Sedang Bahagiakah Kau Di Sana?

Surat hari terakhir, untuk Bosse; Alm. Om Em.

Sosok yang belum pernah kutemui, bahkan melihat fotonya pun belum. Parahnya lagi, aku bahkan baru tahu jika Alm. Om Em itu Bosse. Salah satu penebar cinta melalu #30HariMenulisSuratCinta.

Om Em, sebenarnya tahun ini adalah tahun ketigaku ingin mengikuti #30HariMenulisSuratCinta, sejak minggu kedua di bulan Januari lalu, aku sudah menanti kemunculan Bosse di timeline. Namun, Bosse tak muncul jua.

Hingga akhirnya kuputuskan untuk membuka laman PosCinta, dan di sana, kutemukan kabar duka yang sudah lama ada. Aku baru tahu jika kau sudah tiada, kau sudah lebih dulu pulang, dan entah mengapa, aku yang belum pernah bertemu denganmu, bahkan bisa kukatakan jika aku tidak mengenalmu dengan pasti, merasakan duka itu.

Aku kehilangan #30HariMenulisSuratCinta, aku kehilangan kesempatan untuk menebarkan kata cinta lewat jemariku, aku kehilangan celotehmu, Bosse. Aku merindukan bunyi bel sepedamu saat hendak mengantarkan surat-surat kita.

Bosse, tahun ini #30HariMenulisSuratCinta absen dulu, tapi, sahabatmu tak melewatkan tahun dengan begitu saja, mereka mengajak kita tenggelam dalam cinta lewat #PosCintaTribu7e dan aku bahagia, Bosse. Aku bahagia karena kaulah penerima surat-surat kita di hari ini.

Bosse, berbahagialah di sana, sebab di dunia semakin banyak perpecahan, semakin banyak kejahatan yang dihalalkan untuk kepuasan mereka yang selama ini hidupnya tidak bahagia. Bosse, di dunia semakin banyak kata yang tak bisa dipercaya, semakin banyak waktu yang terlewati dengan dusta media, pun sekitar kita.

Bosse, apa yang bisa kuberi untukmu selain lantunan doa? Mudah-mudahan, kebiasaanmu di dunia yang gemar menebarkan cinta, membawa langkahmu ringan ke surga. Bosse, mungkin tahun ini ku tak bisa banyak berkata, tapi dilain waktu, atau mungkin #30HariMenulisSuratCinta yang akan datang, kan kutuliskan kembali surat untukmu. Aku janji!

Sore ini kusudahi, aku ingin kau kembali menikmati waktu di taman surga, yang Allah janjikan penuh dengan bahagia.

Terima kasih sudah pernah ada untuk kita semua.

Dariku, penari jemari yang bersyukur pernah mengenalmu, meski hanya lewat Kriiing! Pos! Pos!

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAlmOmEm
#Bosse

Penguat Segala

Surat hari keenam, kutujukan untuk Dia, Sang Maha Segala.

Sosok yang selalu ada, sosok yang selalu menerima pulangku, meski kaki telah begitu jauh melangkah. Maha Pemaaf, Maha Pengampun, dan Maha Segala.

Aku bukan manusia tanpa dosa, sebab kupasti pernah melakukan kesalahan, entah dengan lisan pun perbuatan, entah sengaja pun di alam bawah sadar.

Tuhan, banyak dari mereka berkata, jika ingin berbincang denganmu, cukuplah berdua, tak perlu lewat banyak kata, atau apa pun macam lainnya. Namun, aku selalu ingin mengajak jariku menari untuk-Mu. Sebab, tanpa izin-Mu, aku tak mungkin mempunyai jemari yang kini kerap kali kugunakan berbagi; cerita pun rasa.

Terima kasih, karena Kau menempatkanku pada rumah yang tepat, rumah yang senantiasa menerima segalaku, rumah yang selalu rindu suaraku, dan rumah yang mencintaiku utuh dan penuh.

Terima kasih karena Kau memberiku begitu banyak pelajaran, mulai dari bertemu teman yang sesungguhnya, hingga bertemu dengan mereka yang luar biasa mahir bersandiwara.

Aku banyak belajar, bagaimana caranya bertahan, bagaimana rasanya dipermainkan, dan bagaimana caranya tetap mencintai-Mu meski semesta mulai sesak dengan kejahatan.

Tuhan, aku yakin dan percaya, jika Kau adalah Segala; bagi dunia dan akhirat. Tak ada satu pun mahluk yang bisa mengalahkan kuasa-Mu.

Maaf jika suratku terasa sedikit gagap, pikiranku sedang terbagi, antara satu dan lain hal, kurasa tak perlu kujabarkan, sebab Kau melihatku selalu.

Tuhan, jangan pernah lepas tanganku dari genggam-Mu, biarkan kuberjalan ke arah yang sudah kunikmati alurnya, langkah yang insya Allah Kau ridhoi. Tuhan, aku hanya ingin mengutarakan seberapa kupercaya Kamu. Kupercaya Kau akan memeluk segalaku dan apa pun yang kutitipkan lewat doa.

Tuhan, kumohon terangkan hati mereka yang sedang dipenuhi kabut gelap. Kumohon tuntun mereka untuk kembali ke jalan-Mu. Kumohon sadarkan mereka untuk menghentikan langkah yang tak perlu.

Aku tak pernah takut pada apa pun, sebab aku punya Kau; Tuhanku.

Tuhan, terima kasih karena memberiku kesempatan kembali pada-Mu. Terima kasih karena Kau masih senantiasa memelukku yang kerap kali berpetualang di luar jalur-Mu.

Tuhan, terima kasih banyak.

Salam sayang, dari salah satu hamba-Mu yang insya Allah senantiasa bersyukur.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#TeruntukSegala
#Tuhan
#Allah

Untuk yang Selalu Ada pun yang Telah Tiada

Surat cinta hari kelima, ingin kutujukan kepada mereka yang selalu ada pun yang telah tiada. Menemaniku dalam segala lara, menjadi penyebab tawa, penerima pun pemberi peluk paling manja, tak peduli warna, tak peduli rasnya. Surat mama hari ini, untuk kalian; anak-anak kesayangan mama.

