Niatku bukan membunuh, Tuhan tahu itu.

Kepada hati yang pernah atau bahkan sedang merasa kupatahkan, aku tak pernah punya niat untuk membunuh kalian dengan cara semanis apa pun.

Kalian yang hatinya (seolah) kupatahkan, aku tak pernah minta untuk dimengerti sempurna, sebab terkadang aku pun masih belajar untuk mengerti diriku sendiri. Namun, tidakkah kalian tahu jika perempuan ini hanya memiliki satu hati? Dan, tidakkah kalian sadar jika hati yang hanya satu memang tak pernah ia niati untuk terbagi-bagi dalam satu waktu?

Semoga saja kalian mengerti, meski pengertian tetap saja tak dapat menghindarkan diri dari patah hati. Pun diriku, yang tak mungkin terbebas dari patah hati. Kalian perlu tahu, tak selamanya aku berdiri tegak dengan dagu yang (terkesan) mendongak, karena ada kalanya aku terduduk, merenungi hidup.

Jika kalian berpikir aku bagaikan manusia yang tak bisa membaca bahwa langit gelap tak selamanya tanda hujankan datang, kalian keliru. Aku adalah pembaca yang cukup baik, aku tahu mana orang yang dekat padaku sebagai pemeluk, dan mana yang dekat padaku sebagai seorang yang berusaha; membuka dan menempati hati ini selamanya.

Dan, kalian perlu tahu, jika menerima sebuah hati untuk kupasangkan pada hatiku itu tak mudah, meski aku termasuk dalam perempuan yang mudah jatuh cinta.

Bagaimana? Membingungkan, bukan? Sangat. Aku pun kerap bingung dengan mauku sendiri.

Kadang aku merasa bahwa diriku begitu dicintai, tapi pada waktu yang sama aku bertanya, mengapa diriku begitu tega mematikan hati yang sedang begitu bahagia tumbuh dalam rasa cinta. Ah, lagi-lagi ada kekeliruan, kali ini datangnya dari diriku sendiri. Jelas-jelas aku sama sekali tak ada niat mematikan, sebab pada akhirnya kalian kan sadar jika lepas dariku adalah cara kalian menuju bahagia di masa nanti.

Kemudian kalian pikir aku berbohong, kalian pikir aku memilih tuk berkata manis agar tidak terkesan kejam, kalian bilang aku mengada-ada. Namun, lagi-lagi kalian keliru. Sini, mendekatlah padaku, biar kuperlihatkan bagaimana mereka yang dulu ada di posisi kalian, sekarang telah sampai pada bahagia yang sebenarnya; dicintai hati yang juga mereka cintai.

Kemudian kalian bertanya padaku tentang bagaimana mereka bisa sampai di sana, di tempat mereka tertawa dalam sebuah saling yang melengkapi segala kurang. Lalu aku menjawab sembari tersenyum,

‘Aku kerap berkata pasti, jika aku tak pernah ingin membunuh hati yang datang padaku untuk tulus mencintai, sekalipun lewat niat, aku tak pernah sengaja ingin mematikan harapan yang kalian tumbuhkan, aku bahkan ingin menemani kalian membangun harapan jadi nyata, jika saja aku bisa, namun nyatanya aku tak bisa, karena aku pun punya harapan yang ingin kujadikan nyata bersama hati yang tepat, nanti. Maka aku memilih tuk berkata apa adanya, jika kalian cinta padaku, tak berarti mengharuskan cintaku berbalik untuk kalian. Dan, kelak kalian akan sadar jika lepas dariku adalah awal dari perjalanan kalian menemukan kebahagiaan yang sebenarnya; mencintai orang yang juga mencintai kalian.’

Hanya satu doaku, tak banyak, dan Tuhan tahu itu; tentang hatiku yang tak ingin menyakiti hati manapun, meski hanya setitik cahaya bintang yang datang dari langit dan mengenai mata indah di taman, malam itu. Semoga kalian mengerti.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhenam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s