Para pelukis harapan.

Adik-adik yang ku sayang bukan atas dasar belas kasihan, tetapi karena menyayangi kalian adalah perasaan yang tumbuh begitu saja dengan mudahnya tanpa perlu mengada-ada.

Di usia yang masih sangat belia, kalian sudah lebih dulu naik kelas; dari aku. Secara tidak sengaja, dari kalian aku belajar bagaimana menikmati hidup, bagaimana menjadi seseorang yang tak pernah menghentikan rasa syukur pada Tuhan atas segala yang kalian punya.

Kalian yang menurut mereka kurang beruntung, bagiku justru jauh lebih spesial, sebab Tuhan begitu sayang pada kalian.

Biasanya manusia butuh puluhan tahun untuk mengalami kerontokan rambut, tapi kalian bisa mengalami hal itu sebelum usia genap sepuluh tahun, dan kalian saling merangkul meski kepala sudah seluruhnya botak. Tertawa bahagia, bermain bersama, menikmati hidup hingga siang tak terasa telah berubah malam.

Saat kalian terpejam, aku melihat sosok yang begitu bahagia dalam hidupnya, sampai-sampai tertidur pun lengkap dengan senyuman. Kalian mengajarkan aku cara untuk tidak mengeluh, sebab keluhan hanya memperkeruh keadaan. Saat kalian melewati masa pengobatan, pelukan orang terkasih adalah dukungan paling luar biasa, bukan? Namun kalian pun turut menguatkan mereka, untuk tak pernah marah dengan Tuhan, sebab Tuhan tak pernah jahat, sekalipun hanya niat, ia tak pernah jahat. Tak akan pernah.

Adik-adikku, terima kasih karena selalu menguatkanku saat langkahku patah, terima kasih karena selalu membuatku bangun dari jatuhku yang terjadi berulang kali, terima kasih karena mengajarkanku bagaimana caranya bersyukur meski bagi orang lain keadaan kita mengenaskan, terima kasih karena membuat semangatku utuh kembali saat melihat kalian melukis harapan, harapan yang bagi kalian selalu ada, kesembuhan yang bagi kalian selalu mungkin.

Lukislah harapanmu, mulai dari hal kecil, melukis rambut dan hiasan kepala di cermin, saat rambutmu telah sepenuhnya rontok dan mungkin tak akan kembali tumbuh. Lewat lukisan-lukisan itu aku tahu benar ketulusan kalian.

Adik-adikku, jangan menangis, aku ingin waktuku dapat ku gunakan untuk hadir di tengah kalian, bukan untuk menghibur, melainkan membagi tawa, aku ingin kita tertawa bersama-sama, menertawakan hidup yang kerap seperti lelucon. Aku ingin kita lupakan segala sakit, pedih, luka, dan segala air mata. Bahkan, jika bisa aku ingin bukan sekadar membuat kalian melupa atas luka, namun aku ingin menghilangkan segala duka yang kadang ku temukan dibalik senyum ceria itu.

Aku tahu, kalian pun mau waktu yang kalian gunakan untuk pengobatan bisa kalian pakai untuk lebih banyak bermain. Adik-adikku, doaku sederhana, aku ingin kalian sembuh, aku ingin perjuangan kalian sampai pada hasil yang manis, aku ingin harapan kalian menjadi nyata. Namun, jika memang Tuhan tak mengabulkan doaku, kalian tak perlu sedih, sebab Tuhan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih nyata; memanggilmu untuk segera pulang kepelukan-Nya. Karena terkadang, dunia terlalu kejam untuk anak-anak berhati malaikat seperti kalian.

Adik-adik, jika bagi kalian surga dunia tak nyata adanya, Tuhan telah siapkan surga yang sesungguhnya, surga yang selama ini ku impikan, kalian dapat menempati surga Tuhan, sebab malaikat tak bersayap memang berhak bahagia selamanya; di sana.

Adik-adikku tersayang, terima kasih telah menjadi matahari di banyak cerita hidup manusia dewasa yang mendung, teruslah bahagia, sebab bahagia kalian adalah bahagia jutaan kepala.

Memperingati Hari Kanker Anak Internasional, semoga harap dan semangat juang tak pernah hilang. Semangat sayang, untuk kembali hidup atau pulang sekalipun, kalian akan selalu mendapatkan tempat serta pelukan.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKetujuhbelas
#HariKankerAnakInternasional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s