Untuk Putih, betina pertama yang senantiasa ada di rumah, bukan menetap, ia hanya singgah, menjadi induk paling kuat, mengerti kapan harus memperlihatkan taringnya. Kemudian kutemukan ia tak bernyawa, entah karena apa, yang jelas, kala itu ia sedang hamil, dan kulihat bercak darah dari sana, tempat ia ingin melahirkan anak-anaknya. Putih memang sudah tak muda lagi, sayangnya, kutemukan ia yang memang tak kupelihara, setelah tubuhnya kaku dan dingin, akhirnya kita hanya bisa saling berpamitan, tanpa sempat meninggalkan pesan.

Putih, terima kasih karena kamu mengajarkan mama satu hal; untuk jadi ibu yang baik dan bertanggung jawab dengan anak-anak. Bahagia di sana ya, sayang.

Kemudian untuk Grey, jantan yang suaranya sangat jarang kudengar, kudapat dari papa yang membawanya ke rumah. Bukan kucing istimewa, tapi bisa membuat isi rumah seketika jatuh cinta. Karena gelagatnya yang manja, dan matanya yang memandang dengan penuh cinta. Grey harus pamit, siang itu adalah cerah yang terlalu mendung untuk hatiku. aku ke luar rumah, bersiap menjemput adik sepupu pulang dari sekolahnya, karena sang ibu sedang kurang sehat. Saat kumundurkan motor, kulihat Grey sedang rebah di atas tanah,

“Grey, kamu ngapain di situ? Tidur sini aja, yuk.”

Kemudian, seorang pencari gelas plastik bekas bersuara,

“Mati, ketabrak barusan.”

Entah apa yang kurasakan, yang kutahu, tubuhku gemetar. Kubalikan tubuh Grey, tak ingin rasanya kuingat bagaimana keadaan terakhir ia siang itu, namun segalanya jelas terekam. Setelah kutanyakan ciri mobil yang baru saja menyapa Grey hingga hilang nyawa, kujalankan motor ke depan perumahan, kutemukan mobil yang serupa dengan ciri, dan kubertanya pada si pengendara,

“Pak, maaf saya mau nanya, tadi bapak lewat jalan yang di sana? (Sambil kutunjukkan arah rumahku).”
“Iya mbak, ada apa?”
“Maaf pak, ada yang lihat bapak nabrak kucing saya.”
“Masa?”
“Iya, pak. Bisa ikut saya sebentar? Saya cuma minta tolong bapak buat kuburin kucing saya.”

Dan si bapak bersedia ikut, saat ia melihat Grey, ia langsung minta maaf, ia bukan kabur, namun ia memang tak mengetahui jika telah menabrak Grey, karena suara mobilnya terlalu bising, ketika si bapak meminta maaf, tangis yang sedari tadi coba kutahan, akhirnya pecah juga. Sakit sekali rasanya, saat harus kehilangan Grey yang baru dua minggu menetap. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu penitipan dari Allah sudah habis, dan aku harus bisa mengikhlaskannya.

Grey, kita memang hanya bersama dalam dua pekan, namun hadirmu sudah telanjur melekat pada hati dan ingatan, terima kasih karena sempat memberi warna pada rumah dan hati mama, mama suka senyum kamu, sayang.

Camera 360

Grey

Kali ini untuk Reby, kucing yang kuambil dari sebuah perumahan kosong. Kucing yang ramah dan penyayang. Kucing pertama yang akhirnya membuat mama mengizinkan aku  memelihara hewan berkaki empat ini di rumah. Awalnya, mama tak pernah suka ada kucing yang masuk ke dalam rumah, tapi Reby pandai mengambil hati mamaku, hingga akhirnya alergi mama terhadap bulu pun perlahan mereda, ia tak pernah lagi terlihat bersin-bersin saat dekat dengan kucing, meski sesekali, saat kondisi badannya kurang baik, alergi itu muncul lagi, tapi justru mama yang tidak mengizinkan aku untuk meletakkan mereka di luar rumah, kasian katanya; dingin.

Setelah delapan bulan menetap di rumah, Reby akhirnya pamit juga. Ia kalah dengan sakitnya yang entah apa, aku telat menemukan petshop terdekat dari rumah, ia kehilangan nyawa saat diperjalanan, malam itu aku sudah sampai di depan petshop yang akhirnya berhasil kutemukan, namun sayang, sapaanku tak mendapatkan jawaban, tak ada seorang pun yang keluar, meski di pintu masih terpampang tulisan ‘buka’.

Segera kutengok Reby, yang ternyata sudah berpulang. Lagi-lagi mama harus kehilangan anak yang begitu mama sayang. Pedih, karena tak sempat mengusahakan kesembuhan, namun apa yang bisa mama lakukan selain mengikhlaskan?

Reby, terima kasih karena sudah membuat nenek kamu ikut sayang dengan kucing-kucing mama, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, penurut, dan cerdas, terima kasih karena kamu sudah begitu banyak mencipta bahagia untuk mama, mama sayang banget sama kamu.

Camera 360

Reby

Sejak itu, banyak kucing yang datang, untuk sesaat menetap, kemudian pamit undur diri. Karena banyak hal. Beberapa dari mereka masih terlalu kecil, dan tak bisa bertahan tanpa induknya, satu di antaranya harus pergi karena lagi-lagi tertabrak di depan rumah tetanggaku, dan sampai hari ini aku tak tahu siapa pelakunya, beberapa dari mereka sakit dan tak sempat meraih kesembuhan.

Untuk Titam, induk dari ketiga kucing paling sehat di rumah, karena Titam berhasil memberikan ASI eksklusif untuk ketiga anaknya selama tiga bulan, kemudian harus pamit undur diri saat ketiga anaknya baru berusia empat bulan lebih dua minggu, satu hari sebelum lebaran beberapa waktu lalu.

