Untuk yang Selalu Ada pun yang Telah Tiada

Surat cinta hari kelima, ingin kutujukan kepada mereka yang selalu ada pun yang telah tiada. Menemaniku dalam segala lara, menjadi penyebab tawa, penerima pun pemberi peluk paling manja, tak peduli warna, tak peduli rasnya. Surat mama hari ini, untuk kalian; anak-anak kesayangan mama.

Untuk Putih, betina pertama yang senantiasa ada di rumah, bukan menetap, ia hanya singgah, menjadi induk paling kuat, mengerti kapan harus memperlihatkan taringnya. Kemudian kutemukan ia tak bernyawa, entah karena apa, yang jelas, kala itu ia sedang hamil, dan kulihat bercak darah dari sana, tempat ia ingin melahirkan anak-anaknya. Putih memang sudah tak muda lagi, sayangnya, kutemukan ia yang memang tak kupelihara, setelah tubuhnya kaku dan dingin, akhirnya kita hanya bisa saling berpamitan, tanpa sempat meninggalkan pesan.

Putih, terima kasih karena kamu mengajarkan mama satu hal; untuk jadi ibu yang baik dan bertanggung jawab dengan anak-anak. Bahagia di sana ya, sayang.

Kemudian untuk Grey, jantan yang suaranya sangat jarang kudengar, kudapat dari papa yang membawanya ke rumah. Bukan kucing istimewa, tapi bisa membuat isi rumah seketika jatuh cinta. Karena gelagatnya yang manja, dan matanya yang memandang dengan penuh cinta. Grey harus pamit, siang itu adalah cerah yang terlalu mendung untuk hatiku. aku ke luar rumah, bersiap menjemput adik sepupu pulang dari sekolahnya, karena sang ibu sedang kurang sehat. Saat kumundurkan motor, kulihat Grey sedang rebah di atas tanah,

“Grey, kamu ngapain di situ? Tidur sini aja, yuk.”

Kemudian, seorang pencari gelas plastik bekas bersuara,

“Mati, ketabrak barusan.”

Entah apa yang kurasakan, yang kutahu, tubuhku gemetar. Kubalikan tubuh Grey, tak ingin rasanya kuingat bagaimana keadaan terakhir ia siang itu, namun segalanya jelas terekam. Setelah kutanyakan ciri mobil yang baru saja menyapa Grey hingga hilang nyawa, kujalankan motor ke depan perumahan, kutemukan mobil yang serupa dengan ciri, dan kubertanya pada si pengendara,

“Pak, maaf saya mau nanya, tadi bapak lewat jalan yang di sana? (Sambil kutunjukkan arah rumahku).”
“Iya mbak, ada apa?”
“Maaf pak, ada yang lihat bapak nabrak kucing saya.”
“Masa?”
“Iya, pak. Bisa ikut saya sebentar? Saya cuma minta tolong bapak buat kuburin kucing saya.”

Dan si bapak bersedia ikut, saat ia melihat Grey, ia langsung minta maaf, ia bukan kabur, namun ia memang tak mengetahui jika telah menabrak Grey, karena suara mobilnya terlalu bising, ketika si bapak meminta maaf, tangis yang sedari tadi coba kutahan, akhirnya pecah juga. Sakit sekali rasanya, saat harus kehilangan Grey yang baru dua minggu menetap. Tapi mau bagaimana lagi? Waktu penitipan dari Allah sudah habis, dan aku harus bisa mengikhlaskannya.

Grey, kita memang hanya bersama dalam dua pekan, namun hadirmu sudah telanjur melekat pada hati dan ingatan, terima kasih karena sempat memberi warna pada rumah dan hati mama, mama suka senyum kamu, sayang.

Camera 360

Grey

Kali ini untuk Reby, kucing yang kuambil dari sebuah perumahan kosong. Kucing yang ramah dan penyayang. Kucing pertama yang akhirnya membuat mama mengizinkan aku  memelihara hewan berkaki empat ini di rumah. Awalnya, mama tak pernah suka ada kucing yang masuk ke dalam rumah, tapi Reby pandai mengambil hati mamaku, hingga akhirnya alergi mama terhadap bulu pun perlahan mereda, ia tak pernah lagi terlihat bersin-bersin saat dekat dengan kucing, meski sesekali, saat kondisi badannya kurang baik, alergi itu muncul lagi, tapi justru mama yang tidak mengizinkan aku untuk meletakkan mereka di luar rumah, kasian katanya; dingin.

