Tulisan tentang anak, dari seorang anak perempuan yang belum memiliki anak.

Membuka tulisan kali ini dengan rasa rindu, iya, saya rindu menulis di sini, karena belakangan saya kerap kehilangan mood menulis, dan jika saya haruskan menulis, jemari saya seolah bisa balik memaksa untuk berhenti. Tapi, tenang, kali ini saya pastikan tulisan saya selesai, setidaknya satu judul.

Untuk yang belum tahu, saya adalah seorang anak perempuan berusia 22 tahun, yang belum memiliki anak karena belum menikah, belum menikah karena jodohnya belum datang, ia masih berpetualang dengan hidupnya, dan saya hanya bisa berdoa, semoga ia senantiasa melangkahkan kaki dalam jalan yang benar hingga akhirnya sampai di hadapan saya yang insya Allah senantiasa juga sedang membenahi diri.

Sedari kecil, sejak saya masuk taman kanak-kanak, saya sudah menyukai anak kecil, bermain dengan adik dari teman sebaya saya, mengasuh mereka sambil tertawa bersama. Beranjak remaja, saya sempat menjadi anak yang usil, entah kenapa saya suka mengecup pipi anak kecil, kencang sekali, sampai anak itu menangis atau setidaknya merasa kesal, dan saya bahagia melihat ekspresi mereka yang seperti itu, bagi saya itu lucu. Tapi, alhamdulillah, setelah dewasa kebiasaan itu berhasil saya sudahi, saya tetap gemar mengecup balita, tapi tak lagi sampai membuat mereka menangis pun kesal.

Sepertinya tulisan saya kali ini akan panjang, semoga pasang mata yang telah sampai pada kalimat ini tetap meneruskan niat membacanya. Aamiin.

Hati saya selalu hancur, ketika tahu ada seorang anak yang tertekan, ketakutan, menangis, bahkan kehilangan nyawa dengan cara yang sangat tragis. Meski mereka akan segera bahagia di surga, tapi hati saya tetap teriris, karena tahu anak yang seharusnya sedang asik menghabiskan waktu dengan bahagia, justru menikmati masa kanak-kanaknya dengan banyak tekanan, air mata, dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Mereka butuh benteng, pribadinya belum terbentuk utuh, mereka butuh dilindungi, mereka butuh dikasihi, mereka belajar begitu cepat, dan mereka tak ingin dihukum jika di tengah pembelajarannya ada kesalahan, mereka hanya butuh kembali diluruskan, perlahan-lahan.

Terlepas dari nasib anak-anak yang harus kehilangan nyawanya di tangan orang dewasa yang mengaku khilaf, atau memang dengan sadar melakukan hal keji itu, banyak anak yang tertekan di dalam rumahnya sendiri, mereka tak bisa berbicara lantang, kepalanya kerap menunduk, jantungnya berdegup dengan kencang seperti pelari yang baru mencapai garis kemenangan, namun sayangnya degup jantung yang cepat ini dikuasai rasa takut, mereka takut, amat takut. Dan, tak jarang mereka harus menjadi orang lain demi menghindari kekerasan. Iya, mereka kesulitan jadi dirinya sendiri karena orangtua mereka pun keberatan untuk menerima kenyataan jika anak mereka tak sesuai seperti apa yang mereka harapkan.

Saya mengenal beberapa anak kecil yang tidak bisa berbicara dengan lantang, mereka selalu menjawab pertanyaan dengan cara bergumam, hanya satu hal yang bisa menjadikan mereka bebas, lepas: tertawa saat menonton acara komedi. Hanya itu. Selebihnya, mereka akan kembali menutup diri. Mereka tidak bisa mengeluarkan isi hatinya karena sosok yang sebenarnya paling mereka harapkan bisa menerima mereka apa adanya, malah menyetir isi kepalanya, mengharuskan mereka menjadi apa yang orangtuanya mau, tanpa berusaha mencari tahu, apakah anak ini bernapas lega atau tidak dalam kesehariannya.

Saya, sedang belajar untuk mengurangi kata jangan saat bicara pada anak-anak, sebab, saya pernah merasakan jadi anak-anak, dan tiap kali telinga saya mendengar kata jangan, sebanyak itu pula otak saya meminta pada diri untuk mencoba melakukannya. Seperti rasa dilarang secara keras, dan ada perlawanan untuk membongkar pintu yang menghalangi, berjalan keluar, dan melakukan apa yang dilarang. Ini cukup bahaya, bahkan bisa jadi sangat bahaya.