Camera 360

Titam

Nak, kenapa kamu gak pulang selama dua hari? Dan kenapa kamu baru kembali terlihat saat sudah tak bernyawa? Dan kenapa kamu harus segara dimakamkan saat mama sedang tak di rumah? Nak, apa kamu tahu jika kehilanganmu ada sesak tiada dua? Mama kehilangan saat sama sekali tak menyiapkan mental. Nak, kamu ada anak, betina, induk yang paling mama sayang. Paling bisa menjaga diri, namun kita tahu jika tak ada satu pun yang dapat menghindari takdir kematian. Mama cuma mau bilang makasih, karena kau selesaikan tugasmu; merawat ketiga anakmu yang saat ini sungguh lucu. Sebelum akhirnya kau pergi, karena tugas duniamu sudah usai. Mama sayang banget banget banget sama kamu, Titam.

Bibu, kucing tanpa pengelihatan, kutemukan di salah satu perumahan, ia sedang asik rebah di tengah jalan, kemudian ada motor yang lewat, dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hampir saja Bibu terserempet. Tapi, karena pengelihatannya tak berfungsi, Bibu hanya bisa celingak-celinguk.

screenshot_3

Bibu

Bu, kita hanya bersama dalam sekejap waktu, namun kamu mengajarkan mama bagaimana caranya menikmati kehidupan meski sekitar menilai kita terbatas. Selamat jalan sayang, mudah-mudahan kamu bahagia, dan mama yakin kamu bahagia, mama yakin kamu bisa lihat kita dari sana, mama sayang kamu, Nak.

Kemudian, patah benar-benar kembali kurasakan, saat anak-anak terserang virus yang entah apa namanya, mereka sakit berurutan, dengan gejala yang sama, kemudian pamit satu persatu dari hadapan.

Lucky, kucing kecil yang jahilnya luar biasa, lincahnya tiada dua, makannya kuat sekali, dia terlalu manis untuk kulupa, dia terlalu cantik untuk kusesali kehadirannya. Lucky, kamu yang pertama menyerah dari serangan virus itu, kamu yang pertama pamit di pelukan mama, kamu yang pertama kembali membuat mama merasa kehilangan, Nak.

screenshot_2

Lucky

Terima kasih karena kamu selalu membuat mama bahagia saat kau sedang asik bermain sendiri, saat kau usil dengan saudaramu, saat kamu mama gendong, dan dengan sigap kamu tarik kacamata mama hingga copot dari muka. Kamu terlalu menggemaskan sayang, mungkin di alam sana, butuh pelawak seperti kamu, mama ikhlas, sebab melihatmu menahan sakit jauh lebih merobek luka hati mama, mama sayang kamu, Lucky.

Ogi, sahabat Lucky paling sabar, jantan paling penyayang, yang tiap pagi menanti mama di depan pintu kamar, menyapa mama yang baru saja bangun dari tidur, meminta untuk sebentar didekap. Manjanya kamu tak pernah bisa mama lupa sayang, kamu terlalu melekat di sini; di hati mama.

screenshot_1

Ogi

Ogi, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, saudara yang pengalah, sosok yang penyayang, pemijit yang handal menggantikan Titam. Tak apa jika kau pun pamit menyusul Lucky, mungkin kau tak tega membiarkan ia pergi sendiri, satu hal yang pasti, mama sayang kamu berkali-kali.

Untuk Pupi, betina yang luar biasa bawel, pintar, lincah. Terima kasih karena kamu sudah memaksa untuk mama pelihara, setelah sempat mama tolak karena alasan terlalu banyak kucing di rumah, tapi suaramu yang kala itu masih sangat kecil, dan tatapmu yang begitu menggemaskan, berhasil membuat mama tak tega, dan akhirnya kita bersama.

bql9axzcmaal8xs

Pupi

Terima kasih karena kamu selalu tahu kapan waktunya pulang setelah asik main seharian, terima kasih karena kamu menjadi anak perempuan yang genit namun tetap mahal, terima kasih karena kamu sudah membuat Sunny merasa begitu disayang. Terima kasih untuk banyak hal, Nak. Mama tak sanggup melihat kondisi terakhirmu, mama ingin sakitmu segera berakhir, dan Allah jawab itu dengan membawa serta sakit dan nyawamu. Tak apa ya sayang, susul Lucky dan Ogi, berbahagialah di sana, mama akan selalu sayang kamu.

Dalia, kucing yang tiba-tiba rebah di teras rumah, kemudian masuk tanpa permisi, dan tak pernah pergi lagi. Kucing yang ramah saat bermain, namun berubah sangar kalau sudah di depan piring makan. Dalia, mama sedih karena kau memilih hilang saat sakit, sebelum akhirnya mama temukan saat kau sudah kaku. Mama sedih karena tak bisa menemani detik-detik terakhirmu. Tapi, mama bersyukur karena sakitmu selesai, Nak. Mama sayang kamu yang manja tapi galak, mama sayang kamu yang suka menyundul wajah mama dengan ujung kepala. Mama sayang kamu, Dalia.

screenshot_6

Dalia

Untuk Asley, kucing yang membuntuti jalan Uyut, kucing pertama yang nenek mama bawa ke rumah, kucing yang makannya selalu lahap, kucing yang kuar biasa bisa menunjukan caranya menebar kasih sayang.

screenshot_5

Asley

Asley, terima kasih karena kamu selalu ada di dekat mama hingga saat-saat terakhirmu, terima kasih karena kamu masih berusaha berjuang sebelum akhirnya menyerah. Terima kasih karena kamu sudah menjadi anak baik, saudara yang senantiasa bersedia jika satu dari mereka mengajak bercanda. Terima kasih karena sudah melukis tawa di wajah mama, dan membuat mama jatuh cinta, mama sayang kamu, Nak.

