Teruntuk Enam Manusia

Wanita yang setahuku usianya kurang lebih sudah mencapai delapan puluh enam tahun, wanita yang mempunyai kaki begitu kuat, wanita yang mudah terharu, wanita yang enggan ditinggal sendiri di rumah, wanita yang jatuh cinta terhadap ikan terlebih ikan asin, wanita yang kerap bercerita bagaimana perasaannya untuk tiap-tiap anaknya, wanita yang tawanya hampir selalu berhasil membuatku ikut tertawa, wanita yang mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran wanitaku. Iya, ini untukmu, Nek.

Terima kasih untuk banyak hal yang tak bisa aku jabarkan, untuk manis, lucu, bahkan ngambeknya nenek. Terima kasih karena nenek sabar menghadapi aku yang pasti pernah menyebalkan, aku yang pasti pernah manyun tanpa alasan, tapi percayalah jika manyunku tak lain karena perutku nyeuri bukan main, kala PMS tiba.

Kemudian untuk wanita yang gemar bicara namun senang menyebutku dengan kata ‘bawel’ wanita yang begitu menyayangi papanya, wanita yang begitu mudah mengingat memori masa lalu tapi kesulitan mengingat apa-apa yang baru saja terjadi di menit sebelumnya, wanita yang keras kepala tapi kemudian hari dengan tertawa mampu mengakui kesalahannya, wanita yang selalu minta kuajak ke manapun aku pergi meski akhirnya selalu mengeluh sakit karena terlalu banyak duduk, wanita yang menemaniku tertawa terbahak-bahak pun menangis sesenggukan. Iya, ini untukmu, Ma.

Terima kasih karena masih bersedia melipatkan pakaianku yang baru saja kau angkat dari jemuran, masih saja mau menanyakan apa-apa yang sekiranya ingin kujadikan santapan, masih senantiasa mendengarkan pendapatku meski kerap kali kasih sayangku kau artikan sebagai kakunya aturan, tapi itu tak mengubah apa pun. Kau tetap wanita nomor satu dan tak akan tergeser sampai kapan pun.

Lalu pria yang berhasil membuatku tertawa puas sesaat setelah melihat keterangan tempat tanggal lahir di buku rapot SD nya, karena di sana ia mengaku lahir di Canada, padahal jelas-jelas asli lahir di Jakarta. Pria yang suaranya mudah meninggi, pria yang terlalu jujur, pria yang menyayangi penerima pertama suratku kali ini. Iya, ini untukmu, Pa.

Papa mengajarkanku bagaimana tulusnya seorang menantu menyayangi dan memperhatikan mertua seperti orangtuanya sendiri. Kau masih saja mau melakukan kerjaan rumah meski kau sedang sakit. Kau begitu mempesona. Saat kami terlelap dan kau menghadap Tuhan dengan begitu syahdu. Tak ada kantuk sedikitpun. Meski aku kerap emosi saat kita berbicara dengan nada tinggi, tapi kita berhasil tertawa bersama di menit berikutnya.

Dan, kau pria paling ramah di mata orang, pria paling rajin, bahkan lebih rajin dariku. Kau bisa tidur dengan begitu mudah dan langsung pulas. Kau bisa fokus dengan tv atau hp sehingga membuatku dan yang lain harus sedikit teriak agar kau dengar apa yang kami bicarakan terhadapmu, kau menyebalkan, tapi juga kurindukan dan masih saja bisa membuatku khawatir saat kau pulang lewat dari jam normal. Iya, ini untukmu, Mas.

Terima kasih karena kau masih saja bersedia membuatkan mie instant permintaanku, dan entah kenapa mie buatanmu jauh lebih enak untuk disantap kita semua. Terima kasih karena kau mau mencuci tumpukan piring, meski ada ketimprang ketimprung di tengah-tengahnya. Terima kasih karena kau mau menyapu dan mengepel rumah hingga bersih. Setidaknya dengan begitu kita bisa memaafkan kebiasaanmu yang gemar menyimpan alat makan kotor di bawah meja, dan baru kau ingat setelah beberapa hari piring dan lainnya berkerak. Kau garing, tapi belakangan mulai lucu dan menghibur isi rumah ini.

Pria yang kini kepalanya plontos, yang bobot badannya bertambah meski tak beleberan. Pria yang irit bicara, namun begitu romantis dengan caranya. Pria yang terlihat kuat, namun tak malu jika harus menangis di hadapan orang terkasih. Pria yang begitu menjagaku dari pergaulan yang tidak baik, sejak kukecil, hingga kini. Iya, ini untukmu, Bang.

Terima kasih karena kau masih mengkhawatirkanku, terima kasih karena kau masih selalu memastikan aku berada dalam lingkaran aman, terima kasih karena tak lelah mengingatkanku untuk terus memperbaiki diri. Terima kasih karena kau selalu punya caramu sendiri untuk membuat kita terenyuh. Kau adalah sosok yang dingin namun begitu menghangatkan.

Terakhir, untuk wanita pilihan abang. Wanita yang begitu manis, yang tak segan memberi perhatian untuk papa mama selayaknya orangtuamu sendiri, wanita yang manut dengan abang selama abang benar, wanita yang hampir tak pernah mengeluh tentang kekurangan abang, wanita yang begitu mengerti abang, wanita yang begitu membuatku bersyukur karena abang insya Allah tak salah pilih pendamping. Iya, ini untukmu, Kak.

Terima kasih karena kau bersedia masuk ke lingkup keluarga kami, aneh, terlihat renggang, namun nyatanya kami begitu saling menguatkan. Terima kasih karena kau telah jadi wanita hebat, sampai akhirnya abang yang sekarang bisa jadi pribadi yang jauh lebih baik, dalam urusan agama pun sosialisasi lainnya. Terima kasih karena kau sabar menghadapi suara yang ceplas-ceplos dari keluarga kami. Selama ada aku, kau tak perlu rungsing, aku akan senantiasa membantumu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka, yang tak jarang menyakiti hatimu dan mereka melupa atas kuasa Tuhan. Terima kasih karena kau bersedia menjadi bidadari abang, di dunia dan insya Allah di akhirat kelak.

Teruntuk enam manusia terdekat yang kupunya dan kusyukuri, baca surat ini baik-baik:

Aku menyayangi, mengasihi kalian, meski bagi mereka kalian kurang, bagiku kalian adalah segala berkah Allah untuk hidupku. Aku sayang kalian, yang tak kuragukan jika kalian pun menyayangiku.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhsatu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s