Tidak mudah, tapi ku yakin kau bisa.

Mengenai pedih, aku baru tahu kau dapat tinggal pada tubuh seseorang hingga ia kehilangan hal paling sederhana namun begitu dibutuhkan; tidur nyenyak lebih dari dua jam tanpa bantuan obat sebagai penjemput kantuk.

Mengenai luka, aku baru sadar begitu lihainya engkau mencipta bekas lewat goresan di sana dan sini, seolah tak ingin pulih dan menyelam lebih dalam lagi.

Hai kamu, mengapa kau kerap menyimpan sesak dan tak jarang menyimpan tangis yang sebenarnya ingin kau pecahkan? Apa karena kau lebih ingin merasa kuat? Meski perasaan yang berusaha kau ciptakan itu hanya berhasil membuatmu mampu melalui hari tanpa kantuk. Tidak lebih.

Dulu, jauh sebelum ini, aku pernah merasakan apa yang kau rasa, hidup dengan rasa bersalah yang begitu luar biasa, hanya saja penyebabnya berbeda.

Dari ceritamu semalam, aku tak berani banyak bicara, meski akhirnya aku bicara panjang lebar, semua karena aku ingin meyakinkanmu bahwa keputusan setahun lalu adalah yang terbaik. Pun bila keputusan yang lalu itu kau ubah, tak ada jaminan orang terkasihmu kembali hidup bahagia. Karena kepastian merupakan salah satu hal yang langka dalam kehidupan. Kita sama-sama paham ini.

Kau tahu? Aku ingin sekali hadir di sana, memelukmu yang mengaku baik-baik saja, merangkulmu yang bersikukuh akan selalu baik-baik saja. Ingin sekali aku ikut percaya jika kau akan selalu begitu, namun pada kenyataannya? Sulit. Kau rapuh, teramat rapuh, aku tahu itu.

Kau lupa sesuatu, dan aku tak tahu bagaimana cara mengingatkannya. Kau lupa cara tertidur yang berbuah nyenyak, dan aku tak tahu bagaimana cara menciptakan suasana itu.

Ah! Aku diam seketika waktu. Aku tak ingin menyalahkan jarak yang begitu membentang, tapi lagi-lagi memang ia yang memisahkan aku padamu, sehingga tak dapat ku peluk kau yang sedang butuh emosi-emosi baik berupa kebersamaan; kau tak pernah sendiri sebab aku selalu ada. Meski tak tampak nyata, kepedulian ini benar adanya, bukan kepura-puraan yang ku cipta sedemikian rupa agar kau percaya.

Sebentar, sebelum ku lanjutkan surat ini, aku mengingat sesuatu. Tadi, tepatnya pukul tujuh, aku menulis sebuah puisi untukmu, biar ku selipkan dalam surat ini, seperti doa yang ku rapal dalam tiap satuan waktu:

Berhentilah

Pujangga, lukamu luar biasa; dalam dan merobek semestamu. Apa kau tak lelah hidup begini?
Mengetahui kau yang melupa bagaimana cara memejam di waktu malam, piluku tumbuh.
Pujangga, tidakkah kau tahu jika ia yang kau pikirkan tiap waktu menatapmu lewat langit?
Pujangga, tidakkah kau tahu betapa ia ingin kau kembali hidup sewajarnya manusia tanpa rasa bersalah?

Tangismu yang tertahan
Rasa bersalahmu yang kian hari kian membesar
Dan segala duka yang kau pendam
Tak serta merta dapat mengubah keadaan

Ia yang telah berpulang tak mungkin kembali ke pelukan
Lantas, sampai kapan kau mau seperti ini?

Begini saja, maukah sesaat kau bandingkan, betapa ia begitu bahagia untuk pulang saat dunia sudah terlalu
kejam bagi manusia sepertinya; manusia yang lengkap dengan beribu kebaikan. Betapa ia rindu pelukan Tuhan
kala ia telah sampai di akhir skenario hidupnya.

Tapi, jika kata-kata dan segalaku tak jua membuatmu berhenti merasa bersalah, aku bisa apa selain terus
berdoa pada Tuhan untuk membuatmu kembali bahagia tanpa kecuali. Aku tak akan lelah untuk yang satu ini.

Meski beberapa kepala memilih untuk menertawakan hidupmu, atau bahkan mencibirmu, aku akan tetap ada
untuk membantumu berdiri saat kau jatuh (lagi). Aku akan tetap memeluk saat kau rapuh (lagi dan lagi). Aku
akan selalu ada meski kau minta untukku pergi. Sebab, aku tahu suatu saat nanti kau akan tahu maksud dari
segala yang ku usahakan ini.

Lukamu seperti teka-teki yang sedang berusaha ku pecahkan, tentang kapan kau bisa lepas bebas dari rasa
bersalah yang seharusnya tak sama sekali berhak memenjarakanmu.

Silakan kau nikmati, tenggelam dalam puisi di atas kalimat ini, aku akan mengangkatmu kembali kepermukaan, mengajakmu bernapas tanpa sesak, melihat betapa langit memang tak selamanya kelabu, dan bagaimana semesta bisa untuk tak merindukan senyummu yang tanpa luka, sebab sudah terlalu lama, terakhir kali ia melihatnya kurang lebih setahun lalu.

Ku serahkan semua keputusan padamu, tentang kapan kau ingin kembali berjalan, kau hanya perlu tahu satu hal, aku menunggu di depan pintu, selalu. Saat kau sudah puas memeluk luka, tepuk pundakku, aku kan menoleh untuk kemudian menggenggam tanganmu, kita akan berjalan bersama, melepas tawa secukupnya, merapal doa tanpa jeda untuk mereka yang setia menanti kita di surga.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluhempat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s