Dua Puluh Enam

Sebenarnya, tak ada yang spesial pada hari kedua puluh enam bulan dua tahun ini. Semuanya berjalan seperti biasa, hingga akhirnya kulanjutkan suara yang sempat tertunda beberapa jam sebelumnya.

Seperti tak mengenal lagi siapa yang sebenarnya kukenal baik. Setengah mati kuyakini hati untuk percaya pada diri sendiri, namun upayaku kembali patah dan tak lagi ada dalam satu wadah.

Kupaksakan logika melawan hati. Kemudian ia menari kala kubertanya; mungkinkah semua nyata?

Melangkah dan melangkah lagi. Kepalaku menoleh. Ada yang menyebut namaku di ujung sana; ruang yang kukenal namun asing warna dan harumnya.

Satu dua pijak, sampailah jiwa pada lembar sebelumnya.

Tiba-tiba saja jemariku memeluk benang. Kusut. Namun tak bisa untuk dilepaskan. Kucari lagi dan lagi cara tuk menyudahi kekacauan.

Ah! Jemariku terluka. Tetes demi tetes darah mengalir, benang yang kukira biasa, tajam nyatanya.

Namun jemariku masih belum bisa berhenti. Entah mengapa ia masih saja melanjutkan tariannya tuk bisa mengantar kusut kembali pada keadaan semula.

Air mata yang sebelumnya mengalir karena luka, darah yang kini mengering karena belum sempat ia seka, masih melekat pada apa yang ia sebut jiwa.

Kemudian malam terasa datang lebih awal, namun ia kesulitan untuk melekatkan kelopak mata satu dan lainnya.

Hai, dua puluh enam memang tak berakhir mudah. Namun, harap akan selalu ada, mungkin saja Tuhan titipkan pada detik berikutnya, atau entah di waktu yang mana.

Tertanda, mawar putih yang masih terjaga.

#PenariJemari 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s