Belajar Tentang Mencintai

Saya bukan perempuan yang terlahir dengan sikap lembut, sebab saya terbiasa bermain bola dengan abang saya, dan menunggu giliran main sega setelah mas saya. Masa kecil saya bisa dibilang jauh dari boneka, saya lebih dekat dengan bola dan lari-larian. Abang memilih saya sebagai partner-nya untuk bermain playstasion. Sedangkan suara mas hampir selalu menjawab celotehan saya lewat walkie-talkie kesayangan kami.

Secara tidak sengaja, mempunyai dua kakak laki-laki membentuk pribadi saya menjadi cuek, dingin, namun juga mudah tersentuh dilain waktu. Harus diakui jika mas dan abang pun termasuk lelaki yang tak ragu untuk menangis saat hati mereka benar-benar tersentuh. Mulai dari mama, papa, mas, dan abang, saya sudah pernah menyaksikan langsung bagaimana masing-masing dari mereka menangis. Rasanya ingin terus berubah baik, agar suatu saat saya bisa melihat tangisan mereka adalah tanda kebahagiaan kita bersama.

Awalnya, saya selalu menyeleksi pria lewat penampilan fisiknya, kalau saya tidak tertarik, maka pintu hati tak sedikitpun terbuka. Tapi, semakin lama saya menyadari secara perlahan, jika yang berwajah tampan belum tentu bisa menuntun saya ke surga, sementara lelaki yang mencintai Tuhan, insya Allah mampu menggenggam saya dan membimbing agar kelak langkah kaki kita terus bersama hingga mencapai surga Allah.

Saya bukan perempuan sempurna yang tak punya cela, jika Allah mau, Ia bisa saja menjabarkan aib saya dalam hitungan detik, namun Allah Maha Baik, Ia menjaga segala aib saya, dan secara tidak langsung membuat saya ingin terus menjaga aib orang lain yang sengaja pun tidak, pernah saya ketahui.

Terdengar berlebihan atau mungkin picisan, saat saya yang dulunya terkesan urakan, dan juga pernah berpacaran, menikmati masa sekolah dengan memuja sosok kekasih hati, seketika memutuskan untuk tidak lagi meratapi kesendirian. Bukan, bukan karena saya anti terhadap pernikahan, melainkan karena cara saya mencapai hari nan suci itu yang sedikit saya ubah. Tidak lagi dengan menjajaki hubungan secara perlahan, kemudian menangisi keadaan saat saya dan lelaki itu harus berpisah. Dengan niat yang insya Allah tidak dibuat-buat, saya hanya bisa terus memantaskan diri untuk lelaki yang sedang dan terus saya minta dalam doa langsung pada Sang Maha Segala. Sebab, saya yakin hanya Dia satu-satunya tempat berharap.

Bermimpi untuk bisa mempunyai keluarga yang penuh dengan kasih kepada Allah, saling menjaga hati satu sama lain, saling mengingatkan jika di tengah-tengah terjadi kekeliruan, saling menerima kurang dengan sabar, saling mengingatkan untuk tidak mendikte kekurangan orang lain, saling mensyukuri lebih yang Allah berikan, dan segala saling dalam kebaikan. Sampai hari ini semua itu masih menjadi mimpi untuk saya, namun sepenuhnya saya yakin kelak dapat terbangun dan menjalankan hari yang serupa dengan mimpi indah saya itu.

Saya selalu bilang jika saya tidak mau tergesa-gesa, sebab menikmati waktu dengan terus menjadi yang terbaik dalam skenario Tuhan adalah seindah-indahnya detik kehidupan.

Bersyukur saya dikelilingi mereka yang tak pernah lelah mengingatkan jika ada kematian yang harus saya persiapkan di tengah sibuknya kita mencapai cita di kehidupan dunia. Kerap kita mengesampingkan akhirat, berpikir masih ada hari esok, seolah melupa jika bisa saja Tuhan menghentikan napas kita di detik berikutnya.

Belajar mencintai akan terasa rumit saat kita mencoba menaruh perasaan pada manusia, namun menjadi begitu mudah dan damai saat kita memulainya dengan mencintai Tuhan. Banyak yang menertawakan diri saya, katanya tahu apa saya? Ke mana saja saya selama ini? Berapa banyak dosa yang sudah saya cetak? Lantas saya mau bersikap seolah paling benar? Tentu saja tidak, tapi seharusnya kita tahu, jika tinta hitam pun dapat dibersihkan jika ada niat yang utuh dan tulus. Lantas, mengapa masih sibuk dengan keburukan orang lain di masa lalu, saat orang tersebut sedang menikmati masa sekarangnya dengan terus memperbaiki keadaan?

Cukup untuk menutup Jumat malam. Salam damai dari saya, perempuan yang masih suka emosi, masih mudah marah, masih kerap melupa untuk tersenyum, dan masih penuh dengan kurang. Tapi, insya Allah kedepannya kita bisa sama-sama menjadi lebih baik lagi. Aamiin.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HidupdanMati
#PerihalCinta
#MengikisPenyakitHati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s