Wanita selain Mama; yang ku panggil Mama.

Mama adalah wanita terhebat, terkuat, tercantik, termanis, terbaik. Mama adalah wanita yang paling mengerti aku, paling tahu apa-apa yang sedang aku rasakan. Mama adalah wanita nomor satu dan tak akan ada satupun yang bisa mengganti posisi Mama di hatiku. Sebab, aku mencintai segala Mama tanpa tapi, aku menyayanginya lengkap tanpa syarat, kebahagiaanku yang paling sempurna adalah saat aku dapat membuat sabit bersinar di wajahnya.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usiaku, ada satu wanita lain yang ku panggil Mama selain wanitaku. Kali ini aku ingin menulis surat cinta untuk dia.

Wanita pertama yang ku panggil Mama selain wanitaku adalah ibu dari pacar pertamaku. Aku memanggilnya Mama karena ia adalah ibu dari kekasihku; saat itu. Dan, saat hubunganku dengan anak lelakinya berakhir, aku tetap memanggilnya Mama, aku tetap memperlakukannya sama, aku tetap berhubungan baik dengannya, wanita yang kerap mengajakku untuk bicara berdua ini tak pernah terkesan menggurui; meski ia memang seorang guru. Ia justru menjadikan aku lawan bicaranya untuk bercerita bagaimana masa mudanya dulu, yang katanya tak jauh beda denganku.

Mama, apa kau masih ingat bagaimana pertama kali kita bertemu? Aku ingat, waktu itu hari Jumat, pertemuan kita hanya sesaat, karena aku harus segera pamit pergi, kemudian kau berpesan untuk jangan lupa shalat dan tidak pulang larut malam.

Mama, pertemuan-pertemuan kita berikutnya begitu hangat, meski hubunganku dengan anakmu telah mencapai sudah, aku dan anakmu bukan lagi sebuah kita, Mamaku kerap berpesan untuk menjaga hubungan baik denganmu.

Jika aku sedang memasak, membuat kue atau apa pun itu, wanitaku selalu mengingatkan untuk memberikan sebagian untukmu, memintaku untuk datang ke rumahmu dan berbincang sebentar. Pernah suatu malam aku datang ke rumahmu bersama wanitaku untuk mengantarkan kue sederhana hasil tanganku sendiri, kebetulan kau tidak sedang di rumah, maka ku titipkan kue itu pada Papa (suamimu), ia sedikit bingung namun kemudian berkata ‘Oh, Syanu ya?’ aku mengiyakan dan segera pamit pulang karena waktu memang sudah malam.

Aku ingat percakapan Mamaku, kau, ibumu dan aku malam itu di pertemuan kita berikutnya. Sederhana dan lucu. Ibumu yang sudah ku anggap seperti nenekku sendiri pun kerap mengeluarkan celotehan yang membuatku tertawa.

Pertemuan yang paling ku ingat adalah saat kau dan aku bertemu dalam waktu yang sangat singkat. Kala itu lagi-lagi aku dan Mamaku datang, namun bukan untuk bertamu, melainkan untuk memelukmu dan anak perempuanmu itu, sebab pria kecintaanmu yang sempat ku panggil Papa telah berpulang, hari itu Tuhan telah memanggil Papa untuk kembali ke pelukan-Nya. Aku ingat wajahmu yang sembab, aku ingat kau tidak sepenuhnya sadar atas kehadiranku, sampai anak perempuanmu bilang ‘Ma, ada kak Syanu’ dan kau menatapku, kemudian kita berpelukan, aku tahu apa yang kau dan anak-anakmu rasakan, aku ingin ada di sana hingga waktu pemakaman tiba, tapi mau tak mau aku harus segera pamit karena hari itu hari kerja dan aku harus segera berangkat ke kantor.

Ma, kita memang tak banyak bertemu, dan mungkin aku bukan satu-satunya anak yang menyayangimu, sebab kau adalah seorang guru, murid-muridmu juga menyayangimu, pasti. Banyak yang mengatakan jika hubungan kita yang tetap baik ini terjalin karena aku masih mengharapkan anak lelakimu, tapi aku yakin kau tidak berpikiran sesempit mereka, karena aku tulus, sebab aku memang sudah menganggapmu sedemikian baiknya, aku sayang padamu, meski aku tahu batasan-batasan yang perlu ku jaga. Ma, aku hanya terus berdoa agar kau sehat, agar kau bahagia dan kau dikelilingi kebaikan-kebaikan yang dapat melindungimu dari kejahatan dunia yang pasti ada.

Ma, berbahagialah, sebab ketiga anakmu sungguh menyayangimu, mereka tak pernah berhenti untuk berusaha membahagiakanmu. Mamaku bilang yang paling penting bagi seorang ibu adalah saat ia dapat memiliki harta berupa anak-anak yang baik dan jujur, Mamaku bahagia memiliki mas, abang dan aku. Dan, aku pun tahu Mama bahagia memiliki Aslam, Adlan dan Salma.

Ma, terima kasih sudah bersedia untuk ku panggil Mama, sebenarnya tempat tinggal kita tidak berjarak jauh, namun kita tak sering bertemu karena satu dan lain hal, tapi aku harap kita tetap terhubung lewat doa yang memang tak pernah ku putus. Sehat dan bahagialah selalu, aku menyayangimu.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduapuluh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s