Suara yang Berbalik Arah

Angie berlari dari kamarnya, dan langsung menyalakan kendaraan roda dua kesayangannya, kemudian ia melaju dengan kecepatan tinggi, rumah Karin adalah tujuannya malam itu. Dalam perjalanannya, Angie ditemani kalut dan air mata, deras yang begitu penuh luka. Sedangkan Karin yang tak mengetahui apa-apa, sedang asik memetik gitar di teras rumahnya, menikmati malam yang berbintang, lengkap dengan purnama.

Satu dua lagu telah Karin mainkan dan ia meletakan gitarnya untuk kemudian menyeruput susu hangat yang sudah dingin, bersamaan dengan itu Angie tiba di hadapan matanya. Wajahnya lusuh, rambutnya berantakan, matanya sembab dan memerah. Karin terkejut dan langsung memeluk Angie meski ia belum mengetahui apa yang menjadi penyebab sahabatnya menangis.

“Lo kenapa, Ngie? Kok tumben malam-malam ke sini, segala bawa air mata banyak banget, muka kucel, rambut berantakan, mata sembab,  kenapa?” Tanya Karin pada Angie sembari mengajak sahabatnya duduk di bangku teras, ia mengusap pundak sahabatnya dengan penuh kasih, seusai melepaskan pelukan yang cukup menenangkan Angie.
“Agha, Rin.” Jawab Angie singkat namun dapat membuat Karin turut merasakan sesak di dada Angie.
“Kenapa sama si Agha? Coba cerita, gue gak mau nebak-nebak.”
“Gue sama Agha mesti pisah, Rin.” Angie masih menjawab dengan kalimat-kalimat singkat yang berhasil membuat Karin makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kenapa mesti pisah?”
“Dua minggu lagi Agha mau nikah, Rin, tapi bukan sama gue.”
“Dia selingkuh? Dari kapan? Sama siapa?” Karin mulai emosi karena merasa sahabatnya dipermainkan, namun ia masih berusaha sabar menunggu Angie menjelaskan duduk permasalahannya hingga selesai.
“Gue gak ngerti, Rin, mendadak aja dia ke rumah gue, sama cewek, terus dengan entengnya dia bilang bakal nikah sama cewek itu, dan lo tau apa yang bikin gue lebih nyesek?”
“Apa?”
“Mereka datang ke rumah gue gak cuma berdua, tapi bertiga.”
“Sama siapa lagi?”
“Agha, cewek itu, plus anak di kandungannya. Agha udah hamilin cewek itu, Rin. Usia kandungannya udah masuk bulan kedua.” Tangis Angie kembali pecah, ia makin sesenggukan, badannya terkulai karena terlalu lelah menangis.
“Hamil? Dihamilin sama si Agha? Kok bisa? Brengsek!” Karin tak lagi dapat menahan emosinya, ia benar-benar marah dengan perlakuan Agha pada sahabatnya, namun kini giliran Angie yang meredam.
“Lo jangan nyalahin Agha, gue percaya dia gak brengsek, gue yakin cewek itu yang udah godain Agha sampai akhirnya mereka kayak sekarang.”
“Agha udah brengsek kayak gitu masih lo belain? Iya? Lo malah nyalahin cewek itu? Lo kira itu cewek bakal hamil tanpa ditidurin sama Agha? Lo pikir si Agha itu cowok baik-baik? Iya? Setelah dia ngelakuin semuanya ke lo?” Karin semakin emosi mendengar pernyataan bodoh sahabatnya.
“Agha cowok yang baik, Rin. Gue yakin cewek itu yang kegatelan, gangguin cowok gue, gue yakin Agha gak sengaja ngelakuin semuanya.”
“Lo tau bego gak, Ngie? Hah? Tau gak? Kalo lo gak tau bego itu apa, sekarang lo ngaca, lo lihat cermin, lo tatapin dalam-dalam, lo bakal lihat cewek bego di sana. Gue heran sama lo, lo cewek, sama kayak selingkuhannya si brengsek, tapi kenapa lo malah bela Agha dan nyalahin cewek itu? Malah lo ngejudge itu cewek yang gatel, lo gak takut?”
“Takut apa?”
“Lo juga cewek Ngie, gue juga cewek, malam ini kita bilang cewek itu gatel dan murahan, bisa jadi malam besok kita ada di posisi yang sama kayak cewek itu.”

