Lima

Kepada lima dalam istana, yang tak lain adalah diriku sendiri, lima setelah papa yang pertama, kemudian mama yang kedua, dan begitu seterusnya untuk mas dan abang yang akhirnya berhenti padaku; si Lima. Lantas, mengapa Lima? Karena aku anak ketiga dari sepasang orangtua yang begitu luar biasa. Mereka tak pernah memintaku untuk jadi seperti yang mereka mau, mereka membebaskanku melangkahkan kaki ke manapun aku mau pergi, mereka selalu menanti kepulanganku selelah apa pun hari yang telah mereka jalani. Bersyukur sudah aku karena hidup di dunia dan Tuhan dekatkan segalaku pada mereka.

Untuk #30HariMenulisSuratCinta hari kelima, aku menjelma menjadi si Lima, seorang perempuan yang pernah melewati masa remaja dengan cerita yang begitu indah, kerap berlari di atas lapangan dengan baju kebesaran yang tertera angka lima di punggungnya. Bermain dengan senja hingga langit pekat mengantarkan ia pada malam, yang kadang hangat namun tak jarang pula dingin mencekam.

Yang kelima dalam istana, yang senantiasa lekat dengan angka lima di punggungnya, yang juga terlahir pada bulan kelima; meski bulan hampir saja berakhir. Lima bukan sekadar angka, sejak tiba-tiba saja aku menjadi begitu dekat dengannya. Bukan hanya aku yang dekat dengan angka lima, tapi juga kamu, sebab kau adalah si Lima yang resmi menduduki hatiku. Meski itu dulu, saat kita belum terpisah kembali menjadi kau dan aku.

Aku tak ingin warna surat cintaku pada hari kelima menjadi kelabu, maka biarkan aku menceritakan yang indah-indah saja di sini. Seperti kamu yang masih saja menjaga hubungan baik denganku. Seperti kamu yang masih saja lucu. Seperti kita yang pelan-pelan mulai bisa menerima kejadian lalu. Dan, seperti kita yang masih berharap satu sama lain mendapatkan yang terbaik pada akhirnya. Mereka bertanya, mengapa tak aku saja yang berusaha menjadi yang terbaik untukmu, dan kau menjadi yang terbaik bagiku? Mereka lupa, jika kehendak Tuhan tak dapat kita lawan, setidaknya untuk yang satu ini.

Aku rindu masa di mana aku dapat bermain dan berlari dengan senja di lapangan yang tak jarang memeluk tubuhku dalam jatuh, aku rindu melihatmu di sudut itu, aku rindu mengenakan baju berangka lima yang melekat di punggungku, aku rindu segala yang telah kuurai sebelum aku sampai pada kalimat ini.

Untuk surat cinta hari kelima, untuk si Lima dalam istana, untuk lima yang melekat pada punggung bahagia, untuk bulan kelahiranku; bulan kelima, dan lima yang sempat bersatu denganku hingga jadi kita. Terima kasih atas segala kurung buka angka tiga; cinta.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKelima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s