Setelah delapan bulan menetap di rumah, Reby akhirnya pamit juga. Ia kalah dengan sakitnya yang entah apa, aku telat menemukan petshop terdekat dari rumah, ia kehilangan nyawa saat diperjalanan, malam itu aku sudah sampai di depan petshop yang akhirnya berhasil kutemukan, namun sayang, sapaanku tak mendapatkan jawaban, tak ada seorang pun yang keluar, meski di pintu masih terpampang tulisan ‘buka’.

Segera kutengok Reby, yang ternyata sudah berpulang. Lagi-lagi mama harus kehilangan anak yang begitu mama sayang. Pedih, karena tak sempat mengusahakan kesembuhan, namun apa yang bisa mama lakukan selain mengikhlaskan?

Reby, terima kasih karena sudah membuat nenek kamu ikut sayang dengan kucing-kucing mama, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, penurut, dan cerdas, terima kasih karena kamu sudah begitu banyak mencipta bahagia untuk mama, mama sayang banget sama kamu.

Camera 360

Reby

Sejak itu, banyak kucing yang datang, untuk sesaat menetap, kemudian pamit undur diri. Karena banyak hal. Beberapa dari mereka masih terlalu kecil, dan tak bisa bertahan tanpa induknya, satu di antaranya harus pergi karena lagi-lagi tertabrak di depan rumah tetanggaku, dan sampai hari ini aku tak tahu siapa pelakunya, beberapa dari mereka sakit dan tak sempat meraih kesembuhan.

Untuk Titam, induk dari ketiga kucing paling sehat di rumah, karena Titam berhasil memberikan ASI eksklusif untuk ketiga anaknya selama tiga bulan, kemudian harus pamit undur diri saat ketiga anaknya baru berusia empat bulan lebih dua minggu, satu hari sebelum lebaran beberapa waktu lalu.

Camera 360

Titam

Nak, kenapa kamu gak pulang selama dua hari? Dan kenapa kamu baru kembali terlihat saat sudah tak bernyawa? Dan kenapa kamu harus segara dimakamkan saat mama sedang tak di rumah? Nak, apa kamu tahu jika kehilanganmu ada sesak tiada dua? Mama kehilangan saat sama sekali tak menyiapkan mental. Nak, kamu ada anak, betina, induk yang paling mama sayang. Paling bisa menjaga diri, namun kita tahu jika tak ada satu pun yang dapat menghindari takdir kematian. Mama cuma mau bilang makasih, karena kau selesaikan tugasmu; merawat ketiga anakmu yang saat ini sungguh lucu. Sebelum akhirnya kau pergi, karena tugas duniamu sudah usai. Mama sayang banget banget banget sama kamu, Titam.

Bibu, kucing tanpa pengelihatan, kutemukan di salah satu perumahan, ia sedang asik rebah di tengah jalan, kemudian ada motor yang lewat, dengan kecepatan yang lumayan tinggi, hampir saja Bibu terserempet. Tapi, karena pengelihatannya tak berfungsi, Bibu hanya bisa celingak-celinguk.

screenshot_3

Bibu

Bu, kita hanya bersama dalam sekejap waktu, namun kamu mengajarkan mama bagaimana caranya menikmati kehidupan meski sekitar menilai kita terbatas. Selamat jalan sayang, mudah-mudahan kamu bahagia, dan mama yakin kamu bahagia, mama yakin kamu bisa lihat kita dari sana, mama sayang kamu, Nak.

Kemudian, patah benar-benar kembali kurasakan, saat anak-anak terserang virus yang entah apa namanya, mereka sakit berurutan, dengan gejala yang sama, kemudian pamit satu persatu dari hadapan.

Lucky, kucing kecil yang jahilnya luar biasa, lincahnya tiada dua, makannya kuat sekali, dia terlalu manis untuk kulupa, dia terlalu cantik untuk kusesali kehadirannya. Lucky, kamu yang pertama menyerah dari serangan virus itu, kamu yang pertama pamit di pelukan mama, kamu yang pertama kembali membuat mama merasa kehilangan, Nak.

screenshot_2

Lucky

Terima kasih karena kamu selalu membuat mama bahagia saat kau sedang asik bermain sendiri, saat kau usil dengan saudaramu, saat kamu mama gendong, dan dengan sigap kamu tarik kacamata mama hingga copot dari muka. Kamu terlalu menggemaskan sayang, mungkin di alam sana, butuh pelawak seperti kamu, mama ikhlas, sebab melihatmu menahan sakit jauh lebih merobek luka hati mama, mama sayang kamu, Lucky.