Saya rasa, tiap-tiap orangtua niatnya ingin anaknya menjadi lebih baik dari mereka, tapi, mereka kerap lupa, bahwa menjadi lebih baik dari masa lalu seseorang adalah proses belajar, dan bukankah dalam proses belajar seharusnya tidak ada keterpaksaan? Begini, banyak orangtua yang lepas kendali, karena mereka sangat ingin anaknya berhasil, mereka membangun dinding untuk membatasi sang anak menatap dunia, mereka hanya memperbolehkan sang anak menatap pada pandangan-pandangan yang sudah mereka tentukan, mereka menyamar bak pembaca pikiran yang seolah tau mana yang paling diinginkan sang anak dan membuatnya bahagia. Ini keliru. Anak butuh ruang untuk dibebaskan, diberi kepercayaan, sedini mungkin, dan dari sana mereka secara natural akan belajar bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan pada dirinya.

Sejak kecil, orangtua saya selalu berpesan untuk tidak mengambil apa-apa yang bukan milik saya, atau bukan hak saya, bertumbuhnya saya dalam usia, mereka berpesan untuk saya hidup berbahagia tanpa merusak kebahagiaan orang lain. Alhamdulillah, insya Allah mereka akan senantiasa berhasil, rasanya bukan hanya saya, tapi kedua kakak laki-laki saya pun tak pernah mempunyai rasa ingin untuk mengantungi apa-apa yang bukan milik kami.

Saya mengenal beberapa anak yang sedang tumbuh di usia 5 sampai 15 tahun, mereka hidup dalam begitu banyak larangan yang akhirnya membuat mereka pintar berbohong, gemar mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Mereka membuat kebohongan-kebohongan tersebut untuk melindungi diri, sebab mereka tahu, saat mereka jujur hanya amarah yang akan mereka terima, bahkan, sampai ada yang kena hukuman berupa pukulan dari orangtuanya.

Terlepas dari agama saya yaitu islam, sebagai muslim saya percaya bahwa tak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian pun kekerasan. Sebab, Tuhan Maha Pengasih, bukan? Lantas mengapa umat-Nya harus menjadi pemarah dan pembenci?

Dalam agama saya, memang diperbolehkan untuk memberi peringatan fisik jika keluarga melakukan kesalahan, tapi, sepengetahuan saya, peringatan fisik ini bukan memukul, apalagi sampai menghilangkan nyawa, melainkan hanya sekadar sentuhan lembut yang diniatkan agar anggota keluarga mengerti untuk tidak lagi mengulangi kekeliruannya. Dan, tak lupa untuk mengakui kesalahan bahwa kekeliruan anggota keluarga bisa saja terjadi karena orangtua lepas kendali, tentang ini saya mohon maaf jika ada yang tak sepaham, saya hanya menulis apa yang saya tahu dan yakini.

Kemudian, saat masih duduk di bangku sekolah, saya juga mempunyai beberapa teman, mereka tumbuh dengan orangtua yang gemar melarang dengan alasan belum cukup usia, atau atas kekhawatiran yang berlebih bahwa anaknya belum bisa menjaga dirinya sendiri, bisa jadi mereka memang belum sepenuhnya percaya bahwa anaknya tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar norma.

Berbeda dengan saya yang tumbuh dengan kebebasan, orangtua saya selalu mengizinkan ke mana pun saya ingin pergi, selama saya izin sebelumnya, dan selama saya jujur mengatakan untuk apa saya pergi, selama itu pula mereka memberikan kebebasan dan kepercayaan tanpa batas. Dengan begini, saya justru jadi lebih menghargai mereka, jangankan untuk nakal diluar rumah, rasa ingin mencoba hal negatif pun tidak ada, saya selalu mengingat wajah mereka yang melepas kepergian saya dengan penuh rasa percaya, dan saya tak ingin merusak kepercayaan yang mereka beri, saya selalu terbayang wajah mereka yang menantikan saya pulang, dan itu membuat saya selalu ingin pulang sesegera mungkin setelah kegiatan saya diluar rumah selesai.

Berbeda dengan teman-teman saya yang terbiasa dilarang, mereka yang ingin pergi dengan pasangannya akan pamit kepada orangtuanya dengan alasan belajar kelompok, atau ada kelas tambahan. Atau saat ingin pergi main dengan teman sebaya, mereka pun memilih berbohong, karena jika menyampaikan alasan yang sebenarnya, mereka tahu mereka tidak akan diizinkan.

