Untuk Nenek.

Sebelum #30HariMenulisSuratCinta tahun ini benar-benar usai, aku ingin menulis surat untuk seorang wanita tangguh, tak peduli dengan segala kurang yang ia miliki, ia tetap tak bisa untukku abaikan. Bukan karena takut menjadi durhaka, aku menyayanginya begitu saja, tanpa berusaha untuk berpura-pura. Meski aku tahu Nenek tak mungkin bisa membaca surat ini, aku yakin semesta akan berbisik tepat di telinganya tentang isi surat yang tulus ku buat.

Nek, kau pasti tahu jika hanya kamu yang ku kenal sebagai orangtua dari orangtuaku, karena aku tak pernah sempat bertemu dengan Kakek, Oma dan Opaku.

Nek, aku juga tahu kau tak mungkin bisa menemukan tulisanku ini sendirian, sebab menerima telepon pun kau gugup. Wajar, usiamu sudah lewat dari 80 tahun, dan aku bersyukur kau masih sehat, bahkan kau jauh lebih kuat dari aku dalam urusan berjalan jauh.

Nek, aku bahagia karena setiap hari dapat bertemu denganmu, mendengarkan celotehanmu, menjawab pertanyaan serupa yang kau tanyakan berulang kali dalam sehari, mengambilkan handuk jika kau ingin mandi, memasangkan kipas angin jika kau gerah setelah keliling perumahan di siang hari. Bagaimana lagi? Itu yang membuatmu nyaman; berjalan tiap kau mau.

Nek, aku juga bahagia tiap kali bisa membantumu, sekecil apa pun itu. Menyemprot area tidurmu agar nyamuk tak lagi mengecup tubuhmu, mencarikan alas kaki bila kau lupa membawanya sebelum keluar rumah, menyiapkan makanan untuk kau santap pagi, siang dan malam di meja yang sama.

Nek, aku bahagia kala kau minta aku untuk menguncir rambutmu yang sudah (hampir) memutih sepenuhnya, saat kau minta aku untuk memotongkan kukumu yang mulai panjang, dan segala hal yang tak lagi bisa kau lakukan sendiri, jangan pernah sungkan untuk memintaku membantumu, Nek. Sebab kau telah merawat wanita kecintaanku sedemikian rupa.

Nek, tak jarang kau membuatku tertawa karena gurauanmu, aku lihat wajahmu yang tak lagi muda itu tersenyum. Nek, segala yang kau titip padaku tak pernah ku abaikan, meski tak semua bisa ku terapkan di hidupku, itu bukan berarti aku tak menghargaimu, sebab tak ada alasan yang dapat ku pakai untuk tidak menyayangimu, meski kita baru dekat sejak aku beranjak dewasa, aku tak pernah ingin melukai hatimu dengan sengaja.

Nek, mengadulah padaku, tentang apa-apa yang membebani hatimu, aku akan berusaha memilih bahasa yang jauh lebih sejuk untuk ku pakai kala meneruskan ceritamu pada anak-anakmu yang notabene adalah om dan tanteku.

Nek, aku senang karena sampai sekarang kau banyak minum air putih, kau masih makan dengan lahap, gigimu masih utuh, kakimu masih kuat berjalan meski terkadang kepalamu tak bisa menolak datangnya pening.

Nek, sehat selalu, ya. Aku tak mungkin kuat membacakan surat ini langsung di hadapanmu, membuatnya saja aku sudah menangis.

Nek, aku sayang, Nenek. Sangat menyayangi, Nenek. Jangan pernah bersedih, ini saatnya kau menikmati harimu dengan bahagia. Aku akan menemanimu tertawa, sampai gigi kita mengering bersama.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhsembilan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s