Ogi, sahabat Lucky paling sabar, jantan paling penyayang, yang tiap pagi menanti mama di depan pintu kamar, menyapa mama yang baru saja bangun dari tidur, meminta untuk sebentar didekap. Manjanya kamu tak pernah bisa mama lupa sayang, kamu terlalu melekat di sini; di hati mama.

screenshot_1

Ogi

Ogi, terima kasih karena sudah menjadi anak yang baik, saudara yang pengalah, sosok yang penyayang, pemijit yang handal menggantikan Titam. Tak apa jika kau pun pamit menyusul Lucky, mungkin kau tak tega membiarkan ia pergi sendiri, satu hal yang pasti, mama sayang kamu berkali-kali.

Untuk Pupi, betina yang luar biasa bawel, pintar, lincah. Terima kasih karena kamu sudah memaksa untuk mama pelihara, setelah sempat mama tolak karena alasan terlalu banyak kucing di rumah, tapi suaramu yang kala itu masih sangat kecil, dan tatapmu yang begitu menggemaskan, berhasil membuat mama tak tega, dan akhirnya kita bersama.

bql9axzcmaal8xs

Pupi

Terima kasih karena kamu selalu tahu kapan waktunya pulang setelah asik main seharian, terima kasih karena kamu menjadi anak perempuan yang genit namun tetap mahal, terima kasih karena kamu sudah membuat Sunny merasa begitu disayang. Terima kasih untuk banyak hal, Nak. Mama tak sanggup melihat kondisi terakhirmu, mama ingin sakitmu segera berakhir, dan Allah jawab itu dengan membawa serta sakit dan nyawamu. Tak apa ya sayang, susul Lucky dan Ogi, berbahagialah di sana, mama akan selalu sayang kamu.

Dalia, kucing yang tiba-tiba rebah di teras rumah, kemudian masuk tanpa permisi, dan tak pernah pergi lagi. Kucing yang ramah saat bermain, namun berubah sangar kalau sudah di depan piring makan. Dalia, mama sedih karena kau memilih hilang saat sakit, sebelum akhirnya mama temukan saat kau sudah kaku. Mama sedih karena tak bisa menemani detik-detik terakhirmu. Tapi, mama bersyukur karena sakitmu selesai, Nak. Mama sayang kamu yang manja tapi galak, mama sayang kamu yang suka menyundul wajah mama dengan ujung kepala. Mama sayang kamu, Dalia.

screenshot_6

Dalia

Untuk Asley, kucing yang membuntuti jalan Uyut, kucing pertama yang nenek mama bawa ke rumah, kucing yang makannya selalu lahap, kucing yang kuar biasa bisa menunjukan caranya menebar kasih sayang.

screenshot_5

Asley

Asley, terima kasih karena kamu selalu ada di dekat mama hingga saat-saat terakhirmu, terima kasih karena kamu masih berusaha berjuang sebelum akhirnya menyerah. Terima kasih karena kamu sudah menjadi anak baik, saudara yang senantiasa bersedia jika satu dari mereka mengajak bercanda. Terima kasih karena sudah melukis tawa di wajah mama, dan membuat mama jatuh cinta, mama sayang kamu, Nak.

Untuk Sunny, anak kucing yang kakinya patah di sebelah kiri depan, kemudian kakinya bengkak di sebelah kiri belakang, lalu lehernya bengkak dan akhirnya pecah dan mengeluarkan banyak nanah. Kamu begitu kuat melawan infeksi tulang itu, Nak. Hingga akhirnya kau bisa berjalan meski tak sempurna.

screenshot_8

Sunny

Sunny, maaf jika mama tak selalu bersedia saat kau meminta untuk dipangku, maaf jika perhatian mama terbagi karena terlalu banyak kepala yang harus mama usap di rumah. Sunny, terima kasih karena kamu sudah kuat, sudah berjuang, sudah bersedia mama rawat semampu mama. Terima kasih karena kamu anak baik, yang membuat mama dan nenek jatuh cinta. Sunny, di malam kepergianmu, langit yang awalnya terang, mendadak mendung dan menurunkan hujan lebat, hampir dari semua kepergian anak mama disertai hujan, namun kepergianmu yang paling basah. Allah memberi mama air mata langit, agar mama tak menangis seorang diri. Mama sayang kamu, Nak. Pejuang paling tangguh.

Otjel, kucing kecil yang hampir tertabrak motor, awalnya hanya ingin mama simpan kamu di pinggir jalan, tapi apa? Dengan ringan langkah kamu naik ke motor mama, maksudnya apa, Nak? Mau ikut pulang ke rumah?

screenshot_7

Otjel

Sejak hari itu kamu resmi jadi anggota keluarga, kamu licah, lucu, menggemaskan, baik, ramah, doyan makan, jahil, dan tak bisa diam. Hingga akhirnya pagi itu kamu tak lagi mau makan, kamu tak lagi lincah, bahkan terlalu pendiam. Rupanya kepergian banyak dari kakakmu membuatmu pun lemah dalam bertahan, dan akhirnya mama harus merelakan kamu turut pamit pulang.