Untuk Sunny, anak kucing yang kakinya patah di sebelah kiri depan, kemudian kakinya bengkak di sebelah kiri belakang, lalu lehernya bengkak dan akhirnya pecah dan mengeluarkan banyak nanah. Kamu begitu kuat melawan infeksi tulang itu, Nak. Hingga akhirnya kau bisa berjalan meski tak sempurna.

screenshot_8

Sunny

Sunny, maaf jika mama tak selalu bersedia saat kau meminta untuk dipangku, maaf jika perhatian mama terbagi karena terlalu banyak kepala yang harus mama usap di rumah. Sunny, terima kasih karena kamu sudah kuat, sudah berjuang, sudah bersedia mama rawat semampu mama. Terima kasih karena kamu anak baik, yang membuat mama dan nenek jatuh cinta. Sunny, di malam kepergianmu, langit yang awalnya terang, mendadak mendung dan menurunkan hujan lebat, hampir dari semua kepergian anak mama disertai hujan, namun kepergianmu yang paling basah. Allah memberi mama air mata langit, agar mama tak menangis seorang diri. Mama sayang kamu, Nak. Pejuang paling tangguh.

Otjel, kucing kecil yang hampir tertabrak motor, awalnya hanya ingin mama simpan kamu di pinggir jalan, tapi apa? Dengan ringan langkah kamu naik ke motor mama, maksudnya apa, Nak? Mau ikut pulang ke rumah?

screenshot_7

Otjel

Sejak hari itu kamu resmi jadi anggota keluarga, kamu licah, lucu, menggemaskan, baik, ramah, doyan makan, jahil, dan tak bisa diam. Hingga akhirnya pagi itu kamu tak lagi mau makan, kamu tak lagi lincah, bahkan terlalu pendiam. Rupanya kepergian banyak dari kakakmu membuatmu pun lemah dalam bertahan, dan akhirnya mama harus merelakan kamu turut pamit pulang.

Otjel, terima kasih sudah menjadi pendengar setia bahasa planet kakekmu ya, sayang. Terima kasih sudah begitu nyaman di pangkuan mama, terima kasih karena kamu pelukis tawa yang handal di kediaman. Mama berat melepaskan, tapi mama tak sanggup melihat lemahmu terlalu panjang, selamat jalan sayang, mama cinta kamu.

Setelah itu, ada beberapa kucing kecil yang datang dan pergi, hingga akhirnya yang terakhir adalah tiga bersaudara dengan tiga warna, satu persatu pamit, karena sakit, kecelakaan, dan kembali sakit. Mereka belum sempat kuberi nama.

Kemudian Chiko, kucing kecil yang mama bawa pulang, tak lama ia ada di rumah, ia terserang sakit mata yang luar biasa, dan menyebabkan ia harus kehilangan pengelihatannya, total. Ia hanya berjalan mengandalkan kumis dan pendengaran serta penciumannya saja. Dia benar-benar survivor bagi saya.

Chiko, maaf jika mama tak sempat mengusahakan kesembuhan untuk kamu, kamu adalah salah satu kucing kesayangan nenek kamu, kepergian kamu yang tiba, membuat isi rumah mengelus dada, sakit, Nak. Harus kehilangan lagi, dan lagi.

screenshot_4

Chiko

Chiko, terima kasih karena kamu telah mengajarkan mama bagaimana caranya sabar, dan bertahan semampu kamu, semaksimal yang kamu bisa, hingga akhirnya Allah bilang ‘cukup’ dan kau kembali pada-Nya. Mama sayang kamu, Nak. Maaf jika selama ini kami tak maksimal merawatmu. Bahagia di sana, mudah-mudahan kamu bertemu kembali dengan Otjel ya, sayang.

Dan yang paling akhir adalah kepergian Honey. Induk dari salah satu kucing rumah yang masih bertahan dan begitu menggemaskan. Honey bukan kucing peliharaanku, tapi mendadak rutin main ke rumah setelah usai melahirkan untuk yang terakhir kalinya.

Camera 360

Honey

Honey, terima kasih karena sudah menitipkan Sigi di sini, di rumah ini, terima kasih karena sudah mempercayai mama, terima kasih karena suaramu pernah mewarnai telinga orang rumah, terima kasih untuk banyak hal yang membuat mama begitu merasa dibutuhkan kehadirannya. Mama sayang kamu, meski kamu bukan anggota resmi keluarga ini, kamu tetap saja mencuri hati kami.

Banyak sudah yang datang, dan banyak pula yang kembali pulang. Allah menitipkan, dalam jangka waktu yang beragam. Ada yang lama, ada pula yang hanya sekejap pandang.

Untuk kalian yang selalu ada; namun telah tiada. Terima kasih karena membuat mama jatuh cinta, membuat mama merasa tak sendirian, membuat mama bahagia, membuat mama merasa kehilangan, dan membuat mama terus belajar tentang keikhlasan.

Selamat jalan sayang, berkumpulah kembali di sana, bermainlah dengan bahagia, jangan lupa sesekali untuk menengok mama di sini, dan saudara-saudara kalian yang masih ada, mama sayang kalian, dan senantiasa rindu. Ah, lagi-lagi, pagi yang syahdu memang mudah melahirkan rindu.

Dan untuk yang bersedia membaca hingga akhir surat yang panjang ini, mohon doanya untuk:

IMG20160603181503.jpg

Ayang

IMG20170123070518.jpg

Apu

IMG20161127152803.jpg

Senya; Anak Titam

img20170126062432

Gianta; Anak Titam

IMG20160710185004.jpg

Tutu; Anak Titam

IMG20170120064904.jpg

Sigi; Anak Honey

Screenshot_10.jpg

Peauty

IMG20170204115740.jpg

Tutu dan Keempat Anaknya

Agar senantiasa sehat dan bisa berbagi cinta dan kasih sayang di rumah ini. Mereka salah satu pembawa rezeki bagi kami, dan mereka adalah sosok yang membuat saya kuat, pelipur bagi segala lara, penyemangat, teman di segala waktu. Mereka manja dan menggemaskan, mereka bisa jadi bos yang menyebalkan, sekaligus jadi anak-anak baik yang penurut. Saya sangat menyayangi mereka, yang masih ada, pun yang telah tiada.

