Setengah, lalu?

Semuanya memang berawal dari keputusan yang diambil setengah hati.

Berusaha yakin jika hujan malam itu ialah pertanda.

Memeluk segala kata yang sebenarnya jauh dari angan. Meninggalkan lara; seolah tuk menjemput tawa.

Nyatanya memang tak pernah mudah. Sebab di hari berikutnya selalu ada tangis yang pecah. Kemudian lantunan-lantunan menyiksa.

Lantas diri bisa apa? Hanya mematung dan tertawa.

Bahagiakah?

Hati bercerita pada mata jika sebenarnya ia sedang asik menertawakan langkah yang keliru. Kemudian menangisi jejak yang telanjur pindah jalur.

Sepekan kemudian logika angkat suara, sebab mendung senantiasa menguasai langit, dan ia tak sudi jika harus selamanya hidup jauh dari cahaya.

Pandangannya berputar, langkahnya kembali. Ada senyum dan harap yang sedang ia bangun di sana; di tempat yang pernah memeluknya erat.

Namun Tuhan benar-benar tak pernah membiarkan jiwa seorang bimbang kembali keliru memilih jalan.

Ada tawa di sana. Ada bahagia yang merekah. Jelas beda; ia tak lagi menari dalam sepi.

Kemudian kutertawa; setengahku kini menjawab dengan cara yang beda. Lantas aku harus apa?

Terus berjalan, menikmati kehidupan, memahami jawaban yang tak terlontar langsung dari apa yang kerap kali membuat semesta letih dalam lemahnya.

Ssssssssstt.. bangunlah, lanjutkan langkahmu ke sudut sana, sebab setengah lainnya sudah terlalu lama menunggu. Setia meskipun tak pernah ada satu pun harap yang pasti.

screenshot_67

Ingatlah, dulu kau pernah hidup dengan langkah yang penuh kebahagiaan. Kau bisa ciptakan lagi!

#PenariJemari

#SatuHariSatuTarian

#Tersadar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s