Pemeran utama; lawan mainku.

Teruntuk pria yang dengan begitu tiba-tiba Tuhan kenalkan sebagai pemeran utama dalam skenario hidupku.

Aku tak pernah terburu-buru untuk hal yang satu ini, sebab untuk mengenal satu dua kepala aku butuh waktu yang cukup panjang, aku tak bisa pindah begitu saja, kepalaku begitu erat menjaga kenangan, hatiku begitu mudah tenggelam pada masa yang telah lewat hanya karena sebuah senyuman yang kembali membuatku jatuh dan mengingat.

Kamu, manusia yang begitu membuatku seimbang, kau dapat membuatku menghela napas panjang dan kembali tenang setelah hampir seharian amarah menguasai emosiku. Kau tak pernah membagi permasalahan kita dengan siapa pun, pertengkaran sekecil apa pun yang ada di tengah kita selalu kau minta untuk kita selesaikan berdua, tanpa perlu orang luar tahu dan turut campur. Sebab kita memanglah aku dan kamu, tanpa mereka yang tak pernah mengenal kita dengan baik, namun seolah-olah mengetahui segela kita.

Kau lelaki yang hingga kini belum pernah kujumpai, entah sedang di mana dan dengan siapa. Mungkin saja kini kau sedang bahagia dalam pelukan wanita lain, atau sedang sendiri; sama sepertiku. Kita sama-sama tak tahu kapan dan di mana Tuhan akan mempertemukan kita, yang kita tahu hanya satu; kelak kau dan aku menjadi satu, dalam cinta atas nama Tuhan.

Aku sedang dan akan terus memperbaiki diri, sayang. Ku harap kau melakukan hal yang sama. Nikmati saja skenario-Nya hingga nanti kita sampai pada halaman yang menceritakan pertemuan kau dan aku, saling mengenal satu sama lain, jatuh dan mencinta, memutuskan untuk bersama selamanya, aku akan menjadi seorang istri yang begitu mencintaimu; suamiku. Aku akan menjadi wanita yang baik bagi mereka; anak-anak kita kelak. Insya Allah.

Aku perlu tahu masa lalumu, sekadar menjadikannya pelajaran agar lukamu dulu tak ku buka lagi, tak ku buat lagi, tak ku ulang lagi. Kan ku ceritakan masa laluku tanpa tapi, sekadar ingin kau tahu bahwa semanis apa pun masa laluku, mereka hanya kenangan, sedangkan kau? Ialah hidupku kini dan nanti hingga kita sampai pada kehidupan yang abadi.

Nanti, saat aku telah berhasil menemuimu, akan ku bacakan surat ini dihadapan matamu, dalam pelukmu jika perlu. Ini janji yang akan ku tepati. Pasti.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeenambelas
#JustSayIt

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s