lainnya sudah terlalu lama menunggu. Setia meskipun tak pernah ada satu pun harap yang pasti.

screenshot_67

Ingatlah, dulu kau pernah hidup dengan langkah yang penuh kebahagiaan. Kau bisa ciptakan lagi!

#PenariJemari

#SatuHariSatuTarian

#Tersadar

Sedang Bahagiakah Kau Di Sana?

Surat hari terakhir, untuk Bosse; Alm. Om Em.

Sosok yang belum pernah kutemui, bahkan melihat fotonya pun belum. Parahnya lagi, aku bahkan baru tahu jika Alm. Om Em itu Bosse. Salah satu penebar cinta melalu #30HariMenulisSuratCinta.

Om Em, sebenarnya tahun ini adalah tahun ketigaku ingin mengikuti #30HariMenulisSuratCinta, sejak minggu kedua di bulan Januari lalu, aku sudah menanti kemunculan Bosse di timeline. Namun, Bosse tak muncul jua.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuka laman PosCinta, dan di sana, kutemukan kabar duka yang sudah lama ada. Aku baru tahu jika kau sudah tiada, kau sudah lebih dulu pulang, dan entah mengapa, aku yang belum pernah bertemu denganmu, bahkan bisa kukatakan jika aku tidak mengenalmu dengan pasti, merasakan duka itu.

Aku kehilangan #30HariMenulisSuratCinta, aku kehilangan kesempatan untuk menebarkan kata cinta lewat jemariku, aku kehilangan celotehmu, Bosse. Aku merindukan bunyi bel sepedamu saat hendak mengantarkan surat-surat kita.

Bosse, tahun ini #30HariMenulisSuratCinta absen dulu, tapi, sahabatmu tak melewatkan tahun dengan begitu saja, mereka mengajak kita tenggelam dalam cinta lewat #PosCintaTribu7e dan aku bahagia, Bosse. Aku bahagia karena kaulah penerima surat-surat kita di hari ini.

Bosse, berbahagialah di sana, sebab di dunia semakin banyak perpecahan, semakin banyak kejahatan yang dihalalkan untuk kepuasan mereka yang selama ini hidupnya tidak bahagia. Bosse, di dunia semakin banyak kata yang tak bisa dipercaya, semakin banyak waktu yang terlewati dengan dusta media, pun sekitar kita.

Bosse, apa yang bisa kuberi untukmu selain lantunan doa? Mudah-mudahan, kebiasaanmu di dunia yang gemar menebarkan cinta, membawa langkahmu ringan ke surga. Bosse, mungkin tahun ini ku tak bisa banyak berkata, tapi dilain waktu, atau mungkin #30HariMenulisSuratCinta yang akan datang, kan kutuliskan kembali surat untukmu. Aku janji!

Sore ini kusudahi, aku ingin kau kembali menikmati waktu di taman surga, yang Allah janjikan penuh dengan bahagia.

Terima kasih sudah pernah ada untuk kita semua.

Dariku, penari jemari yang bersyukur pernah mengenalmu, meski hanya lewat Kriiing! Pos! Pos!

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAlmOmEm
#Bosse