S. G. R. R.

S urat untuk perempuan yang perlahan beranjak menjadi wanita. Hai, usiamu terus bertambah, bukan? Kata orang menua bukan jaminan seseorang tumbuh lengkap dengan kedewasaan, lantas bagaimana denganmu yang sudah kepala dua? Dewasakah sudah? Atau masih kerap menilai masalah lewat sudut pandangmu saja? Perempuanku, yang aku tahu seiring bertambahnya usiamu, kau sudah tak lagi memandang seseorang dari penampilan luarnya saja, apa itu benar? Kau tak lagi menyudutkan seseorang dalam situasi tertentu, bukan? Dan, yang paling membuatku bahagia adalah saat kudengar kabar bahwa kau berhenti jadi polisi moral? Syukurlah. Menilai kehidupan orang lain tak akan membuatmu jauh lebih suci dari sekarang, lebih baik kau gunakan waktu untuk perbaiki kekurangan diri sendiri. Tubuh kita masih penuh dengan tumpukan dosa, bukan?

G elimang harta mereka jadikan patokan kebahagiaan? Apa kau juga begitu? Perempuanku, hidup bahagia tak melulu soal mudahnya kita mendapatkan rupiah, tapi bagaimana kita bisa menikmati waktu dengan orang-orang tersayang. Aku tak munafik, untuk terus hidup kita perlu rupiah, tapi bukan berarti orang yang paling bahagia di dunia adalah orang yang paling kaya, sebab bahagia hanyalah perihal waktu dan syukur. Aku lihat kau begitu bahagia saat berusaha mencapai apa yang kau impikan, meski ada saja kaki yang bersiap menendangmu dari belakang agar kau terjatuh seluruh dan penuh, meski ada saja yang mencaci jika mimpimu terlalu tinggi dan tak akan pernah bisa kau raih, kau tetap berjalan dengan bahagia, meski perlahan, sangat perlahan, aku turut yakin jika kelak kau akan sampai.

R ahasiamu ada padaku, rahasiamu berlari memutar di kepalaku, aku tahu segalamu wahai perempuanku, aku tahu apa yang ada di hatimu, aku tahu apa yang kerap kau pikirkan, aku tahu bebanmu tak pernah ringan, aku tahu apa-apa saja keluhan yang kau pendam, aku tahu seberapa sering air matamu jatuh, aku tahu mana tawamu yang asli mana tawamu yang palsu, aku tahu saat kau mulai tak nyaman berada di sebuah keadaan, aku tahu kau tak melulu suka keramaian, aku tahu kau bisa saja sendirian dalam sepi tanpa pernah merasa kesepian, sebab segalamu tak pernah benar-benar berhenti, kau selalu bergerak, ke arah mana yang kau yakini, dan bila di tengah jalan kau sadar langkahmu salah, kau tak pernah malu mundur satu dua langkah untuk kemudian melanjutkan perjalanan pada jalur yang benar.

R aihlah apa yang mau kau raih, aku selalu ada untukmu, saat semua tak lagi percaya pada apa yang kau bisa, saat tak lagi ada kepala yang menoleh padamu sempurna, saat semua memandangmu sebelah mata, saat tak ada lagi hangat pelukan dari sosok yang kau harap, aku selalu ada untukmu, memberi segala yang kau butuh tanpa perlu kau minta; akan ku berikan dengan sendirinya. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Genggamlah tanganku, biarkan jemariku mengisi sela-sela jemarimu, biarkan pundakku siap sedia menerima sandaranmu, biarkan dadaku basah karena pedihnya air matamu, biarkan segalaku utuh untukmu. Wahai perempuanku, jangan pernah berhenti hanya karena mereka memintamu berhenti, jadikanlah dirimu satu-satunya alasan untuk kau berhenti. Aku hanya sanggup melihatmu berhenti saat kau memang ingin berhenti, meski ku yakin kau takkan pernah berhenti.

Teruntuk perempuanku,

Syanu Gabrilla Roza Ravasia

Jangan pernah berhenti!

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKelimabelas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s