Pematah Rasa

Kepadamu yang kerap kurindu, terima kasih karena kau turut serta meringankan kepindahanku; dari hatimu. Terima kasih karena kau begitu tegas dan dingin, terima kasih untuk segala luka yang kau gores sedikit demi sedikit, apa kau tahu jika kian lama lukaku kian menganga? Kemudian mengering dan sembuh. Berjalan tanpa pernah menghentikan langkah, melangkah tanpa pernah berbalik arah. Terima kasih karena kau sudah begitu angkuh dalam acuh.

Kepadamu yang kerap ingin kutemui, terima kasih karena kau selalu menggagalkan rencana kita, terima kasih karena dengan tidak sengaja kau mencegah kita untuk kembali bertatap muka, terima kasih karena kau memudahkan aku untuk berdamai denganmu; masa laluku.

Lucunya, rasa itu tetap saja tumbuh; lagi dan lagi. Ajaibnya, wajahmu masih saja tergambar jelas dalam ingatan di malam-malam penuh bintang pun senja yang hujan. Aku terkejut saat kau kembali menyapaku dengan manis dan begitu lembut, seolah kau membawaku pada masa itu, dan aku hampir saja kembali jatuh dalam pelukanmu.

Perlahan, sangat perlahan, kau juga yang membantuku sadar, jika segala rasa yang tumbuh harus kupatahkan sebelum kembali bersemi. Patahkan dan patahkan lagi. Tertawa dan tertawa lagi. Menangis? Aku sudah tak ingin lagi. Untuk apa berair mata dalam menghadapi luka yang sama? Cukup sudah basah pada masanya, kini tak perlu lagi. Sesak masih terasa, namun tak akan kubiarkan rasa itu mematikan detak jantungku.

Tetap bisa bertatap muka, tetap dapat saling memandang dalam dekat, namun bukan lagi untuk saling mengisi, berkawan denganmu adalah mungkin, meskipun kau berasal dari masa lalu tergelapku, aku masih dapat melihatmu, tak perlu bersembunyi di balik cerita itu. Kita akan baik-baik saja, sebab patahku telah pulih seutuhnya, aku sadar jika mereka yang dengan sengaja mematahkan segalaku tak salah sepenuhnya. Sebab, tanpa izinku, mereka tak akan pernah bisa melukaiku. Tanpa mauku, mereka tak akan pernah bisa mematahkanku.

Untuk kamu dan kamu yang pernah  mematahkanku, tenang saja, tak ada dendam pun amarah, sedikit pun tidak. Meski ikhlas tak pernah mudah, namun aku telah sampai di ujung jalan yang mereka bilang terjal. Kamu dan kamu tetap dapat memanggil namaku, dan aku akan tetap menoleh, berjabat tangan? Tentu. Saling mengisi (lagi)? Pribadiku enggan, namun tetap tak kuasa melawan takdir Tuhan.

Salam damai dariku yang pernah kau patahkan, terima kasih. Aku mensyukuri segala tentang aku, kamu, dan kamu.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKesembilan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s