Pria Pertama

screenshot_1

Ulang Tahun Pernikahan ke 29

Dari awal Januari, sudah kubuat daftar siapa-siapa saja yang akan mendapatkan surat cinta dariku; tahun ini. Tapi, begitu tahu jika Bosse sudah bahagia di surga, daftar itu tiba-tiba hangus, kukira tak akan lagi ada #30HariMenulisSuratCinta.

Hingga sore ini, aku masih saja bingung, harus menuliskan surat cinta untuk siapa, namun aku tak ingin menyiakan tujuh hari ke depan, dan akhirnya terbayang wajah pria tercinta, saat ia sedang marah, kesal, lelah, bahagia, haru, hingga saat tersulit; kala kubuat ia menangis.

Surat pertama ini untukmu, Pa.

Sengaja kutulis semua karena lisanku tak pernah sanggup menyuarakan segala yang peka dengan hati. Aku terlalu mudah menangis, aku terlalu ringkih untuk menyampaikan maksud baikku, Pa.

Aku kerap melarangmu menyantap cemilanku, bukan karena kikir atau alasan kotor lainnya, aku hanya tak ingin gula darahmu lepas dari kontrol dan kembali melihatmu terbaring sakit. Lebih baik kulihat kecewamu karena tak ada satu pun dari kita yang mengunyah manis, dari pada harus menuruti keinginanmu, dan menyaksikan tubuhmu merasakan segala lemah.

Biar nanti, sesekali kubuatkan kue, atau apa pun yang kau suka, tapi ingat. SE – SE – KA – LI. Bukan tiap kali kau minta. Hahahaha.

Pa, kita tahu benar jika kau bukan pria yang terlahir romantis, kau kerap kali bersuara lantang. Bukan, bukan karena kau sosok yang gemar berpelukan dengan emosi, melainkan karena tradisi keluarga. Aku paham itu setelah berulang kali ada di tengah keluargamu. Dan, tak satu pun dari mereka bisa berbisik, mereka kerap bicara lantang, tertawa, dan mengakhiri pertemuan dengan bernyanyi serta menari; kumaklumi, karena Opa memang berdarah Pakistan-India, bukan?

Pa, dulu, waktu aku masih belia, jika mama sedang marah, kau bukan memadamkan apinya, namun justru menyiramnya dengan bahan bakar, sehingga rumah yang awalnya damai, seketika menjadi penuh kecemasan. Aku, mas, dan abang menyaksikan bagaimana kalian saling berteriak, seumur hidup, akan kujadikan itu sebuah pengalaman, tak akan kuulangi di dalam rumah tanggaku kelak, karena kutahu benar bagaimana sakitnya hati seorang anak, melihat orangtuanya bertengkar.

Tapi, sekarang semua sudah kupahami, Pa. apa-apa penyebabnya, kenapa kau dan mama gemar memupuk benci dalam cinta. Kusyukuri karena semua itu hanya masa lalu. Entah bagaimana awalnya, keluarga kita justru tumbuh sabar dan insya Allah saling mencinta di jalan Allah, insya Allah.

Kau dengan segala kesabaranmu, kuyakin jika 1001 pria di dunia ini yang memiliki kesabaran yang setara denganmu, kau hebat, Pa. Akan jauh lebih hebat, jika kelak kau bisa seratus persen mengendalikan emosimu, dan marah dengan cara yang ramah. Agar tensi darahmu tak perlu meninggi, agar kau senantiasa sehat, agar kita terus bisa bersama.

Ah, benar saja kan, aku tak pernah kuat membahas hal macam ini, sudah sekuat tenaga kuatur napas, kutahan air yang ingin sekali terjun bebas dari mata. Namun? Gagal jua akhirnya. Aku masih di kantor, Pa. tak mungkin rasanya menangis di depan mereka yang tak tahu penyebabnya.

Aku memang gadis kecilmu yang mudah menangis, aku memang si bungsu yang perasaannya terlalu sensitif.

Pa, entah kapan kubisa menyuarakan kalimat ini di telingamu,

‘Puput sayang banget sama papa”

Tapi, kuyakin jika Allah tahu itu; jelas.

Pa, terima kasih karena terus ada untuk mama, terus sabar menghadapi segala situasi yang kuyakin tak semua kepala rumah tangga bisa lewati, terus rutin membersihkan kotoran kucing di rumah, karena kau memperhatikan kesehatanku sebagai anak perempuanmu. Terima kasih karena kau tak pernah merasa pekerjaan rumah adalah pekerjaan istri dan anak perempuan saja, terima kasih karena telah menjadi cinta pertamaku, dan menjadi panutan.

Maaf jika kusempat menambah daftar dosa-dosamu, maaf jika kutelat menutup rapat aurat, maaf jika dulu kusempat sulit diingatkan untuk beribadah, dan maaf untuk segala yang tak bisa kusebutkan.

Pa, kita (mama, mas, abang, kak Oni, dan aku) akan terus berusaha membuatmu bahagia, dengan cara kita. Kau akan bisa merasakan cinta kita, hanya dengan satu cara, menerima kami sebagai kami, bukan seperti mereka, karena kami bukan mereka.

Pa, tetaplah ada di sini, di hatiku, sebab kau akan selalu menjadi pria pertama kecintaanku.

Sssssssssttt.. kuakhiri surat ini ya, Pa. Masih ada yang harus kurapihkan sore ini, sampai jumpa di lantunan kata cinta berikutnya.

Salam sayang,

Anak perempuanmu satu-satunya; Puput.

#PosCintaTribu7e
#PenariJemari
#PriaPertama
#Papa

Advertisements

2 thoughts on “Pria Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s