Tulisan hati seorang mama, untuk anak-anaknya.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAnakAnakMama
#SalamSayang
#KucingKecintaan

Berubah Itu Bukan Cuma Buat Power Rangers!

screenshot_1

Abang dan Kak Oni

Gue emang orangnya urutan banget, kalo bikin apa-apa pasti ngurut (ngurut a.k.a berurutan, bukan ngurutin orang), gak bisa yang namanya dilongkap.

Hari pertama buat Papa, hari kedua buat Mama, hari ketiga buat Mas, jadi hari keempat ini buat Abang, plus? Istrinya. Kak Oni.

Kenapa plus Kak Oni? Karena kak Oni bawa banyak pengaruh baik buat hidup abang dan keluarga gue. Iya, kak Oni salah satu jawaban Allah untuk keluarga gue, terutama untuk abang.

Sebelum gue terusin, laica cuma mau ngingetin, kak Oni baca suratnya jangan baper ya, jangan nangis, jangan mewek, nanti suratnya basah, hahahaha.

Surat hari keempat ini buat lo bang, plus kak Oni. Lo anak keduanya mama papa, anak tengah yang gak pernah suka kepalanya dipegang waktu kecil, selalu ngamuk kalo mas pegang-pegang rambut lo. Dulu, gue pikir lo anak tukang bajigur, karena lo gak sama sekali mirip papa atau mama, tapi ternyata, pas buka ijazah papa dan lihat foto dia di sana, lo itu jiplakan papa banget pas dia masih muda. Akhirnya, gue akuin lo sebagai anak mama papa, bukan anak kang bajigur lagi.

Dulu, lo tuh orang yang paling gak bisa ngomong di rumah, lo terlalu kaku, lebih kaku dari kanebo kering. Tapi sekarang Alhamdulillah udah bisa diajak ngobrol, udah gak sekaku dulu, walaupun tetap gak lemes-lemes amat.

Gue banyak bersyukur atas perubahan baik lo, walaupun gue masih kesel kalo lo sentimen ke anak-anak gue. Lo tau gak? Lo bilang gue batu, padahal lo lebih batu! Aslik ih, nyebelin si.

Dulu, lo gak pernah mau tuh yang namanya naik motor pakai helm, katanya gak keren. Tapi, sekarang Alhamdulillah, ke mana-mana selalu pakai helm. Dulu, lo mana pernah mau pakai baju muslim, tapi sekarang? Alhamdulillah, lebaran kemarin lo mau pakai baju muslim lengkap, satu set, plus pecinya malah, hahahaha. Bukan karena yang beliin bajunya itu mama mertua lo kan, bang? Hahahaha.

Lo pernah bilang kalo idung gue selalu merah kalo lagi nangis, asli nyebelin si. Lo juga bikin gue mikir, pas lo bilang, lo mimpi gue ketakutan, terus lari masuk masjid, dan semua kembali aman. Masih banyak lagi yang gak bisa gue jabarin seratus persen di sini.

Gue bersyukur lo nikahin kak Oni, perempuan yang harus diakuin bawa banyak perubahan baik buat hidup lo. Mulai dari sikap lo yang berubah manis ke mama papa, sampai segala hal yang dulu bukan lo banget, tapi sekarang Alhamdulillah lo jalanin dengan ikhlas.

Gue cuma berharap lo bisa jadi suami yang baik, yang nuntun kak Oni plus keluarga lo ke surga, bisa jadi imam, bisa terus bersyukur, bisa terus saling jatuh cinta di jalan Allah.

Alhamdulillah, kak Oni selalu siap, nyiapin segala hal yang lo perlu, gak pernah gue liat kak Oni keberatan jalanin perannya sebagai istri, dia selalu bilang lo ngganteng, tiap kali gue lagi ngeledekin lo. Kak Oni selalu bilang kalo lo adalah suami terbaik, dan gue cuma bisa aamiin-in itu.

Buat kak Oni, makasih karena udah sayang ke mama papa dengan tulus, gimana perhatiannya kakak ke papa, gimana sabarnya kakak nanggepin mama yang mulai lupa-lupa kalo ngomong. Makasih karena udah jadi istri yang insya Allah baik buat abang, makasih karena udah jadi kakak perempuan yang asik diajak ngobrol, makasih karena santunnya kakak ke mas kita, walaupun kita belom pernah ngabisin waktu berdua doang, gak masalah, gak ngurangin kebaikan kakak di mata kita.

Laica cuma bisa doa, insya Allah abang plus kakak bisa terus sama-sama dalam kebaikan, bisa terus sayang ke keluarga, ke orangtua, ke saudara. Bisa terus jadi penyejuk hati buat sekitar, bisa terus saling belajar kebaikan, bisa terus mencintai Allah.

Laica emang belom jadi sosok yang bisa bikin bahagia, apalagi bangga, tapi laica bersyukur banget, di tengah banyaknya cerita hidup yang gak manis, adanya mas, abang, dan kak Oni, bisa nguatin dan nyadarin laica, yang kadang masih suka ngeluh.

Laica bukan orang yang bisa ngomong sayang langsung di depan muka kalian, tapi kebersamaan kalian adalah satu dari sekian banyak bukti yang laica tau, kalo janji Allah itu benar-benar ada.

Pas lihat kalian akad, laica nangis, kejer banget. Bukan karena gak ikhlas abang nikah, tapi karena laica bahagia, abang memilih perempuan yang insya Allah tepat. Pas lihat kalian saling tatap, laica selalu bisa ngerasain kalo kalian ya emang benar-benar saling cinta. Intinya, laica bersyukur punya abang, makin bersyukur karena sekarang ada kak Oni.

Pokoknya, kalian gak perlu dengerin omongan orang yang gak enak, gak perlu mikirin pertanyaan dari siapa pun yang gak nyaman di telinga kalian, gak perlu buang-buang waktu buat hal yang gak penting. Karena, apa pun yang mereka omongin, apa pun yang mereka pikirin, apa pun yang mereka nilai, gak akan ngubah skenario Allah buat hidup kalian sedikitpun.

Perubahan abang dan kak Oni, bikin laica percaya kalo manusia juga bisa berubah, bukan cuma Power Rangers!

