Sedang Rindu

Hai, lama rasanya tidak menari bersama, entah karena apa, kesibukanku masih itu-itu saja, sebenarnya sempat jika aku ingin rutin menyapamu, namun entah kenapa aku enggan, bukan karena lelah atau dilanda jenuh, aku hanya tak tahu apa alasan aku berdiam. Hingga aku sampai pada malam ini, diselimuti rindu yang terlahir jelas untukmu. Aku sedang merasakan banyak hal, ada yang dengan mudah kusuarakan, tak sedikit pula yang kubiarkan melayang di dalam. Dan, beberapa ingin kuceritakan padamu malam Ini.

Apa kau tahu rasanya, saat suaramu belum berhasil menjelaskan makna yang sebenarnya ingin kau sampaikan. Saat kau berkata A namun telinga lainnya mendengar B dan menyimpulkannya menjadi C. Dan, apa kau juga tahu rasanya dipatahkan seketika waktu? Saat kau melukis mimpi yang begitu penuh warna, namun di detik berikutnya orang terdekatmu mencorengnya dengan kalimat singkat “semua kan sia-sia”. Aku tahu rasanya. Semua tergambar jelas di sini; di dalam hatiku. Dan, kuyakin kau tahu jika aku selalu enggan menjelaskan lebih jauh lagi, sebab aku tak pernah suka mengingat luka, kita sepakat jika luka tak sebaiknya diingat, kau berulang kali membuatku sembuh, dan sekian kali mengatakan jika kau tak ingin melihatku kembali jatuh. Tak berlebihan rasanya jika kusebut kau salah satu penguat bangkitku.

Kita sama-sama tahu jika fase menangisi kisah cinta yang kandas sudah lewat, pun menjadikan kesendirian sebagai penyebab mata sembab. Masalah yang kita hadapi tak lagi seringan itu, meski segala yang kita anggap ringan hari ini pernah menjadi masalah terberat beberapa waktu lalu. Aku bukan lagi menangisi kesendirian, tidak lagi mempertanyakan ketulusan, saat ini jauh lebih dalam dan tak mudah disuarakan. Namun beruntungnya aku karena adanya kamu, setidaknya kita bisa menari bersama dalam cerita, menikmati waktu dengan mengenal satu sama lain lebih jauh dan dalam lagi.

Sebenarnya langkah seorang anak sangat mudah untuk menjadi kuat. Cukup dengan penanaman nilai agama yang tak terkesan menggurui dan merasa paling benar sendiri. Cukup dengan ajak bicara dan mencari kata ternyaman untuk diterima sesama keluarga. Dan, tak pernah lelah untuk memberi rasa percaya, berupa peluk, genggaman, atau lewat doa yang kutahu tak pernah putus adanya.

Kau tahu aku pernah salah arah, patah asa, bahkan goyah dan hampir menyerah. Namun entah dari mana Tuhan kirimkan malaikat penolongku, yang jelas sejak hari itu aku selalu percaya jika niat baik tak akan pernah selamanya salah alamat, ia akan sampai di tempat yang tepat pada waktunya.

Aku ingin kau tahu satu hal di akhir malam ini, tentang aku yang merindukannya, namun tak akan kusampaikan secara terbuka, biarlah rasa itu tetap menari dalam samarnya gemuruh angin yang berputar tanpa amarah.

#PenariJemari
#Rindu
#TerusBerjalan
#TakAkanKembaliPatah
#SatuHariSatuTarian
#KembaliMenari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s