Sepasang yang Tak Lagi Muda

Hampir 29 tahun kalian bersama dalam halalnya cinta, si bungsu yang tak lain adalah aku, sudah beranjak dewasa, bukti kalian tak lagi muda, tapi masih saja bisa kuajak bercanda, semauku, dengan bahasa yang tak perlu kupilih, kalian mendengar, menerima, dan serempak menertawakan segala leluconku, dari yang masuk akal, sampai tarian-tarian bodohku, namun bagi kalian di sanalah letak rindu untukku tercipta, saat aku tak ada di rumah,  kalian merindukan suaraku yang cenderung bising dari pada merdu. Kalian merindukan celotehku yang kerap kali tak ada isinya, hanya sekadar haha hihi yang kuusahakan dapat membuat bibir kalian tertawa.

Untukmu pria penyuka binatang yang bersanding dengan wanita pecinta kebersihan, terima kasih telah bertahan dalam rumah tangga yang jalan ceritanya tak melulu manis, aku bahagia karena kau terus berusaha menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Aku beruntung karena jadi gadis kecil yang selalu kau dengarkan tiap kali aku bersuara, kamu selalu menghargai apa pun pendapatku, kamu begitu percaya denganku, yang paling kuingat saat kau mengaku terharu setelah membaca tulisan yang kubuat untukmu beberapa waktu lalu.

Kepada wanita berkepala banteng yang sepakat halal dengan pria bertubuh ikan, terima kasih karena kau selalu semangat menjalani hari, meski di sela-sela waktu tak jarang kubuat kau kesal bukan kepalang. Marahmu tak pernah absen dari hariku, tapi setelah semua reda, kita kembali tertawa berdua, membicarakan apa saja yang kita bisa bicarakan, sejak pagi hingga malam tiba, bahkan saat kita ingin pergi tidur, percakapan seru tak jarang jadi pengantarnya.

Untuk mama dan papa, terima kasih karena kalian berhasil  menjadi orangtua yang super, lebih super dari Pak Mario. Aku tahu jika menghadapi aku, mas, dan abang bukanlah perihal mudah. Kita tiga kepala yang berisi jauh berbeda. Satu lembut, satu keras, dan yang satunya lagi di pertengahan. Kadang keras bukan main, namun di sisi lain dapat melembut, lebih lembut dari tahu sutera. Ah, aku sudah mulai mengigau.

Ma, Pa, aku mohon jangan menangis, biarkan air mata kalian menetes hanya saat haru datang, bukan pedih, sedih, dan pahit. Karena saat kalian terluka, aku jauh lebih merasakan sakitnya. Dan, saat kalian dihina, aku jauh lebih marah sementara kalian hanya tersenyum dan menerima. Aku jauh lebih ingin memaki mereka yang merendahkan kalian. Namun, lagi-lagi kalian memintaku sabar.

Aku terdiam dan gemetar menahan ledakan emosi yang tak berhasil kukeluarkan. Kalian bilang, cukup tersenyum dan tak perlu membalas. Aku teriak, apa-apaan ini? Sampai kapan sabar harus jadi jawaban? Dan, kalian memelukku, kalian bilang, sabar bukanlah perasaan yang perlu kutanya sampai kapan harus kupertahankan, namun sabar ialah rasa yang baiknya tertanam sepanjang hidup. Ah, aku meleleh. Lagi-lagi kalian mengajarkanku hal baru tanpa sedikitpun menggurui, tanpa sedikitpun memaksa.

Kalian adalah sepasang manusia kecintaanku, yang tak pernah menuntutku untuk jadi apa yang kalian mau, yang tak memaksaku untuk memiliki pikiran yang seragam dengan yang kalian harap, yang tak mengekang pergerakanku selama aku bisa mempertanggungjawabkannya.

Syukurku tiada habis saat lagi dan lagi aku sadar terlahir dari rahim seorang wanita tegar nan lembut. Pun bahagiaku tak pernah mengenal sudah saat aku sadar diriku berada dalam pelukan pria paling romantis sepanjang masa. Kepada mama dan papaku tercinta, aku jatuh hati dan tak ingin sedikitpun lepas dari pelukan kalian; berdua.

Screenshot_2014-05-09-00-18-37-1

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKesepuluh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s