Jangan takut; berdamailah denganku.

Perempuan yang lidahnya kelu, bersikap kaku sekujur tubuh, benar-benar tak mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan pasangan hati. Usia yang belia serta pengalaman pertama menerima cinta, membuatnya tak bisa banyak berkata-kata jika sedang tatap mata. Tak ada genggaman tangan, apalagi peluk serta kecupan. Semua hanya sekadar mengantar pesan dan bertukar suara lewat telepon genggam.

Lelaki itu lelah dan memutuskan pergi, karena perempuannya tak jua bisa belajar memberi perhatian yang jauh lebih nyata di hadapan mata.

Perempuan yang cemburunya luar biasa liar, menahan pilu ketika pasangannya di kagumi banyak orang, sebab kekaguman mereka sampai pada tahap berani menyatakan perasaan. Kumpulan perempuan satu dua tahun di bawahnya mengaku sayang dan ingin ambil alih lelakinya dari genggaman.

Perempuannya melepaskan, sebab luka tak kunjung mengering, makin hari makin basah dan menganga, air matanya bermuara di dalam dada.

Perempuan yang mulai paham mengenai perannya, kali ini justru di permainkan sang lelaki, yang tiba-tiba pamit dengan alasan ‘Kamu terlalu baik buat aku.’ Perempuannya menerima dengan lapang, beberapa hari tetap penasaran, tentang perpisahan sekejap mata tanpa pertengkaran sebelumnya.

Lelakinya main gila. Ini pertama kalinya perempuan itu merasakan luar biasanya dipermainkan.

Perempuan yang begitu jatuh cinta pada seorang lelaki, lagi-lagi harus membiarkan rasa itu mati. Kali ini karena, lelaki itu telah memilih pergi dan tak akan pernah mau kembali. Seperti angin yang tertiup ke barat, melewati timur, tenggara, selatan, dan barat daya sekejap saja, habislah waktu, angin tak dapat lagi berputar arah. Usai sudah.

Empat masa yang telah perempuan itu lewati, percayalah wahai lelaki, perempuan yang kau pilih di masa lalu telah sepenuhnya berdamai dengan kenangan, dan mengikhlaskan kalian. Jangan takut perempuan itu berharap kalian peluk (lagi), langkahnya sudah menjejak dengan keyakinan kuat, untuk tak beraharap pada putaran angin yang tak pernah mengantungi kepastian.

Perempuan itu berjalan, terus berjalan, menikmati hidup dengan tawa bahagia, kadang ia menangis untuk merayakan lelah, kemudian kembali melukis sabit pada wajah. Masa lalu, perempuan itu adalah aku, yang berkawan denganmu tanpa mengingat pelik penyebab pilu. Perempuan itu tak ingin biarkan waktunya habis tanpa bahagia.

Tenang saja, ia tak sedang membenci masa lalunya, tak juga berharap tuk bisa bersama lagi di masa depan, ia hanya gemar mengingat dan menjadikannya kenangan.

#30HariMenulisSuratCinta
#HariKedelapan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s