Dan, Alhamdulillah perubahannya berjalan ke arah yang insya Allah tepat.

Apa sih yang bisa laica kasih buat kalian? Gak ada. Laica cuma bisa doa, doa, dan doa. Tentang apa pun yang menurut laica baik, dan insya Allah dijawab dengan apa yang menurut Allah terbaik untuk kalian.

Satu hal yang pasti, laica sayang sama kalian. Sama-sama terus sampai nanti tiba di surganya Allah ya, Bang, Kak.

Jangan berhenti bahagia, dan jadi penyebab kebahagiaan buat orang-orang yang kalian sayang, pun sayang sama kalian.

Dari gadis bungsunya papa mama; Laica.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#BerubahItuBukanCumaBuatPowerRangers
#Abang
#AbangPlusIstri

Pengendara Ojek Online Paling Ngganteng!

1

Fans!

Peringatan sebelum membaca surat ini; jangan baper. Karena baper itu gak enak, yang enak itu lemper isi ayam buat sarapan!

Kali ini gue tulis surat buat pria kesayangan gue nomor dua; setelah Papa. Pria kelahiran Jakarta 28 tahun lalu. Pria yang paling sabar si kalo menurut gue, pria paling ikhlas tentang banyak hal, mulai dari hal remeh kayak makanan, sampai hal yang paling sensitif; uang.

Surat hari ketiga ini buat lo, Mas.

Gue cuma mau bilang makasih, makasih karena udah jadi partner dalam banyak hal, mulai dari nyobain makanan baru, nonton film yang gue suka, beli cemilan favorit gue, sampai hal-hal yang gak pernah gue minta, tapi lo tau gue mau, gak lama kemudian lo pasti dapetin itu buat gue.

Lo juga gak malu, beli celana rumahan buat cewek, yang lo kasih ke gue sama mama, lo gak pernah malu beli alat makan pun minum, buat orang rumah, lo juga paling suka beliin gue hijab, dari pas gue belom berhijab, sampai akhirnya sekarang Alhamdulillah udah. Semua hijab yang gue punya ya dari lo, sama dari kak Oni dan tante-tante. Belom ada yang gue beli sendiri. Alhamdulillah, banyak yang support, mudah-mudahan pahalanya juga ngalir ya ke kalian.

Dan, yang paling hebat, lo juga gak malu kalo gue minta tolong beli pembalut, itu poin plus si buat gue, karena gue yakin gak semua cowok bersedia untuk itu, apalagi beliin itu buat adiknya sendiri.

Lo orang paling naïf, tapi belakangan gue belajar dari lo, kalo uang emang perlu ditabung, tapi kalo orang yang dekat dan kita sayang butuh, ya ada baiknya untuk itu dulu, nabung bisa nanti lagi.

Kalo ada yang bilang ‘Mas, kamu kalo gak nabung kapan mau nikah?’ lo selalu jawab ‘Gak usah takut, selama uangnya dipakai buat yang benar, insya Allah nanti begitu mau nikah ya ada rezekinya, Allah kan Maha Tahu.’

Naïf banget, aslik! Tapi ya gimana? Gue percaya itu sekarang, kalo lagi ngerasa susah dan mentok, Allah selalu kasih jalan, asal satu, jangan pernah ngejauh, jangan pernah berhenti bersyukur, dan jangan pernah ninggalin jalan yang Allah cinta.

Gue juga salut, karena lo yang tadinya pegawai bank, akhirnya milih resign. Awalnya karena ngerasa capek, kerja kontrak terus, gak ada kepastian, tiap kontrak abis, lo selalu stres bakal diperpanjang atau enggak, lo stres ‘Gimana kalo gak diperpanjang dan gak langsung dapet kerjaan gantinya’ tapi Alhamdulillahnya itu pemikiran lo yang dulu.

Sampai akhirnya, support dari Abang, dan gue. Bikin keputusan lo bulat buat ninggalin kerjaan di bank, karena satu dan lain hal yang gak perlu gue jelasin, walaupun terakhir, sebelum lo resmi cabut, lo ditawarin perpanjangan kontrak lagi, tapi lo lebih milih banting setir abis-abisan.

Lo lebih milih jadi pengendara ojek online, yang (awalnya) penghasilannya menyedihkan, gak tetap, dan dapetnya capek doang. Tapi, Allah kan gak pernah tidur, dia tau niat baik lo, dia tau lo kerja buat apa, dia tau tujuan lo mau bahagiain siapa, ya Alhamdulillah dikasih jalan.

Mama, papa, tante, plus om minta tolong sama gue buat bantu nabungin penghasilan lo, biar gak seratus persen abis buat kebutuhan rumah. Dan buat yang satu itu, tenang aja, sebagai bendahara, insya Allah gue amanah, kalo ada lebih ya gue tau mesti dilariin ke mana, kalo gak ada lebih ya kita masih bisa ketawa dan cerita bareng kok.

Makan apa aja gak masalah, yang penting bersyukur masih bisa bareng sama mama papa yang sering nyebelin, tapi gak bisa bohong kalo mereka juga ngangenin, apalagi kalo lagi dateng manjanya, hahahaha.

Intinya, lo gak perlu malu sama atribut kerja lo, Mas. Karena selama yang lo kerjain itu halal, ya gak masalah. Di mata Allah, bukan bos kok yang ada di barisan depan buat masuk surga. Intinya, sekarang yang penting kita pelan-pelan hijrah, bareng-bareng. Masih panjang banget perjalanan, jadi jangan sampai di sia-siain lagi ya waktunya.

Jijik gak si kalo gue bilang gue ngerasa beruntung punya Mas kayak lo? Hahahahaha. Jijik ih! Geliiii. Hahahaha.

Howiyak, satu lagi. Terakhir kita ngobrol banyak di motor, lo nyeletuk ‘Kapan ya kita nikah, Put?’

Terus gue kaget. Kagetnya bukan karena mikirin kapan jodoh gue dateng, tapi kaget ‘Kok tumben ini anak mikirin beginian?’ Hahahaha.

