Telinga-telinga terbaik.

Aku bukan perempuan yang dapat menceritakan segala tanpa tapi, meski hal kecil, kadang masih saja ku saring terlebih dahulu sebelum ku bagi, lalu ampasnya ku simpan sendiri; mengendap di dasar hati.

Hari ini aku ingin berterima kasih, pada kalian yang begitu setia mendengarkan suaraku.

Wanita nomor satu dalam hidupku, jiwa dan kepalanya sudah mendengar suaraku dalam berbagai waktu, lewat bisikan lembut, teriakan yang tercampur amarah, atau pedihnya cerita yang lengkap dengan tangis sesenggukan. Saat yang lain memintaku berhenti menyanyi, ia memilih tertawa dan menggangguku, menikmati suaraku yang lebih sering tak bernada ketimbang merdu. Mama, kau adalah manusia terbaik yang Tuhan beri di hidupku, telingamu begitu setia mendengar segalaku pada tiap satuan waktu. Aku mencintaimu tanpa pernah rehat, meski sedang tertidur, cintaku padamu tak serta merta turut istirahat.

Pria nomor satu dalam hidupku, ia lebih dulu melantunkan suaranya di telingaku, sebelum telinganya mendengar suaraku, ia memenuhi kewajibannya sebagai orangtua lelaki; mengadzaniku sesaat setelah diriku lahir ke bumi. Ia selalu terkekeh menikmati lelucon-lelucon konyolku, kadang tawanya tanpa suara, karena celotehku membuatnya bahagia hingga tempo tertawanya sangat rapat. Padanya aku bercerita segala, dan yang paling canggung untuk ku ceritakan adalah perihal lelaki, aku tak ingin sedikitpun membuatnya cemburu, tapi kini justru, Papa yang kerap menanyakan mengapa aku betah berlama-lama sendirian. Aku pun belum tau jawabannya. Atau memang tak berusaha mencari tahu jawabannya. Rasaku untukmu serupa dengan rasaku untuk Mama, Pa.

Kepada saudara lelakiku, kerabat kerjaku, sahabat-sahabat terdekatku, ingin rasanya ku sebut nama kalian satu persatu, namun ku urungkan niatku.

Aku ingin bertanya, apa telinga kalian tak pernah lelah mendengarkan aku yang kadang bercerita tanpa arah? Apa telinga kalian tak pernah lelah mendengarkan suaraku yang jauh dari kategori merdu? Apa telinga kalian tak pernah lelah mendengarkan keluhan murahanku, berputar pada masalah yang itu-itu saja? Entah apa jawabnya, yang ku tahu hingga kini telinga kalian tetap setia mendengarku.

Kalian mendengar, terkadang ceritaku berakhir dengan hujannya harapan dan doa baik yang kalian rintikan, tak jarang kalian balik memberiku saran yang kalian harap terbaik, kemudian beberapa kali kalian tegas padaku, seperti marah, tapi bukan karena amarah, namun kalian selalu mengakhiri ceritaku dengan pelukan yang menguatkan. Pelukan. Aku selalu butuh pelukan, untuk sekadar menenangkan, atau bahkan menyadarkan bahwa kalian masih ada, tak pernah pergi meninggalkanku yang kerap uring-uringan.

Terima kasih untuk semua yang kalian beri, terima kasih.

Tanpa kalian hidupku akan terus berjalan, namun sedikit gila karena kerap bicara pada benda mati untuk bercerita. Tanpa kalian matahari dan hujan tetap ada, namun terik dan dinginnya jauh lebih membuatku kesepian.

Semoga telingaku pun dapat menjadi telinga pilihan untuk kalian bercerita, bersuara, dan lain sebagainya. Aku ingin memeluk saat kalian rapuh, memeluk saat kalian goyah, memeluk saat kalian bahagia. Aku tak pernah ingin berhenti memeluk kalian. Lewat lingkaran tangan pun doa yang tak henti ku kirim dari kejauhan.

Kepada telinga-telinga terbaikku, aku ingin kebersamaan kita tak semu. Perihal sayangku untuk kalian, Tuhan yang paling tahu, sebab nama-nama itu tak pernah luput kusebut saat berbincang, berdua saja, dengan-Nya.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKeduabelas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s