Pernah dan Masih

Tempat dengan bentuk persegi
Menjadikan rumput sebagai alas memijak kaki
Mekar indah terlebih mawar yang putih
Bersandar pada pelepas letih

Kemudian awan mengajak langit berdansa
Menghapus lara dan hujan yang hampir saja ada
Sepasang mata sedang asik dengan lembar sebelumnya
Masih di sana atau memang tak akan pindah?

Ada tawa yang pecah
Di balik tangis yang sembunyi
Ada tanya yang enyah
Di balik takutnya jawab merobek hati

Namun asa tak pernah pergi
Ia selalu ada meski kerap nyala dan mati
Hingga nyawa mencipta sepi
Nyatanya ragu bisa membunuh diri

Sepasang kaki yang berdiri di sana
Dengan beda dalam segala yang sama
Pertanyaan pertama pecah dengan kecewa
Untuk yang kedua damai dengan bahagia

Kepada tawa yang dulu merekah
Percayalah jika waktu akan berbaik sangka
Membiarkan segala yang pernah
Senantiasa bisa kembali tercipta

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#HariPuisiInternasional
#WorldPoetryDay
#PernahdanMasih

Dua Puluh Enam

Sebenarnya, tak ada yang spesial pada hari kedua puluh enam bulan dua tahun ini. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kulanjutkan suara yang sempat tertunda beberapa jam sebelumnya.

Seperti tak mengenal lagi siapa yang sebenarnya kukenal baik. Setengah mati kuyakini hati untuk percaya pada diri sendiri, namun upayaku kembali patah dan tak lagi ada dalam satu wadah.

Kupaksakan logika melawan hati. Kemudian ia menari kala kubertanya; mungkinkah semua nyata?

Melangkah dan melangkah lagi. Kepalaku menoleh. Ada yang menyebut namaku di ujung sana; ruang yang kukenal namun asing warna dan harumnya.

Satu dua pijak, sampailah jiwa pada lembar sebelumnya.

Tiba-tiba saja jemariku memeluk benang. Kusut. Namun tak bisa untuk dilepaskan. Kucari lagi dan lagi cara tuk menyudahi kekacauan.

Ah! Jemariku terluka. Tetes demi tetes darah mengalir, benang yang kukira biasa, tajam nyatanya.

Namun jemariku masih belum bisa berhenti. Entah mengapa ia masih saja melanjutkan tariannya tuk bisa mengantar kusut kembali pada keadaan semula.

Air mata yang sebelumnya mengalir karena luka, darah yang kini mengering karena belum sempat ia seka, masih melekat pada apa yang ia sebut jiwa.

Kemudian malam terasa datang lebih awal, namun ia kesulitan untuk melekatkan kelopak mata satu dan lainnya.

Hai, dua puluh enam memang tak berakhir mudah. Namun, harap akan selalu ada, mungkin saja Tuhan titipkan pada detik berikutnya, atau entah di waktu yang mana.

Tertanda, mawar putih yang masih terjaga.

#PenariJemari