Cara pandang yang (telanjur) seragam.

Surat kali ini kutujukan kepada perempuan yang merasa matang dalam usia namun tak kunjung menikah,

Puan, seberapa bersahabatnya telinga kalian dengan pertanyaan ‘Kapan nikah?’ dan kalimat serupa lainnya? Dan, bolehkah aku tahu bagaimana cara kalian menanggapi pertanyaan yang itu-itu saja?

Aku adalah perempuan, sama seperti kalian, usiaku belum genap 22 tahun, dan sedang sendiri. Pernahkah kalian sampai pada masa di mana kalian merasa sendiri begitu menyenangkan? Atau paling tidak kalian bisa menikmati kesendirian itu tanpa keluhan-keluhan berarti? Aku sedang merasakannya.

Puan, maukah kalian menikah atas dasar keterpaksaan? Sudikah kalian menikah dengan ia yang bukan jodoh? Atau, haruskah kalian paksakan sebuah pernikahan hanya karena persepsi banyak orang, tentang kalian yang menurut mereka sudah waktunya menikah? Jika kalian tanyakan hal itu padaku, aku kan menjawab ‘tidak’ dengan lantang tanpa sedikitpun ragu.

Sebab, Puan, pernikahan bukan perihal berapa usia kita. Jika menua belum tentu dewasa, lantas mengapa kalian harus takut menua dengan status ‘belum menikah’?

Begini, Puan, usia tak pernah bisa kau gadaikan sebagai jaminan untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia. Sebab, tak selamanya pasangan yang menikah muda akan gagal, dan tak selamanya pasangan yang menikah pada usia ‘matang’ pun akan selalu baik-baik saja.

Ada pasangan muda yang bahagia bersama hingga tua, ada juga yang memilih berhenti setelah mencoba bertahan sedemikian lamanya. Ada pasangan ‘matang’ yang baru memulai dan gagal, ada juga yang begitu bahagia dalam saling meski dunia sudah menyebutnya manula.

Puan, aku seorang bungsu, tak ada tekanan dari keluargaku tentang kapan aku ‘harus’ menikah. Aku selalu bilang pada mamapapaku, jika aku akan menikah sekian tahun lagi, tapi aku tak ingin arogan perihal jodoh, jika Tuhan kirim ia lebih cepat dari perkiraanku, aku akan siap, namun jika ternyata ada keterlambatan waktu? Aku legowo.

Puan, berapa dari kalian yang menikah setelah adik kalian sudah menggunakan cincin di jari manis sebelah kanannya? Atau, berapa dari kalian yang mulai gusar meski adik kalian baru mohon izin untuk segera halal bersama pasangannya? Aku yakin, banyak. Ada yang gusar karena sudah ingin menikah namun belum dipertemukan dengan jodohnya, ada pula yang gusar karena terlalu lelah dengan cara pandang yang seragam, tentang menikah harus sesuai urutan.

Puan, tak bisa kita pungkiri bahwa kita tumbuh di tengah mereka yang cara pandangnya seragam, yang memandang wanita dengan usia matang dan belum menikah itu sebuah kesalahan, dan tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang memaksa pemikiran-pemikiran itu membatasi ruang gerak seorang perempuan.

Jangan khawatir, Puan, jangan kau paksakan sebuah pernikahan hanya karena omongan-omongan yang membuat telinga bosan mendengar, kelak jika kau menikah dan gagal, mereka yang banyak bicara itu tak pernah mau bertanggung jawab, kegagalanmu mereka anggap (lagi-lagi) sebagai kesalahan pribadimu.

Sampai sapi berhenti makan rumput, akan selalu ada manusia dengan pemikiran seperti ini, apa kita masih mau menambah beban dengan memikirkan bisikan-bisikan yang seragam dan menyakitkan? Puan, menikahlah jika kalian mau, bukan karena kalian harus.

Mengenai siap, ada yang bilang suatu waktu kita pasti siap untuk menikah, namun ada juga yang bilang bahwa siap menghadapi pernikahan itu tak akan pernah terjadi, maka kita harus yakin bahwa yang akan menikahi kita adalah ia yang Tuhan kirim dan insya Allah jodoh.

Puan, aku yakin banyak dari kalian yang jauh lebih dewasa perihal usia dan mengalami fase hampir gila, kemudian gila, dan menjadi benar-benar pasrah mengenai pernikahan. Karena apa? Lagi-lagi karena pikiran-pikiran yang terbentuk tanpa sengaja, bahwa kalian sudah harus menikah hanya karena usia.

Dan, untuk para orangtua pun orang tua, atau manusia yang mengelilingi perempuan ‘matang’ yang belum menikah, bisakah kalian berhenti memaksa untuk mereka segera menikah? Atau bisakah kalian berhenti mengucapkan kata yang entah di sengaja pun tidak untuk menyudutkan mereka? Pernikahan bukan film yang dengan mudah bisa segera tayang setelah dapat layar. Tahukah kalian jika beberapa perempuan sudah sangat ingin menikah tanpa perlu kalian paksa? Atau, sadarkah kalian bahwa mereka tak pernah berhenti berjalan untuk dapat bertemu jodohnya? Lantas, mengapa kalian menyamar bak angkutan umum yang memaksa mengantarkan mereka melewati jalan yang tak mereka mau? Kemudian, meminta mereka turun di tempat yang bukan mereka tuju? Tolong hentikan! Sebab, jiwa yang tumbuh dalam sebuah paksaan tak pernah lagi bisa menemukan tawa yang lepas.

Terakhir, Puan, jangan pernah menangis lagi karena hal ini, kalian terlalu cantik untuk berair mata, dan jangan pernah depresi karena hal ini, jalan hidup tak seketika berhenti hanya karena kalian masih sendiri.

Perempuan selalu cantik, semoga dilengkapi dengan hati yang juga cantik. Jangan gusar, Tuhan Maha tahu kapan kau akan sampai pada hari di mana kau yakin untuk mengikat janji suci.

Kalian sudah sampai di akhir surat, maukah kalian membagi senyum manis itu untukku? Berhenti cemas dan tetap semangat untuk selalu bahagia.

Teruntuk semua perempuan yang mengalami hal ini, dari perempuan yang kerap kali merasa keseragaman cara pandang sudah menyebabkan kecemasan yang tak lagi masuk akal.

Puan, aku menyayangi kalian, jangan pernah bunuh kebahagiaan kalian demi memenuhi kebahagiaan orang lain.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhtujuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s