Otjel, terima kasih sudah menjadi pendengar setia bahasa planet kakekmu ya, sayang. Terima kasih sudah begitu nyaman di pangkuan mama, terima kasih karena kamu pelukis tawa yang handal di kediaman. Mama berat melepaskan, tapi mama tak sanggup melihat lemahmu terlalu panjang, selamat jalan sayang, mama cinta kamu.

Setelah itu, ada beberapa kucing kecil yang datang dan pergi, hingga akhirnya yang terakhir adalah tiga bersaudara dengan tiga warna, satu persatu pamit, karena sakit, kecelakaan, dan kembali sakit. Mereka belum sempat kuberi nama.

Kemudian Chiko, kucing kecil yang mama bawa pulang, tak lama ia ada di rumah, ia terserang sakit mata yang luar biasa, dan menyebabkan ia harus kehilangan pengelihatannya, total. Ia hanya berjalan mengandalkan kumis dan pendengaran serta penciumannya saja. Dia benar-benar survivor bagi saya.

Chiko, maaf jika mama tak sempat mengusahakan kesembuhan untuk kamu, kamu adalah salah satu kucing kesayangan nenek kamu, kepergian kamu yang tiba, membuat isi rumah mengelus dada, sakit, Nak. Harus kehilangan lagi, dan lagi.

screenshot_4

Chiko

Chiko, terima kasih karena kamu telah mengajarkan mama bagaimana caranya sabar, dan bertahan semampu kamu, semaksimal yang kamu bisa, hingga akhirnya Allah bilang ‘cukup’ dan kau kembali pada-Nya. Mama sayang kamu, Nak. Maaf jika selama ini kami tak maksimal merawatmu. Bahagia di sana, mudah-mudahan kamu bertemu kembali dengan Otjel ya, sayang.

Dan yang paling akhir adalah kepergian Honey. Induk dari salah satu kucing rumah yang masih bertahan dan begitu menggemaskan. Honey bukan kucing peliharaanku, tapi mendadak rutin main ke rumah setelah usai melahirkan untuk yang terakhir kalinya.

Camera 360

Honey

Honey, terima kasih karena sudah menitipkan Sigi di sini, di rumah ini, terima kasih karena sudah mempercayai mama, terima kasih karena suaramu pernah mewarnai telinga orang rumah, terima kasih untuk banyak hal yang membuat mama begitu merasa dibutuhkan kehadirannya. Mama sayang kamu, meski kamu bukan anggota resmi keluarga ini, kamu tetap saja mencuri hati kami.

Banyak sudah yang datang, dan banyak pula yang kembali pulang. Allah menitipkan, dalam jangka waktu yang beragam. Ada yang lama, ada pula yang hanya sekejap pandang.

Untuk kalian yang selalu ada; namun telah tiada. Terima kasih karena membuat mama jatuh cinta, membuat mama merasa tak sendirian, membuat mama bahagia, membuat mama merasa kehilangan, dan membuat mama terus belajar tentang keikhlasan.

Selamat jalan sayang, berkumpulah kembali di sana, bermainlah dengan bahagia, jangan lupa sesekali untuk menengok mama di sini, dan saudara-saudara kalian yang masih ada, mama sayang kalian, dan senantiasa rindu. Ah, lagi-lagi, pagi yang syahdu memang mudah melahirkan rindu.

Dan untuk yang bersedia membaca hingga akhir surat yang panjang ini, mohon doanya untuk:

IMG20160603181503.jpg

Ayang

IMG20170123070518.jpg

Apu

IMG20161127152803.jpg

Senya; Anak Titam

img20170126062432

Gianta; Anak Titam

IMG20160710185004.jpg

Tutu; Anak Titam

IMG20170120064904.jpg

Sigi; Anak Honey

Screenshot_10.jpg

Peauty

IMG20170204115740.jpg

Tutu dan Keempat Anaknya

Agar senantiasa sehat dan bisa berbagi cinta dan kasih sayang di rumah ini. Mereka salah satu pembawa rezeki bagi kami, dan mereka adalah sosok yang membuat saya kuat, pelipur bagi segala lara, penyemangat, teman di segala waktu. Mereka manja dan menggemaskan, mereka bisa jadi bos yang menyebalkan, sekaligus jadi anak-anak baik yang penurut. Saya sangat menyayangi mereka, yang masih ada, pun yang telah tiada.

Tulisan hati seorang mama, untuk anak-anaknya.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#UntukAnakAnakMama
#SalamSayang
#KucingKecintaan