Seorang ibu di rumah nomor 15.

Seorang ibu dari tiga anak yang kerap kupanggil, Emak. Wanita yang tidak segan menceritakan betapa gelap masa lalu dalam hidupnya, namun secara perlahan dan tanpa rasa paling suci sendiri, ia mulai berbenah diri.

Entah sejak kapan tepatnya aku mulai memanggilnya, Emak, dan terus berlangsung hingga kini.

Mak, aku bersyukur karena Mak bisa melakukan terapi, dan lebih bersyukurnya lagi karena Mak merupakan tetangga dekatku. Rumahku nomor 17 dan Mak di nomor 15.

Mak, kau tahu benar bahwa aku adalah anak perempuan yang terlanjur berkawan dengan asam lambung, terlebih ketika PMS hari pertama tiba, aku bisa begitu bermanja-manja. Hal itu menjadikanku kerap mengetuk pintu rumahmu, meminta tolong untuk kau terapi, setidaknya satu bulan sekali.

Mak, tidak bosankah kau menolongku yang keluhannya itu-itu saja? Aku harap tidak. Nyeri PMS hari pertama tak pernah ku manjakan dengan mengkonsumsi obat pereda macam apa pun, aku tahu aku hanya butuh istirahat dan diterapi sama, Emak. Setelah itu nyeriku mereda dan aliran darahku kembali lancar.

Begitu juga saat maag ku kambuh, perihnya bukan main, dan lagi-lagi aku hanya butuh terapimu, dan aku yakin ini bukan ketergantungan, tapi ini cara membuat peredaran darahku lancar. Aku bertanya padamu tentang tiap-tiap titik yang menimbulkan rasa sakit saat terapi berlangsung. Biasanya itu titik untuk bagian mata, kening, kepala, perut, dan lain-lain.

Mak, kau masih ingat beberapa hari lalu? Saat aku tak dapat terhindar dari panik karena perutku sakit luar biasa, dari ulu hati sampai di bawah pusar. Aku merasakan angin berputar di dalam perutku dan tak bisa menemukan jalan ke luar. Iya, aku tak bisa buang angin sama sekali. Tapi, setelah diterapi sama Mak, sakit itu selesai, napasku kembali lancar, perutku tak lagi sesak.

Mak, bukan hanya aku, kau juga kerap membuat mamaku yang sedang tidak enak badan pulih kembali. Kau selalu siap untuk dimintai tolong, pengecualian hanya terjadi saat dirimu sendiri sedang kurang sehat, dan aku mengerti itu.

Aku tak lagi merasa canggung denganmu, sepanjang diterapi olehmu, kita kerap bergurau atau sekadar cerita apa pun yang bisa kita bicarakan, aku hanya terdiam saat sakitku sudah terlalu menjadi.

Mak, semoga kebaikanmu ini membuatmu dikelilingi kebaikan semesta, semoga kau sehat selalu, semoga bahagiamu berkecukupan, semoga kita terus dapat berbagi tawa; aku, kau, mamaku, dan anak-anakmu. Semoga aura positif selalu mengelilingi jiwamu. Terima kasih karena selalu bersedia menolongku, dengan restu Tuhan kau membantu untuk meredakan sakitku.

Aku yang jatuh cinta pada asam, membuat persahabatanku dengan maag menjadi semakin melekat.

Aku tahu aku nakal, tapi mau bagaimana lagi, Mak? Segala makanan dan minuman asam itu enak. Sungguh. Meski aku sadar, sakit yang bisa kambuh kapan saja itu sama sekali tak enak.

Mak, doa-doa baik ku terbangkan agar segala semoga yang ku urai di atas dapat menjadi nyata, dan kau tak perlu peduli dengan mulut-mulut berlidah tajam, mereka tak berhak menilai kehidupanmu.

Mak, jangan pernah menangis lagi kala hatimu sakit karena perkataan orang sembarang, mereka terlalu murahan untuk kau beri air mata.

Mak, semoga kau, ketiga anakmu, dan suamimu dapat terus bersama dalam keadaan apa pun. Dan, terus bersyukur atas apa-apa yang Tuhan beri berdasarkan prioritas kebutuhan, bukan keinginan.

Mak, terima kasih. Terima kasih. Terima kasih. Jangan canggung meminta bantuanku, selama ku bisa pasti akan ku bantu, kalau pun sulit, akan selalu ku usahakan, seperti aku yang tak lagi canggung memintamu datang dan memulai terapi pada tubuhku yang merengek saat datang bulan dan kambuhnya maag seketika waktu.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhlima

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s