Dag Dig Dug

Aku kerap patah arah, tak jarang kesendirian membuatku ingin sekali kembali tuk memeluk masa lalu, namun tak bisa. Sebab, masa laluku telah bahagia dengan pasangannya yang baru. Sementara aku? Masih terombang-ambing ke tidak pastian.

Dia mendekat, kemudian berusaha memikat. Dan, gagal. Aku hanya tertarik sejenak, kemudian mundur sepenuhnya. Karena aku tahu jika ia sedang (berpura-pura) serius, berharap bisa menarikku dalam permainannya yang hitam.

Satu dua masa lalu. Satu dua rindu. Satu dua sepi. Sering kali mereka mengejek, tentang aku yang hampir kepala tiga namun belum juga punya rencana menikah. Namun tiba-tiba?

Lututku yang lemas, badanku yang nyeri, kepalaku yang pusing, dan segala lelah yang kupunya sebagai oleh-oleh dari luar kota, terbayar dengan hadiah dari Tuhan yang sangat tak kuduga. Aku berkenalan dengan seseorang di sana, di kota yang awalnya tak pernah kuduga jika kini menjadi tempat aku menemukan dia.

Lelaki berkacamata, memikatku dengan segala perhatian dan candanya, aku bercerita pada mereka, bagaimana bahagiaku mengenalnya, dan mereka mulai turut berdoa. Agar yang kali ini menjadi masa depanku, bukan hanya sekadar lewat dan melamar menjadi masa laluku.

Sampailah pada malam-malam paling menegangkan, di mana aku kesulitan memilih baju, badanku membesar karena terlalu senang dan banyak makan, syukurnya dia tak pernah mempermasalahkan pipiku yang begitu menguasai wajah, dan anggota tubuhku lainnya yang perlahan membuat pakaianku satu per satu mengundurkan diri dari tugasnya.

Ah, jantungku berdetak dengan sangat kencang, jika saja aku tak bisa menguasainya, ia sudah melompat keluar dari dadaku. Dia akan datang, bersama keluarganya, menemui keluargaku, dengan keseriusan, keyakinan, ia ingin meminta pada keluargaku, untuk sebuah restu, agar aku dan dia dapat sepenuhnya satu.

Dia melamarku. Dan aku diam membisu. Bukan karena tidak mau. Tapi, karena aku begitu bahagia dan haru. Bismillah. Aku akan jadi istri dan calon ibu dari anak-anak kita. Dan, kau akan jadi suami tercintaku, serta ayah terbaik bagi anak-anak kita kelak. Insya Allah. Terima kasih, Mas. Aku sayang kamu.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s