Pasang Surut.

Bagai pantai, ombak tinggi menggulung, kemudian tenang, menugaskan udara tuk menyapa tiap pori tubuh manusia dengan begitu syahdu. Lekat, meski tak dapat mendekap.

Ada bahagia yang membuatku terbahak, hingga baris gigiku yang tak rapih seutuhnya terlihat, kemudian mataku terpejam, hingga tawaku lahir tanpa suara. Aku begitu angkuh, seolah bahagia tak akan pernah berakhir. Dalam hidupku, ada pula saat senyum mengambil bagian, menyungging pada wajah yang sebelumnya terlihat dingin, menjadi jauh lebih hangat dan bersahabat.

Kemudian pertanyaan klise mulai berdatangan:

‘Lo pernah nangis gak sih?’

Aku hanya tertawa dan berlalu begitu saja. Aku tak pernah ingin menjawab pertanyaan yang sesungguhnya sudah dapat diketahui jawabannya.

Akulah kenari yang gemar berkicau dan menari, namun ada kalanya aku berdiam diri, menikmati dunia yang tak selamanya indah. Sebab, akulah gadis kecil yang mudah berair mata, semudah mereka dapat melihat aku berbagi tawa.

Pada udara aku berdansa di bawah bahagia, pada ruang pribadi kubagi segala resah di atas alas sederhana namun dapat membuatku begitu nyaman dan jujur seutuhnya. Satu dua bulir air mata menetes, tanganku sedang ingin beristirahat, maka tak ada aliran yang terusap, hingga ia mengering dengan sendirinya.

Apa aku adalah mawar yang paling layu? Atau akulah mawar hitam tak berduri? Tidak. Tidak separah itu. Aku tetap mawar putih yang berduri, hanya saja terkadang merasa lelah dengan cuaca yang berganti seenaknya. Ah, aku baru saja menyalahkan Tuhan.

Pada tepian yang sedang mengering, siapkah kau menyambut basah yang dalam hitungan detik akan datang? Siapkah kau kehilangan segala jejak yang sebelumnya begitu jelas tertinggal? Siapkah kau menerima pijakan yang begitu tiba-tiba karena seret ombak nan kuat datang tanpa permisi? Yang jelas, siap atau tidaknya dirimu, segalanya tetap akan terjadi, kau hanya dapat memilih, untuk memeluk Tuhan atau menua dengan cara menyalahkan keadaan?

Akulah barat yang menanti matahari pulang, tetap setia menanti matahari pulang meski aku sadar ia lebih memilih timur untuk menghabiskan waktu bersama, namun aku dapat berbangga, sebab di ujung waktu nanti, akulah tempat matahari sebentar pamit untuk terbit.

Pada bibir yang tak berhenti bicara, telingaku setia mendengar. Pada tubuh yang demikian rapuh, pelukku senantiasa sanggup menguatkan. Pada segala yang terbuang sia, akulah perawat yang tak dapat menjanjikan kesembuhan, namun setidaknya aku dapat meyakinkanmu, jika aku tak akan menelantarkanmu, seperti apa yang telah ia lakukan; sebelumnya.

#SatuHariSatuTarian
#PenariJemari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s