Kenalkan aku pada, Ve.

Hai, Icha, salam kenal dari aku yang akhirnya memilih suratmu ini https://travenita.wordpress.com/2015/02/25/cerita-buat-ve/ untukku balas, setelah sekian hari mencari mana yang tepat dan menyentuh hatiku dengan lekat.

Izinkan aku memanggilmu ‘Cha’ dan anggap saja kita dipertemukan (lagi) lewat surat ini, setelah sebelumnya kita (seolah) sudah pernah saling kenal.

Cha, aku menyukai caramu bercerita pada suratmu itu, caramu menggambarkan, Ve. Ia nampak jelas di kepalaku, bagaimana caranya berdiri, berjalan, sampai bagaimana caranya bertahan dalam diam, meski penolakan-penolakan sangat ingin ia lakukan, nyatanya tak bisa; sebab ia terkunci dalam ruang bernama trauma.

Cha, maukah kau mengajakku untuk bertemu dengan, Ve? Di mana kita bisa bertatap muka dengannya? Aku ingin menjabat tangannya sembari memperkenalkan diri, aku ingin telinganya bercerita pada isi kepalanya, tentang aku yang ia kenal sebagai orang baru, aku yang tak akan memandangnya sebelah mata, tak akan menghakimi hidupnya, aku bahkan ingin membantumu, Cha, membantumu mengeluarkan, Ve, dari trauma yang sekian lama sudah memenjarakannya.

Jika waktu merestui pertemuan kau, aku dan Ve, aku tak akan memaksa, Ve, untuk menerima pelukanku, tapi aku ingin meyakinkan dia bahwa kebebasan itu nyata, maukah kau genggam salah satu tangannya? Dan, aku kan menggenggam sebelah tangan lainnya, kita bersama-sama berjalan disampingnya, mengajaknya melihat betapa dunia ini indah, menyadarkan ia bahwa hitam tak selamanya pekat, Tuhan punya cahaya yang tak pernah ia batasi jumlahnya untuk kita, aku yakin kau dan aku bisa menuntun, Ve, hingga ia dapat bertatap muka dengan seberkas cahaya yang sudah lama tak ia tatap.

Cha, aku ingin meyakini, Ve, bahwa masa lalu bukanlah penentu masa depan, aku yang jauh dari sempurna di masa lalu tak ingin menikmati bangkit sendirian, aku ingin, Ve, pun bisa menikmatinya. Aku ingin, Ve, berhenti berpikir jika dikuatkan sesama akan membuatnya terlihat lemah, aku ingin ia sadar jika mendapatkan pelukan hangat nan tulus adalah kebahagiaan tak terhingga. Aku ingin ia tahu bagaimana cara sebuah peluk bekerja nyata.

Ve, kau perlu tahu, jika masa laluku tak secerah mentari pagi, kisah kita tak sama, tapi bisa ku pastikan jika gelapnya serupa. Aku sempat terkurung dalam air mata yang tak berujung, yang aku inginkan saat itu hanya pulang ke pangkuan Tuhan, hingga suatu hari aku sadar, dunia menyimpan begitu banyak kebaikan di tengah kekejaman yang semakin menonjol, kita perlu mencari untuk kemudian bisa menemukan kebaikan-kebaikan itu, Ve.

Ve, maukah kau izinkan aku dan Icha menciptakan sebuah kebaikan sederhana? Aku dan Icha sangat ingin mencipta sebuah kebaikan untuk seorang baik. Aku dan Icha ingin memberikan pelukan terhangat untukmu.

Cha, kau benar, semesta tak pernah istirahat, ia selalu bekerja sebagaimana mestinya, dan kau, Ve, tak perlu mengutuk dirimu seumur hidup, apa kau tak rindu dengan rasa lepas saat kau dapat bebas berteriak? Kita akan melipir ke pantai, menyapa ombak yang mengecup pesisir malu-malu, kita akan mencari sudut yang paling tenang, agar kita bisa mendengar bagaimana semesta berbisik, kau bisa mengadu sesukamu, Ve. Kau bisa menangis sepuasmu, Ve. Setelah itu? Aku dan Icha mau sabit di wajahmu hadir tanpa kepura-puraan (lagi). Aku dan Icha ingin kau menikmati hidupmu. Aku dan Icha ada di luar pintu penjara itu, menjemput kebebasanmu dari trauma panjang yang akhirnya berkesudahan, dan kau tahu, Ve? Kita punya hadiah yang tak akan pernah habis untukmu; sebuah peluk yang tak pernah benar-benar sebuah, sebab jumlah sebenarnya tak pernah terhingga.

Cha, terima kasih, karena kau telah menulis tentang, Ve, harapku kelak kita benar-benar dapat bertemu dan bertukar peluk serta bahagia.

Salam hangat,
Syanu.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhdelapan
#ILoveYourLoveLetter
#KenalkanAkuPadaVe

Advertisements

2 thoughts on “Kenalkan aku pada, Ve.

  1. Hai Syanu,

    Terima kasih untuk suratmu ya. Ini berarti banyak.

    Aku ingin sekali kita bertiga bisa bertemu, mungkin sekadar menikmati segelas teh atau kopi sambil bertukar obrolan ringan. Sayang sekali, Ve keberatan.

    Tapi, kamu tetap bisa memeluknya. ‘Pelukanmu’ boleh kamu kirim ke emailku ichaplanifolia@gmail.com atau kamu posting kembali di blogmu ini.

    Kamu baik sekali, Syanu. Sekali lagi terima kasih.

    Semoga harimu menyenangkan,
    icha planifolia

    Like

    • Kembali kasih, Cha. Aku tak akan memaksa, Ve, untuk bersedia bertemu denganku.

      Setidaknya aku berdoa jika pelukanmu bisa ia terima. Karena terkadang aku pun hanya ingin memeluk mereka yang aku sayang, bukan untuk apa-apa, hanya ingin merasakan bagaimana keadaan tubuh mereka yang sedang melekat padaku.

      Iya, Cha, lain waktu mungkin akan ku kirim kembali pelukan untuk, Ve, meski hanya lewat tulisan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s