Angie dan Karin masih melanjutkan perbincangan mereka sampai larut malam, dan Angie memutuskan untuk menginap di rumah Karin, mereka terus bertukar pikiran, Karin yang begitu marah dengan Agha pun Angie, tetap setia memeluk sahabatnya yang sedang berduka, Karin memang marah dan kecewa karena sahabatnya masih saja percaya pada lelaki yang sudah menyakiti hatinya macam Agha, tapi Karin tak serta merta mengacuhkan Angie, ia tetap ada di samping Angie, dan terus mendekap sahabatnya semalaman.

Keesokan harinya, saat Angie ingin pamit pulang pada Karin, mereka berdua dikejutkan oleh sosok yang ada di teras rumah Karin. Iya, Agha telah duduk di bangku teras dengan begitu santai dan tenang, seolah tak memiliki salah apa-apa.

“Brengsek! Mau ngapain lagi lo ke sini? Hah?” Tanya Karin pada Agha sembari menarik kerah baju Agha hingga ia terbangun dari duduknya, kemudian Karin mendorong Agha hingga terhimpit pada dinding rumahnya.
“Gue gak ada urusan sama lo, gue ke sini karena gue tau Angie ada di sini, gue mau ngomong sama dia.
“Lo mau ngomong apa? Ngomong di sini, di depan gue, atau lo gak perlu ngomong apa-apa sama Angie.” Karin benar-benar marah pada Agha, ia meminta Agha bicara di hadapan matanya, agar ia dapat memastikan Agha tidak lagi mempengaruhi Angie yang masih sangat menyayangi Agha.

Agha menjauh dari Karin dan perlahan mendekati Angie yang air mukanya kembali berawan. Agha hampir menggenggam tangan Angie, namun gagal karena Angie telah lebih dulu berhasil membaca keadaan dan menarik tangannya ke belakang. Agha sejenak terdiam, kemudian memulai pembicaraan.

“Sayang, maafin aku udah nyakitin plus ngecewain kamu, tapi sumpah, semua yang udah terjadi ini bukan sengaja aku lakuin, aku khilaf yang, waktu itu aku lagi banyak pikiran, aku gak tau mesti gimana, yang kepikiran cuma senang-senang sama dia, maafin aku yang.” Dengan mudah Agha mengatakan bahwa kehamilan perempuan itu adalah akibat kekhilafan mereka.
“Aku udah gak peduli, mau kamu bilang itu khilaf, atau apa pun, buat aku kamu udah khianatin kepercayaan aku, kamu udah nodain hubungan kita, awalnya aku emang masih mau pertahanin kamu dengan bikin kesimpulan kalo cewek itu yang salah karena udah bikin kamu tergoda dan mau nidurin dia, tapi akhirnya aku sadar, berkat Karin aku ngerti, kalo di sini yang salah bukan cuma kamu, bukan juga dia, tapi kalian. Karena kalian ngelakuin itu berdua, kalian harus tanggung segalanya berdua, gak usah bawa-bawa aku lagi ke masalah kalian, aku udah ikhlasin kamu, satu-satunya kesalahanku yang baru aja aku sadar sekarang adalah pernah jatuh cinta sama kamu, kamu yang sebenarnya aku tau gak pernah benar-benar sayang tulus ke aku, dan aku berdoa semoga ini kesalahan kalian yang pertama dan terakhir, semoga setelah ini kalian bisa hidup bahagia dan terus belajar untuk jadi lebih baik, buat anak kalian.” Jawab Angie tegas tanpa air mata, bahkan ia mulai bisa tersenyum, wajahnya kembali merona, lukanya seketika menghilang.
“Ngie, please, balik sama aku Ngie, aku sayangnya sama kamu, bukan sama dia, please percaya sama aku.”
“Gak bisa, Gha, kamu harus tanggung jawab, gak boleh ambil enaknya aja, kamu mesti ada buat dia selamanya, lagi pula buat aku kita udah selesai, aku udah maafin plus ikhlasin kamu.”
“Tapi aku maunya kamu, Ngie.”
“Lo ngerti bahasa manusia kan? Sahabat gue bilang dia udah ikhlasin lo sama cewek itu, terus ngapain lo masih di sini minta balik sama Angie? Lo bilang lo sayang Angie? Tapi ngapain lo nidurin cewek lain? Hah? Lo bilang lo khilaf? Khilaf kok sadarnya pas udah kelar enaknya? Brengsek!” Karin makin emosi mendengar pernyataan-pernyataan klise dari mulut Agha, mereka bertiga berbincang cukup lama, hingga akhirnya Agha pamit dan berjanji untuk menikahi perempuan yang telah ia hamili, Angie sudah jauh lebih membaik, dan Karin bersyukur sahabatnya hanya berpikir bodoh dalam semalam.

