Tak akan pernah merenggang.

Kepada siapa saja yang membaca suratku kali ini, dan sedang merasa rebah tanpa arah di atas pesakitan, aku ingin membantu kalian untuk sekadar berhenti mengeluh, sebab keluhan tak serta merta mengubah air mata menjadi tawa. Aku pun ingin berhenti mengeluh; berhenti menyakiti diri sendiri. Sebab mengeluh membuat dadaku sesak tiada dua.

Untuk kalian yang sedang berjuang, hingga waktu tidur bukan lagi berkurang, namun menghilang. Kalian yang membiarkan malam jadi siang demi menyelesaikan tugas bersama kelelawar yang sedang mencari makan. Entah menyusun tugas akhir, skripsi, tugas sekolah, atau tugas kerja lainnya. Ketahuilah, saat kalian ikhlas, kerja keras kalian akan membuahkan hasil yang takkan tertukar. Tuhan Maha Adil. Kalian boleh merasa lelah, namun jangan pernah menyerah, kutinggikan salutku pada kalian; pengejar cita pembangun masa depan.

Untuk kalian yang banting tulang demi memenuhi kebutuhan diri sendiri, karena tak ingin lagi menyusahkan keluarga; orangtua. Untuk kalian yang bekerja demi menutupi kebutuhan kuliah. Aku selalu kagum dengan kepala-kepala yang tetap ingin duduk di bangku kuliah meski pekerjaannya sudah menjanjikan untuk masa depan, atau mereka yang semangat kuliah karena ingin memperbaiki kehidupan; membahagiakan orang terkasihnya. Jangan pernah mundur, pelangi menanti untuk kau jumpai di sana, saat proses sudah berhasil kau tempuh, kau akan menikmati hasil dalam pelukan orang tersayang.

Untuk kalian yang sedang mengalami musibah, sedang patah hati, entah perihal kekasih hati, pasangan hidup, teman hidup, sahabat, kerabat, ditinggal pergi untuk sementara, atau bahkan selamanya, untuk kalian yang sedang sakit, atau menunggu orang tersayang kalian pulih dari sakitnya, untuk kalian yang baru saja kehilangan sosok yang teramat kalian cintai, percayalah jika Tuhan adalah penulis skenario terbaik, sutradara terbaik, Tuhan adalah segala yang terbaik. Ia tak mungkin jahat pada kita, maka apa-apa yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita, untuk kita.

Dan, kepada perempuan yang mimpinya kerap dibunuh persepsi, cacian lahir dari sana-sini, tetaplah kuat, jangan pernah lelah untuk kembali meniti langkah setelah jatuh yang kau alami berulang kali, keyakinan yang kau punya itu akan jauh lebih mudah sampai pada apa yang ingin kau capai, bila dilengkapi dengan usaha dan doa yang tak mengenal putus. Berjuanglah, tak perlu dengarkan suara-suara miring, nikmati proses yang kau lalui untuk menggapai apa yang kau citakan. Dan, paragraf ini ku tulis untuk perempuan yang sosoknya selalu ku lihat dalam cermin. Jangan pernah kalah dalam menyerah. Aku selalu memelukmu dengan cara apa pun, di manapun kamu, lenganku selalu dapat memeluk tubuh itu tanpa ada bagian yang merasa ku abaikan.

Terdengar klise? Sebab rasa sakit tetaplah sakit? Pedih itu tetap berujung air mata? Pelik itu tak kunjung menemui sudah? Lelah itu berbuah menyerah? Kalian merasa sudah berada di pijakan paling bawah? Kalian merasa tak lagi bisa merunduk sebab sudah tak ada siapa-siapa lagi di bawah? Kalian merasa paling tidak beruntung? Ketahuilah, untuk bersyukur kita selalu perlu melihat ke bawah, dan untuk jauh dari sikap arogan kita perlu mendongak ke atas; melihat banyak yang jauh lebih hebat dan tetap rendah hati.

Aku pernah merasa jadi manusia paling lelah, kala pulang kerja dan hari berganti sudah, namun seketika aku bersyukur, aku masih bisa menikmati perjalanan malam dengan mudah, hanya mengendarai sepeda motor, sedangkan di depan mataku ada satu keluarga yang membuatku ingin menangis seketika. Ayah dan Ibunya menarik gerobak yang berisi dua anak mereka, dan aku? Masih bisa melihat senyum di wajah mereka, aku masih bisa melihat kebahagiaan itu, kebahagiaan karena mereka tetap bersama, meski keadaan terlihat menyedihkan. Kemudian saat aku rindu tempat tidurku, kutemukan lagi anak-anak yang menjadikan trotoar jalanan sebagai alas tidur, menjadikan lampu merah sebagai harapan untuk melanjutkan usia di hari berikutnya, lewat rezeki yang Tuhan titip melalui tangan-tangan mereka yang gemar memberi tanpa pamrih.

Kawan, percayalah, Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuh, bukan apa yang kita mau.
Kawan, kalian perlu tahu, tanpa mengenal aku tetap bisa mengirimkan doa untuk kalian semua.
Kawan, pelukanku takkan pernah merenggang.
Kawan, aku sesama yang menganggap semesta adalah saudara. Kalian tak pernah sendirian, sekalipun sedang merasa kesepian.

Tuhan, di akhir surat ini aku berdoa untuk semesta, agar marah-Mu tak berlangsung lama, peluklah kami yang memang butuh rangkulan-Mu tiap waktu. Jangan pernah lepas kami, meski kerap kali kita berontak, seolah ingin lepas dari peluk-Mu. Sesungguhnya, Engkau pasti tahu, kita tak pernah mau jauh dari-Mu.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKetigabelas
#IStandByYou

Advertisements

2 thoughts on “Tak akan pernah merenggang.

  1. Saya paham betul apa yang disampaikan olehmu. Kebetulan, saya termasuk orang yang berjuang mengumpulkan receh demi receh uang yang saya dapatkan tiap bulan untuk menutupi kebutuhan sendiri dan membayar biaya kuliah. Tujuannya tiada lain, hanya untuk meringankan beban orang tua. Dan benar, sekarang semuanya indah, saat resmi mendapatkan gelar sarjana. Terima kasih sudah menulis surat yang benar-benar memotivasi seseorang untuk kuat, bersyukur dan tidak mengeluh. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s