Saya tahu, melarang itu perlu, tapi melarang dengan sangat adalah kekhawatiran yang tidak perlu. Anak juga butuh waktu untuk bermain, untuk menikmati masa muda, untuk menikmati tawa, untuk belajar membenarkan diri dari pilihan-pilihan mereka yang salah.

Sayangnya, tak banyak orangtua yang bisa terima masukan dengan pikiran terbuka, bagi mereka apa yang mereka lakukan semata-mata untuk kebaikan sang anak, dan tidak lagi peduli dengan masukan dari orang lain, apalagi dari seorang gadis seperti saya yang katanya belum boleh banyak bicara karena belum merasakan bagaimana rasanya jadi orangtua.

Intinya, untuk para orangtua, ketahuilah, kami mengasihimu, kami ingin kalian menaruh kepercayaan pada kami, insya Allah tak akan kami siakan. Kami ingin tumbuh, bolehkah kami memilih dalam hidup kami? Izinkanlah. Kami tetap perlu bimbingan, tuntunan, tapi bisakah ajarkan kami dengan penuh kasih? Untuk para orangtua, bukankah kalian pernah menjadi anak? Bukankah kalian tahu bagaimana rasanya ingin menentukan namun dibatasi? Kalian perlu tahu, apa yang kalian ingin dan kalian anggap benar untuk hidup kalian sewaktu kalian muda, tidak berarti sama dengan apa yang kita ingin dan kita anggap benar untuk hidup kami. Mungkin dulu kalian ingin jadi dokter, bukan berarti anak kalian pun ingin jadi dokter. Mungkin kalian ingin jadi musisi, bukan berarti anak kalian harus mencintai aliran musik yang tak mereka sukai. Kalian boleh mengkhawatirkan kami, kami bersyukur untuk itu, tapi bolehkah untuk tidak masuk pada tahap mengekang? Kami butuh bebas agar tidak perlu berpikir keras untuk berbohong sekadar untuk dapat melakukan apa yang kami suka. Kami butuh dukungan kalian, maukah kalian duduk di kursi pendukung paling depan tanpa takut kecewa jika kami salah pun kalah?

Banyak percakapan antara orangtua dengan anak yang belum saya tulis, namun rasanya dengan tulus mencinta dan kasih yang tak terhingga, orangtua dan anak tak akan sering saling menyakiti. Pernah menyakiti itu pasti, tapi menjadikan itu sebagai kebiasaan adalah penyakit hati.

Tapi, kalian juga perlu tahu, saya juga mengenal sosok orangtua yang luar biasa, yang tetap menanti kepulangan anaknya meski sudah berbulan-bulan tak berkabar. Mereka tetap memberikan pelukan yang hangatnya tidak sama sekali berkurang untuk sang anak yang pulang setelah sekian lama berpetualang. Dada mereka adalah tempat rebah paling damai untuk sang anak. Mereka tak pernah marah meski anaknya salah. Mereka menuntun bukan menuntut. Mereka memberitahu bukan menggurui. Mereka juga masih belajar dan tak malu mengakui salah. Mereka luar biasa menebarkan cintanya kepada sang anak. Mereka sadar betul kehadiran anak yang awalnya balita akan beranjak dewasa, dan setelah dewasa sang anak akan memilih arah hidupnya sendiri, mereka tetap mengingatkan bukan mengikat sang anak pada apa yang mereka yakini.

Satu lagi, orangtua bisa membentuk anak mereka sedemikian rupa dengan lingkup keluarga, anak akan dengan mudah mencontoh, anak yang nakal tak berarti akan selamanya nakal, hidup akan mengajarinya untuk memperbaiki diri. Tapi, anak tak bisa memilih dari mana ia akan dilahirkan dan tumbuh. Anak akan menerima, menerima, dan pada akhirnya anak bukan ingin membangkang, anak hanya ingin didengar secara bergantian.

Semoga kita bisa saling bicara, saling mendengar, saling mengerti, saling memahami, saling mengasihi, dan saling dalam segala kebaikan.

Sekali lagi, ini tulisan tentang anak, dari anak perempuan yang belum memiliki anak. Tidak ada niat menghakimi para orangtua, karena saya pun begitu mencintai orangtua saya. Tanpa mereka, saya tidak akan pernah bisa menulis sepanjang ini, seperti hari ini.

Tebarlah kasih, berhentilah memaki. Tebarlah kebaikan, berhentilah bersikap buruk, meski hanya sekadar prasangka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s