Gaya hidup kita tak sama.

Aku perempuan yang tumbuh dengan perpindahan-perpindahan, baik yang direncanakan pun tidak. Bagiku perpindahan tak pernah membahagiakan di awal, sebab air mata selalu ada ketika perpisahan datang menemui; aku dan tempat lamaku. Kemudian entah bagaimana caranya Tuhan melengkapi perpindahan-perpindahan yang ku alami dengan kebahagiaan hingga menjadikannya indah.

Aku yang dulu tabu untuk beberapa hal dan kata, kini jadi seolah paling tahu apa itu malam pertama. Pergaulanku salah? Tidak. Aku masih seperti diriku yang dulu, yang menjaga segala yang harus ku jaga; utuh. Hanya saja pengetahuan itu tak bisa ku batasi, aku mendengarkan kemudian mencari tahu agar matang dalam urusan pengertian isi. Masa beliaku lewat sudah, makin lama makin jelas kepala dan hati mana saja yang menetap padaku, dan mana yang melanjutkan langkah menemui perpindahannya tanpa diriku.

Aku tak suka menikmati malam di tengah kerlap-kerlip lampu pesta yang lengkap dengan musik bervolume keras di ruangan yang penuh dengan orang bergoyang bebas semaunya. Belum lagi asap rokok yang hadir di mana-mana. Aku tidak anti, aku hanya tak suka. Aku tak akan bilang pilihan hidup mereka harus di ubah, aku hanya tak mau ikut bila di ajak ke sana.

Caraku menikmati malam sederhana, cukup duduk di teras rumah, menatap bintang dan bulan yang bercahaya, atau berkencan dengan kendaraan bermotor yang ku punya, menikmati perjalanan sendirian di tengah malam yang selalu jauh lebih menenangkan ketimbang mencekam, namun jika hujan sedang bertamu, aku ada di balik jendela kamar menikmati rintik yang terjatuh, satu per satu sampai kantuk mengingatkan mata untuk meminta hak istirahat pada pemiliknya.

Kawan, jadilah dirimu apa adanya, jika memang gaya hidupmu mewah, nikmatilah, asal jangan sekadar jadi manusia berpelampung yang sedang terbawa ketidakpastian arus laut yang entah kapan surut, kau terombang-ambing di tengah dan entah kapan bisa kembali ke darat, ke pribadimu yang sebenarnya.

Kawan, hisaplah rokokmu, tenggaklah birmu, tattolah badanmu, itu tak akan membuatku menjauh, sebab hatimu jauh lebih penting, kebersamaan kita bukan kedekatan murahan yang bisa seketika jauh hanya karena berbeda jalan. Aku ingin kau sehat, kawan. Tapi, aku tak akan memaksamu menghentikan apa yang kau suka. Aku ingin kita sejalan, kawan. Tapi, aku tak akan menyeretmu paksa tuk masuk ke jalur yang sama denganku.

Aku bukan kapas tanpa noda, kau pun bukan gelap tanpa cahaya, kita kelabu yang selalu dapat memilih, untuk memutih atau menghitam kembali; lebih pekat lagi.

Gaya hidup kita tak sama, bukan berarti pertemanan kita harus segera mencapai akhir. Mereka sudah lebih dulu pindah, ada yang sekadar meninggalkan, ada juga yang lengkap dengan melupakan. Kita? Ada di dalam satu harapan, mencipta kebaikan bersama meski bagi banyak mata di luar sana kita bukanlah seorang baik. Tak apa. Niat baik tak boleh kalah dengan persepsi mentah.

Genggam tanganku, dengan fisikmu yang mereka bilang urakan, aku percaya hatimu jauh lebih merah jambu. Padaku kawan, kau dapat menjadi dirimu sendiri, sebab aku tak perlu kepura-puraan.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKesembilan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s