Tenang aja mas, kalo lo hijrahnya gak setengah-setengah, gak pernah jauh lagi dari Allah, dan lain-lain, insya Allah rezeki jodoh lo bakal sampai tepat waktu, intinyaaa, jangan gusar. Doa aja terus, sambil usaha nemuin anak gadis orang yang mau lo halal-in. Tenang, gue mah sabar, Mas. Gue gak buru-buru. Pokoknya nanti, jodoh siapa pun yang dateng duluan, itu yang nikah duluan, ya. Tapi, gue tetap maunya si lo duluan. Hahahaha.

Sering-sering puasa, biar gak marah-marah. Lo kalo lagi puasa jauh lebih sabar, hahahaha. Karena keseringan judes plus marah-marah, bikin kebaikan yang tadinya udah mau nyampe di hidup lo, jadi putar arah, dan jalan dari awal lagi, gak nyampe-nyampe. Hahahaha.

Terakhir, geli si, tapi ya harus diakui kalo gue sayang sama lo. Tengkyuh karena udah jadi Mas paling bawel sekaligus rese.

Satu lagi, percaya deh, kalo lo itu Pengendara Ojek Online Paling Ngganteng!

Tapi boong! Bwek!

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#PengendaraOjekOnlinePalingNgganteng
#Mas

Tiga Puluh Tahun

screenshot_1

Ulang Tahun Pernikahan ke 29

Jadi, kemarin sudah kutulis surat cinta untuk pria kecintaanmu. Iya, untuk Papa. Sudahlah, Ma. Akui saja jika Papa memang pria terbaik dalam hidupmu, dan aku bersyukur karena saat muda dulu, kalian bertemu, kemudian sepakat untuk menikah.

Dan, surat cinta hari kedua ini; untukmu. wanita kecintaan yang memiliki jenjang usia tiga puluh tahun di atasku.

Apa kau tahu, jika tiba-tiba saja aroma kopi begitu menyengat di kantorku, dan wajahmu terbayang jelas di kepalaku. Sebab, tiap pagi, kau selalu rutin menyapa cangkir yang berisi minuman kesayanganmu itu.

Ma, aku ingat jelas, bagaimana kau begitu telaten mengurus mas, abang, dan putri bungsumu ini. Aku ingat bagaimana kau selalu menyiapkan sarapan; bahkan menyuapi kita dengan perjanjian, minimal tiga sendok makan, yang pada kenyataannya kuhitung kau berhasil mengecohku hingga sepuluh kali suap. Hahahaha.

Tak apa, aku paham jika kau hanya ingin memastikan kami siap belajar di sekolah, dengan asupan makanan yang sebelumnya kau siapkan.

Kau juga sosok ibu yang tak pernah membiarkan rambut kami berantakan, yang senantiasa memastikan jika pakaian kami rapih dan licin, tak boleh ada sedikitpun kusut yang tertinggal. Bahkan kau dinobatkan ibu rumah tangga dengan kemahiran menyetrika baju tingkat tinggi. Aku bangga, Ma. Kau nomor satu dalam hal kebersihan.

Kau juga selalu membuat kita bahagia saat sampai di meja makan, karena masakanmu tak pernah terasa buruk. Kau adalah koki terbaik untukku. Guru terbaik dalam banyak hal yang bersinggungan dengan ‘tugas perempuan’.

Wejanganmu tentang banyak hal, kan selalu kuingat, dan senantiasa berhasil membuatku mengurungkan niat untuk melakukan hal yang tak perlu.

Kau selalu bilang, jika kau mendoakanku sejak dalam kandungan, dan salah satu doa yang kerap kali kau nyatakan adalah “Kalau hamba punya anak perempuan, berilah ia jodoh yang mencintai dia tulus, bukan karena nafsu, atau fisik semata.” Dan, aku yakin jika Allah mendengar doamu, Ma. Aku yakin lelaki itu sedang dalam perjalanannya, tak usah gusar, kau harus percaya jika Allah menyiapkan kebahagiaan cinta; untukku. Berkat doamu.

Ma, terima kasih karena telah bersedia menjadi sahabat terbaik, sekaligus teman debat dengan durasi paling lama. Kau manusia keras kepala yang tak pernah ingin kulepas. Kau manusia yang gemar meluapkan emosi, namun tak sedikitpun ingin kusiakan.

Mungkin, jika aku tidak terlahir dari rahimmu, aku tak akan sampai di lembar indah hidupku saat ini.

Bohong jika kita tak pernah bertengkar, karena adu pendapat denganmu selalu membuatku rindu. Kita kerap bicara dengan suara yang lantang, kau gemar menggangguku hingga kukesal, namun akhirnya? Tawa kita pecah, tak berlebihan rasanya jika kita bersyukur karena saling memiliki.

Ma, terima kasih karena selalu bersedia menyantap masakanku yang belum selezat masakanmu, atau mungkin tak akan pernah menandingi kelezatan hasil masakanmu, hahahaha. Terima kasih karena telah mendidikku dengan cara yang kuanggap tepat.

Mungkin, kau yang sekarang bukan lagi kau yang dulu. Kau sudah mudah lupa dengan segala hal. Mulai dari lupanya kamu menyimpan sesuatu, hingga sulit untuk mengingat percakapan yang baru saja telingamu dengar.

Tak apa, Ma. Aku ada di barisan paling depan, jika nantinya mereka bersiap menyerang. Dulu, kau melindungiku dengan cara yang baik dan ramah pada sesama. Dan, sekarang aku kan berusaha melindungi dengan cara yang serupa.

Aku sedang belajar, mengatur emosi yang tak perlu kuluapkan, sebab kita sama-sama tahu jika Allah senantiasa Memeluk.

Ma, lembaran hidup yang sempat kelam, cerita yang sempat buram, tak perlu lagi dikenang, sebab aku tak akan berhasil mencipta bahagia untukmu sekarang, jika kau masih saja sibuk dengan cerita-cerita duka di masa lalu.

Hmm, sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan, namun lagi-lagi aku harus segera menyudahi surat kali ini.