Angie tidak jadi pamit pulang, ia dan Karin kembali masuk ke rumah dan memutuskan untuk sarapan bersama, suap demi suap mereka selingi dengan pembicaraan.

“Ngie, gue salut lo bisa kayak tadi, tegas ke si Agha, dan gak ke makan omongan manisnya yang nol besar. Kalo ingat semalam lo nangis kayak gimana, jujur gue gak nyangka lo udah bisa senyum lagi.” Ucap Karin memulai pembicaraan.
“Semua berkat lo, Rin, lo udah banyak nyadarin gue, kalo di sini yang salah bukan cuma cewek itu, tapi juga Agha, dan gue gak boleh buta akan itu, gue makasih banget, lo bikin gue ngerasa gak salah pilih tempat cerita semalam, kalo aja semalam gue gak ke sini dan gak cerita sama lo, mungkin tadi gue udah ke makan omongannya Agha. Makasih banyak, Rin.”
“Ngie, maksud gue semalam ngomong gitu ke lo, bukan karena gue belain cewek itu, gue cuma gak mau lo nangisin laki-laki kayak Agha, gue gak mau lo ngomong sembarangan tentang cewek itu, gini Ngie, coba kita bayangin gimana sakitnya jadi cewek itu, hamil sebelum nikah, sama cowok yang gak beneran sayang sama dia, itu aja udah perih banget, masa iya dia masih harus kita hakimin? Selain itu, gue juga gak mau lo seenaknya ngomongin cewek itu, sementara kita gak tau kejadian sebenarnya kayak gimana, gue gak mau omongan lo tentang cewek itu balik ke diri lo sendiri, gue gak mau keburukan orang yang kita omongin nular ke kita, Ngie. Jadi, dari pada mesti nyalahin cewek itu dan tetap bertahan sama Agha, mendingan lo maafin cewek itu dan Agha, ikhlasin Agha, gue yakin Tuhan bakal kasih ganti yang jauh lebih baik dan tulus sayang sama lo. Ya, Ngie?”
“Rin, makasih karena lo udah ngingetin gue buat stop ngomongin keburukan orang, lo emang sahabat gue yang gak pernah sedikit pun mau gue ajak ngehakimin kesalahan orang, lo gak pernah mau nyari kesalahan orang, lo gak pernah mau jabarin keburukan orang, gue salut sama lo, Rin.”
“Ngie, yang jelek-jelek tuh cepat banget nularnya, gue gak mau semuanya berbalik ke gue, gue juga gak mau itu berbalik ke lo, makanya gue minta lo stop ngomong jelek, kita cukup tau aja, Ngie, kalo bisa ya doain biar mereka balik ke jalan yang benar, kita kan juga manusia, tempat salah dan segala kurang, jadi buat apa sibuk ngomongin kurangnya orang sementara kita masih jauh dari kata sempurna?”

Pembicaraan mereka pagi itu membuat mereka tidak sadar jika kegiatan sarapan sudah sampai pada suapan terakhir, usai membersihkan alat makan, mereka kembali berbincang, namun bukan lagi perihal Agha, pun perempuan itu, melainkan tentang kebaikan-kebaikan semesta yang tak akan pernah mengenal kata sudah jika ingin dijabarkan.

Karin benar, manusia ibarat sebuah ruang, ia dapat bersuara sesuka hati, entah tentang kebenaran atau kabar burung semata, entah tentang kebaikan pun keburukan, dan saat suara-suara itu dilayangkan, ia akan memenuhi ruang dan memantul, kemudian dapat merasuk ke dalam tubuh manusia, kapan saja Tuhan tentukan.

Tak ada manusia yang bersih hatinya, selama ia masih saja sibuk menghitung dosa orang lain, tak ada manusia yang suci hatinya, selama ia masih gemar membicarakan keburukan orang lain, dan tidak ada jaminan seseorang akan suci selamanya, jika masih saja ringan memandang orang lain jauh lebih rendah dari pribadinya.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari

Advertisements

2 thoughts on “Suara yang Berbalik Arah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s