Dinding Kamar

Baru lima belas yang melekat. Punya peran masing-masing dalam ingatan. Dan, selalu berhasil bikin gue senyum (lagi) tiap ngeliatnya, bahkan beberapa kali puas rasanya gue ngetawain diri sendiri. Mulai dari tiga kali empat yang melekat di bagian kiri atas, cerita di balik yang satu itu sederhana, kejadiannya di ruangan kecil dekat DPR (di bawah pohon rindang), kawasan paling strategis yang dipakai anak-anak buat istirahat  makan, bercanda, dan gak jarang DPR juga dijadiin tempat memadu kasih ala anak putih abu. Cukup. Balik lagi ke cerita di balik foto dengan background warna merah; untuk ijazah. Dengan bekal jas hitam yang gak sesuai ukuran, dasi hitam yang digunakan secara bergantian, sampai rambut pendek gue yang baru masuk fase salah potong beberapa hari sebelumnya. Tapi, gue selalu suka dan percaya diri dengan yang satu itu, dan baru kali ini gue ngetawain diri gue sendiri tanpa punya rasa malu. (Dilarang protes!) Hahahahahahaha.

Turun sedikit, masih di bagian kiri, ada tujuh remaja perempuan yang lagi asik gaya, Neno dan Uci yang saling pandang sembari meluk boneka, Unuy yang senyum sumringah, Pota yang senyum bareng boneka bebeknya, Asri yang pose malu-malu pakai lima jarinya, plus Achild yang asik sama boneka bola di pelukannya. Sementara gue? Menatap lurus ke depan, dengan boneka serupa pilihan Achild, dan pandangan mata yang selamanya akan seperti itu; sendu. Dari kecil mata gue memang terkesan dingin dan sendu. Dan, itu namanya: Na? sib! Hahahahaha.

Lima lainnya masih bersama orang yang sama; Unuy, Neno, Uci, Pota, Asri, Achild, plus gue. Dengan pilihan gaya yang keren pada masanya, namun lagi-lagi berhasil bikin gue ketawa sekaligus mikir “Ternyata benar, untuk jadi dewasa, kita perlu melewati masa-masa seperti ini, menggelikan, namun tak sama sekali perlu disesali”.

Dari semua yang ada, terselip satu yang berbeda, yaitu bingkai kebahagiaan mama saat gue masih berusia lima. Kala anak-anak asik main sambil belajar di dalam kelas, mama dan orangtua murid yang lain sibuk berbincang tentang apa saja, yang terekam dalam gambar ini, mereka lagi bahagia banget, gak tau karena apa, dan selalu berhasil bikin gue kangen sama mereka; guru-guru masa kecil gue. Cuma dua nama yang gue ingat, Bu Euis dan Bu Wulan. Selebihnya gue cuma ingat wajah, tapi lupa sama nama mereka masing-masing.

Geser dikit lagi ke arah kanan, ada lima bingkai kebersamaan yang selalu gue kangenin, ada dua yang mau gue ceritain. Pertama pas kita janjian buat bawa baju ganti, kaos yang selalu kita anggap seragam panti, tapi bikin gue mikir sekalipun gue ada di panti, asal sama mereka pasti akan tetap nyenengin. Gue suka pas Mely, Hilda, gue, dan Oge ngerasa imut dengan boneka dalam pelukan, bergaya bak gadis lugu, sementara Neno lebih milih mendaratkan dua telunjuknya di kedua bagian pipi kanan dan kirinya. Terus di mana Babank, Uci, dan Tata? Mereka mendarat di bawah, dengan senyum yang dimanis-manisin. Kita semua berasa manis, padahal? Kita memang manis pada masanya sih. Hahahahahaha.

Kedua, setelah sekian lama gak ketemu karena ada yang sibuk kerja pun kuliah, akhirnya kita ketemu lagi. Hari itu kita saling ngasih boneka kesukaan masing-masing. Gue dapat boneka kepala Garfield. Terus kita karaokean sambil nunggu hujan reda. Neno dengan kerudung pink-nya, Uci dengan baju polkadotnya, Tata dengan ketawa polosnya, Oge dengan senyum nanggungnya, Babank dengan kaos santainya, Mely dengan nyengir ngeselinnya, Hilda dengan bando yang sekarang rutin dipakai Nay; anaknya. Gue dengan kaos plus kemeja yang sengaja gak dikancingin, berasa cool. Padahal, preeeeettt.

Geser lagi ke kanan, kita hampir selesai. Kali ini terbingkai kebersamaan gue sama kakak dan adik perempuan gue semasa putih abu. Udah lama gak ketemu, pas ketemu langsung diajak nongkrong di toko donat, makan, minum, sambil foto-foto pake kamera komandan. Tapi tetap aja kita ngerasa perlu membingkai kenangan pakai cara lain. Chika dengan kerudung biru mudanya, Ipat dengan baju yang warnanya senada sama kerudung Chika, dan gue dengan jeans plus poloshirt. Iya, dulu kita pernah sedekat itu.

Baiklah, akhirnya kita sampai di bingkai terakhir. Cetakan terbaru, sepuluh Juni lalu. Mulai dari nemuin Uci yang lagi sibuk sama maskaranya di tempat makan cepat saji, sampai akhirnya Neno datang dan kita langsung karaoke. Percayalah, perginya kita ke tempat ginian ya cuma buat gila-gilaan, nyanyi fals dari awal sampai akhir, ngelawak gak jelas, sampai ngehibur Nay yang sempat ngambek. Jelas aja dia uring-uringan, anak belum tiga tahun udah diberisikin sama suara gak jelas. Hahahahaha. Lanjut makan, terus foto. Gitu aja kita mah. Gak neko-neko. Hahahahaha.

Mulai dari Uci yang pengin banget bisa rehat dari kerjaan rutinnya, terus Neno yang pengin napas dari kerja plus kuliahnya, kemudian Hilda yang pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama Nay, dan gue yang juga pengin balik kerja lagi, tapi masih berat sama orang rumah, belum tega ninggalin mereka tanpa ada sosok anak di rumah. Lebay? Bodo amat, bwek!

Yang jelas, gue bersyukur karena semua yang terekam selalu tentang kebahagiaan, kegilaan, dan makin ke sini makin penuh dengan kejujuran, apa adanya kalian. Kalo mau teriak ya teriak aja, kalo mau ngapain aja ya monggo, gak ada yang keberatan, lepasin beban, karena percuma nemuin sosok yang jarang ada di dekat kita kalo waktunya abis buat serius dan akting.

Intinya, dinding kamar gue selalu berhasil bikin gue yang baperan ini jadi terus kangen. Iya, gue kangen banget sama masa-masa itu. Sama mereka. Dan semoga nantinya dinding kamar gue makin penuh sama kenangan-kenangan yang nyenengin kayak gini.

Jadi, siapa lagi yang mau melekat di dinding kamar gue? Lumayan, lho. Seenggaknya gue mandangin kalian minimal sekali sehari, sebelum gue tidur. Jadi, kalo gue mimpi buruk, kalian tanggung jawab, yaaa! Hahahahahaha.

#PenariJemari
#SatuHariSatuTarian
#RekamGambar
#MomenPenting

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s