Harapku sama dengan surat sebelumnya, bisa berbisik tepat di telingamu,

“Ma, Puput sayang banget sama, Mama.”

Entah kapan, tapi insya Allah akan.

Terima kasih karena telah menjadi semesta yang tak pernah ingin kutukar, meski hanya sekejap pandang.

Dari anak bungsumu yang kerap menyebalkan, namun selalu kau akui jika aku begitu mudah membuatmu rindu.

Salam sayang,

Puput.

#PosCintaTribu7e
#TigaPuluhTahun
#PenariJemari
#Mama

Pria Pertama

screenshot_1

Ulang Tahun Pernikahan ke 29

Dari awal Januari, sudah kubuat daftar siapa-siapa saja yang akan mendapatkan surat cinta dariku; tahun ini. Tapi, begitu tahu jika Bosse sudah bahagia di surga, daftar itu tiba-tiba hangus, kukira tak akan lagi ada #30HariMenulisSuratCinta.

Hingga sore ini, aku masih saja bingung, harus menuliskan surat cinta untuk siapa, namun aku tak ingin menyiakan tujuh hari ke depan, dan akhirnya terbayang wajah pria tercinta, saat ia sedang marah, kesal, lelah, bahagia, haru, hingga saat tersulit; kala kubuat ia menangis.

Surat pertama ini untukmu, Pa.

Sengaja kutulis semua karena lisanku tak pernah sanggup menyuarakan segala yang peka dengan hati. Aku terlalu mudah menangis, aku terlalu ringkih untuk menyampaikan maksud baikku, Pa.

Aku kerap melarangmu menyantap cemilanku, bukan karena kikir atau alasan kotor lainnya, aku hanya tak ingin gula darahmu lepas dari kontrol dan kembali melihatmu terbaring sakit. Lebih baik kulihat kecewamu karena tak ada satu pun dari kita yang mengunyah manis, dari pada harus menuruti keinginanmu, dan menyaksikan tubuhmu merasakan segala lemah.

Biar nanti, sesekali kubuatkan kue, atau apa pun yang kau suka, tapi ingat. SE – SE – KA – LI. Bukan tiap kali kau minta. Hahahaha.

Pa, kita tahu benar jika kau bukan pria yang terlahir romantis, kau kerap kali bersuara lantang. Bukan, bukan karena kau sosok yang gemar berpelukan dengan emosi, melainkan karena tradisi keluarga. Aku paham itu setelah berulang kali ada di tengah keluargamu. Dan, tak satu pun dari mereka bisa berbisik, mereka kerap bicara lantang, tertawa, dan mengakhiri pertemuan dengan bernyanyi serta menari; kumaklumi, karena Opa memang berdarah Pakistan-India, bukan?

Pa, dulu, waktu aku masih belia, jika mama sedang marah, kau bukan memadamkan apinya, namun justru menyiramnya dengan bahan bakar, sehingga rumah yang awalnya damai, seketika menjadi penuh kecemasan. Aku, mas, dan abang menyaksikan bagaimana kalian saling berteriak, seumur hidup, akan kujadikan itu sebuah pengalaman, tak akan kuulangi di dalam rumah tanggaku kelak, karena kutahu benar bagaimana sakitnya hati seorang anak, melihat orangtuanya bertengkar.

Tapi, sekarang semua sudah kupahami, Pa. apa-apa penyebabnya, kenapa kau dan mama gemar memupuk benci dalam cinta. Kusyukuri karena semua itu hanya masa lalu. Entah bagaimana awalnya, keluarga kita justru tumbuh sabar dan insya Allah saling mencinta di jalan Allah, insya Allah.

Kau dengan segala kesabaranmu, kuyakin jika 1001 pria di dunia ini yang memiliki kesabaran yang setara denganmu, kau hebat, Pa. Akan jauh lebih hebat, jika kelak kau bisa seratus persen mengendalikan emosimu, dan marah dengan cara yang ramah. Agar tensi darahmu tak perlu meninggi, agar kau senantiasa sehat, agar kita terus bisa bersama.

Ah, benar saja kan, aku tak pernah kuat membahas hal macam ini, sudah sekuat tenaga kuatur napas, kutahan air yang ingin sekali terjun bebas dari mata. Namun? Gagal jua akhirnya. Aku masih di kantor, Pa. tak mungkin rasanya menangis di depan mereka yang tak tahu penyebabnya.

Aku memang gadis kecilmu yang mudah menangis, aku memang si bungsu yang perasaannya terlalu sensitif.

Pa, entah kapan kubisa menyuarakan kalimat ini di telingamu,

‘Puput sayang banget sama papa”

Tapi, kuyakin jika Allah tahu itu; jelas.

Pa, terima kasih karena terus ada untuk mama, terus sabar menghadapi segala situasi yang kuyakin tak semua kepala rumah tangga bisa lewati, terus rutin membersihkan kotoran kucing di rumah, karena kau memperhatikan kesehatanku sebagai anak perempuanmu. Terima kasih karena kau tak pernah merasa pekerjaan rumah adalah pekerjaan istri dan anak perempuan saja, terima kasih karena telah menjadi cinta pertamaku, dan menjadi panutan.

Maaf jika kusempat menambah daftar dosa-dosamu, maaf jika kutelat menutup rapat aurat, maaf jika dulu kusempat sulit diingatkan untuk beribadah, dan maaf untuk segala yang tak bisa kusebutkan.

Pa, kita (mama, mas, abang, kak Oni, dan aku) akan terus berusaha membuatmu bahagia, dengan cara kita. Kau akan bisa merasakan cinta kita, hanya dengan satu cara, menerima kami sebagai kami, bukan seperti mereka, karena kami bukan mereka.

Pa, tetaplah ada di sini, di hatiku, sebab kau akan selalu menjadi pria pertama kecintaanku.

Sssssssssttt.. kuakhiri surat ini ya, Pa. Masih ada yang harus kurapihkan sore ini, sampai jumpa di lantunan kata cinta berikutnya.

Salam sayang,

Anak perempuanmu satu-satunya; Puput.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#PriaPertama
#Papa