Tiga Puluh Tahun

screenshot_1

Ulang Tahun Pernikahan ke 29

Jadi, kemarin sudah kutulis surat cinta untuk pria kecintaanmu. Iya, untuk Papa. Sudahlah, Ma. Akui saja jika Papa memang pria terbaik dalam hidupmu, dan aku bersyukur karena saat muda dulu, kalian bertemu, kemudian sepakat untuk menikah.

Dan, surat cinta hari kedua ini; untukmu. wanita kecintaan yang memiliki jenjang usia tiga puluh tahun di atasku.

Apa kau tahu, jika tiba-tiba saja aroma kopi begitu menyengat di kantorku, dan wajahmu terbayang jelas di kepalaku. Sebab, tiap pagi, kau selalu rutin menyapa cangkir yang berisi minuman kesayanganmu itu.

Ma, aku ingat jelas, bagaimana kau begitu telaten mengurus mas, abang, dan putri bungsumu ini. Aku ingat bagaimana kau selalu menyiapkan sarapan; bahkan menyuapi kita dengan perjanjian, minimal tiga sendok makan, yang pada kenyataannya kuhitung kau berhasil mengecohku hingga sepuluh kali suap. Hahahaha.

Tak apa, aku paham jika kau hanya ingin memastikan kami siap belajar di sekolah, dengan asupan makanan yang sebelumnya kau siapkan.

Kau juga sosok ibu yang tak pernah membiarkan rambut kami berantakan, yang senantiasa memastikan jika pakaian kami rapih dan licin, tak boleh ada sedikitpun kusut yang tertinggal. Bahkan kau dinobatkan ibu rumah tangga dengan kemahiran menyetrika baju tingkat tinggi. Aku bangga, Ma. Kau nomor satu dalam hal kebersihan.

Kau juga selalu membuat kita bahagia saat sampai di meja makan, karena masakanmu tak pernah terasa buruk. Kau adalah koki terbaik untukku. Guru terbaik dalam banyak hal yang bersinggungan dengan ‘tugas perempuan’.

Wejanganmu tentang banyak hal, kan selalu kuingat, dan senantiasa berhasil membuatku mengurungkan niat untuk melakukan hal yang tak perlu.

Kau selalu bilang, jika kau mendoakanku sejak dalam kandungan, dan salah satu doa yang kerap kali kau nyatakan adalah “Kalau hamba punya anak perempuan, berilah ia jodoh yang mencintai dia tulus, bukan karena nafsu, atau fisik semata.” Dan, aku yakin jika Allah mendengar doamu, Ma. Aku yakin lelaki itu sedang dalam perjalanannya, tak usah gusar, kau harus percaya jika Allah menyiapkan kebahagiaan cinta; untukku. Berkat doamu.

Ma, terima kasih karena telah bersedia menjadi sahabat terbaik, sekaligus teman debat dengan durasi paling lama. Kau manusia keras kepala yang tak pernah ingin kulepas. Kau manusia yang gemar meluapkan emosi, namun tak sedikitpun ingin kusiakan.

Mungkin, jika aku tidak terlahir dari rahimmu, aku tak akan sampai di lembar indah hidupku saat ini.

Bohong jika kita tak pernah bertengkar, karena adu pendapat denganmu selalu membuatku rindu. Kita kerap bicara dengan suara yang lantang, kau gemar menggangguku hingga kukesal, namun akhirnya? Tawa kita pecah, tak berlebihan rasanya jika kita bersyukur karena saling memiliki.

Ma, terima kasih karena selalu bersedia menyantap masakanku yang belum selezat masakanmu, atau mungkin tak akan pernah menandingi kelezatan hasil masakanmu, hahahaha. Terima kasih karena telah mendidikku dengan cara yang kuanggap tepat.

Mungkin, kau yang sekarang bukan lagi kau yang dulu. Kau sudah mudah lupa dengan segala hal. Mulai dari lupanya kamu menyimpan sesuatu, hingga sulit untuk mengingat percakapan yang baru saja telingamu dengar.

Tak apa, Ma. Aku ada di barisan paling depan, jika nantinya mereka bersiap menyerang. Dulu, kau melindungiku dengan cara yang baik dan ramah pada sesama. Dan, sekarang aku kan berusaha melindungi dengan cara yang serupa.

Aku sedang belajar, mengatur emosi yang tak perlu kuluapkan, sebab kita sama-sama tahu jika Allah senantiasa Memeluk.

Ma, lembaran hidup yang sempat kelam, cerita yang sempat buram, tak perlu lagi dikenang, sebab aku tak akan berhasil mencipta bahagia untukmu sekarang, jika kau masih saja sibuk dengan cerita-cerita duka di masa lalu.

Hmm, sebenarnya masih banyak yang ingin kusampaikan, namun lagi-lagi aku harus segera menyudahi surat kali ini.

Harapku sama dengan surat sebelumnya, bisa berbisik tepat di telingamu,

“Ma, Puput sayang banget sama, Mama.”

Entah kapan, tapi insya Allah akan.

Terima kasih karena telah menjadi semesta yang tak pernah ingin kutukar, meski hanya sekejap pandang.

Dari anak bungsumu yang kerap menyebalkan, namun selalu kau akui jika aku begitu mudah membuatmu rindu.

Salam sayang,

Puput.

#PosCintaTribu7e
#TigaPuluhTahun
#PenariJemari
#Mama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s