Tak Ingin Sempurna

Aku tak ingin menjadi mawar yang selamanya mekar, sebab pada masanya aku ingin layu dan digantikan. Aku tak ingin terus dipandang ratusan pasang mata yang sedang berbahagia di taman tempat kutinggal. Aku ingin merasakan bagaimana menjadi layu, seperti yang temanku rasakan, mengering, dan diacuhkan. Aku ingin tahu, masihkah ada sosok yang bahagia ketika menerimaku dalam keadaan tak segar? Atau justru aku dibuang sebelum sempat tergenggam?

Aku tak ingin selamanya menjadi benar, seperti dua ditambah dua yang selamanya akan menjadi empat. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya salah, bagaimana rasanya kecewa, bagaimana rasanya terombang-ambing pasang surut air laut. Aku ingin merasakan tenggelam, pun mengapung.

Aku tak ingin selamanya lurus, aku butuh liku, aku butuh naik turun dalam hidupku. Menjadi kuat sudah kudapat, melawan ombak yang berusaha menjatuhkan tubuh pada tepian, kemudian berharap kuhanyut ke tengah lautan, dan nyatanya gagal, sebab aku mampu bertahan. Namun, aku pun ingin merasa kalah, aku ingin merasakan pahitnya ditolak, aku tak mau selamanya menjadi biru, aku butuh kelabu agar bisa merasakan rindu.

Aku tak ingin selamanya bersih, aku butuh noda, agar aku tak arogan pada semesta. Aku tak ingin merendahkan sesama dengan merasa jauh lebih di atasnya. Aku tak ingin merasa lebih bersih dari mereka yang terlihat kotor. Sementara kenyataannya? Mereka yang terlihat bernoda jauh lebih indah hatinya.

Aku tak ingin menghakimi hidup orang lain, aku tak ingin seenaknya menganggap keputusan orang lain adalah salah jika tak sepaham denganku, aku tak ingin menjadi dinding pembatas bagi gerak-gerik sekitarku. Aku bukan penjara yang akan dengan sengaja mencari kesalahan agar dapat lebih lama bersama dan berkuasa.

Aku heran, mengapa ada pasang mata yang bahagia ketika melihat orang lain bersedih? Pun orang yang merasa bangga atas kemenangannya yang begitu mengada-ada?

Bisakah kita duduk semeja? Aku ingin bertanya, pada sosok yang begitu memiliki iman, apa Tuhan mengizinkanmu menjadikan akhlak baik sebagai alat merendahkan sesama? Atau bahkan alat untuk menyalahkan orang yang kau anggap tak sepaham denganmu?

Aku juga ingin bertanya, pada sosok yang tak pernah absen menjalani perintah Tuhan, apa dengan begitu kau yakin jika kau mempunyai jaminan masuk surga? Sementara kau masih saja sibuk menilai orang lain dan selalu merasa kau jauh lebih putih, jauh lebih bersih, dan jauh lebih bersahaja dari mereka?

Terakhir, aku ingin bertanya, apa kau nyaman meletakan pijakan pada ketinggian? Sehingga tanpa sadar kau melupa, kamu masih berada di bumi, bukan di langit, lantas mengapa kau merasa begitu  tahu dengan apa-apa saja yang akan Tuhan putuskan? Atau jangan-jangan kau sudah tahu ke mana akhirnya kau akan pulang? Ke surga? Semoga saja.

Apa enaknya menjadi sempurna? Aku sama sekali tidak tertarik. Sebab, kesempurnaan akan memenjarakan diri kita, membatasi gerak kita. Kita tak akan lagi haus akan ilmu, kita tak akan lagi berlomba mendekat pada Tuhan, kita tak akan lagi merasa salah, apa enaknya hidup dalam datar? Tuhan sempurna, karena Ia memang Maha Segala, dan aku sangat percaya akan itu, aku sangat mencintai dan mengagumi-Nya, sementara kita? Hanyalah umat yang seharusnya terus mensyukuri waktu yang masih Tuhan beri, untuk terus memperbaiki diri. Memperbaiki diri, bukan merasa lebih baik dari orang lain, tapi merasa lebih baik dari diri kita di masa lampau. Mengajak sesama untuk ikut memperbaiki diri, bukan menghakimi mereka-mereka yang terlihat salah. Mengingatkan sesama untuk kembali ke jalur yang semestinya, bukan malah membuat jarak dan meninggalkan mereka yang sedang tersesat.

Tuhan beri kita petunjuk, ada yang dengan mudah dapat membaca, ada yang perlu waktu untuk mengartikannya, dan tak sedikit pula yang salah menerjemahkan petunjuk-petunjuk Tuhan. Tuhan beri kita tangan, bisakah kita saling menggenggam dalam kebaikan? Tuhan beri kita kaki, bisakah kita melangkah bersama tanpa perlu berusaha menjatuhkan mereka yang ada di sisi agar kita dapat lebih dulu sampai? Tuhan beri kita mata dan meletakannya pada wajah, bisakah kita gunakan untuk memandang secara sejajar bukan dengan pandangan yang merendahkan? Tuhan beri kita kata, bisakah pilih mana yang sejuk didengar? Bukan malah berlomba mendapatkan kesempatan tuk berucap bak jagoan.

Akulah perempuan yang kerap salah, dan bukan sedang berbangga atas kekeliruan yang kupunya, aku hanya ingin bercerita, siapa tahu dengan aku menceritakan kesalahanku, kalian dapat belajar tanpa perlu melakukan kesalahan yang serupa denganku. Aku masih perlu banyak belajar, dan akan terus belajar.

Aku masih terlalu kelabu untuk mengaku suci, aku masih terlalu salah untuk bersikap seolah paling benar sendiri. Dan, aku tak ingin setara dengan Tuhan, aku hanya ingin kelak dapat duduk tenang di pangkuan-Nya, tempat paling damai.

#TakInginSempurna
#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s